Master Harry,
Kalau kemarin Anda mengomentari Holy Uncle: "bertingkah kayak ...a ...silly
old bum ... input2 yang rediculous/silly and dump" , maka tulisan Anda ini
adalah contoh yang paling cocok dan tepat!
Orang yang sedikit memiliki analogi sehat, pasti bisa membedakan bahwa
insiden ini terdiri dari beberapa kejanggalan yang terpisah satu dengan yang
lainnya.
1. Kedatangan Sutiyoso kemarin adalah dalam rangka memenuhi undangan resmi
negara bagian New South Wales (NSW) sebagai kepada Gubenur DKI Jakarta,
dalam rangka mengaktifkan kembali kerja sama "sister state/province" antara
DKI Jakarta dan New South Wales.
Seorang pejabat negara, yang menghadiri undangan resmi suatu acara
kenegaraan, tidak bisa serta merta dipaksa hadir sebagai saksi, sekalipun
oleh Lembaga Peradilan.
2. Sikap arogansi Australia, direpresentasikan oleh kepolisian NSW, dengan
cara memaksa masuk kamar hotel dengan kunci duplikat, untuk menyampaikan
surat panggilan sebagai saksi di Pengadilan.
Pihak Kepolisi NSW itu sudah melanggar protokol kenegaraan dan privacy
seseorang, terutama telah melakukan pelanggaran hukum, yang pada akhirnya
juga gagal menghadirkan seorang saksi. Bahkan Sutiyoso pun menolak
menandatangani (tanda terima) surat pemanggilan Pengadilan, terhadap
dirinya.
3. Sidang Pengadilan Koroner NSW tentang kasus Balibo 1975 itu
sendiri.
Dengan menyeret Sutiyoso sebagai saksi di Pengadilan NSW, "Deputy
Sheriff" untuk kawasan Asia, ingin menunjukan kekuasaannya, tapi
hasilnya justru kontra produktif, alias gagal total.
Ironisnya, tahun 1990 Sutiyoso menjalankan pendidikan selama
sebulan di Melbourne dan selama enam bulan di Canberra.
Jadi, Pengadilan kadaluarsa kasus Balibo, yang tidak pernah
terbukti selama 32 tahun, cumalah sebuah mimbar dagelan saja.
Kalau Pemerintah Australia yakin telah menjalankan hukum dengan
benar, kenapa tidak sekalian saja menahan Sutiyoso?
Apakah tata krama (etiket) protokoler Australia memang segitu rendahnya,
ataukah "undangan" Kepala Pemerintah (Premier) NSW, Morris Iemma,
dimaksud untuk menjebak Sutiyoso?
Arogansi yang berlebihan membuat setting yang bodoh, sehingga menciptakan
sandal internasional, akhirnya cuma memalukan citra pemerintah Australia
sendiri.
Wassalam, yhg.
----------------
[Non-text portions of this message have been removed]