Accueil Notre histoire La
gastronomie indonésienne Les menus Offres spéciales Livre d'or
Contact En plein cur du quartier Latin, l'Indonésia
se situe à deux pas du Jardin du Luxembourg, entre le Boulevard Saint-Michel et
le Théâtre de l'Odeon.
Restaurant Indonesia
12, rue Vaugirard
75006 PARIS
M°/ RER : Luxembourg, Odéon ou Saint-Michel
Voici quelques extraits des 20 livres d'or de notre
restaurant :
Message de l'Ambassadeur indonésien - Ministre d'Etat indonésien -
Message en Néerlandais - Message en indonésien - Clients des USA - Philippe
Gelück - Messages internationaux - Message en Thai - Messages internationaux 2
- Plantu
Mentions légales Tous droits réservés - Restaurant
Indonesia © 2006 - Réalisation : La Coopérative de Communication
WEBSITE KOPERASI "RESTAURANT INDONESIA" DI PARIS.
Gambar yang menyertai tulisan kecil ini diambil dari website koperasi
"Restaurant Indonesia", sebuah website yang dibuat oleh sebuah KOPERASI
Perancis yang khusus bekerja di bidang komunikasi, bekerjasama dengan dengan
tim pengelola koperasi Restoran Indonesia yang sekarang dipimpin oleh Soejoso
dan Didien. Kerjasama dua badan usaha yang sama-sama mengambil bentuk koperasi
[SCOP] ini merupakan bentuk solidaritas saling bantu atas dasar prinsip ide
yang serupa. Banyak pihak telah membantu -- terutama dari segi pendapat, usulan
dan pemberian material, untuk bisa lahirnya website ini, termasuk para
profesional yang bekerja di bidang komunikasi di Indonesia. Sebagai salah
seorang pendiri yang masih aktif di koperasi, saya ingin menyampaikan
terimakasih kepada mereka, di samping menyampaikan hormat atas keberanian
berprakarsa dari tim pengelola yang dengan bersandar pada kebersamaan cepat
mengajak semua anggota untuk memecahkan soal-soal sekecil apa pun, sehingga
semua
anggota, terutama anggota-anggota baru merasa turut memiliki. Perasaan turut
memiliki badan usaha ini, sekarang terkesan pada saya sudah jauh lebih kuat
dibandingkan dengan masa-masa kapan pun. Dengan adanya turut merasa memiliki,
dan keberanian tim pengelola menyerahkan tangungjawab kepada mereka yang baru,
maka para anggota bekerja dengan penuh tanggungjawab dan melakukan segala
sesuatu dengan prakarsa yang mencengangkan. Terlihat pada saya ada rasa ingin
memberikan yang terbaik, dan berlomba melakukan yang terbaik untuk koperasi.
Apalagi mereka sadar di koperasi inilah mereka secara ekonomi tergantung di
tengah sulitnya mencari pekerjaan dewasa ini di Perancis.
Ciri baru lain yang kusaksikan di kalangan anggota koperasi Restoran
Indonesia, Paris ini, adalah munculnya semangat menjunjung "dignity", harga
diri dan martabat diri sebagai anak manusia Indonesia. Kata Indonesia agaknya
dimaknakan identik dengan suatu kualitas manusia yang manusiawi, bermartabat
dan berharga diri. Sedangkan kerja badan seperti yang kami lakukan di restoran,
tidaklah sebagai sesuatu yang rendah dan hina. Anggota-anggota baru koperasi
sering mengkritik teman-teman sekerjanya yang dipandang bekerja kurang baik
dengan kata-kata: "Ah, kau! Kau belum bisa menjadi Indonesia". Yang ditegur
akan menjawab dengan cengar-cengir dan segera memperbaiki pekerjaannya.
Semangat begini muncul dan berkembang di kalangan anggota-anggota baru
apabila mereka merenungi secara sederhana bahwa pejabat-pejabat tinggi, mulai
dari istri Presiden sampai kepada menteri-menteri , anggota Parlemen dan
Senator, calon Presiden, artis-artis serta sastrawan-seniman Perancis
menyempatkan diri makan di restoran koperasi.
Plantu, karikaturis dari Le Monde, harian terkemuka dan berpengaruh di
Perancis, pernah membuat editorial Le Monde dengan karikatur, dan pernah
mewawancarai Yasser Arafat dari Palestina, yang karikaturnya tampil juga di
website, dan tergantung selalu di tempat istimewa di koperasi restoran,
hanyalah salah seorang selebritis Perancis yang menyempat diri makan. Di
samping itu terdapat nama-nama seperti Jhony Halliday, penyanyi yang mendapat
"Legion d'Honneur", bintang filem Nathalie Bay, sastrawan Margaurite Duras,
Regis Debray, Isaballe Allende , sastrawan dari Chile [datang bersama tantenya,
istri alm.Presiden Salvador Allende], C.Geertz, antropolog dari Amerika Serikat
yang tak asing lagi namanya di Indonesia, dan lain-lain nama lagi ... yang
semuanya tersimpan di buku tamu [livre d'ore] koperasi. Demikian juga
penjabat-pejabat tinggi Indonesia, seperti Gus Dur, dan dubes-dubes, para
jendral, terutama dari AURI dan Kepolisian, menyempatkan diri mampir ke koperasi
sederhana Restoran Indonesia ini.
Kadek, si anak muda baru asal Bali, demikian bangga kenal dengan Jose Ramos
Horta yang sekarang menjadi Presiden Timor Lorosae, dan memperlakukan Kadek
dengan sangat akrab bersahabat, ketika Kadek berulang-kali melayaninya. Di
awal-awal tahun perjuangan kemerdekaan, Ramos pernah tidur di kursi-kursi
restoran. "Teman kita menjadi presiden sekarang", ujarn Kadek girang.
Semangat dan kesadaran -- jika boleh disebut kesadaran -- begini tidak lepas
dari usaha pendidikan yang dilakukan baik melalui diskusi bersama atau pun
melalui cerita-cerita sambil bekerja tentang berbagai bidang: politik, sejarah,
bahasa, keadaan sosial, ekonomi. Dapur dan ruang service sekaligus menjadi
ruang sekolah bagi kami semua.
Setelah mengetahui sejarah koperasi restoran, mereka bekerja tanpa kompleks
dengan makna indonesia dan keindonesiaan seperti di atas. Dari pengalaman kecil
di koperasi ini, saya melihat bahwa mengenal sejarah membantu anggota-anggota
baru mengenal diri mereka, apa-siapa diri mereka dan bagaimana mengejawantahkan
serta mengembangkan nilai-niali tersebut. Keadaan yang langsung mengingatkan
saya akan kata-kata Bung Karno agar kita "sekali-kali jangan melupakan sejarah".
Membaca website ini, yang kupertanyakan, adalah istilah yang mengkategorikan
para pendirinya sebagai kaum "imigran" dan didirikannya koperasi restoran ini
untuk kepentingan para imigran. Berapa sih jumlah imigran Indonesia di
Perancis? Apakah koperasi ini menerima sembarang orang? Benarkah, sesuai
kenyataankah bahwa para pendirinya adalah kaum imigran? Pertanyaan ini
kuketengahkan karena kami datang ke Paris bukan sebagai "imigran" seperti yang
sekarang menjadi salah satu subyek debat politik dan isi dalam kampanye
presidensial baru lalu dan pemilu parlemen bulan Juni 2007 ini. Kami ke Paris,
senyatanya, karena kami mencari tempat tinggal karena terhalang pulang oleh
masalah politik. Ketika kami meninggalkan tanahair, tidak pernah terlintas di
benak kami untuk tinggal di Perancis. Karena kembali ke tanahair merupakan
keinginan tunggal pada waktu sebelum Orba menguasai Indonesia. Kami bukan
imigran yang umumnya bermotifkan ekonomi. Kukura ada perbedaan nilai dan makna
antara imigran dan suaka politik. Dengan istilah "imigran", apakah bukan suatu
kesalahan atau ketidaktahuan sejarah dan politik serta berbahasa? Di Barat,
status suaka politik bukanlah status yang memalukan. Oleh adanya status
begini, maka ada desakan kuat kepada pengelola Negara Indonesia agar mengakui
serta memberikan kembali status kewarganegaraan Republik lndonesia kepada
mereka yang terhalang pulang. Tanpa syarat. Sokongan terhadap koperasi Restoran
Indonesia ini pun kukira tidak lepas dari status demikian. Mengapa pada masa
sekarang secara politik jauh lebih longgar dibandingkan masa awal soal ini
disembunyikan? Menyembunyikan soal ini sama dengan menyembunyikan sejarah dan
melecehkan harga pergulatan anak manusia untuk menjaga martabat dan
hargadirinya. Kata-kata pengarang Russia :"not for bread alone" [bukan untul
roti semata"] kukira mengandung makna ini. Jika kita memperhatikan kampanye
pemilu presidensial Perancis Mei 2007, kita akan gamblang menyaksikan arti
penting kata, istilah dan bahasa. Baris-baris terakhir ini tidak mengurangi
penghargaan atas adanya website yang diselenggarakan oleh prakarsa sesama
koperasi. Tapi ingin kucatat bahwa bukan karena penyelenggaranya adalah orang
Perancis, maka segalanya menjadi benar. Perancis dan negara mana pun hanyalah
suatu acuan dalam melakukan sesuatu hal yang kongkret. Perancis dan negeri mana
pun bukanlah paspor kebenaran. Penggunaan istilah "pour les immigrés
indonésiens", saya pikir menyalahi pendekatan kompleksitas yang dikemukakan
oleh pemikir Perancis Edgar Morin. Bukan hanya menyalahi tapi bahkan merupakan
pendekatan cupet.
Website adalah suatu monumen yang dihadirkan ke depan publik. Koperasi
Restoran Indonesia adalah salah satu monumen kecil sejarah Indonesia
kontemporer di Perancis. Menyebutnya sebagai koperasi para imigran dan untuk
para imigran Indonesia yang patut dipertanyakan kebenaran dan jumlahnya
[tentang soal ini saya tidak memasukinya lebih jauh], kukira sangat meragukan
ketepatannya.
Kata-kata ini kuucapkan berangkat dari pendirian melakukan kesalahan adalah
hak jika kita memandang mengkoreksi kesalahan adalah suatu hak. Tidak tahu pun
diperkenankan asal kita tidak berlagak tahu, apalagi merasa paling tahu dan
benar. Jika berkutat pada ketidaktahuan dan kesalahan sama artinya dengan dungu
tingkat lanjut dari bodoh. Catat juga bahwa kalimat-kalimat ini tidak kutulis
ke alamat tertentu tapi sebagai suatu hipotesa umum buah renunganku. Sejarah
selalu mencatat dirinya sendiri di luar kepentingan pribadi atau kolektif.
Catatan lain, bahwa website ini akan lebih dan kian menarik jika selalu
dilengkapi dengan isi-isi baru sehingga ia semakin kaya. Dah hal ini tidak
mungkin rasanya jika diandalkan kepada para koperasi komunikasi penyelenggara
yang buta tentang Indonesia dan perkembangan Koperasi Restoran itu sendiri.
Kelengkapannya, akan menambah daya tarik koperasi yang secara komersial akan
makin memikat. Untuk itu, saya ingin menyarankan dibukanya suatu ruang baru
dari yang sudah ada, misalnya dijuduli : restoran dan perkembangan kegiatannya.
Masalah pelatihan-pelatihan di berbagai bidang untuk membuat para pekerja
koperasi bekerja secara profesional, masalah kebersiahan dan tanggungjawab
publik sebuah restoran, manajemen, kegiatan kebudayaan serta grup-grup yang
mengisi kegiatan-kegiatan ini, dan lain-lain yang dilakukan dan terus dilakukan
oleh koperasi, barangkali bisa dijadikan isi untuk website ini. Siapa yang
mengisi dan menulisnya? Siapa lagi jika bukan para anggota. Jika dalam
mengelola koperasi kita menggunakan sistem bersandar pada para anggota atau
kolektif, kukira pengisian kolom perkembangan ini pun bisa menggunakan cara
demikian. Barangkali, apa yang kita lakukan di koperasi ini bisa berguna bagi
mereka yang bekerja di bidang restoran di tanahair yang secara umum di berbagai
bidang masih sangat lemah jika dilihat dari segi tanggungjawab publik. Dari
segi ini, sekaligus saya pertanyakan kesadaran dan tanggungjawab penyelenggara
Negara Indonesia.
Koperasi! Jika di Indonesia namanya merosot , di negeri kapitalis seperti
Perancis, menurut harian Katolik La Croix, Paris, kemarin, bentuk begini makin
marak. Artinya manusia makin merindukan diri untuk menjadi manusia yang
manusiawi.
Indonesia jadinya suatu tantangan dari sejuta tanya yang menagih jawab dan
tanggungjawab: "Siapakah yang bertanggungjawab atas timbul-tenggelamnya negeri
dan bangsa ini", demikian seorang penyaair Tiongkok abad ke-20 ketika melihat
keadaan Tiongkok yang sakit dan mengeneskan. Siapakah penanggungjawab
timbul-tenggelamnya Indonesia yang sekarang dilecehkan dengan seenak perut oleh
negeri-negeri tetangga? Inti pertanyaan ini adalah terdapat pada soal
tanggungjawab, martabat dan harga diri sebagai anak manusia, anak bangsa dan
negeri, sama sekali jauh dari tutup pintu nasionalisme yang mengandung bahaya
apalagi jika pintu itu menyempit dan memang gampang menyempit. Dalam ruang
sempit demikian, mata pandang pun merabun serabun dan sesamar penglihatan
para sektaris. ***
Paris, Mei 2007
------------------
JJ. Kusni
.
#ygrp-mlmsg { FONT: x-small arial,helvetica,clean,sans-serif }
#ygrp-mlmsg TABLE { FONT-WEIGHT: normal; FONT-SIZE: 100%; LINE-HEIGHT:
normal; FONT-STYLE: normal; FONT-VARIANT: normal } #ygrp-mlmsg SELECT {
FONT: 99% arial,helvetica,clean,sans-serif } INPUT { FONT: 99%
arial,helvetica,clean,sans-serif } TEXTAREA { FONT: 99%
arial,helvetica,clean,sans-serif } #ygrp-mlmsg PRE { FONT: 100% monospace
} CODE { FONT: 100% monospace } #ygrp-mlmsg * { LINE-HEIGHT: 1.22em }
#ygrp-text { FONT-FAMILY: Georgia } #ygrp-text P { MARGIN: 0px 0px 1em }
#ygrp-tpmsgs { CLEAR: both; FONT-FAMILY: Arial } #ygrp-vitnav {
FONT-SIZE: 77%; MARGIN: 0px; PADDING-TOP: 10px; FONT-FAMILY: Verdana }
#ygrp-vitnav A { PADDING-RIGHT: 1px; PADDING-LEFT: 1px; PADDING-BOTTOM: 0px;
PADDING-TOP: 0px } #ygrp-actbar { CLEAR: both; MARGIN: 25px 0px; COLOR:
#666; WHITE-SPACE: nowrap; TEXT-ALIGN: right } #ygrp-actbar .left { FLOAT:
left;
WHITE-SPACE: nowrap } .bld { FONT-WEIGHT: bold } #ygrp-grft {
PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM: 15px;
PADDING-TOP: 15px; FONT-FAMILY: Verdana } #ygrp-ft { PADDING-RIGHT: 0px;
BORDER-TOP: #666 1px solid; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM:
5px; PADDING-TOP: 5px; FONT-FAMILY: verdana } #ygrp-mlmsg #logo {
PADDING-BOTTOM: 10px } #ygrp-vital { PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 8px;
MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 8px; PADDING-TOP: 2px; BACKGROUND-COLOR:
#e0ecee } #ygrp-vital #vithd { FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 77%;
TEXT-TRANSFORM: uppercase; COLOR: #333; FONT-FAMILY: Verdana } #ygrp-vital UL
{ PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 2px
0px; PADDING-TOP: 0px } #ygrp-vital UL LI { CLEAR: both; BORDER-RIGHT:
#e0ecee 1px solid; BORDER-TOP: #e0ecee 1px solid; BORDER-LEFT: #e0ecee 1px
solid; BORDER-BOTTOM: #e0ecee 1px solid; LIST-STYLE-TYPE: none } #ygrp-vital
UL LI .ct { PADDING-RIGHT: 0.5em; FONT-WEIGHT: bold; FLOAT: right; WIDTH:
2em; COLOR: #ff7900; TEXT-ALIGN: right } #ygrp-vital UL LI .cat {
FONT-WEIGHT: bold } #ygrp-vital A { TEXT-DECORATION: none } #ygrp-vital
A:hover { TEXT-DECORATION: underline } #ygrp-sponsor #hd { FONT-SIZE:
77%; COLOR: #999 } #ygrp-sponsor #ov { PADDING-RIGHT: 13px; PADDING-LEFT:
13px; MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 6px; PADDING-TOP: 6px;
BACKGROUND-COLOR: #e0ecee } #ygrp-sponsor #ov UL { PADDING-RIGHT: 0px;
PADDING-LEFT: 8px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 0px; PADDING-TOP: 0px }
#ygrp-sponsor #ov LI { PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%;
PADDING-BOTTOM: 6px; PADDING-TOP: 6px; LIST-STYLE-TYPE: square }
#ygrp-sponsor #ov LI A { FONT-SIZE: 130%; TEXT-DECORATION: none }
#ygrp-sponsor #nc { PADDING-RIGHT: 8px; PADDING-LEFT: 8px; MARGIN-BOTTOM:
20px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px; BACKGROUND-COLOR: #eee }
#ygrp-sponsor .ad {
PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 8px; PADDING-TOP: 8px
} #ygrp-sponsor .ad #hd1 { FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 100%; COLOR:
#628c2a; LINE-HEIGHT: 122%; FONT-FAMILY: Arial } #ygrp-sponsor .ad A {
TEXT-DECORATION: none } #ygrp-sponsor .ad A:hover { TEXT-DECORATION:
underline } #ygrp-sponsor .ad P { MARGIN: 0px } o { FONT-SIZE: 0px }
.MsoNormal { MARGIN: 0px } #ygrp-text TT { FONT-SIZE: 120% } BLOCKQUOTE
{ MARGIN: 0px 0px 0px 4px } .replbq { MARGIN: 4px }
---------------------------------
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]