Pak RMDH,

Mungkin, benar seperti apa yg disampaikan Bapak,

Karena terbiasa menyerap ilmu dg cepat, dan hapal..

Saat menyaksikan balap formula-1 ada yg terserap

Dan segera diaplikasikan dengan ahli,

Tayangan yang memperlihatkan, betapa cepatnya

Crew mengganti ban mobil f-1 dalam hitungan detik

Dapat ditiru dengan mudah dan sukses..

Cuma saja,

Peruntukannya yg gak jelas.. lagian..

Dipraktekkan di area-area parkir umum..

Dan, ada yang menjadi korban..

Pemilik mobil kehilangan ban saat mobil diparkir..

Ban pun melayang, entah kemana pergi..

 

Wadow... ahhh.. sudahlah....

 

Selamat berakhir pekan..

 

Wassalam,

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of RM Danardono HADINOTO
Sent: Thursday, May 31, 2007 8:48 PM
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Re: Islam dan Ideologi Transnasional

 

Ya mbak, dalam masalah pembelajaran ini banyak kisah sedih. Ketika 
menengok sebuah sekolah unggulan di Tanah Air, saya sempat menayai 
seorang siswa. Saya tanyakan "kapan perang Diponegoro berakhir?", 
dengan cukup cepat walau harus mengernyutkan kening, dia 
jawab: "1830 pak". lalu saya tanyakan "apakah penyebab perang ini 
sebenarnya dari sudut pangeran Diponegoro?", dan "apakah dampak 
perang ini, Belanda menyebut dalam pustaka sejarah "Java Orloog" 
atau Perang Jawa, bagi tatapemerintahan dan tata militer Hindia 
Belanda"? si siswa menatap saya ber menit menit, akhirnya berkata " 
tak tahu, pak".

Siswa kita dibiasakan menghapal, berfikir dalam proses mengumpulkan 
memory lalu memuntahkan kembali. Convergent. Mereka tak terbiasa 
berfikir dalam essay, divergent, innovatif.

Diajarkan, bahwa gubernur jendral Daendels perintahkan bangun jalan 
Anyer Panarukan, tak seorangpun yang terpikir, mengapa justru ia 
perintahkan ini. hanya peristiwa X yang ditancapkan dibatok kepala, 
namun tidak why dan how X happened. Sebagai perwira militer Napoleon 
yang bertempur di medan Europa, jalan militer adalah mutlak perlu, 
itupun yang ia lakukan ketika bertugas di Hindia Belanda...

Kritik emosional adalah kejagoan kita, namun kritik rational, masih 
belum dipahami..

Salam

danardono




 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke