Mbak Listy,
Anakku yang sekarang duduk di kelas 1 SMA kebetulan suka-suka aja pergi
ke sekolah, well, at least kumpul-kumpul dengan teman-temannya,
ngecengin cowo-cowo yang imut, huehehehe, sambil tak lupa ngrasani
guru-gurunya, hahahaha ...
Angie--nama anakku-- juga sering harus ke warnet untuk browsing ini itu,
untuk kemudian dikumpulkan di sekolah karena merupakan tugas dari
sekolah. Sering aku menemaninya ke warnet (atau dia yang justru
menemaniku, hahahaha, maklum kalo ngenet dari rumah mahal banget bagi
ukuran kantongku), untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Kebetulan beberapa minggu yang lalu di salah satu kursus bahasa Inggris
tempatku bekerja, aku memberikan tugas menulis paper. Aku dengar
anak-anak itu bilang, "Ah gampang, tinggal ke warnet, trus kontrol A,
kontrol C, kontrol V, dan kontrol P." Aku langsung nyaut, "Not only
that. You've got to understand the material so that you can present it
well."
Dan, yah begitulah, mendukung apa yang dikatakan Pak Danar, anak-anak
itu cuma diajarkan untuk menghafalkan, dan bukan untuk memahami. :(
Kalau aku mencecar siswa-siswiku/mahasiswa/mahasiswiku dengan
pertanyaan, "why?" "why" dan "why?" mereka memandangku dengan sorot mata
tersiksa karena aku meminta mereka untuk menjelaskan.
Udah ah, udah diusir yang punya warnet nih. hehehehe ...
Selamat berakhir pekan,
Salam hangat,
Nana

--- In [email protected], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Iya nih, tentang kurikulum di sekolah2, anakku yg di smu pernah
ngomong,
> apa sih perlunya ke sekolah..? sedih aku ngedengernya, dia sering
> terlihat enggan ke sekolah, gak bersemangat, rada-rada malas, pernah
aku
> tanya, kenapa nak..? anakku pun bercerita, dia dan temen2nya bingung,
> ada salah seorang guru, setiap masuk kelas, langsung membagikan soal,
> saat murid2nya protes, dijawab, saya di sini, tugasnya memberi test,
> sampai dimana kalian berhasil mencari ilmu. Jadi ceritanya, murid2 ini
> diberi tugas cari ilmu dari warnet, browsing, cari2 sendiri, trus
> ngerjain soal sendiri, kadang2 berkelompok.. hasilnya, setiap itu guru
> masuk kelas, tugasnya memberi test.. titik.. Lagian, itu para murid yg
> diajarkan belajar dari warnet, iya, kalo bener2 mereka di warnet cari
> ilmu, nah, kalo kemudian keterusan nemu "ilmu" yang lain-lain..
nantinya
> kan jadi "pinter" yang lain-lain.. waduh.. aku kan gak boleh berburuk
> sangka.. hiks..!!
>
>
>
> Apakah ini karena sistem KBK..?? kalo diperhatikan, nampaknya,
guru2nya
> pun masih belum paham banget dengan sistem ini.. kalo memang mau ikut2
> seperti sekolah2 di singapura, yg merujuk pencarian ilmu kepada blog
> lewat internet, sebaiknya kan sekolah2 tsb menyediakan fasilitas
> internet, bukannya nyuruh murid2nya kelayapan ke warnet.. hiks..!!
>
>
>
> Sebenernya sistem KBK ini udah dikaji dengan benar atau belum ya..??
>
>
>
> Ada yang tahu..?? Mohon pencerahannya..
>
>
>
> Terimakasih..
>
>
>
> Wassalam,
>
>
>
>   _____
>
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of Mas Bagong
> Sent: Thursday, May 31, 2007 1:08 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [ppiindia] Re: Islam dan Ideologi Transnasional
>
>
>
> Pakdhe DH,
> Ya jelas no...
> Wong, orang Islamnya sibuk ngributin cipika-cipiki nya tukul daripada
> ngributin sekolah untuk anak-anaknya yang tinggal nunggu ambruk
> diseruduk
> kambing...
> Orang Islamnya sibuk ngributin AA Gym yang poligami lagi daripada
> ngributin
> kurikulum sekolah anak-anaknya yang makin enggak mutu...
> Mangkanya, harusnya adalah 'walk the talk' bukan 'talk the walk' ya
tho?
> Harusnya orang Islam ngributin kurikulum sekolahan anak-anaknya yang
> nggak
> jelas ujung pangkalnya...
> Harusnya ngributin fasilitas penunjang belajar iptek yang nggak segera
> terealisasi di sekolah-sekolah anaknya...
> Piye setuju Pakdhe?
> DG
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke