*BAB 1

BANJIR NABI NUH*
**
*Banjir Nuh, yang disebutkan dalam hampir seluruh kebudayaan, adalah satu
contoh yang paling banyak diuraikan dalam Al Qur-an. Keengganan umat Nabi
Nuh terhadap nasihat dan peringat-annya, reaksi mereka terhadap risalah Nabi
Nuh, serta peristiwa banjir selengkapnya, semua diceritakan secara rinci
dalam banyak ayat Al Quran.*
**
*Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah mening-galkan
ayat-ayat Allah dan menyekutukan-Nya, dan mengajak mereka menyembah Allah
semata dan menghentikan pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah
berkali-kali menasihati umatnya agar menaati perintah Allah serta
mengingatkan akan kemurkaan Allah, mereka masih saja menolak dan terus
menyekutukan Allah. Dalam Surat Al Mu'mi-nuun, perkembangan peristiwa itu
dilukiskan sebagai berikut:*
**

*"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?*

*Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: "Orang ini
tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi
seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia
mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan
yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. *
*Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka
tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, "Ya
Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendusta-kanku." (QS. Al Mu'minuun, 23:
23-26) !*
**

*Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka ma-syarakat di
sekitar Nabi Nuh menuduh Nabi Nuh berusaha meraih ke-unggulan atas kaumnya,
yakni, mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan, dan kekayaan,
dan mereka mencoba menunjuk dia sebagai "kesurupan", dan mereka memutuskan
untuk membiarkannya sementara waktu, dan menekannya.*
*Karena itulah, Allah menyampaikan pada Nuh bahwa mereka yang menolak
kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan ditenggelamkan, dan
mereka yang beriman akan diselamatkan.*
**
*Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan
menyembur dari dalam tanah, dibarengi dengan hujan yang sangat lebat,
menyebabkan banjir dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk "menaikkan
ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap jenis, jantan dan betina, serta
keluarganya, kecuali mereka yang menen-tang apa yang telah dinyatakan
wahyu". Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan, termasuk "anak
laki-laki" Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan
berlindung ke gunung terdekat. Semuanya tenggelam kecuali yang naik ke
perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir, dan "kejadian
telah berakhir", perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi,
sebagaimana yang diinformasikan Al Quran kepada kita.*
**
*Studi arkeologis, geologis, dan historis menunjukkan bahwa peris-tiwa
tersebut terjadi sebagaimana diceritakan Al Quran. Banjir tersebut juga
digambarkan secara hampir serupa pada banyak catatan peradaban-peradaban
masa lalu dan dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama
tempat beragam, dan "semua yang terjadi pada manusia yang salah" disajikan
untuk manusia saat ini sebagai peringatan.*
**
*Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama dan Baru, kisah tentang banjir
Nuh ini diungkap secara serupa dalam catatan-catatan sejarah Sumeria dan
Asiria-Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam epik Shatapatha
Brahmana dan Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda Wales di
Kepulauan Inggris, dalam Nordic Edda, dalam legenda-legenda Lithuania, dan
bahkan dalam cerita-cerita yang berakar dari Cina.*
**

*Bagaimana mungkin cerita-cerita yang begitu rinci dan relevan dapat
dikumpulkan dari berbagai daratan yang jauh secara geografis dan budaya,
saling berjauhan sesamanya, juga dengan wilayah banjir?*

*Jawabannya jelas: Fakta bahwa peristiwa yang sama dituturkan dalam berbagai
catatan sejarah berbagai bangsa tersebut, yang kecil kemungkinan saling
berkomunikasi, merupakan bukti nyata bahwa mereka menerima pengetahuan dari
sebuah sumber ilahiah. Tampak bahwa Banjir Nuh, salah satu kejadian terbesar
dan paling destruktif dalam sejarah, telah diwartakan oleh banyak nabi yang
diutus ke pelbagai peradaban dengan tujuan untuk memberi contoh. Dengan
demikian, berita tentang banjir Nuh tersebar ke berbagai kebudayaan.*
*Namun, walau banyak diriwayatkan dalam berbagai budaya dan sumber ajaran
berbagai agama, cerita tentang banjir dan Nabi Nuh itu telah banyak berubah
dan membias dari kisah aslinya karena kepalsuan sumber, kekeliruan
penyampaian, atau bahkan mungkin karena tujuan yang tidak benar. Riset
menunjukkan bahwa di antara sekian banyak riwayat yang menuturkan peristiwa
tersebut dengan berbagai perbedaan, penggambaran paling konsisten hanya
terdapat dalam Al Quran.*
**
*Nabi Nuh dan Banjir dalam Al Quran*
**
*Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al Quran. Di bawah ini
bisa dilihat ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir
tersebut:*
**
*Ajakan Nabi Nuh atas Kaumnya kepada Agama Kebenaran*
**

*"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata:
'Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa
azab pada hari yang besar (kiamat)'." (QS. Al A'raaf, 7: 59) !*

*"Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali
tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah
dari Tuhan semesta alam. Maka ber-takwalah kepada Allah dan taatlah
kepadaku." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 107-110) !*
*"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain Dia. Maka mengapa ka-mu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Al
Mu'minuun, 23: 23) !*
**
*Peringatan Nabi Nuh kepada Kaumnya akan Hukuman dari Allah*
**

*"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan
memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang ke-padanya azab
yang pedih." (QS. Nuh, 71: 1) !*

*"Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang
menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (QS. Huud, 11: 39) !*
*Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku kha-watir kamu
akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedih-kan. (QS. Huud, 11: 26) !
*
**
*Pembangkangan Kaum Nabi Nuh*
**
*"Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: 'Sesungguhnya kami memandang kamu
berada dalam kesesatan yang nyata'." (QS. Al A'raaf, 7: 60) !*
**
*"Mereka berkata: 'Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah de-ngan kami,
dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah
kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk
orang-orang yang benar'." (QS. Huud, 11: 32) !*
**
*"Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin ka-umnya
berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: 'Jika kamu mengejek
kami, maka sesungguhnya kami (pun) menge-jekmu sebagaimana kamu sekalian
mengejek (kami)'." (QS. Huud, 11: 38) !*
**
*"Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: 'Orang
ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi
seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia
mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan
yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain
hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah)
terhadapnya sampai suatu waktu'." (QS. Al Mu'minuun, 23: 24-25) !"*
**
*"Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mere-ka
mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: 'Dia seorang gila dan dia sudah
pernah diberi ancaman'." (QS. Al Qamar, 54: 9) !*
**
*Penghinaan terhadap Para Pengikut Nabi Nuh*
**
*"Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: 'Kami tidak
melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan
kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang
yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak
melihat kamu memi-liki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami
yakin bah-wa kamu adalah orang-orang yang dusta'." (QS. Huud, 11: 27) !*
**
*"Mereka berkata: "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti
kamu ialah orang-orang yang hina?" Nuh menja-wab: "Bagaimana aku mengetahui
apa yang telah mereka kerjakan?" Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak
lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali
tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan
pemberi peringatan yang menjelaskan." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 111-115) !*
**
*Peringatan Allah agar Nabi Nuh Tidak Bersedih*
**
*"Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di
antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah
kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Huud, 11:
36) !*
**
*Doa Nabi Nuh*
**
*"Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan
selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku." (QS.
Asy-Syu'araa', 26: 118) !*
**
*"Maka dia mengadu kepada Tuhannya: 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)'." (QS. Al Qamar, 54: 10) !*
**
*"Nuh berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan
siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'."
(QS. Nuh, 71: 5-6) !*
**

*"Nuh berdoa: 'Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendusta-kan aku'."
(QS. Al Mu'minuun, 23: 26) !*
*"Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: Maka sesungguhnya seba-ik-baik yang
memperkenankan (adalah Kami)." (QS. Ash-Shaaffaat: 75) !*
**
*Pembuatan Bahtera*
**
*"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan
janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu,
sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Huud, 11: 37) !*
**
*Penghancuran Umat Nabi Nuh dengan Cara Ditenggelamkan*
**
*"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami teng-gelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesung-guhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya)." (QS. Al A'raaf, 7: 64) !*
**

*"Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal." (QS.
Asy-Syu'araa', 26: 120) !*
*"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal
di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa
banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al Ankabuut,
29: 14) !*
**
*Dibinasakannya Putra Nabi Nuh*
**
*Sehubungan dengan dialog antara Nabi Nuh dan putranya, pada permulaan
banjir, Al Quran mengungkapkan: *
**
*"Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung,
dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil:
"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata:
"Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang
Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara ke-duanya; maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang diteng-gelamkan." (QS. Huud, 11:
42-43) !*
**
*Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir*
**

*"Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal
yang penuh muatan." (QS. Asy-Syu'araa', 26: 119) !*
*"Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami
jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (QS. Al Ankabuut,
29: 15) !*
**
*Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi*
**
*"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah
air-air itu untuk satu urusan yang sungguh te-lah ditetapkan. Dan Kami
angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku." (QS. Al
Qamar, 54: 11-13) !*
**
*"Hingga apabila perintah Kami datang dan 'dapur' (permukaan bu-mi yang
memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air,
Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang
sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang telah
terdahulu kete-tapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang
beriman." *
**
*Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata:
"Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu
berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang". *
**
*Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung,
dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil:
"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir." (QS. Huud, 11: 40-42) !*
**
*"Lalu Kami wahyukan kepadanya: "Buatlah bahtera di bawah peni-likan dan
petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan 'tannur' telah
memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari
tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih
dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu
bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya
mereka itu akan ditenggelamkan." (QS. Al Mu'minuun, 23: 27) !*
**
*Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi*
**
*"Dan difirmankan: "Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan)
berhentilah," dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera
itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: 'Binasa-lah orang-orang
yang zalim'." (QS. Huud, 11: 44) !*
**
*Pelajaran dari Peristiwa Banjir*
**
*"Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa
(nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadi-kan peristiwa itu
peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar."
(QS. Al Haaqqah, 69:11-12) !*
**
*Pujian Allah terhadap Nabi Nuh*
**
*"Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". Sesungguh-nya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS.
Ash-Shaaffaat, 37: 79-81) !*
**
*Apakah Banjir itu Bencana Lokal atau Global ?*
**
*Mereka yang menolak terjadinya Banjir Nuh mendukung pendirian mereka dengan
menyatakan bahwa banjir atas seluruh dunia adalah mus-tahil. Namun,
penyangkalan mereka atas banjir apa pun juga ditujukan untuk menyerang Al
Quran. Menurut mereka, semua kitab yang diwah-yukan, termasuk Al Quran,
sepertinya mempertahankan terjadinya banjir global dan karenanya keliru.*
**
*Namun, penolakan terhadap Al Quran ini tidak benar. Al Quran di-wahyukan
oleh Allah, dan merupakan satu-satunya kitab suci yang tidak terubah. Al
Quran memandang Banjir dengan sudut pandang yang sangat berbeda dibandingkan
Pentateuch dan legenda-legenda lain tentang banjir yang diriwayatkan dalam
berbagai kebudayaan. Penta-teuch, yakni lima kitab pertama dalam Perjanjian
Lama, menyatakan bahwa banjir tersebut bersifat global; menutupi seluruh
bumi. Namun, Al Quran tidak memberikan keterangan seperti itu, sebaliknya
ayat-ayat tentang peristiwa ini membawa pada kesimpulan bahwa banjir itu
bersi-fat regional dan tidak menutupi seluruh bumi, namun hanya
meneng-gelamkan umat Nabi Nuh saja yang telah diberi peringatan, lalu
dihu-kum.*
**
*Ketika riwayat-riwayat tentang Banjir dalam Perjanjian Lama dan Al Quran
diuji, perbedaannya sederhana saja. Perjanjian Lama, yang telah mengalami
banyak perubahan dalam penambahan sepanjang sejarah-nya, sehingga tidak
dapat dinilai sebagai wahyu yang orisinil, menggam-barkan bagaimana banjir
berawal dalam uraian berikut:*
**
*Dan Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia di bumi adalah besar, dan bahwa
setiap imajinasi dari pikiran-pikiran dalam hatinya hanya selalu perbuatan
jahat. Dan ini menjadikan Allah menyesali bahwa Dia telah menciptakan
manusia di bumi, dan ini menyedih-kan hati-Nya. Dan Tuhan berkata, "Aku akan
membinasakan manu-sia yang telah kuciptakan dari permukaan bumi; kedua jenis
yang ada, manusia dan binatang, dan segala yang merayap, dan unggas-unggas
di udara, yang karena telah mengecewakan-Ku yang telah menciptakan mereka.
Akan tetapi, (Nabi) Nuh mendapatkan kasih sayang di mata Tuhan. (Kejadian,
6: 5-8)*
**
*Namun, dalam Al Quran, jelas ditunjukkan bahwa tidak seluruh du-nia, tetapi
hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan. Sebagaimana Nabi Hud diutus hanya
untuk kaum 'Ad (QS. Huud, 11:50), Nabi Shalih diutus untuk kaum Tsamud (QS.
Huud, 11:61), serta seluruh nabi sebelum Mu-hammad hanya diutus untuk umat
mereka saja, Nabi Nuh hanya diutus kepada umatnya dan banjir tersebut hanya
memusnahkan umat Nabi Nuh:*
**
*"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):
"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu
tidak menyembah selain Allah. Sesung-guhnya aku khawatir kamu akan ditimpa
azab (pada) hari yang sangat menyedihkan." (QS. Huud, 11: 25-26) !*
**
*Mereka yang dimusnahkan adalah orang-orang yang sepenuhnya menolak
pernyataan kerasulan Nuh dan berkeras menentang. Ayat-ayat yang senada cukup
gamblang:*
**
*"Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang
yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata
hatinya)." (QS. Al A'raaf, 7: 64) !*
**
*Di samping itu, dalam Al Quran, Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan
menghancurkan suatu umat kecuali telah diutus seorang rasul kepada mereka.
Penghancuran hanya terjadi jika seorang pemberi per-ingatan telah sampai
kepada suatu kaum, dan ia didustakan. Allah me-nyatakan dalam Surat Al
Qashash:*
**
*"Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di
ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan
tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam
keadaan melakukan keza-liman." (QS. Al Qashash, 28: 59) !*
**

*Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum sebelum menurunkan rasul kepada
mereka. Sebagai pemberi peringatan, Nuh hanya diutus untuk kaumnya. Karena
itu, Allah tidak menghancurkan kaum-kaum yang belum diutus rasul, hanya umat
Nabi Nuh.*
*Dari pernyataan-pernyataan dalam Al Quran, kita bisa memastikan bahwa
banjir Nuh adalah bencana regional, bukan global. Penggalian-penggalian pada
daerah-daerah arkeologis yang diperkirakan sebagai lo-kasi terjadinya banjir
yang akan kita bahas berikutnya menunjukkan bah-wa banjir tersebut bukanlah
sebuah peristiwa global yang mempengaruhi seluruh bumi, akan tetapi
merupakan sebuah bencana yang sangat luas yang mempengaruhi bagian tertentu
dari wilayah Mesopotamia.*
**
*Apakah Seluruh Binatang Dinaikkan ke atas Perahu?*
**
*Para penafsir Bibel yakin bahwa Nabi Nuh memasukkan seluruh spesies
binatang di muka bumi ke atas perahu dan binatang-binatang itu bisa selamat
dari kepunahan berkat Nabi Nuh. Menurut keyakinan ini, sepasang dari tiap
spesies penghuni daratan dibawa bersama ke atas pe-rahu.*
**

*Mereka yang mempertahankan pernyataan ini sudah tentu harus menghadapi
banyak kejanggalan serius dalam berbagai hal. Pertanyaan tentang bagaimana
binatang yang diangkut itu diberi makan, bagaimana mereka ditempatkan di
dalam perahu itu, atau bagaimana mereka dipisahkan satu sama lain mustahil
dapat terjawab. Lagi pula, masih ada pertanyaan: Bagaimana binatang-binatang
dari berbagai benua yang berbeda dapat dibawa bersamaan - berbagai mamalia
di kutub, kanguru dari Australia, atau bison yang ada di Amerika? Juga,
lebih banyak lagi pertanyaan menyusul, seperti bagaimana binatang yang
sangat berba-haya - yang berbisa seperti ular, kalajengking, dan
binatang-binatang buas bisa ditangkap, serta bagaimana mereka dapat bertahan
terpisah dari habitat alamiahnya hingga banjir itu surut?*
*Inilah berbagai pertanyaan yang dihadapi Perjanjian Lama. Dalam Al Quran,
tidak ada pernyataan yang mengindikasikan bahwa seluruh spe-sies binatang di
muka bumi dinaikkan ke atas perahu. Dan sebagaimana telah ditegaskan
sebelumnya, banjir tersebut hanya terjadi pada suatu wi-layah tertentu,
sehingga binatang yang dinaikkan ke perahu pun hanya-lah yang hidup di
wilayah umat Nabi Nuh tinggal. *
**
*Meski demikian, jelas mustahil sekalipun hanya untuk mengumpul-kan seluruh
jenis binatang yang hidup di wilayah tersebut. Sukar mem-bayangkan bahwa
Nabi Nuh beserta sejumlah kecil orang-orang beriman yang menyertainya (QS.
Huud, 11: 40) *
**
*menyebar ke segala penjuru untuk mengumpulkan masing-masing dua ekor dari
ratusan spesies binatang di sekitar mereka. Bahkan, lebih mustahil lagi bagi
mereka untuk mengumpulkan berbagai tipe serangga yang hidup di wilayah
mereka, apatah lagi untuk memisahkan antara yang jantan dan betina! Inilah
alasan mengapa lebih memungkinkan jika yang dikumpulkan itu hanya binatang
yang mudah ditangkap dan dipelihara, dan karenanya, merupa-kan binatang
ternak yang secara khusus berguna bagi manusia. Nabi Nuh agaknya menaikkan
ke atas perahu binatang sejenis itu, seperti sapi, biri-biri, kuda, unggas,
unta, dan sejenisnya, karena inilah binatang-binatang yang dibutuhkan untuk
menyangga kehidupan baru di wilayah yang telah kehilangan sejumlah besar
prasarana hidup karena Banjir tersebut.*
**
*Poin penting di sini adalah bahwa kebijaksanaan ilahiah dalam pe-rintah
Allah kepada Nabi Nuh untuk mengumpulkan berbagai binatang adalah untuk
menunjang kehidupan baru setelah banjir berakhir, bukan untuk kepentingan
mempertahankan genus berbagai binatang. Selama banjir itu bersifat regional,
maka kepunahan berbagai jenis binatang tidak akan mungkin terjadi. Besar
kemungkinan, setelah banjir, berbagai binatang dari wilayah-wilayah lain
perlahan-lahan akan bermigrasi ke wilayah tersebut dan kembali memadati
daerah itu sebagaimana sebe-lumnya. Yang penting adalah kehidupan yang akan
dirintis kembali begi-tu banjir berakhir, dan binatang-binatang yang
dikumpulkan dimaksud-kan untuk tujuan ini.*
**
*Berapa Tinggikah Banjir Tersebut?*
**
*Perdebatan lain di seputar Banjir itu adalah, apakah ketinggian air cukup
untuk menenggelamkan gunung? Sebagaimana diketahui, Al Quran
menginformasikan kepada kita bahwa perahu Nabi Nuh itu terdampar di "Al
Judi" seusai banjir. Umumnya, kata "Judi" dirujuk sebagai lokasi gunung
tertentu, sementara kata itu berarti "tempat yang tinggi atau bukit" dalam
bahasa Arab. Karenanya, jangan dilupakan bahwa dalam Al Quran, "Judi" bisa
jadi tidak digunakan sebagai nama gunung tertentu, akan tetapi untuk
mengisyaratkan bahwa perahu Nuh telah terdampar pada suatu ketinggian. Di
samping itu, makna kata "judi" yang disebutkan di atas mungkin juga
menunjukkan bahwa air bah itu mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak
mencapai ketinggian pun-cak gunung. Dengan kata lain bahwa banjir itu
kemungkinan besar tidak menenggelamkan seluruh bumi dan semua gunung-gunung
sebagai-mana digambarkan dalam Perjanjian Lama, tetapi hanya menggenangi
wilayah tertentu.*
**
*Lokasi Banjir Nuh*
**
*Daratan Mesopotamia diduga kuat sebagai lokasi Banjir Nuh. Di sini terdapat
peradaban tertua yang dikenal sejarah. Lagi pula, karena berada di antara
sungai Tigris dan Eufrat, secara geografis tempat ini sangat memungkinkan
terjadinya sebuah banjir besar. Di antara faktor penyebab terjadinya banjir
besar kemungkinan karena kedua sungai ini meluap dan membanjiri wilayah
tersebut.*
**
*Alasan kedua, daerah tersebut diduga kuat sebagai tempat terjadinya banjir
bersifat historis. Dalam catatan sejarah berbagai peradaban manu-sia di
wilayah tersebut, banyak dokumen yang ditemukan merujuk pada sebuah banjir
yang terjadi dalam periode yang sama. Setelah menyak-sikan kebinasaan kaum
Nabi Nuh, peradaban-peradaban tersebut agak-nya merasa perlu mencatat dalam
sejarah mereka, bagaimana bencana itu terjadi, serta akibat-akibat yang
ditimbulkannya. Diketahui pula bahwa mayoritas legenda tentang banjir
tersebut berasal dari Mesopotamia. Lebih penting lagi bagi kita adalah
temuan-temuan arkeologis. Temuan-temuan tersebut membenarkan terjadinya
sebuah banjir besar di wilayah ini. Sebagaimana akan kita bahas secara rinci
pada halaman-halaman be-rikut, banjir ini telah menyebabkan tertundanya
peradaban selama perio-de tertentu. Dalam penggalian-penggalian yang
dilakukan, tersingkap jejak-jejak nyata sebuah bencana dahsyat.*
**
*Penggalian-penggalian di wilayah Mesopotamia mengungkap bah-wa berkali-kali
dalam sejarah, wilayah ini diserang berbagai bencana sebagai akibat dari
banjir dan meluapnya Sungai Eufrat dan Tigris. Misal-nya, pada alaf kedua
Sebelum Masehi (SM), pada masa Ibbisin, penguasa negeri Ur yang luas, yang
berlokasi di sebelah selatan Mesopotamia, sebuah tahun tertentu ditandai
dengan "pasca Banjir yang melenyapkan garis batas antara langit dan bumi".**
1* <http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>*Sekitar
1700 SM, pada masa kekua-saan Hamurabi dari Babilonia, sebuah tahun
ditandai dengan terjadinya peristiwa "kehancuran kota Eshnunna oleh air
bah". *
**
*Pada abad ke-10 SM, pada masa pemerintahan Nabu-mukin-apal, sebuah banjir
terjadi di kota
Babilon.**2*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>
* Setelah zaman Nabi Isa (Jesus) pada abad ke-7, ke-8, ke-10, ke-11, dan
ke-12, banjir-banjir yang bersejarah terjadi di wilayah tersebut. Dalam abad
ke-20, kejadian serupa terjadi pa-da tahun 1925, 1930, dan
1954.**3*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>
* Jelaslah bahwa wilayah ini telah senantiasa diserang bencana banjir, dan
sebagaimana ditunjukkan dalam Al Quran, sangat mungkin suatu banjir
besar-besaran telah membinasa-kan suatu komunitas secara keseluruhan.*
**
*Bukti-Bukti Arkeologis tentang Banjir*
**
*Bukanlah suatu kebetulan bila sekarang ini kita menemukan jejak-jejak dari
kebanyakan kaum yang menurut Al Quran telah dibinasakan. Bukti-bukti
arkeologis menyajikan fakta, bahwa semakin mendadak ke-hancuran suatu kaum,
semakin memungkinkan bagi kita untuk men-dapati sebagian bekasnya.*
**


*WILAYAH BANJIR
Menurut temuan arkeologis, Banjir Nuh terjadi di dataran Mesopotamia.
Dataran tersebut dahulunya memiliki bentuk yang berbeda. Pada diagram di
samping, perbatasan dataran saat ini ditandai dengan garis putus-putus
merah. Bagian luas yang besar di belakang garis merah diketahui sebagai
bagian dari laut pada saat itu.*
*Jika sebuah peradaban hancur secara tiba-tiba, yang dapat terjadi ka-rena
bencana alam, emigrasi yang mendadak, atau perang, jejak-jejak peradaban ini
sering dapat lebih terpelihara. Rumah-rumah yang pernah mereka huni,
peralatan-peralatan yang pernah mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari,
segera akan terkubur. Maka, semua itu dapat terpelihara dalam waktu yang
lama tanpa tersentuh tangan manusia, dan menjadi bukti penting tentang masa
lampau bila dikeluarkan.*
**
*Jadi begitulah hingga banyak bukti tentang Banjir Nabi Nuh ter-ungkap saat
ini. Diperkirakan terjadi sekitar alaf ke-3 SM, Banjir itu telah mengakhiri
suatu peradaban seluruhnya dengan seketika, dan selanjut-nya menyebabkan
lahirnya sebuah peradaban baru sebagai gantinya. Jadi, bukti-bukti nyata
tentang Banjir ini telah terpelihara selama ribuan tahun agar kita bisa
mengambil pelajaran darinya.*
**
*Banyak penggalian telah dilakukan untuk menyelidiki banjir yang telah
menenggelamkan daratan-daratan Mesopotamia. Dalam berbagai penggalian di
wilayah tersebut, di empat kota utama ditemukan jejak-je-jak yang
menunjukkan terjadinya sebuah banjir besar. Kota-kota tersebut ada-lah
kota-kota penting di Mesopotamia; Ur, Erech, Kish, dan Shuruppak.*
**
*Penggalian-penggalian di kota-kota ini mengungkap bahwa keempat kota ini
telah dilanda sebuah banjir sekitar alaf ke-3 SM.*
**

*Pertama, mari kita lihat penggalian-penggalian yang dilakukan di kota Ur.*
*Sisa-sisa tertua dari sebuah peradaban yang tersingkap dari peng-galian
terdapat di kota Ur, yang kini telah berganti nama menjadi "Tell al
Muqayyar", berusia 7000 tahun SM. Sebagai situs dari salah satu per-adaban
tertua, kota Ur telah menjadi wilayah hunian tempat silih ber-gantinya
berbagai kebudayaan.*
**
*Temuan arkeologis dari kota Ur memperlihatkan bahwa di sini per-adaban
pernah terputus setelah terjadinya sebuah banjir dahsyat, dan kemudian
peradaban-peradaban baru tampil. R. H. Hall dari British Mu-seum melakukan
penggalian pertama di tempat ini. Leonard Woolley yang melakukan penggalian
setelah Hall, menjadi pengawas penggalian yang secara kolektif dikelola oleh
the British Museum dan University of Pennsylvania. Penggalian-penggalian
yang dipimpin Woolley, yang ber-pengaruh di seluruh dunia, berlangsung dari
1922 sampai 1934.*
**
*Penggalian-penggalian oleh Sir Woolley dilakukan di tengah padang pasir
antara Baghdad dan Teluk Persia. Pendiri pertama kota Ur adalah kaum yang
datang dari Mesopotamia Utara dan menyebut diri mereka "bangsa Ubaid." Pada
awalnya, penggalian itu dilakukan untuk meng-himpun informasi tentang
mereka. Penggalian yang dilakukan Woolley digambarkan oleh seorang arkeolog
Jerman, Werner Keller, sebagai berikut:*
**
*"Kuburan Raja-Raja Ur" begitu Woolley, dalam kegembiraan atas penemu-annya,
menamakan makam para bangsawan Sumeria tersebut. Kehebatan kekuasaan mereka
terungkap saat sekop para arkeolog mengenai sebuah tanggul sepanjang 50 kaki
di sebelah selatan candi dan mengungkap deretan panjang pekuburan yang
tertimbun. Kuburan-kuburan batu yang ditemu-kan benar-benar merupakan tempat
penyimpanan harta, karena dipenuhi piala-piala mahal, beraneka kendi dan vas
yang indah, barang becah belah dari perunggu, kepingan-kepingan mutiara,
lapis lazuli, dan perak yang mengelilingi jasad-jasad yang telah menjadi
debu. Harpa dan lira tersandar di dinding-dinding. "Hampir seketika" dia
kemudian menulis dalam buku hariannya, "Penemuan-penemuan menegaskan
kecurigaan-kecurigaan kami. Tepat di bawah lantai dari salah satu lubang
kubur para raja, di bawah lapisan abu kayu, kami menemukan tablet-tablet
tanah liat, yang dipenuhi huruf yang jauh lebih tua daripada tulisan pada
kuburan. Melihat sifat dari tulisan, tablet-tablet tersebut kemungkinan
dibuat sekitar tahun 3.000 SM. Berarti, mereka dua atau tiga abad lebih awal
dari makam tersebut."*
**
*Lubang itu bertambah dalam. Tingkatan yang baru, dengan pecahan-pecah-an
kendi, pot, dan mangkuk terus muncul. Para ahli memperhatikan bahwa sisa
tembikar itu secara mengejutkan tidak terlalu berubah; tampak serupa dengan
yang ditemukan di pekuburan para raja. Karena itulah, sepertinya selama
berabad-abad peradaban Sumeria tidak mengalami perubahan yang radikal.
Mereka tentunya, menurut kesimpulan, telah mencapai tingkat perkembangan
yang tinggi jauh lebih awal lagi.*
**
*Ketika beberapa hari kemudian, para pekerja berteriak, "Kita sampai di
ting-kat dasar." Woolley sendiri turun ke lantai lubang galian untuk
memuaskan dirinya. Pikiran Woolley pertama kali, "Inilah dia
akhirnya".Lantai itu berupa pasir, jenis pasir murni yang hanya bisa
didepositkan oleh
air.*
**

*Mereka memutuskan untuk terus menggali dan membuat lubang itu lebih dalam
lagi. Sekop menggali semakin dalam dan semakin dalam: tiga kaki, enam kaki
masih berupa lumpur murni. Tiba-tiba, pada kedalaman sepuluh kaki, lapisan
lumpur terhenti sama mendadak dengan bermulanya. Di bawah deposit tanah liat
setebal kurang lebih sepuluh kaki, mereka dikejutkan oleh bukti-bukti baru
dari hunian manusia. Wujud dan kualitas dari tembikar tampak sangat berubah.
Di sini, barang-barang tersebut dibuat dengan tangan. Sisa-sisa logam tak
ditemukan di mana-mana. Peralatan primitif yang muncul terbuat dari
pengerjaan dengan batu api. Ini mesti berasal dari Zaman Batu!*

*Banjir itulah penjelasan satu-satunya bagi besarnya deposit tanah liat di
bawah bukit di kota Ur, yang dengan cukup jelas memisahkan dua masa
kehidupan. Laut telah meninggalkan jejak-jejak yang tidak terpungkiri dalam
bentuk sisa-sisa organisme laut kecil yang tersimpan dalam
lumpur.**4*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>


*Penggalian yang dilaku-kan Sir Leonard Woolley di dataran
Mesopotamiamengungkapkan adanya lapisan lumpur-tanah liat setebal 2,5
m jauh di dalam
bumi. Lapisan lumpur-tanah liat ini kemungkinan besar terbentuk oleh
massatanah liat yang terbawa oleh air bah dan, dari seluruh dunia,
hanya terdapat
di bawah dataran Meso-potamia. Penemuan ini menjadi bagian bukti penting
bahwa Banjir tersebut hanya terjadi di dataran Mesopotamia.*
*Analisis mikroskopis mengungkapkan bahwa deposit tanah liat yang besar di
bawah bukit di kota Ur telah terakumulasi sebagai akibat dari ba-njir
teramat besar yang laksana melenyapkan peradaban Sumeria kuno. Epik tentang
Gilgamesh dan cerita tentang Nuh tersatukan dengan lu-bang galian yang jauh
di bawah gurun Mesopotamia.*
**
*Max Mallowan menuturkan pikiran-pikiran Leonard Woolley, yang menyatakan
bahwa endapan masif sebesar itu dan terbentuk dalam suatu periode waktu
hanya bisa terjadi karena bencana banjir yang sangat besar. Woolley juga
menguraikan bahwa lapisan banjir yang memisahkan kota Sumeria di kota Urdengan
kota Al Ubaid yang penduduknya mengguna-kan tembikar yang dicat, sebagai
sisa dari Banjir
tersebut.**5*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>
* *
**
*Ini semua menunjukkan bahwa kota Ur adalah salah satu dari ber-bagai daerah
yang terkena Banjir Nuh. Digambarkan oleh Werner Keller bahwa arti penting
penggalian arkeologis di Mesopotamia adalah bahwa sisa-sisa kota di bawah
lapisan berlumpur tersebut membuktikan pernah terjadinya banjir di tempat
ini pada dahulu
kala.**6*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>

*Kota lain di Mesopotamia yang juga menyimpan jejak-jejak Banjir Nuh adalah
kota Kish di Sumeria, yang saat ini dikenal sebagai "Tall Al Uhaimer".
Menurut sumber-sumber Sumeria kuno, kota ini merupakan "kedudukan dari
dinasti 'pascadiluvian' yang
pertama".7<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>
*
**
*Kota Shuruppak di sebelah selatan Mesopotamia, yang saat ini ber-nama "Tall
Far'ah" pun menyimpan jejak-jejak nyata dari banjir tersebut. Studi
arkeologis yang dilakukan di kota ini dipimpin oleh Erich Schmidt dari
Universitas Pennsylvania antara tahun 1922-1930. Penggalian-peng-galian ini
mengungkapkan tiga lapisan hunian manusia dalam rentang waktu sejak masa
prasejarah hingga dinasti Ur ketiga (2112-2004 SM). Temuan paling istimewa
adalah reruntuhan rumah-rumah yang dibangun dengan baik, sekaligus dengan
tablet-tablet bertulisan paku (cuneiform) tentang catatan administratif dan
daftar kata-kata, yang mengindikasikan keberadaan suatu masyarakat yang
telah maju pada akhir alaf ke-4
SM.**8*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>

*Poin terpenting adalah dimengerti bahwa sebuah banjir besar telah terjadi
di kota ini sekitar tahun 2900-3000 SM. Menurut catatan Mallo-wan, 4-5 meter
di bawah tanah, Schmidt telah mencapai lapisan tanah kuning (dibentuk oleh
banjir) yang berupa campuran tanah liat dan pasir. Lapisan ini lebih dekat
ke lapisan datar daripada profil tumulus dan dapat teramati di seputar
tumulus.… Schmidt memastikan bahwa lapisan yang terbentuk dari campuran
tanah liat dan pasir ini, yang tersisa dari masa kerajaan kuno Cemdet Nasr,
sebagai "pasir yang berasal dari dalam sungai" dan ini menghubungkannya
dengan Banjir 
Nuh.**9*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>

*Pada penggalian yang dilakukan di kota Shuruppak, ditemukan sisa-sisa
banjir yang terjadi kurang lebih tahun 2900-3000 SM. Mungkin, kota Shuruppak
terkena imbas dari banjir sebesar kota-kota
lain.**10*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>


*Tempat terakhir yang menunjukkan terjadinya banjir adalah kota Erech di
selatan kota Shuruppak yang kini dinamai "Tall al-Warka". Di kota ini,
sebagaimana di kota-kota yang lainnya, ditemukan lapisan ban-jir. Lapisan
ini berjangka waktu antara 2900-3000 SM seperti yang
lain.**11*<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#dipnot#dipnot>
*Sebagaimana diketahui, sungai Eufrat dan Tigris melintasi Mesopo-tamia dari
ujung ke ujung. Tampaknya selama peristiwa itu, kedua sungai ini meluap,
begitupun banyak sumber mata air lainnya, besar maupun kecil, dan ketika
bersatu dengan air hujan, telah menyebabkan sebuah banjir yang dahsyat.
Peristiwa itu digambarkan dalam Al Quran:*
**
*"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah
air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS. Al Qamar,
54:11-12) !*
**
*Jika faktor-faktor penyebab banjir itu dibahas satu per satu, tampak-lah
bahwa kesemuanya itu merupakan fenomena yang sangat alami. Adapun yang
menjadikan peristiwa itu penuh mukjizat adalah karena kejadiannya bersamaan
dan peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya ten-tang bencana seperti itu terlebih
dahulu.*
**
*Pengujian terhadap bukti yang didapat dari kajian lengkap meng-ungkapkan
bahwa daerah banjir membentang sekitar 160 km (lebar) dari timur ke barat,
dan 600 km (panjang) dari utara ke selatan. Ini menunjuk-kan bahwa banjir
tersebut menutupi seluruh daratan Mesopotamia. Jika kita uji urutan
kota-kota Ur, Erech, Shuruppak, dan Kish yang menunjuk-kan jejak-jejak
banjir Nuh, tampaklah bahwa kota-kota ini berada dalam satu garis sepanjang
rute tersebut. Oleh karena itu, banjir tersebut pastilah telah melanda
keempat kota ini dan daerah-daerah sekitarnya. Di sam-ping itu, harus
dicatat bahwa pada sekitar 3.000 tahun SM, struktur geografis daratan
Mesopotamia berbeda dengan kondisi sekarang. Pada masa itu, posisi sungai
Eufrat terletak lebih ke timur dibandingkan de-ngan posisi saat ini; garis
arus sungai itu sesuai dengan garis yang mele-wati kota Ur, Erech,
Shuruppak, dan Kish. Dengan terbukanya "mata air di bumi dan di surga",
agaknya sungai Eufrat meluap menyebar sehingga merusak empat kota di atas.*
**
*Agama dan Kebudayaan yang Menyebutkan Banjir Nuh*
**
*Peristiwa Banjir Nuh tersebut disebarluaskan ke hampir semua ma-nusia
melalui lisan para nabi yang menyampaikan agama yang hak, tetapi akhirnya
menjadi legenda oleh berbagai kaum, dan kisah itu mengalami berbagai
penambahan dan pengurangan dalam periwayatannya.*
**

*Allah telah menyampaikan kisah tentang Banjir Nuh kepada manu-sia melalui
para rasul dan kitab-kitab yang Dia turunkan kepada berbagai masyarakat agar
hal itu menjadi peringatan atau permisalan. Namun, tiap masa kitab-kitab
tersebut telah dirubah dari aslinya, dan penggambaran Banjir Nuh juga telah
ditambahi unsur-unsur mitologis. Hanya Al Quran satu-satunya sumber yang
secara mendasar sesuai dengan temuan-temu-an dan observasi empiris. Hal ini
tidak lain karena Allah telah menjaga Al Quran dari perubahan, meski sebuah
perubahan kecil sekalipun, maupun pengurangan. Sesuai isyarat Al Quran "Kami
telah dengan tanpa keragu-an menurunkan risalah, dan Kami dengan pasti akan
menjaganya (dari pengurangan)" (QS. Al-Hijr, 15: 9), Al Quran berada di
bawah pengawas-an khusus Allah.*
*Pada bagian akhir bab ini, kita akan melihat, bagaimana peristiwa Banjir
Nuh digambarkan meski telah sangat berubah dalam berbagai ke-budayaan, serta
dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.*
**
*Banjir Nabi Nuh dalam Perjanjian Lama*
**
*Kitab yang sebenarnya diwahyukan kepada Nabi Musa adalah Tau-rat. Nyaris
tidak ada dari wahyu ini tersisa, dan kitab Injil "Pentateuch" (lima buku
pertama dari kitab Perjanjian Lama), seiring perjalanan waktu, telah
kehilangan hubungannya dengan wahyu yang asli. Bahkan kemudi-an sebagian
besar isinya telah diubah oleh para rabbi Yahudi. Begitu pula, wahyu-wahyu
yang dibawa nabi-nabi lain yang diutus kepada Bani Israil setelah Nabi Musa,
mendapat perlakuan serupa dan sangat banyak per-ubahan. Kondisi inilah yang
membuat kita menyebutnya sebagai "Penta-teuch yang Diubah" karena telah
kehilangan hubungan dengan wahyu aslinya, dan menganggapnya sebagai karya
manusia yang berupaya men-catat sejarah suku bangsanya, bukan sebagai sebuah
kitab suci. Tidaklah mengherankan jika keadaan Pentateuch yang Diubah itu
dan berbagai kontradiksi yang dikandungnya sangat tampak pada pemaparannya
ten-tang kisah Nabi Nuh, meskipun mempunyai kesamaan dengan Al Quran dalam
beberapa bagian.*
**
*Menurut Perjanjian Lama, Tuhan berfirman kepada Nuh bahwa semua orang,
kecuali mereka yang beriman, akan dihancurkan karena bumi telah penuh dengan
berbagai kejahatan. Untuk menghadapi ini, Tuhan memerintahkan Musa membuat
bahtera dan mengajarkan dengan rinci bagaimana mengerjakannya. Tuhan juga
menyuruhnya membawa keluarganya, tiga orang anaknya, istri-istri mereka,
sepasang dari setiap makhluk hidup, dan persediaan bahan pangan.*
**
*Tujuh hari kemudian, ketika tiba waktunya Banjir, semua sumber air dalam
tanah memancar, pintu-pintu langit terbuka, dan sebuah banjir be-sar
menenggelamkan segala sesuatu. Hal ini berlangsung selama empat puluh hari
dan empat puluh malam. Bahtera Nuh melayari air yang menutupi semua
pegunungan dan dataran tinggi. Mereka yang bersama Nuh selamat, sedang
sisanya terseret air bah dan mati tenggelam. Hujan berhenti setelah terjadi
banjir, yang berlangsung selama empat puluh hari empat puluh malam, dan air
mulai surut 150 hari kemudian.*
**
*Kemudian, pada hari ketujuh belas pada bulan ketujuh, kapal ter-sebut
terdampar di pegunungan Ararat (Agri). Nuh mengirim seekor merpati untuk
melihat apakah air telah benar-benar surut, dan ketika akhirnya merpati
tersebut tidak kembali lagi, Nuh menyadari bahwa air telah surut seluruhnya.
Tuhan memerintahkan mereka meninggalkan kapal dan menyebar ke seluruh
penjuru bumi.*
**

*Salah satu kontradiksi pada kisah dalam Perjanjian Lama adalah: Se-telah
uraian ini, dalam versi "Yahudi", disebutkan bahwa Tuhan meme-rintahkan Nuh
untuk membawa tujuh jantan dan betina dari setiap jenis hewan-hewan
tersebut, yang disebut-Nya "bersih" dan hanya sepasang dari setiap jenis
hewan-hewan tersebut yang disebut-Nya "tidak bersih".*
*Ini jelas bertentangan dengan teks di atas. Di samping itu, dalam
Per-janjian Lama jangka waktu terjadinya banjir juga berbeda. Menurut versi
Yahudi juga, peristiwa naiknya air terjadi selama empat puluh hari,
se-dangkan berdasarkan orang-orang awam, dikatakan terjadi selama 150 hari.*
**

*Sebagian dari Perjanjian Lama yang menceritakan tentang banjir Nuh adalah
sebagai berikut:*

*Berfirmanlah Allah kepada Nuh, "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup
sebagian makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka; jadi
Aku akan memusnahkan mereka bersa-ma-sama dengan bumi. Buatlah bagimu perahu
dari kayu gofir; ....*

*Sebab sesungguhnya, Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk
memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong la-ngit; segala yang
ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan eng-kau Aku akan mengadakan
perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau
bersama-sama dengan anakmu, dan istrimu, dan istri-istri anak-anakmu. Dan
dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau
bawa satu pasang dalam bahtera itu, ....*

*…Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintah-kan Allah
kepadanya." (Kejadian, 6: 13-22)*

*Dalam bulan ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, ter-kandaslah
bahtera pada pegunungan Ararat. (Kejadian, 8:4)*

*Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pa-sang,
jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan
dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan
betina, supaya terpelihara hidup keturun-annya di seluruh bumi. (Kejadian,
7: 2-3)*

*Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang
hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak ada lagi air bah
untuk memusnahkan bumi." (Kejadian, 9: 11)*

*Menurut Perjanjian Lama, sesuai dengan pernyataan bahwa "semua makhluk di
dunia akan mati" dalam sebuah banjir yang menggenangi seluruh permukaan
bumi, maka seluruh manusia dihukum, dan yang selamat hanya mereka yang
menaiki bahtera bersama Nuh.*

*Banjir Nuh dalam Perjanjian Baru*

*Perjanjian Baru yang kita dapati saat ini juga bukan sebuah kitab suci
dalam arti kata yang sebenarnya. Perjanjian Baru yang terdiri dari
perka-taan dan perbuatan dari Isa (Jesus), dimulai dengan empat "Injil" yang
ditulis satu abad setelah keberadaan Isa, oleh orang-orang yang belum pernah
melihat atau bertemu dengannya; yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Johanes.
Terdapat berbagai kontradiksi yang sangat gamblang diantara keempat gospel
ini. Khususnya, Injil Johanes sangat berbeda dengan tiga injil yang lain
(Injil Sinoptik), yang hingga beberapa derajat, tapi tidak sepenuhnya,
saling mendukung sesamanya. Buku-buku lain dari Perjanjian Baru terdiri dari
surat-surat yang ditulis oleh para murid dan Saul dari Tarsus (kemudian
disebut Santo Paulus) yang menye-butkan perbuatan para murid setelah
kematian Isa. *

*Jadi, Perjanjian Baru yang terdapat saat ini bukanlah naskah suci, namun
lebih merupakan buku semi-sejarah.*

*Dalam Perjanjian Baru, Banjir Nuh disebutkan secara singkat sebagai
berikut; Nuh diutus sebagai utusan kepada sebuah masyarakat yang tidak patuh
dan menyimpang, namun kaumnya tidak mau mengikutinya dan meneruskan
kesesatan mereka. Oleh karena itu, Allah menimpakan banjir kepada mereka
yang menolak beriman dan menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan
menempatkan mereka ke dalam bahtera. Beberapa bab dari Perjanjian Baru yang
berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut:*

*Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada
kedatangan Anak manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah
itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke
dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu
datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pula halnya kelak pada
kedatangan Anak manusia." (Matius, 24: 37-39)*

*"Dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi harus
menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika
Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang fasik." (Petrus Kedua, 2: 5)*

*"Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah kelak halnya
Anak manusia pada hari kedatangan-Nya: mereka makan dan minum, mereka kawin
dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu
datanglah air bah dan mem-binasakan mereka semua." (Lukas, 17: 26-27)*

*"…mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah
tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang memper-siapkan bahteranya, di
mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah
itu." (Petrus Pertama, 3: 20)*
*"Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit te-lah ada
sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa
oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, di-musnahkan oleh air bah."
(Petrus Kedua, 3:5-6) *
**
*Penyebutan Peristiwa Banjir dalam Kebudayaan Lain*
**
*Kebudayaan Sumeria: Dewa yang bernama Enlil memberi tahu orang-orang bahwa
dewa-dewa yang lain ingin menghancurkan umat manusia, namun ia berkenan
untuk meyelamatkan mereka. Pahlawan dalam kisah ini adalah Ziusudra, raja
yang taat dari negeri Sippur. Dewa Enlil memberi tahu Ziusudra apa yang
harus dilakukan agar selamat dari Banjir. Teks yang menceritakan pembuatan
kapal tersebut hilang, namun fakta bahwa bagian ini pernah ada terungkap
dalam bagian-bagian yang menyebutkan bagaimana Ziusudra diselamatkan.
Begitupun berdasar-kan versi Babilonia tentang banjir, dapat disimpulkan
bahwa dalam versi Sumeria yang lengkap tentulah terdapat rincian yang lebih
menyeluruh tentang penyebab kejadian tersebut dan bagaimana perahu dibuat.*
**
*Kebudayaan Babilonia: Ut-Napishtim adalah padanan bangsa Babi-lonia
terhadap Ziusudra, pahlawan Sumeria dalam peristiwa banjir. To-koh penting
yang lain adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilga-mesh memutuskan untuk
mencari dan menemukan para leluhurnya untuk mendapatkan rahasia kehidupan
abadi. Ia diperingatkan akan berbagai bahaya dan kesulitan dalam perjalanan
itu. Ia diberi tahu bahwa ia harus melakukan perjalanan melewati "pegunungan
Mashu dan perairan ma-ut"; dan perjalanan seperti itu hanya pernah
diselesaikan oleh dewa ma-tahari Shamash. Namun Gilgamesh menghadapi semua
bahaya perjalan-an dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.*
**
*Naskah ini terpotong pada bagian yang menceritakan pertemuan antara
Gilgamesh dan Ut-Napishtim; dan selanjutnya ketika teks dapat terbaca,
Ut-Napishtim menceritakan kepada Gilgamesh bahwa "para dewa menyimpan
rahasia kematian dan kehidupan bagi diri mereka sendiri" (mereka tidak akan
memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini, Gilgamesh bertanya
bagaimana Ut-Napishtim dapat mem-peroleh keabadian; dan Ut-Napishtim
menceritakan kepadanya kisah banjir sebagai jawaban atas pertanyaan ini.
Banjir tersebut juga dicerita-kan dalam kisah "dua belas meja " yang
terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.*
**
*Ut-Napishtim memulai dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan
kepada Gilgamesh merupakan "sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari
dewa-dewa". Ia bercerita bahwa ia berasal dari kota Shurup-pak, kota tertua
di antara kota-kota di daratan Akkad. Berdasarkan cerita-nya, dewa "Ea"
telah memanggilnya melalui dinding kayu gubuknya dan menyatakan bahwa para
dewa telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih kehidupan dengan
sebuah banjir; namun penyebab kepu-tusan mereka tidak diterangkan dalam
cerita banjir Babilonia sebagai-mana halnya dalam kisah banjir Sumeria.
Ut-Napishtim menceritakan bahwa Ea telah menyuruhnya membuat sebuah perahu
dan ia harus membawa serta "benih-benih dari semua makhluk hidup"dengan
perahu itu. Ea memberitahunya ukuran dan bentuk kapal itu; berdasarkan hal
ini, lebar, panjang, dan tinggi kapal menjadi sama. Badai besar
menjung-kirbalikkan segala sesuatu selama enam hari dan enam malam. Pada
hari ketujuh, badai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa di luar kapal, "semua
telah berubah menjadi lumpur yang lengket". Kapal tersebut terdampar di
gunung Nisir.*
**
*Menurut catatan Sumeria-Babilonia, Xisuthros atau Khasisatra dise-lamatkan
dari banjir oleh sebuah kapal yang panjangnya 925 meter, ber-sama
keluarganya, teman-temannya, dan berbagai jenis burung dan bina-tang.
Disebutkan bahwa "air meluap hingga ke langit, lautan menu-tupi pantai, dan
sungai meluap dari tepiannya". Dan kapal itu pun akhirnya terdampar di
gunung Corydaean.*
**

*Menurut catatan Asiria-Babilonia, Ubar Tutu atau Khasisatra disela-matkan
bersama keluarga, pembantu, ternaknya, dan binatang-binatang liar dalam
sebuah kapal yang panjangnya 600 kubit, tinggi dan lebarnya 60 kubit. Banjir
tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut
mencapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kem-bali, sedangkan burung
gagak tidak kembali.*
*Berdasarkan beberapa catatan Sumeria, Asiria dan Babylonia, Ut-Napishtim
beserta keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6
malam. Dikatakan "Pada hari ketujuh Ut-napishtim melihat keluar. Semuanya
sangat sepi. Manusia sekali lagi menjadi lumpur." Ketika kapal terdampar di
gunung Nizar, Ut-napishtim mengirim ma-sing-masing seekor burung merpati,
burung gagak dan burung pipit. Burung gagak tinggal memakan bangkai,
sedangkan dua burung yang lain tidak kembali.*
**
*Kebudayaan India: Dalam epik Shatapatha Brahmana dan Maha-bharata dari
India, seseorang bernama Manu diselamatkan dari banjir bersama Rishiz.
Menurut legenda, seekor ikan yang ditangkap oleh Manu dan dilepaskannya,
tiba-tiba berubah menjadi besar dan menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu
dan mengikatkan ke tanduknya. Ikan ini dianggap penjelmaan dari dewa Wishnu.
Ikan tersebut menarik kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke
utara, ke gunung Hismavat.*
**

*Kebudayaan Wales: Menurut legenda Wales (dari Wales, wilayah Celtic di
Inggris), Dwynwen dan Dwyfach selamat dari bencana besar dengan sebuah
kapal. Ketika bah yang amat mengerikan yang terjadi akibat meluapnya
Llynllion yang dinamai Danau Gelombang surut, mereka berdua memulai kembali
kehidupan di daratan Inggris.*
*Kebudayaan Skandinavia: Legenda Nordic Edda mengisahkan tentang Bergalmir
dan istrinya yang selamat dari banjir dengan sebuah kapal besar.*
**
*Kebudayaan Lithuania: Dalam legenda Lithuania, diceritakan bah-wa beberapa
pasang manusia dan binatang diselamatkan dengan berlin-dung di puncak sebuah
gunung yang tinggi. Ketika angin dan banjir yang berlangsung selama dua
belas hari dan dua belas malam tersebut mulai mencapai ketinggian gunung
yang hampir menenggelamkan mereka yang ada di sana, Sang Pencipta
melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Mereka yang ada di
gunung tersebut selamat dari bencana dengan berlayar bersama kulit kacang
raksasa ini.*
**

*Kebudayaan Cina: Sumber-sumber bangsa Cina mengisahkan ten-tang seseorang
yang bernama Yao bersama tujuh orang lain, atau Fa Li bersama istri dan
anak-anaknya, selamat dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu
layar. Dikatakan bahwa "seluruh dunia han-cur. Air menyembur dan
menenggelamkan semua tempat". Akhirnya, air pun surut.*
*Banjir Nuh dalam Mitologi Yunani: Dewa Zeus memutuskan untuk memusnahkan
manusia yang menjadi semakin sesat, dengan sebuah banjir. Hanya Deucalion
dan istrinya Pyrrha yang selamat dari banjir, karena ayah Deucalion
sebelumnya telah menyarankan anaknya untuk membuat sebuah kapal. Pasangan
ini mendarat di gunung Parnassis sem-bilan hari setelah menaiki kapal.*
**

*Semua legenda ini mengindikasikan sebuah realitas sejarah yang konkret.
Dalam sejarah, setiap masyarakat menerima risalah, setiap insan menerima
wahyu suci, sehingga banyak kaum yang mengetahui peristi-wa Banjir Nuh.
Sayangnya, begitu manusia berpaling dari esensi wahyu suci, catatan tentang
peristiwa banjir besar pun mengalami banyak per-ubahan dan berubah menjadi
legenda dan mitos.*
*Satu-satunya sumber bagi kita untuk menemukan kisah sejati tentang Nuh dan
kaum yang menolaknya adalah Al Quran, yang merupakan sumber tunggal wahyu
suci yang tidak mengalami perubahan.*
**
*Al Quran memberi kita keterangan yang benar, tidak hanya tentang banjir
Nuh, namun juga tentang pelbagai kaum dan peristiwa sejarah lainnya. Pada
bab-bab berikut kita akan meninjau kembali kisah-kisah sejati ini.*
**
*1- Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, p.66
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#1>
2- Ibid.  <http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#2>
3- Muazzez Ilmiye Cig, Kuran, Incil ve Tevrat'in Sümer'deki Kökleri (The
Roots of Qur'an, Old Testament and New Testament in Sumer), 2.b., Istanbul:
Kaynak, 1996  <http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#3>
4- Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a
Confirmation of the Book of Books), New York: William Morrow, 1964, pp.
25-29  <http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#4>
5- Max Mallowan, Nuh's Flood Reconsidered, Iraq:XXVI-2, 1964, p. 70
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#5>
6- Werner Keller, Und die Bibel hat doch recht (The Bible as History; a
Confirmation of the Book of Books), New York: William Morrow, 1964, pp.
23-32  <http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#6>
7- "Kish", Britannica Micropaedia, Volume 6, p. 893
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#7>
8- "Shuruppak", Britannica Micropaedia, Volume 10, p. 772
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#8>
9- Max Mallowan, Early Dynastic Period in Mesapotamia, Cambridge Ancient
History 1-2, Cambridge: 1971, p. 238
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#9>
10- Joseph Campbell, Eastern Mythology, p. 129
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#10>
11- Bilim ve Utopya (Science and Utopia), July 1996, 176. Footnote p. 19
<http://www.harunyahya.com/indo/buku/kaumkaum003.htm#11> *


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke