Lhhoooo pakde! kalau ada perang apakah itu bukan tuhas ABRI? JI mau gantiin Kopassus dan KOSTRAD ya? Perang apa'an di Filippina? Lha wong warga angkat senjata terhadap pemerintah sah kok dikatakan perang? Perang Diponegoro apa?
Definisine perang kuwi opo to? --- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Iya. > Kalau kita pikir2, JI sendiri sebenarnya hanya > bereaksi terhadap sesuatu aksi. > > Contoh di Poso, di sana memang terjadi perang karena > sebelumnya Fabianus Tibo dari kelompok Kristen > membantai santri pesantren walisongo. > > Kemudian di Filipina memang terjadi perang antara > pemerintah Filipina dgn gerilyawan Moro (Muslim) yang > merasa tertindas dan ingin merdeka. > > Di Afghanistan memang banyak mujahidin yang perang > melawan penjajah Uni Soviet (kala itu) dan sekarang > oleh AS dan sekutunya. > > Ada aksi ada reaksi. > > JI menurut saya hanyalah reaksi terhadap hal2 di atas. > > > > --- Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > Di bawah ini tulisan rekan saya, wartawan Farid > > Gaban. > > Cukup menarik.... > > > > Satrio > > > ======================================================= > > > > > > Posted by: "Farid Gaban" [EMAIL PROTECTED] > > faridgaban > > > > Tue Jun 19, 2007 10:56 pm (PST) > > > > Membunuh orang tak berdosa adalah kejahatan yang > > patut > > dikutuk. Period. Pelakunya harus diadili > > sekeras-kerasnya, meski dengan prosedur yang benar. > > Peran media sangat penting dalam menentukan arah > > penyidikan dan mengawal "prosedur yang benar" tadi. > > > > Namun, sejak awal isu terorisme Jemaah Islamiyah > > menjadi aktual (selepas 11 September 2001), saya > > selalu risau dengan cara media massa, baik > > internasional maupun lokal memberitakannya. > > Mengikuti > > secara detil beberapa kasus, saya berkesimpulan > > media-massa telah banyak kehilangan daya kritis dan > > rentan menjadi alat propaganda. > > > > Mengikuti konsep Homeland Security Act dan Patriot > > Act > > di Amerika, Indonesia mensyahkan UU Anti-Terorisme > > selepas Tragedi Bom Bali. Polisi dan badan intelijen > > sangat berperan dan berkuasa di sini, untuk > > menangkap, memeriksa, menembak, membunuh, menyadap > > dan > > semua hal yang dipahami sebagai hak asasi warga > > negara. Tanpa ada check and balance dari lembaga > > lain, > > termasuk pers, polisi dan aparat intelijen sangat > > potensial menyalahgunakan kekuasaan dan memanipulasi > > publik dalam isu ini. > > > > Apa yang terjadi di Amerika sekarang adalah fenomena > > "McCarthyism"(untuk memahami istilah ini kita perlu > > nonton filmnya George Clooney "Good Night and Good > > Luck"). Dulu "komunisme" kini "terorisme". Hal yang > > sama sedang terjadi di Indonesia. > > > > "Terorisme" menjadi newspeak baru, meminjam Noam > > Chomsky, sebuah kata yang sudah "ditekuk dan > > ditundukkan" untuk menjadi label sekehendak > > penggunanya. Sama seperti "komunisme" atau "kiri" > > atau > > "fundamentalis kanan" di masa Orde Baru. Orang yang > > terkena newspeak cenderung sudah dianggap bersalah, > > tidak patut dibela, tidak perlu dihargai lagi > > hak-haknya. Tuduhan atau sangkaan saja sudah cukup > > untuk membunuh hak sipilnya. > > > > Jika wartawan ingin menulis tentang terorisme, saya > > kira ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yang > > pertama-tama, adalah memahami apa yang disebut > > terorisme sebenarnya, apa bedanya dengan kekerasan > > biasa. "Terorisme" per definisi adalah "kekerasan > > dengan motif politik", jadi ada goal atau tujuan > > politik dari kekerasan (pembunuhan, penyanderaan, > > pemboman) itu. > > > > Jadi terorisme selalu dilakukan oleh sebuah gerakan > > politik. Gerakan ini umumnya memiliki sayap politik > > dan sayap militer. Sayap militer inilah yang biasa > > melakukan kekerasan, menunjukkan kekuatan, agar > > sayap politik/diplomasi memperoleh amunisi dalam > > bargaining-power dari apa yng dituntut dan > > diinginkan. > > Gerakan seperti ini kadang tidak sungkan untuk > > mengklaim kekerasan yang tidak dibuatnya hanya agar > > dikesankan kuat, memiliki power, yang nanti akan > > digunakan dalam negosiasi politik. > > > > Itulah yang terjadi di Irlandia Utara (ada Sein > > Fenn, > > sayap politik, dan ada IRA, sayap militer), di > > Basque > > (Spanyol), di Palestina, di Chehnya, atau di Aceh di > > masa lalu. Atau bahkan dalam perang kemerdekaan > > Indonesia. Serangan Fajar Soeharto, misalnya, adalah > > gertak sambal militer untuk memperoleh daya tawar > > politik di lapangan diplomasi. Semuanya memiliki > > goal > > politik yang jelas. > > > > Sebuah gerakan teror kadang hanya mengancam akan > > meledakkan sesuatu gedung, misalnya, dengan sebuah > > tuntutan politik yang jelas. Dan mereka akan > > mengurungkan peledakan jika tuntutannya dipenuhi. > > > > Motif politik inilah yang absen dalam rangkaian > > teror > > bom "Jemaah Islamiyah" di Indonesia, sejak "bom > > Natal" > > (sebelum 11 September Amerika) hingga "Bom Bali", > > "Bom > > Marriott" dan "Bom Kedutaan Australia di Jalan > > Kuningan". Bahkan motif politik itu absen dalam > > Tragedi 11 September di Amerika. > > > > Kita selalu mendengar motif itu bukan dari pelaku > > atau > > tertuduh sendiri, melainkan dari George Bush > > ("mereka > > membenci demokrasi dan kebebasan ala Amerika") atau > > dari polisi Indonesia ("mereka membenci > > orang kafir"). > > > > Tidak pernah ada klaim dari pelaku teror untuk > > ledakan > > di WTC 11 September 2001, tidak pula dari > > serangkaian > > bom di Indonesia. Jika Usamah bin Laden dalangnya, > > misalnya, kenapa dia justru membantah telah > > melakukan > > teror di Amerika itu? Kenapa dia menolak mendapatkan > > daya taawr politik yang demikian tinggi? Hal serupa > > terjadi di Indonesia. > > > > Kita bisa mengatakan di sini: tidak ada motif > > politik > > dari para pelakunya, bahkan jika para tersangka > > itulah > > yang benar-benar membunuh dan meledakkan bom. Tidak > > ada signifikansi politik bagi mereka, bahkan > > jika mereka memiliki goal politik yang jelas (selama > > ini tidak jelas). > > > > Sebaliknya dari itu, teror bom baik di Amerika > > maupun > > Indonesia justru memberikan leverage politik besar > > bagi George Bush atau keuntungan politik maupun > > material bagi Datasemen 88/Pemerintahan Yudhoyono, > > sama > > seperti "Teror Komando Jihad" memberi leverage > > politik > > pada Rezim Soeharto dulu. > > > > "Jemaah Islamiyah" mungkin benar-benar ada, sama > > eksis-nya dengan "Komando Jihad" di masa Orde Baru > > atau "laskar ini dan laskar itu" yang siapa saja > > bisa > > membuatnya. Tapi, saya tidak bisa sampai sejauh ini > > memahami apa goal dan motif politik dari gerakan > > itu. > > > > Ada banyak orang yang bisa "Jemaah Islamiyah" > > definisikan sebagai kafir, tapi kenapa orang kafir > > di > > Cafe itu pada hari itu yang mereka bunuh? Apa pula > > signifikansi politiknya, sesuai dengan tujuan > > politik > > mereka? Punyakah mereka sayap politik/diplomasi yang > > bisa menangguk daya tawar dalam negosiasi politik > > dari > > kekerasan di Bali itu? > > > > Aspek kedua yang perlu dipahami oleh para wartawan > > terletak pada intisari dari profesi ini. Menurut > > Bill > > Kovach, "jurnalisme adalah dispilin verifikasi". > > Verifikasi artinya menguji, memeriksa sejumlah > > klaim. > > Apa yang dikatakan oleh polisi dan aparat intelijen > > adalah KLAIM (bahwa si anu terlibat dalam anu dan > > merencanakan anu), tidak otomatis klaim itu > > merupakan > > FAKTA. Percaya apa saja yang dikatakan oleh polisi > > adalah mengebiri profesi jurnalisme di tingkat yang > > paling dasar. > > > > Banyak media (televisi dan kantor berita khususnya) > > tidak bisa melakukan verifikasi untuk alasan yang > > bisa > > dipahami, karena keterhimpitan deadline misalnya. > > Dalam hal ini, banyak media harus bersikap fair > > kepada > > pembacanya. Kantor-kantor berita seperti AFP, > > Reuters atau Associated Press, sering sekali > > menambahkan frase "The authenticity of the claim > > could > > not be immediately verified"--sebuah pengakuan > > terbuka > > kepada pembaca/pemirsa bahwa mereka belum sempat > > membuat verifikasi. > > > > Namun, juru propaganda kini dididik pula untuk > > memahami bagaimana cara wartawan bekerja. Wartawan > > dan > > media kini hidup dalam siklus berita(news cycle) > > yang > > makin cepat, jam bahkan menit. Ditimbun oleh > > peristiwa, fakta dan klaim terus-menerus, wartawan > > dan > > media rentan untuk lupa melakukan verifikasi. > > > > Dalam isu terorisme internasional, misalnya, > > kantor-kantor berita terus mengulang-ulang frase > > yang > > sama, bahwa "The authenticity of the claim could not > > be immediately verified"--tanpa benar-benar > > menunaikan > > pekerjaan rumahnya, yakni verifikasi. Dan > > terus-menerus menyajikan berita "setengah matang" > > kepada audiens-nya, tanpa sadar bahwa apa > > yang sebenarnya "setengah-fakta" kemudian ditelan > > pembaca dan pemirsanya sebagai "fakta". > > > > Di tengah gempuran peristiwa-peristiwa setiap hari, > > didera "siklus berita" yang kian pendek (jam dan > > menit), para wartawan mudah terjangkit amnesia (lupa > > apa yang mereka tulis/tayangkan dua pekan > > lalu) dan tidak sempat melakukan verifikasi > > sementara > > peristiwa-peristiwa baru terus muncul. > > > > Sudah begitu ditambah lagi dengan daya kritis yang > > tumpul, prejudice "anti-Islam" yang membuat mereka > > lebih cenderung hanya percaya pada polisi. Lebih > > buruk > > lagi, media/wartawan jarang memiliki kerendahan > > hati untuk meminta maaf. Adakah media di sini yang > > meminta maaf secara sepadan untuk pemberitaan mereka > > tentang Abu Bakar Baasyir yang sudah > > mereka identikkan sebagai monters di masa lalu? > > > > salam, > > Farid Gaban > > > > > > > > > > > _____________________________________________________________________ _______________ > > Choose the right car based on your needs. Check out > > Yahoo! Autos new Car Finder tool. > > http://autos.yahoo.com/carfinder/ > > > > > === > Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? > Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] > > > > _____________________________________________________________________ _______________ > Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search > that gives answers, not web links. > http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC >

