Permasalahan lumpur menjadi kompleks ketika PT. Lapindo Brantas tidak mungkin sanggup untuk membayar, dan ini jadi beban pemerintah. Seharusnya manajemen lapindo diwajibkan dengan segera membayar ganti rugi kepada warga dan mereka dijebloskan ke penjara, karena telah merusak tatanann sosial penduduk sidoarjo, dan presiden tidak perlu menangis karena telat, korban lumpur sudah setahun lebih menangis tapi pemerintah sepertinya tidak peduli
Pada tanggal 26/06/07, AniDj <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > jangan pernah menarik simpati orang dengan menangis > Persoalan enggak akan terselesaikan dengan menangis dan kita enggak bisa > berpikir waras cuma dengan menangis > c a p e k d e ............. > > Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]<satrioarismunandar%40yahoo.com>> > wrote: > KETIKA SEORANG PRESIDEN MENANGIS... > > Tidak ada yang luar biasa. Itu kesan yang saya rasakan, ketika muncul > berita di media bahwa Presiden SBY menangis, mendengar kisah derita sejumlah > warga yang jadi korban lumpur Lapindo. Para warga itu datang ke kediaman > resmi Presiden di Cikeas dan mengadu di sana. Diberitakan, Presiden SBY juga > berang karena banyak laporan atau problem warga yang ternyata selama ini > "tidak sampai" ke Presiden. > > Soal seorang Presiden menangis mendengar penderitaan rakyat, bukan barang > baru. Megawati ketika menjadi Presiden RI dulu juga menangis, mendengar > kisah penderitaan rakyat Aceh yang jadi korban perang dan pelanggaran HAM. > > Tidak ada yang salah dengan "menangis." Menangis adalah ungkapan emosi > atau perasaan. Sebagai manusia biasa, Presiden boleh saja menangis. Bahkan > aksi menangis ini bisa menjadi "credit point" secara politik, karena > seolah-olah menunjukkan sang Presiden memiliki kepekaan terhadap penderitaan > rakyat. > > Namun, masalahnya, aksi menangis itu justru bisa berbalik menjadi beban > politik, jika Presiden kemudian gagal memberikan solusi yang adil, damai, > dan menenteramkan rakyatnya. Aksi menangis ini justru akan dianggap > "teatrikal" atau "sandiwara", atau lebih konyol lagi: "lelucon politik." > > Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan nyata dari Presiden untuk > menyelesaikan masalah, yang berlarut-larut telah makin menyengsarakan > rakyat, dan belum kelihatan titik terangnya. Bahkan masalah Lumpur Lapindo > ini tampaknya justru makin melebar. > > Saya setuju bahwa masalah yang begitu berat (kasus Aceh, Lapindo, dan > sebagainya) tidak bisa diselesaikan secara sederhana, seperti membalik > telapak tangan. Namun, rakyat membutuhkan suatu guidance, suatu proses yang > terlihat jelas mengarah ke penyelesaian masalah, sebelum mereka merasa > tenang dan bisa diminta bersabar. > > Seperti orang berpuasa. Mereka harus menahan lapar dan haus sejak subuh, > tetapi tahu pasti bahwa akhirnya, pada saat beduk maghrib bertalu, mereka > boleh berbuka, meski cuma dengan seteguk air atau sebutir kurma. Nah, > harapan semacam itulah yang harus terlihat di mata rakyat, meski mungkin > belum ada solusi segera bagi problem-problem mereka. > > Jika Presiden SBY tidak menyadari hal ini, dan tidak bisa bersikap tegas > atau mengambil langkah-langkah konkret yang perlu terhadap kasus Lapindo > pasca "kisah menangis" tadi, ia justru akan semakin terjerat dalam lingkaran > setan yang tak berujung. Akan muncul tuduhan macam-macam, entah benar entah > tidak, bahwa ini sekali lagi cuma aksi "tebar pesona" atau "persiapan > menjelang pemilihan umum 2009." > > Presiden SBY, janganlah ragu-ragu melakukan apapun, untuk kebaikan rakyat! > Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. *** > > Satrio Arismunandar > Producer - News Division, Trans TV, Floor 3 > Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 > Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627 > > http://satrioarismunandar6.blogspot.com > http://satrioarismunandar.multiply.com > > "If you know how to die, you know how to live..." > > __________________________________________________________ > You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck > in the all-new Yahoo! Mail Beta. > http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html > > [Non-text portions of this message have been removed] > > ===================================================== > Pojok Milis Komunitas FPK: > > 1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS > 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) > 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota > 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]<agushamonangan%40yahoo.co.id> > 5.Untuk bergabung: [EMAIL > PROTECTED]<Forum-Pembaca-Kompas-subscribe%40yahoogroups.com> > > KOMPAS LINTAS GENERASI > ===================================================== > > Yahoo! Groups Links > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

