Presiden menangis..
  Kasihan...(deh lu)
   
  Demikian ungkapan simpati saya kepada presiden kita yang begitu lembut 
perasaanya,hingga tanpa ragu dan malu meneteskan air matanya didepan publik.
   
  Tetapi menurut  saya,kelembutan hati saja tidak cukup untuk menyelesaikan 
persoalan Kejahatan lingkungan yang merugikan sekian ribu orang.Sudah setahun 
lewat kasus ini ditonton dan dijadikan bahan perbincangan penuh simpati ibu2 
arisan hingga pejabat papan atas di departemen, tetapi sedikitpun aksi nyata 
yang signifikan tidak kelihatan.
   
  Bagi saya pribadi,selain permaalahan yang timbul akibat ketidakmampuan 
LAPINDO BRANTAS milik Aburizal Bakri tersebut untuk membayar ganti rugi,ada hal 
yang lebih pokok untuk dituntaskan.
   
  Sedikitpun Pemerintah tidak menunjukan political will untuk menindak dan 
menginvestigasi aksi lalai bin bodoh luar biasa yang menyebabkan ratusan hektar 
lahan rusak parah berkepanjangan,ribuan orang dirugikan fisik,mental moral dan 
material.Pemerintah macam apa yang membiarkan ribuan rakyat tak berdosa 
kehilangan tempat tinggal,mat apencaharian, terganggu kesehatan,karena 
kedunguan perusahaan yang lalai melaksanakan SOP yang sudah ditentukan.
   
  SATU PERUSAHAAN yang kebetulan ada dalam naungan jejaring gurita salah satu 
menteri di kabinet indonesia bersatu.Saya  benar2 kehabisan kata kata,entah apa 
yag harus diungkapkan,untuk mendefinisikan kemunafikan dan penipuan kronis yang 
ditunjukan Bos Kabinet dengan mengumbar air mata.
   
  Yang lebih konyol lagi, di era keterbukaan informasi dan teknologi ini, lagi- 
lagi (refer to beberapa kasus mis: presiden kaget gajinya naik)Presiden 
mempersalahkan anak buahny ayang tidak jujur dan tidak amanah dlama melaporkan 
hasil kerja mereka kepada bos nya.TOLONG DEH PAK..Ksatria sedikt napa?? 
Pertama, ini bukan jaman Abu Nawas, yang raja haru sdiam2 menyamar langsung 
turun ke jalan untuk memastikan bahwa informasi yang dia terima bukan sekedar 
laporan palsu.Kalaupun Presidan memiliki kemampuan yang sngat minim untuk 
mengarahkan dan memerintahkan plus membangun back up team yang solid untuk 
cross check informasi,Kasat mata kasat telinga saja, Media buanyaaaaakkk 
mengungkap fakata soal keterbengkalaian kasus lumpur lapindo..
  PLEASE DEH PAK..Ini era Managemen Informasi Modern...Tolong lah pak, jangan 
bodohi rakyat dengan alasan konyol!!! ANDA BENAR2 KETERLALUAN !!! (kalau 
pengecut adalah kata2 yang terlalu kasar untu di arahkan keoada anda)
   
  Please Deh...SBY itu kan  Presiden,bukan bintang Sinetron..Dia kan punya 
Power,untuk memberi perintah dan mengatur jalanya pemerintahan.Kenapa tidak 
digunakan saja power itu?? Karena terlanjur berkonsesikah,pada saat pemilihan 
tempo dulu?? hingga untuk menunjukan keberpihakan pada rakyat yang menjadi 
korban, hanya tetesan air mata yang bisa dikeluarkan??? Buat apa jadi presiden 
kalau bisanya nagis doang?? Lebih baik ikut Audisi SInetron nya Mr.Ram Pubjabi 
atau Leo sutanto, pasti lebih pantas.
   
  Lebih bagus kalau dia bikin rapat darurat dengan instansi terkait.Bikin Hukum 
baru kek, toh jurisdiksi kita memungkinkan penetapan hukum yang berlaku surut.
  Bikin undang2 yang mendukung pelaksanaan Public Interest Litigation, jadi NGO 
atau siapapun yang memungkinkan terjamin legal standingnya,hingga lebih 
leluasa,terjamin dan terlindungi untuk  menuntut Perusahaan on behalf of para 
korban.

  Atau setidaknya tunjukan solidaritas pada masyarakat,sigkirkan siapapun yang 
berhubungan dengan perusahaan tersebut dari jajaran pemerintahan.Didik dan 
buktikan pada masyarakat,bahwa jajaran  pemerintah yang bersih,jujur dan 
berwibawa bukan hanya bualan masa kampanye yang berakhir pada daat kemenangan 
penghitungan suara.hal sederhana inipun nampakanya sangat sulit 
dilakukan,Kembali ke hitung2an konsesi sehubungan dengan kucuran dana pemilu 
kali ya'?(Dogol mode on)
   
  Please Pak Presiden.Kami hargai simpati yang anda tunjukan lewat setetes air 
mata.Tapi tolong, kalau memungkinkan,coba anda berkaca.kalau bisa meditasi 
sukur..renungkan, apakah pantas, setelah semua penghianatan yang pemerintah 
anda lakukan kepada korban lumpur lapindo (ini belum termasuk kerusakan alam 
yang akan berlangsung selama puluhan tahun kedepan lho ya) apakah pantas, anda 
berusaha merebut kembali simpati dan atau maaf mereka hanya dengan tetesan ar 
mata?? Tolong sedikit hargai rakyat Indonesia,mereka masih punya otak dan hati 
untuk menilai dan memilah,bahwa Hutang kewajiban seorang presiden tak akan 
terlunaskan hanya dengan meneteskan air mat penyesalan.
   
  PLEASE DEH !!!!
   
   
  
Perpi Thomas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Permasalahan lumpur menjadi kompleks ketika PT. Lapindo Brantas tidak
mungkin sanggup untuk membayar, dan ini jadi beban pemerintah. Seharusnya
manajemen lapindo diwajibkan dengan segera membayar ganti rugi kepada
warga dan mereka dijebloskan ke penjara, karena telah merusak tatanann
sosial penduduk sidoarjo, dan presiden tidak perlu menangis
karena telat, korban lumpur sudah setahun lebih menangis tapi pemerintah
sepertinya tidak peduli

Pada tanggal 26/06/07, AniDj <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> jangan pernah menarik simpati orang dengan menangis
> Persoalan enggak akan terselesaikan dengan menangis dan kita enggak bisa
> berpikir waras cuma dengan menangis
> c a p e k d e .............
>
> Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]<satrioarismunandar%40yahoo.com>>
> wrote:
> KETIKA SEORANG PRESIDEN MENANGIS...
>
> Tidak ada yang luar biasa. Itu kesan yang saya rasakan, ketika muncul
> berita di media bahwa Presiden SBY menangis, mendengar kisah derita sejumlah
> warga yang jadi korban lumpur Lapindo. Para warga itu datang ke kediaman
> resmi Presiden di Cikeas dan mengadu di sana. Diberitakan, Presiden SBY juga
> berang karena banyak laporan atau problem warga yang ternyata selama ini
> "tidak sampai" ke Presiden.
>
> Soal seorang Presiden menangis mendengar penderitaan rakyat, bukan barang
> baru. Megawati ketika menjadi Presiden RI dulu juga menangis, mendengar
> kisah penderitaan rakyat Aceh yang jadi korban perang dan pelanggaran HAM.
>
> Tidak ada yang salah dengan "menangis." Menangis adalah ungkapan emosi
> atau perasaan. Sebagai manusia biasa, Presiden boleh saja menangis. Bahkan
> aksi menangis ini bisa menjadi "credit point" secara politik, karena
> seolah-olah menunjukkan sang Presiden memiliki kepekaan terhadap penderitaan
> rakyat.
>
> Namun, masalahnya, aksi menangis itu justru bisa berbalik menjadi beban
> politik, jika Presiden kemudian gagal memberikan solusi yang adil, damai,
> dan menenteramkan rakyatnya. Aksi menangis ini justru akan dianggap
> "teatrikal" atau "sandiwara", atau lebih konyol lagi: "lelucon politik."
>
> Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan nyata dari Presiden untuk
> menyelesaikan masalah, yang berlarut-larut telah makin menyengsarakan
> rakyat, dan belum kelihatan titik terangnya. Bahkan masalah Lumpur Lapindo
> ini tampaknya justru makin melebar.
>
> Saya setuju bahwa masalah yang begitu berat (kasus Aceh, Lapindo, dan
> sebagainya) tidak bisa diselesaikan secara sederhana, seperti membalik
> telapak tangan. Namun, rakyat membutuhkan suatu guidance, suatu proses yang
> terlihat jelas mengarah ke penyelesaian masalah, sebelum mereka merasa
> tenang dan bisa diminta bersabar.
>
> Seperti orang berpuasa. Mereka harus menahan lapar dan haus sejak subuh,
> tetapi tahu pasti bahwa akhirnya, pada saat beduk maghrib bertalu, mereka
> boleh berbuka, meski cuma dengan seteguk air atau sebutir kurma. Nah,
> harapan semacam itulah yang harus terlihat di mata rakyat, meski mungkin
> belum ada solusi segera bagi problem-problem mereka.
>
> Jika Presiden SBY tidak menyadari hal ini, dan tidak bisa bersikap tegas
> atau mengambil langkah-langkah konkret yang perlu terhadap kasus Lapindo
> pasca "kisah menangis" tadi, ia justru akan semakin terjerat dalam lingkaran
> setan yang tak berujung. Akan muncul tuduhan macam-macam, entah benar entah
> tidak, bahwa ini sekali lagi cuma aksi "tebar pesona" atau "persiapan
> menjelang pemilihan umum 2009."
>
> Presiden SBY, janganlah ragu-ragu melakukan apapun, untuk kebaikan rakyat!
> Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. ***
>
> Satrio Arismunandar
> Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
> Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
> Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627
>
> http://satrioarismunandar6.blogspot.com
> http://satrioarismunandar.multiply.com
>
> "If you know how to die, you know how to live..."
>
> __________________________________________________________
> You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
> in the all-new Yahoo! Mail Beta.
> http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> =====================================================
> Pojok Milis Komunitas FPK:
>
> 1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
> 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
> 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
> 4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]<agushamonangan%40yahoo.co.id>
> 5.Untuk bergabung: [EMAIL 
> PROTECTED]<Forum-Pembaca-Kompas-subscribe%40yahoogroups.com>
>
> KOMPAS LINTAS GENERASI
> =====================================================
>
> Yahoo! Groups Links
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>

[Non-text portions of this message have been removed]



         


          Tylla Subijantoro
  Indonesian Student In Law Faculty Of Delhi University
  http://tylla.blogspot.com
  http://www.friendster.com/profiles/tylla






       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke