sesungguhnya agama sudah mengarahkan manusia ke jalan yang sempurna,seperti apa
yang tertera "jalan yang lurus",ketidak lurusan manusia adalah kurang mengerti
nya dari sikap dan tujuan agama tersebut.agama tidaklah mengarahkan suatu
kesalahan namun agama menganjurkan sikap yang baik dari sesuatu perbuatan
salah.teroris yang menyandang suatu agama bukanlah agama,namun kepentingan
bagai tanda tanya yang tak terjawab.teroris yang sudah menunjukkan perbuatan
salah artinya bukan sikap tujaun agama..namun sudah mesti teroris punya
agama.seandainya agma itu merupakan sosok tubuh amatlah kasian agama
tersebut..ia akan menangis dangan tindakan teroris.apa lagi agama selalu di
ikut sertakan.. baik dan buruk sudah mesti mengarahkan ke surga dan
neraka.apapun tindakanya sebab musababnya.banyaknya ragam teroris sudah mesti
salah satu dari dua bagian tempatnya..neraka atau surga yang pasti kita tidak
bisa melihatnya. " baik dan buruk dari-KU,perbuatan buruk bukan AKU ".
RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Surga
Oleh Umdah El-Baroroh
25/06/2007
Demi berebut surga, tak jarang mereka justru bertengkar dengan
sesama. Mereka berlomba-lomba menyesatkan orang, memvonis orang lain
sebagai pendosa dan terlaknat. Seolah hanya mereka sajalah yang layak
menghuni surga. Doktrin ini ikut pula melumpuhkan etika dan moralitas
yang merupakan pokok ajaran Islam. Orang lupa bahwa ajaran Islam
sangat menekankan amal salih kepada sesama.
Melawan Agama dengan Agama
Salah satu hadis yang lumrah didengungkan mayoritas umat Islam
adalah "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Ungkapan metaforis
hadis itu menarik dicermati. Hadis itu seakan menyiratkan betapa
dekatnya jarak kita dengan surga. Ia bukanlah tempat mewah yang jauh
dari jangkauan angan-angan. Surga ada di bawah telapak kaki ibu.
Artinya, kunci masuk surga adalah berbuat baik dan berbakti kepada
seorang perempuan: ibu.
Makhluk ini, oleh Jalaludin Rumi dalam Matsnawi, layak
disebut "seorang pencipta". Ketika Nabi Muhammad ditanya seorang
sahabat tentang siapa yang paling layak ia taati, beliau
menyebut "ibumu!" tiga kali berturut-turut.
Namun tidak semua Muslim menyadari ajaran yang tersirat dari hadis
tersebut. Banyak orang kini berbondong-bondong mencari surga dengan
cara meninggalkan rumah dan keluarga. Inilah yang antara lain
dilakukan para teroris yang mengaku diri sebagai pembela Islam dan
berdakwah secara kasar dengan dalih jihad. Mereka bahkan tak segan
membunuh dan merampok orang yang dianggap musuh. Mereka pun
seringkali membohongi dan menyembunyikan tindakannya dari sanak-
keluarga.
Pengakuan beberapa keluarga teroris baru-baru ini menunjukkan bahwa
pihak keluarga tidak benar-benar tahu tindak tanduk dan gerak-gerik
sang teroris. Orang tua, saudara, bahkan istri sendiri, seringkali
tak paham apa yang mereka kerjakan. Bagi para teroris, keluarga
terutama yang tidak seideologisudah tehitung sebagai orang lain,
bahkan bisa menjadi musuh yang patut diperangi.
Meski tidak terang-terangan berkata begitu, cara mereka
menyembunyikan diri adalah bukti bahwa mereka tidak lagi menganggap
keluarga sebagai bagian dari jamaahnya. Karena itu, mereka harus
berpura-pura bahkan menjadikan keluarga sebagai sasaran dakwah.
Keluarga pun dianggap harus dikembalikan "ke jalan lurus" sebagaimana
yang telah mereka tempuh.
Sebagian umat Islam terkadang ikut pula tergiur akan impian indah
tentang surga. Surga ibarat obat ampuh untuk menawar rasa perih dan
penderitaan yang mereka tanggung. Kebodohan dan keterbelakangan
membuat mereka frustasi dalam menjalani hidup. Satu-satunya harapan
adalah hidup bahagia di kemudian hari.
Jika tak bisa hidup enak sekarang ini, mengapa tidak berharap di
akhirat nanti?! Itulah tombo ati yang dianggap mampu menenangkan
kegelisahan jiwa. Tapi, dengan harapan sedemikian, mereka justru
melupakan luasnya khazanah Islam. Doktrin surga-neraka telah ikut
mereduksi ajaran Islam. Seluruh amal perbuatan mereka selalu
ditujukan untuk mendapat surga. Mereka berebut kavling surga. Pilihan
setelah mati hanya dua: surga atau neraka.
Demi berebut surga, tak jarang mereka justru bertengkar dengan
sesama. Mereka berlomba-lomba menyesatkan orang, memvonis orang lain
sebagai pendosa dan terlaknat. Seolah hanya mereka sajalah yang layak
menghuni surga. Doktrin ini ikut pula melumpuhkan etika dan moralitas
yang merupakan pokok ajaran Islam. Orang lupa bahwa ajaran Islam
sangat menekankan amal salih kepada sesama.
Karena itu, wajar bila sufi perempuan, Rabi'ah al-Adawiyah, merasa
gundah. "Aku akan ke langit untuk membakar surga dan memadamkan
neraka agar keduanya tak menjadi alasan orang untuk berbakti kepada-
Nya." Kegundahan Rabi'ah menunjukkan bahwa doktrin surga-neraka ikut
memalingkan umat manusia dari esensi dari ajaran agama. Alih-alih
berbuat kebajikan demi mendapat surga, mereka justru menyakiti
sesama.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]