Ini kata-kata mutiara untuk para mahasiswa Luthfie Assyaukanie di
Universitas Paramadina. Mudah-mudahan mereka tidak mengikuti jejak
dosennya:

Most institutions demand unqualified faith; but the institution of
science makes skepticism a virtue.  (Robert K. Merton, Social Theory,
1957)

Scepticism is the highest of duties:  blind faith the one unpardonable
sin. (Thomas Henry Huxley, Lay Sermons, Addresses and Reviews, 1871)

Science commits suicide when it adopts a creed. (Thomas Henry Huxley)

The measure of our intellectual maturity, one philosopher suggests, is
our capacity to feel less and less satisfied with our answers to
better problems. (G.W. Allport, Becoming, 1955)

The scientist is not a person who gives the right answers, he's one
who asks the right questions. (Claude Lévi-Strauss, Le Cru et le cuit,
1964)

The whole of science is nothing more than a refinement of everyday
thinking. (Albert Einstein)

salam,
Farid Gaban


--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Para Pembela Teroris
> 
> Luthfie Assyaukanie
> * peneliti Freedom Institute, Jakarta
> 
> Saya bukan sedang berbicara tentang Tim Pembela Muslim (TPM) yang
belakangan
> sedang populer karena usaha mereka memberikan bantuan hukum kepada para
> pelaku teroris, tapi tentang para wartawan, aktvis, dan kaum
terpelajar yang
> secara gencar dan menjengkelkan membela para teroris. Sebagian mereka
> tampaknya tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, sebagian lainnya
> hanya demi bergenit-genit saja, dan sebagian lainnya, tampak jelas
mendukung
> ideologi serupa dengan para teroris hanya saja dengan sedikit
kemasan yang
> diilmiah-ilmiahkan.
> 
> Tentu saja, setiap upaya mempertanyakan prosedur hukum haruslah
dihargai dan
> dijunjung tinggi. Adalah sebuah truisme belaka bahwa polisi bukanlah
sebuah
> profesi yang maksum dari kesalahan. Tugas wartawan adalah mempertanyakan
> prosedur-prosedur yang dilakukan polisi, termasuk dalam menangani
persoalan
> terorisme. Saya justru merasa senang bahwa pers kita kini sangat
kritis dan
> tak takut lagi dalam menyorot kinerja aparat kepolisian.
> 
> Namun, sikap kritis tentu ada batasnya. Pencarian kebenaran haruslah
> bermuara pada penemuan, bukannya pada pencarian itu sendiri.
Premis-premis
> dalam logika dibangun untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan,
bukannya
> pada penciptaan satu premis baru yang ad infinitum. Dalam dunia
khayal, Anda
> mungkin bisa melakukan itu, tapi dalam dunia nyata yang menyangkut nyawa
> orang banyak, kecuali jika Anda sakit jiwa atau berhati teroris Anda mau
> melakukannya.
> 
> Bersikap tegas kepada para teroris memang bukan hal yang mudah, terutama
> jika Anda punya kesamaan visi dengan para pelaku teroris itu,
misalnya dalam
> meyakini adanya teori konspirasi, kebrutalan dan kesewenang-wenangan
> Amerika, dan ketertindasan Islam. Hanya jika Anda punya pikiran yang
> benar-benar jernih Anda bisa membedakan mana yang benar dan mana yang
> keliru.
> 
> Perang terhadap terorisme memang bukanlah sesuatu yang mudah
sekarang ini,
> karena yang kita hadapi bukan hanya para pelaku teroris, tapi juga para
> simpatisannya yang jumlahnya berkali lipat. Aparat polisi bisa menangkap
> pelaku teror tapi tentu saja harus menahan diri dan kejengkelan dari
para
> pembela teroris yang muncul dalam beragam ekspresi.
> 
> Polisi misalnya harus menahan diri dan kejengkelannya terhadap Abu Bakar
> Baasyir, yang terang-terangan membela para teroris dengan menyebut
mereka
> sebagai "counter-teroris, " maksdunya adalah bahwa mereka melakukan
teror
> demi mencegah teror yang lebih besar. Yang dia maksud dengan "teror yang
> lebih besar" adalah teror yang dilakukan Amerika Serikat.
> 
> Para polisi juga harus menahan diri sambil mengurut dada terhadap para
> wartawan yang menyebut dirinya "jurnalis investigatif" yang
menuhankan dan
> menyembah data. Tentu saja, sebutan "jurnalis investigatif" ini
dimaksudkan
> untuk memanipulasi kesimpulan-kesimpul an yang sudah dibuat polisi.
Tak perlu
> dikatakan bahwa ada banyak wartawan yang jujur dan berpikiran
jernih, walau
> ada sebagian kecil dari mereka yang sayangnya bekerja di bawah standar
> kualitas.
> 
> Sebagian retorika para pendukung teroris itu memang memikat, karena dia
> menyentuh sisi-sisi emosional terdalam kaum Muslim. Siapa yang tak
tertawan
> dengan retorika bahwa Amerika adalah teroris besar karena kelakuannya di
> Timur Tengah dan dunia Islam lainnya? Dengan terus mempersalahkan
Amerika,
> para pembela teroris itu merasa absah mendukung teror dan kekerasan,
meski
> korban dan kerugian terbesar dirasakan oleh bangsa sendiri.
> 
> Tak ada orang yang menyangkal bahwa faktor Amerika memainkan peran yang
> sangat besar bagi sulitnya menumpas gerakan terorisme yang melanda dunia
> Islam. Kebrutalan dan kesewenang-wenangan Amerika juga sangat
menyulitkan
> kaum moderat Muslim dan siapa saja yang ingin berjuang menumpas
terorisme.
> Banyak orang menahan diri untuk mengecam teroris karena mereka takut
> dibilang "antek Amerika" atau "antek zionis."
> 
> Sementara itu, para "penulis investigatif" yang umumnya duduk manis
di ruang
> ber-AC ikut-ikutan membela para teroris yang umumnya hidup sulit dan
> kepanasan di luar sana. Saya tidak terlalu yakin bahwa mereka
mengenal pasti
> dengan obyek yang sedang ditulisnya. Kesan saya, mereka sepertinya
sedang
> meng-entertain ego dan libido intelektual saja, jika bukan
benar-benar ada
> habitus teror dalam dirinya.
> 
> Perang terhadap teror memang bukanlah tugas polisi semata. Ia merupakan
> tugas kita semua, baik masyarakat agama, hukum, pers, akademis, maupun
> lainnya. Yang diperlukan adalah kejernihan berpikir, keseriusan, dan
rasa
> tanggungjawab yang besar terhadap persoalan. Tugas polisi adalah
menangkap
> pelaku teror, sementara tugas kita adalah menyadarkan betapa
terorisme dan
> kekerasan atas nama agama dengan dalih apapun merupakan tindakan
yang tidak
> bisa dibenarkan.
> 
> Tanpa perlu dikatakan, the benefit of doubt harus terus dipakai,
tujuannya
> adalah mencari kebenaran sepanjang ia sesuai dengan aturan-aturan hukum
> formal, bukan sepanjang khayalan-khayalan liar yang tak bertanggung
jawab.
> Pers menjadi ujung tombak bagi kebebasan, karena dari sanalah kebenaran
> disiarkan. Tapi pers bisa menjadi sembilu yang mematikan jika para
> pengelolanya tak mengerti potret besar dari persoalan yang berlaku.
>   
> Luthfi Assyaukanie. Peneliti Freedom Institute, Jakarta.
> 
> Koran Tempo - Jum'at, 06 Juli 2007
> 
>        
> ---------------------------------
> Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke