Opini orang Freedom Institute ya? Nggak heran... Cetek... Dia sendiri nggak mengerti akar masalah terorisme... Kecuali membeo yang diucapkan Sidney Jones... DG
On 7/10/07, radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Para Pembela Teroris > > Luthfie Assyaukanie > * peneliti Freedom Institute, Jakarta > > Saya bukan sedang berbicara tentang Tim Pembela Muslim (TPM) yang > belakangan > sedang populer karena usaha mereka memberikan bantuan hukum kepada para > pelaku teroris, tapi tentang para wartawan, aktvis, dan kaum terpelajar > yang > secara gencar dan menjengkelkan membela para teroris. Sebagian mereka > tampaknya tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, sebagian lainnya > hanya demi bergenit-genit saja, dan sebagian lainnya, tampak jelas > mendukung > ideologi serupa dengan para teroris hanya saja dengan sedikit kemasan yang > diilmiah-ilmiahkan. > > Tentu saja, setiap upaya mempertanyakan prosedur hukum haruslah dihargai > dan > dijunjung tinggi. Adalah sebuah truisme belaka bahwa polisi bukanlah > sebuah > profesi yang maksum dari kesalahan. Tugas wartawan adalah mempertanyakan > prosedur-prosedur yang dilakukan polisi, termasuk dalam menangani > persoalan > terorisme. Saya justru merasa senang bahwa pers kita kini sangat kritis > dan > tak takut lagi dalam menyorot kinerja aparat kepolisian. > > Namun, sikap kritis tentu ada batasnya. Pencarian kebenaran haruslah > bermuara pada penemuan, bukannya pada pencarian itu sendiri. Premis-premis > dalam logika dibangun untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan, bukannya > pada penciptaan satu premis baru yang ad infinitum. Dalam dunia khayal, > Anda > mungkin bisa melakukan itu, tapi dalam dunia nyata yang menyangkut nyawa > orang banyak, kecuali jika Anda sakit jiwa atau berhati teroris Anda mau > melakukannya. > > Bersikap tegas kepada para teroris memang bukan hal yang mudah, terutama > jika Anda punya kesamaan visi dengan para pelaku teroris itu, misalnya > dalam > meyakini adanya teori konspirasi, kebrutalan dan kesewenang-wenangan > Amerika, dan ketertindasan Islam. Hanya jika Anda punya pikiran yang > benar-benar jernih Anda bisa membedakan mana yang benar dan mana yang > keliru. > > Perang terhadap terorisme memang bukanlah sesuatu yang mudah sekarang ini, > karena yang kita hadapi bukan hanya para pelaku teroris, tapi juga para > simpatisannya yang jumlahnya berkali lipat. Aparat polisi bisa menangkap > pelaku teror tapi tentu saja harus menahan diri dan kejengkelan dari para > pembela teroris yang muncul dalam beragam ekspresi. > > Polisi misalnya harus menahan diri dan kejengkelannya terhadap Abu Bakar > Baasyir, yang terang-terangan membela para teroris dengan menyebut mereka > sebagai "counter-teroris, " maksdunya adalah bahwa mereka melakukan teror > demi mencegah teror yang lebih besar. Yang dia maksud dengan "teror yang > lebih besar" adalah teror yang dilakukan Amerika Serikat. > > Para polisi juga harus menahan diri sambil mengurut dada terhadap para > wartawan yang menyebut dirinya "jurnalis investigatif" yang menuhankan dan > menyembah data. Tentu saja, sebutan "jurnalis investigatif" ini > dimaksudkan > untuk memanipulasi kesimpulan-kesimpul an yang sudah dibuat polisi. Tak > perlu > dikatakan bahwa ada banyak wartawan yang jujur dan berpikiran jernih, > walau > ada sebagian kecil dari mereka yang sayangnya bekerja di bawah standar > kualitas. > > Sebagian retorika para pendukung teroris itu memang memikat, karena dia > menyentuh sisi-sisi emosional terdalam kaum Muslim. Siapa yang tak > tertawan > dengan retorika bahwa Amerika adalah teroris besar karena kelakuannya di > Timur Tengah dan dunia Islam lainnya? Dengan terus mempersalahkan Amerika, > para pembela teroris itu merasa absah mendukung teror dan kekerasan, meski > korban dan kerugian terbesar dirasakan oleh bangsa sendiri. > > Tak ada orang yang menyangkal bahwa faktor Amerika memainkan peran yang > sangat besar bagi sulitnya menumpas gerakan terorisme yang melanda dunia > Islam. Kebrutalan dan kesewenang-wenangan Amerika juga sangat menyulitkan > kaum moderat Muslim dan siapa saja yang ingin berjuang menumpas terorisme. > Banyak orang menahan diri untuk mengecam teroris karena mereka takut > dibilang "antek Amerika" atau "antek zionis." > > Sementara itu, para "penulis investigatif" yang umumnya duduk manis di > ruang > ber-AC ikut-ikutan membela para teroris yang umumnya hidup sulit dan > kepanasan di luar sana. Saya tidak terlalu yakin bahwa mereka mengenal > pasti > dengan obyek yang sedang ditulisnya. Kesan saya, mereka sepertinya sedang > meng-entertain ego dan libido intelektual saja, jika bukan benar-benar ada > habitus teror dalam dirinya. > > Perang terhadap teror memang bukanlah tugas polisi semata. Ia merupakan > tugas kita semua, baik masyarakat agama, hukum, pers, akademis, maupun > lainnya. Yang diperlukan adalah kejernihan berpikir, keseriusan, dan rasa > tanggungjawab yang besar terhadap persoalan. Tugas polisi adalah menangkap > pelaku teror, sementara tugas kita adalah menyadarkan betapa terorisme dan > kekerasan atas nama agama dengan dalih apapun merupakan tindakan yang > tidak > bisa dibenarkan. > > Tanpa perlu dikatakan, the benefit of doubt harus terus dipakai, tujuannya > adalah mencari kebenaran sepanjang ia sesuai dengan aturan-aturan hukum > formal, bukan sepanjang khayalan-khayalan liar yang tak bertanggung jawab. > Pers menjadi ujung tombak bagi kebebasan, karena dari sanalah kebenaran > disiarkan. Tapi pers bisa menjadi sembilu yang mematikan jika para > pengelolanya tak mengerti potret besar dari persoalan yang berlaku. > > Luthfi Assyaukanie. Peneliti Freedom Institute, Jakarta. > > Koran Tempo - Jum'at, 06 Juli 2007 > > --------------------------------- > Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

