Harry A Poeze:
Tan Malaka Ditembak Anak Buah Soekotjo

Jakarta| Jurnal Nasional, Rabu, 25 Juli 2007

Harry A. Poeze mengungkapkan teori kematian Tan Malaka dalam kunjungannya ke 
Jurnal Nasional, Selasa (24/7) lalu. Ia menguak dengan gamblang peristiwa 
pembunuhan yang hingga kini masih samar.

Awal tahun 1949, markas Tan Malaka di Pace, Jawa Timur disergap oleh tentara. 
Namun karena ada serangan Belanda dari utara, pasukan TNI ditarik untuk 
menghalau Belanda. Maka Tan Malaka terbebas dari sergapan tentara bersama 
pengikutnya.

Tokoh kontroversial ini bersama pengikutnya melarikan diri ke selatan Jawa 
Timur. Dalam perjalanan, mereka ditembaki. Kemudian  rombongan Tan Malaka 
terpecah belah menjadi empat bagian. Tan Malaka dan empat orang pengikutnya 
pergi ke Tulung Agung, mereka mengharapkan masih ada batalyon tentara di sana 
yang masih bersimpati pada Tan Malaka.

Untuk menuju Tulung Agung mereka harus melewati lereng Gunung Wilis yang masih 
berupa hutan rimba. Setelah dua hari berjalan, mereka disergap di suatu desa 
kecil bernama Selopanggung. Penyergapnya sebuah satuan kecil yang terdiri dari 
lima orang. Pemimpinnya hanya seorang berpangkat letnan dua.

Si letnan dua kemudian memerintahkan bawahannya untuk menembak mati Tan Malaka. 
Pada hari itu, 21 Februari 1949, Tan Malaka gugur. Jasadnya dikubur di hutan 
dalam sebuah desa bernama Selopanggung. Kini, daerah ini telah menjadi area 
persawahan. Bahkan ada perumahan juga dekat peristirahatan terakhirnya yang 
hilang.

Poeze menulis buku berjudul "Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, de linkse 
beweging en de Indonesiche Revolutie, 1945 - 1949" (Dihujat dan Dilupakan, Tan 
Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945 - 1949).

"Saya yakin 99 persen bahwa versi ini adalah benar," katanya dalam bahasa 
Indonesia. Menurutnya, ia telah berkeliling ke empat benua untuk mengumpulkan 
data dalam buku ini. Sejumlah tokoh partai Murba seperti Bambang Singgih telah 
diwawancarainya. Ia juga mewawancarai dua orang pengikut Tan Malaka yang 
mengantarnya hingga menjemput ajal.

Lalu siapakah Letnan Dua yang memerintahkan penembakan itu? Menurut Poeze, ia 
adalah Letnan Dua Soekotjo. Pangkat terakhirnya sebelum pensiun dari 
keanggotaan TNI adalah Brigadir Jenderal. Soekotjo pernah menjabat sebagai 
Walikota Surabaya. Ia meninggal dunia pada tahun 1980-an.

Namun sayang, buku yang akan diluncurkan pada 30 Juli mendatang ini masih 
ditulis dalam bahasa Belanda. Bagi yang tidak bisa berbahasa Belanda, harus 
menunggu hingga dua tahun lagi untuk membacanya dalam bahasa Indonesia.



 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke