L'ART POUR ART = seni untuk seni, kata orang Perancis.
Jadi sebenarnya memang benar seni tidak selalu mesti yang indah2, saya ingat
ketika dosen dialmamater saya dulu,di STSI Solo (sekarang dah jadi Institut
Seni)Solo,namanya I wayan Sadra dulu ketika dia melukis menurut saya tidak ada
maknanya, alias semrawut, setelah lukisan beliau jadi saya perhatikan lagi kok
jadi indah dan menarik juga yaa, tetapi beliau mengatakan kepada saya hasil
karya beliau berasal dari apa yang ada di benaknya (spontan) yang langsung
dituangkan via goresannya pensil nya keatas kanvas yg berasal dari karung goni
tsb (maklum dia sebenarnya adalah seniman musik karawitan) tetapi saya fikir ia
adalah seniman yang serba bisa, yang menginternasional, sy simpulkan seni
adalah hasil penterjemahan individu seniman yang berasal dari rasa,karsa dan
pemikiran senimannya mandiri yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi disaat
proses penciptaannya.
gitu dulu deh dari saya
Budi Arlius Putra
Alumni STSI Solo
mangucup88 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Seni dalam bahasa Jerman/Belanda disebut Kunst yang berakar dari
kata "koennen" = mampu, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Art
yang diserap dari bahasa Latin Ars = Keterampilan.
Melalui seni manusia hampir menjadi setingkat dengan Sang Pencipta,
karena melalui seni manusia mampu menciptakan apa saja. Melalui seni
manusia mendapatkan kebebasan untuk menuangkan seluruh daya
khayalnya tanpa dibatasi oleh apapun juga. Misalnya melalui seni
kita bisa melukis malaikat, setan maupun Dewa. Satu-satunya
keterbatasan yang tidak dimiliki oleh manusia ialah memberikan
kehidupan kepada hasil ciptaannya, patung tetap saja patung tidak
akan bisa menjelma menjadi manusia hidup.
Para pemahat Yunani selalu berusaha membuat patungnya menjadi benar-
benar serupa dengan yang aslinya (mimesis). Konon berdasarkan
legenda seorang pemahat Yunani; Pygmalion telah membuat patung
wanita yang sedemikian cantiknya sehingga ia jatuh cinta terhadap
hasil karyanya sendiri. Dengan pertolongan Dewi Venus patung
tersebut akhirnya bisa diubah menjadi menjadi manusia benaran yang
terdiri dari darah dan daging.
Orang Yunani purbakala mencemohkan lukisan, menurut Platon (427
347 SM) satu botol air yang asli ada jauh lebih indah dan lebih
bermanfaat dari lukisan sebotol anggur. Tetapi sekarang orang
menilai lukisan jauh lebih berharga daripada patung.
Berdasarkan penelitian para ahli ternyata seni/karya itu sudah ada
sejak 35.000 tahun yang lampau. Bukti ini terdapat pada dinding-
dinding gua Chauvet di Perancis Selatan berupa lukisan dari hasil
torehan-torehan.
Di Jerman mereka telah menemukan hasil pahatan yang dibuat dari
tulang gajah purba Mamut yang usianya mungkin lebih dari 46.000
tahun. Mereka telah menemukan juga suling dari tulang angsa. Manusia
purba membuat seni untuk menghilangkan rasa takut mereka terhadap
binatang-binatang besar dan buas dilingkungannya. Lukisan porno pun
sudah ada sejak 15.000 tahun yang lampau.
Kemudian manusia mulai menciptakan seni dengan tujuan untuk memuja
sesuatu yang mereka anggap lebih luhur. Maka dari itu juga kata seni
dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Sansekerta "Sani" yang
berarti Jiwa Yang Luhur. Misalnya bangsa Yunani maupun Mesir yang
membuat begitu banyak patung-patung, hal ini dianggap haram oleh
umat Muslim tetapi tidak diharamkan oleh penganut agama lainnya
seperti Buddha, Hindu, bahkan sebagian umat Nasrani pun
menghalalkannya.
Manusia modern menciptakan seni untuk kepuasan dirinya sendiri,
bukan untuk tujuan agama ataupun sesuatu hal yang lainnya. Menurut
seniman dan filsuf Jerman Theodor W. Adorno; "Seorang seniman akan
bisa menciptakan Seni yang murni atau seni yang tinggi, apabila ia
menciptakan hasil karyanya tanpa adanya dorongan, paksaan maupun
kebutuhan lainnya selain kepuasan bagi dirinya sendiri." Misalnya
pelukis Jerman Albrecht Durer (1471-1528) melukis dirinya sebagai
Yesus bukan untuk gereja melainkan hanya sekedar untuk kepuasan
dirinya sendiri.
http://de.wikipedia.org/wiki/Bild:Durer_self_portarit_28.jpg
Pelukis Lucian Freud cucunya dari Sigmund Freuds pernah mengatakan
masa yang paling mengecewakan bagi seorang pelukis ialah pada saat
lukisannya selesai, karena pada saat tersebut ia harus menerima
kenyataan, bahwa hasil karyanya itu hanya sekedar benda mati dan
tidak seindah seperti yang ia harapkan.
Apakah seni itu harus selalu indah ? Apakah harus selalu
menyenangkan bagi orang lain ? Tidak, misalnya senimankontemporer,
mereka menciptakan seni seenak udel-udel mereka. Menciptakan hasil
karya seni sekarang ini sudah tidak ada batasan maupun perarturannya
lagi, semuanya dihalalkan. Misalnya seni "Klik Art" orang tidak
perlu melukis sendiri, melainkan mengkombinasikan atau memanfaatkan
lukisan hasil karya orang lain melalui program komputer dan banyak
lagi seni karya lainnya yang tidak akan habisnya untuk bisa
diceritakan disini.
Tulisan mang Ucup walaupun ini selalu ditulis dalam keadaan mabok,
tetapi masih tetap bisa dinilai sebagai hasil karya seni.
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net
BUDI ARLIUS PUTRA
Ph.D Scholar in Urban Design
School of Planning And Architecture
New Delhi, India
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]