*http://www.tni-au.mil.id/headline.asp?aid=829
PERISTIWA 29 JULI 1947 BERCERMIN DARI KETELADANAN DAN PATRIOTISME PEJUANG BANGSA PADA PERISTIWA 29 JULI 1947* Ada apa dengan peristiwa 29 Juli 1947 bagi Bangsa dan Negara Indonesia, sampai kita katakan suatu keteladanan dari seorang pejuang yang memiliki sikap dan mental patriotisme yang begitu mandalam sehingga patut kita contoh. Bila hal itu kita tanyakan kepada masyarakat, jawabannya pasti tidak tahu menahu karena memang tidak pernah disebutkan dalam materi Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia. Masyarakat tahunya pada tahun itu telah terjadi agresi militer yang dilakukan penjajah Belanda. Namun bagi Prajurit *TNI Angkatan Udara* peristiwa tersebut tidak asing lagi karena merupakan peristiwa yang memacu semangat juang dalam mengabdikan dirinya kepada negara dan bangsa kapan dan dalam kondisi bagaimana pun. Hal ini sangat disayangkan, sejarah perjuangan Bangsa Indonesia tidak pernah mencantumkan para pejuang yang berasal dari prajurit matra udara. Padahal para prajurit angkatan udara sangat banyak jasanya dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti pada tanggal tersebut ada dua peristiwa sejarah yang terlupakan oleh Bangsa Indonesia yang telah dilakukan para pejuang yang sekaligus Perintis terbentuknya TNI Angkatan Udara. Pertama, peristiwa serangan udara yang dilakukan para Prajurit TNI Angkatan Udara yang melakukan pengeboman di markas militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa pada pagi buta. Pelakunya para Kadet Penerbang Sekolah Penerbang Maguwo, Yogyakarta yang didirikan pada tanggal 15 Noveber 1945 oleh Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan kawan, yaitu Kadet Penerbang Mulyono, Kafet Penerbang Sutardjo Sigit dan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani dengan menggunakan sebuah pesawat Guntei dan dua buah pesawat Cureng. Serangan udara ini merupakan balasan atas agresi militer yang dilakukan Belanda. Serangan pengeboman ini oleh para pelaku disebut sebagai "Gerilya Udara". Walaupun hasilnya secara fisik tidak menimbulkan kerusakan yang berat bagi pihak Belanda tetapi secara politis gaungnya sampai dunia internasional yang menunjukan tentang kedaulatan Republik Indonesia yang telah memiliki Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara yang berjuang dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari cengkraman penjajahan babak kedua oleh Belanda. Peristiwa pengeboman ini merupakan serangan udara yang pertama kalinya dilakukan pejuang udara. Kedua, peristiwa gugurnya para pejuang dan petinggi TNI Angkatan Udara yang merupakan perintis dan pendiri TNI Angkatan Udara pada sore harinya yang sedang melakukan tugas kemanusiaan membawa bantuan berupa obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Para perintis TNI Angkatan Udara yang gugur dalam peristiwa tersebut yaitu, Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh dan Adi Sumarmo. Pesawat Dakota yang disewa dari perusahaan penerbangan India dengan kode VT-CLA yang ditumpanginya jatuh ditembak pesawat tempur Belanda saat akan mendarat di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta. Keteladanan. Mencermati peristiwa pertama diatas tentunya ada sesuatu yang menjadi pertanyaan. Melakukan serangan udara ? Kedengarannya hal yang mustahil dilakukan bila melihat kondisi saat itu, dimana Republik Indonesia sendiri baru merdeka belum genap dua tahun. Jangankan melawan Belanda dengan menggunakan pesawat tempur, para pejuang saat itu sebagian besar masih menggunakan bambu runcing untuk melakaukan perlawanan. Kehebatan dan semangat juang apa yang dimiliki para Prajurit TNI Angkatan Udara sehingga memiliki pesawat tempur yang dapat digunakan untuk melakukan serangan udara. Bagaimana para prajurit angkatan udara bisa membangun kekuatan udara. Dari mana modal yang mereka miliki sehingga bisa memiliki pesawat terbang, padahal Republik Indonesia baru merdeka dan belum pernah membeli pesawat terbang dan belum melakukan kerjasama dengan luar negeri untuk pembelian persenjataan bagi angkatan bersenjatanya. Karena Indonesia baru merdeka dan bahkan Belanda masih belum mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat. Semua itu karena dilandasi jiwa dan semangat patriotisme demi tegaknya kedaulatan NKRI. Pesawat-pesawat rusak - yang boleh dikatakan sudah menjadi rongsongan besi tua - dari bekas penjajahan Jepang dengan tekad membara memperbaikinya sampai bisa terbang kembali, sehingga menjadi alat utama sistem senjata udara TNI AU serta digunakan untuk latihan terbang bagi para kadet penerbang Sekolah Penerbang Maguwo. Semua yang dilakukan tidak menunggu atau mengharap anggaran dari pemerintah karena memang saat itu pemerintah belum punya uang. Jangankan untuk membeli pesawat terbang, untuk mempersenjatai para pejuang saja belum sanggup. Modal utama yang dimiliki pejuang udara hanyalah sikap dan mental patriotisme dan profesionalisme. Perjuangan prajurit udara dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan tidak sebatas dalam bidang matra udara sebagaimana profesi yang menjadi tanggungjawabnya. Para prajurit udara memahami betul bahwa perjuangan setelah kemerdekaan tidak hanya mengangkat senjata untuk mengusir penjajah tetapi juga dapat dilakukan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan Bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari kesengsaraan yang dialami akibat penjajahan. Para Petinggi Angkatan Udara yang memiliki latar belakang ilmu dibidang kesehatan seperti Bapak Prof DR Abdurachman Saleh mencari bantuan obat-obatan yang sangat dibutuhkan. Perjuangan mencari bantuan obat-obatan pun akhirnya mendapat tanggapan dari Palang Merah Malaya. Namun takdir berbicara lain, perjuangan mulia ini kandas akibat tindakan brutal militer penjajah Belanda yang menembak jatuh pesawat angkut sipil yang membawa bantuan kemanusian obat-obatan tersebut yang juga mengakibatkan gugurnya para pejuang, petinggi dan perintis TNI Angkatan Udara. Perjuangan prajurit TNI Angkatan Udara dalam upaya membangun kekuatan udara (air power) nasional serta mengisi kemederkaan bangsa Indonesia selalu dijiwai sikap pantang menyerah yang dilandasi rasa patriotisme dan profesionalisme sehingga patut menjadi contoh generasi penerus bangsa maupun prajurit TNI Angkatan Udara saat ini. Biarlah perjuangan para pelopor dan pendahulu TNI Angkatan Udara tidak tercantum dalam materi Sejarah Perjuangan Bangsa dan Negara Republik Indonesia tetapi semangat juang dan profesionalisme yang telah diteladaninya terus berkibar di dada Prajurit TNI Angkatan Udara. Pahlawan sejati tidak pernah mengharap jasa dan imbalan, keikhlasanlah yang mereka berikan demi negara dan bangsa.***Marsma TNI Daryatmo S.IP (Kadispenau [Non-text portions of this message have been removed]

