*http://www.tni-au.mil.id/headline.asp?aid=828



Hari Bakti TNI AU :

PATRIOTISME PERINTIS TNI AU*

Peristiwanya telah terjadi 60 tahun lalu, tepatnya 29 Juli 1947. Namun, bagi
TNI Angkatan Udara, dua peristiwa yang terjadi pada saat itu mempunyai makna
besar, yang perlu dihayati oleh setiap prajurit TNI AU. Sehingga, sangat
tepat jika hari itu kemudian diperingati sebagai Hari Bhakti TNI AU.

Pertama, serangan udara TNI AU terhadap daerah pendudukan Belanda di
Ambarawa, Salatiga, dan Semarang, yang dilakukan oleh Kadet Penerbang
Sutardjo Sigit, Suharmoko Harbani, dan Mulyono, dibantu tiga orang teknisi
bertindak sebagai penembak udara yaitu Sutardjo, Kaput, dan Dulrachman.
Serangan udara yang dilakukan menjelang subuh itu menggunakan dua buah
pesawat Churen dan sebuah Guntei.

Kedua, gugurnya tiga pelopor dan perintis TNI AU, masing-masing Komodor Muda
Udara Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir
Muda Udara Adisumarmo. Ketika, pesawat Dakota VT-CLA yang dinaiki serta
membawa obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya, ditembak pesawat
Belanda Kitty-hawk dan jatuh di Desa Ngoto, 3 km selatan Yogyakarta.

Kedua peristiwa itu berawal dari perjanjian Linggarjati yang merupakan usaha
untuk menuju penyelesaian konflik antara Indonesia dan Belanda, namun
Belanda mengingkarinya. Karena, secara sepihak memutuskan hubungan
diplomatik dan mengambil tindakan militer. Yaitu, dengan mengadakan serangan
serempak ke daerah Republik Indonesia pada 21 Juli 1947 yang dikenal dengan
Agresi Belanda I.

Belanda melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Indonesia,
termasuk di beberapa pangkalan udara dan yang menjadi sasaran utamanya
adalah Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, sebab dianggap sebagai pusat
kekuatan udara RI.

Namun, karena cuaca buruk, serangan tersebut gagal dan Belanda mengalihkan
ke pangkalan udara lain seperti Pangkalan Udara Panasan Solo, Maospati
Madiun, Bugis Malang, Pandanwangi Lumajang, Gorda Banten, Kalijati Subang,
dan Cibeureum Tasikmalaya. Sedang diluar Jawa, yang diserang Belanda yaitu
Pangkalan Udara Gadut Bukittinggi, Sumatera Barat.

Timbulkan kemarahan

Aksi Militer Pertama Belanda itu menimbulkan kemarahan, selain karena
mengingkari Persetujuan Linggarjati yang disepakati bersama, juga melanggar
ketentuan hukum perang. Bagi bangsa Indonesia, tindakan semena-mena itu
dipandang sebagai tekanan politis dengan maksud menghancurkan dan
mengecilkan arti negara RI.

Sedangkan untuk TNI AU yang saat itu baru tumbuh, kehancuran beberapa
pangkalan udaranya merupakan tamparan menyakitkan yang dimaksudkan
mematahkan semangat juang prajurit TNI AU serta mempersempit ruang gerak dan
membatasi laju pertumbuhan TNI AU.

Serangan Belanda yang betubi-tubi dan membabi buta itu menimbulkan kemarahan
di hati pimpinan TNI AU saat itu. Dalam keterbatasan dan tidak mengenal
menyerah, mereka terus berupaya menyusun kekuatan dan strategi untuk
mengadakan serangan udara balasan ke wilayah yang di duduki Belanda.

Tanggal 28 Juli 1947 sekitar pukul 19.00, empat kadet penerbang yaitu
Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, Mulyono dan Bambang Saptoadji
diperintahkan menghadap Kasau Komodor Udara Suryadi Suryadarma dan Komodor
Muda Udara Halim Perdanakusuma. Panggilan sangat rahasia ini menyangkut
rencana operasi udara yang ditugaskan kepada empat kadet penerbang tersebut
untuk menyerang kedudukan Belanda.

Pelaksanaan operasi itu tidak semata-mata berupa perintah, tetapi lebih
bersifat suka rela. Namun, tidak seorang pun keempat kadet yang rata-rata
berusia 19 tahun itu mundur dari tugas tersebut. Semua merasa terpanggil dan
terhormat untuk melaksanakannya.

Pengeboman tiga kota

Dini hari 29 Juli 1947, Pangkalan Udara Maguwo dalam keadaan masih gelap.
Namun, tiba-tiba digetarkan oleh deru pesawat yang mengemban misi yang belum
pernah dilakukan Bangsa Indonesia. Kadet penerbang Sutardjo Sigit dan
Suharnoko Harbani diperintahkan melakukan penyerangan ke Salatiga dan
Ambarawa, pesawat Churen yang diterbangkan diubah menjadi pesawat pengebom.

Kokpit pesawat dibuka, badan dan sayap, diberi cat warna hijau militer.
Sedangkan, modifikasinya terletak pada pemasangan mekanisme untuk
menjatuhkan bom yang digantungkan di kedua sayapnya, masing-masing sayap
dibebani sebuah bom seberat 50 kg.

Pesawat yang dikemudiakan Suharnoko Harbani dilengkapi senapan mesin dengan
penembak udara Kaput. Sedangkan, pesawat Sutardjo Sigit dibekali bom-bom
bakar dan penembak udaranya Sutardjo.

Kadet penerbang Mulyono diperintahkan menyerang Semarang dengan menggunakan
pesawat pengebom tukik "Driver Bomber" Guntei berkekuatan 850 daya kuda.
Pesawat berkecepatan jelajah 265 km/jam itu dibebani bom 400 kg dan
dilengkapi dua senapan mesin di sayap dan sebuah dipasang dibelakang
penerbang serta sebagai penembak udara Dulrachman.

Sementara itu, Kadet Penerbang Bambang Saptoadji yang menggunakan pesawat
buru sergap Hayabusha dan bertugas mengawal pesawat yang diawaki Kadet
Penerbang Mulyono, terpaksa dibatalkan karena pesawat yang telah
dipersiapkan sejak pagi itu belum selesai diperbaiki setelah mengalami
kerusakan.

Setelah mengadakan pengoboman di tiga kota itu, ketiga pesawat sebelum jam 6
pagi sudah mendarat kembali dengan selamat di Pangkalan Udara Maguwo.

Ada tiga efek yang ditimbulkan dari operasi udara itu. Pertama, meningkatkan
semangat juang bangsa Indonesia dan menambah rasa percaya diri. Kedua, aspek
diplomasi yaitu pengakuan atas keberadaan dan kedaulatan Negara Republik
Indonesia di masyarakat dunia. Ketiga, aspek militer yaitu keberadaan
Angkatan Udara RI diperhitungkan oleh Pemerintah Belanda.

Serangan yang dilancarkan di pagi buta itu, tidak hanya memporakporandakan
kubu-kubu pertahanan Belanda, namun lebih dari itu menurunkan mental dan
semangat pasukannya. Untuk mengembalikan semangat tempur tersebut, Belanda
melancarkan serangan balasan dan tidak mengindahkan lagi aturan perang.




Serangan Balasan

Hal itu dibuktikan dengan peristiwa penembakan terhadap pesawat Dakota
VT-CLA yang merupakan pesawat "carteran" Republik Indonesia dari warga
negara India Bijoyanda Patnaik yang bersimpati terhadap perjuangan
Indonesia, pada sore harinya. Saat pesawat yang dikemudikan Pilot Alexander
Noel Contantine dibantu Copilot Roy Hazelhurst tersebut akan mendarat di
Pangkalan Udara Maguwo.

Roda mendarat sudah keluar dari tempatnya, namun secara tiba-tiba muncul
pesawat P-40 kittyhawk Belanda yang langsung menghadang dan menyerang dengan
berondongan peluru. Pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan sumbangan
dari Palang Merah Malaya kepada Palang Merah Indonesia dan tanpa senjata itu
oleng ketika mesin sebelah kiri terkena tembakan lalu jatuh di Desa Ngoto, 3
km sebelah selatan Yogyakarta.

Badan pesawat patah menjadi dua dan bagian lain hancur berkeping-keping.
Korban yang gugur dalam musibah itu diantaranya Komodor Muda Udara
Adisucipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda
Udara Adisumarmo. Gugurnya tokoh-tokoh TNI AU saat itu mengakibatkan rasa
kedukaan mendalam karena tenaga dan pikirannya sangat diperlukan untuk
membangun dan membesarkan Angkatan Udara. Pengorbanan tokoh perintis TNI AU
tersebut merupakan bukti dan bhakti pengabdian yang diberikan TNI AU kepada
bangsa dan negara.

Untuk mengenang dan mengabadikan peristiwa gugurnya para tokoh dan perintis
TNI AU ini, sejak tahun 1955 tanggal 29 Juli diperingati sebagai "Hari
Berkabung" TNI AU dan mulai tahun 1962 diubah menjadi Hari Bakti TNI AU.
Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/78/VII/2000 tanggal 17 Juli
2000 tempat jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di desa Ngoto, diresmikan menjadi
Monumen Perjuangan TNI AU. Bersamaan dengan peresmian ini, dipindahkan pula
kerangka jenasah Marsda TNI (anumerta) Adisucipto dan Marsda TNI (anumerta)
Abdulrachman Saleh beserta istri dari TPU Kuncen Yogyakarta ke pemakaman TNI
AU Ngoto Yogyakarta.

Meski jasad telah 60 tahun di peluk ibu pertiwi, namun semangat, dedikasi
dan pengabdian sebagian "tentara langit" selaku sayap tanah air tidak pernah
pudar. Inilah salah satu benang merah dari peristiwa 29 Juli 1947 yang harus
diteladani dari para perintis TNI AU bagi generasi penerus TNI AU saat ini
dalam melaksanakan tugas selanjutnya. (Mayor Sus Drs. Bintang Yudianta,
Kepala Penerangan Koopsau II Makassar)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke