*http://www.kompas.com/


RI-Australia Sepakat Joint Study FTA

Laporan Wartawan Kompas Suhartono

NUSA DUA, KOMPAS*- *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* dan *Perdana Menteri
Australia John Howard* sepakat untuk melakukan Joint Study penjajakan
terbentuknya kawasan perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA) kedua negara.
Hal itu dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kerja sama dan perekonomian
kedua negara.

Dalam keterangan pers di pinggir kolam renang Hotel Westin, Nusa Dua, Bali,
Jumat (27/7) siang, kedua pemimpin menugaskan masing-masing menteri
perdagangan untuk menindaklanjuti studi kelayakan mengenai manfaat dari
perjanjian FTA bilateral.

Menurut *Presiden Yudhoyono*, di bidang investasi dan perdagangan selama 4
tahun terakhir volume perdagangan RI-Australia meningkat rata-rata 14,1
persen per tahun. "Oleh sebab itu kami mendorong inisiatif pembentukan
kawasan perdagangan bebas RI-Australia untuk dilakukan kajian kelayakan,"
ujar Presiden.

Siaran pers yang dibagikan usai keterangan pers bersama kedua pemimpin
negara itu menyebutkan studi kelayakan mengenai FTA bilateral kedua negara
akan dimulai Agustus 2007 dan diharapkan selesai menjelang pertengahan tahun
depan.

Studi kelayakan itu akan mengevaluasi prospek pengembangan kemajuan yang
telah dicapai dalam negosiasi perdagangan bebas antara Australia, ASEAN, dan
Selandia Baru. "Studi tersebut akan meneliti keuntungan dan biaya
perdagangan bebas sesuai Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bagi Australia
dan Indonesia dengan mempertimbangkan perdagangan yang lebih luas, kebijakan
luar negeri dan implikasi strategisnya serta nilai suatu perjanjian untuk
menyelesaikan masalah perdagangan bilateral," demikian isi siaran pers
tersebut.

Dari hasil studi tersebut akan dikembangkan berbagai rekomendasi tindakan
yang dapat memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan potensi biaya suatu
FTA. Sejauh ini Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri
Perdagangan Australia (waktu itu Mark Vaile) pada 29 September 2005 telah
menandatangani Australia-Indonesia Trade and Investment Framework (TIF). TIF
itu dirancang untuk memperkuat hubungan komersial, bilateral Indonesia dan
Australia dengan memberi kesempatan bisnis dan meningkatkan fasilitas
perdagangan dan investasi.

Selanjutnya, pada 25 Juni lalu, Menteri Perdagangan Australia dan Indonesia
serta kelompok ahli merekomendasikan perlunya kedua negara mengadakan studi
kelayakan terlebih dahulu untuk mewujudkan gagasan FTA RI-Australia.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke