*http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0707/27/182716.htm


ITB Tuan Rumah Kyoto Symposium

Laporan Wartawan Kompas Yulvianus Harjono

BANDUNG, KOMPAS-*Institut Teknologi Bandung menjadi tuan rumah
penyelenggaraan Kyoto University International Symposium ke-10 yang
dilaksanakan 26-28 Juni 2007. Simposium ini merupakan ajang pertemuan
sekaligus penelitian ilmuwan-ilmuwan dunia.

Menurut Humas Panitia Penyelenggara Nanang Puspito, simposium ini termasuk
dalam agenda penting karena membahas berbagai topik global. Khususnya,
terkait status terkini perkembangan ilmu kebumian dunia dan peranannya bagi
keberlanjutan hidup manusia.

"Isu-isu yang dibahas dalam symposium ini tentang pemanasan global, kenaikan
permukaan air laut, prediksi cuaca, perubahan iklim, banjir, kekeringan,
gempa bumi, tsunami, longsor, dan masalah lingkungan lainnya," ujarnya dalam
siaran persnya.

Simposium ini tidak hanya menitikberatkan perhatiannya pada isu dan
persoalan global. Isu-isu kontekstual yang menjadi persoalan pelik di tanah
air ikut mendapatkan perhatian. Di antaranya, tentang fenomena lumpur panas
Sidoarjo, banjir Jakarta, serta analisi potensi terjadinya gempa-gempa besar
dan tsunami di Indonesia.

Sekitar 75 orang ilmuwan dari sedikitnya 18 negara diperkirakan hadir di
sini. Beberapa ilmuwan kelas dunia yang tampil diantaranya pakar gempa bumi
dari Ameriksa Serikat Prof. Hiroo Kanamori, pakar tsunami dari Jepang Prof.
Kenji Satake, dan ahli iklim dan cuaca dari Inggris Prof. Tim palmer.
Sebanyak 28 makalah ditampilkan

Sementara, Indonesia juga ikut menghadirkan 75 ilmuwannya. Dua ilmuwan ITB,
yaitu pakar geofisika Sri Widiyantoro dan ahli meterorologi Tri Wahyu Hadi,
ikut hadir. Simposium ini ikut membuka peluang kerjasama penelitian
internasional di bidang ilmu kebumian secara spesifik. Namun, belum
diketahui kongkritnya kerjasama dimaksud.

Nanang mengungkapkan, penyelenggaraan simposium ini merupakan salah satu
perwujudan kerjasama ITB dengan Kyoto University, khususnya di bidang
pendidikan dan pelatihan. "Indonesia dipilih sebagai tempat penyelenggaraan
simposium karena Indonesia merupakan laboratorium alam paling ideal bagi
upaya pengembangan ilmu-ilmu kebumian, terutama terkait penelitian
kebencana-alaman," ungkapnya.

Indonesia memiliki wilayah geografis yang sangat luas dengan ragam
karakteristik daerah yang unik. Persoalan ilmu kebumiannya pun juga
kompleks. Berbagai bencana alam kebumian pernah terjadi. Mulai dari tsunami,
gempa bumi, gunung meletus, banjir, hingga mud volcano.
Di samping simposium, para peserta juga akan melakukan kunjungan ke Gunung
Tangkuban Parahu dan Patahan Lembang untuk melihat keunikan kondisi
geografis itu. Patahan Lembang. Sesar (fault) yang terletak di Lembang ini
diyakini tetap mampu melepaskan energi meski ratusan hingga ribuan tahun
lalu tidak lagi aktif. Kondisi yang membahayakan dan patut diwaspadai adalah
kenyataan adanya interkoneksi sesar ini dengan Patahan Cimandiri di
Pelabuhan Ratu, Sukabumi.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke