Kenapa kita punya perasaan benci ? Bahkan terkadang kita juga tidak 
mengerti kenapa kita bisa dibenci oleh seseorang ? Kita memusuhi 
orang ataupun dimusuhi oleh orang lain, pada umumnya karena adanya 
rasa benci. 

Jadi benci itu secara tidak langsung ada kaitannya dengan perasaan 
tidak bersahabat. Maka tidaklah heran untuk kata musuh dalam bahasa 
Belanda = Vijand sedang dalam bahasa Jerman = Feinde ini diserap 
dari bhs Jerman Kuno "fiant" atau "vindt" yang berarti benci. 
Sedangkan dalam bahasa Inggris musuh = enemy yang diserap dari 
bahasa Latin "inimicus" in = tidak, amicus = sahabat.

Perasaan benci itu berakar dan timbul dari pikiran kita. Menurut 
pendapat filsuf psikoanalis asal Jerman Erich Fromm, perasaan benci 
itu dapat timbul dari akibat reaksi kita terhadap seseorang, 
misalnya karena dikecewakan/disakiti atau juga karena sudah sifat 
pembawaan sejak orok misalnya benci terhadap kaum perempuan 
(misogynie) atau terhadap pria (misandrie) atau bisa juga terhadap 
sesama manusia (misanthropie). Benci dalam bahasa Yunani = "misein".

Jutaan orang telah terbunuh akibat rasa benci misalnya Hitler; ia 
merasa benci terhadap orang Yahudi sehingga terjadinya kasus 
Holocaust dimana lebih dari 6 juta orang Yahudi dibunuh atau di 
Afrika dimana hampir satu juta suku Tutsis dibunuh oleh suku Hutus. 
Orang bisa merasa benci terhadap agama, bangsa maupun etnis.

Benci itu adalah lawan kata dari cinta. Tidak bisa dipungkiri banyak 
percintaan yang diawali dengan rasa cinta yang mengebu-ngebu sering 
kali diakhiri oleh rasa benci, karena mereka merasa 
dikecewakan/disakiti. Rasa benci timbul bukan hanya terhadap musuh 
saja, tetapi bisa juga terjadi terhadap orang tua, anak maupun 
pasangan hidup kita, bahkan sudah banyak sekali orang yang membenci 
Allah, karena merasa dikecewakan.

Aneh tapi nyata, di dalam kehidupan kita sehari-hari, hanya 
disebabkan oleh soal yang sangat kecil saja ataupun oleh sepatah 
atau dua patah kata saja; ternyata bisa mengakibatkan putusnya tali 
persahabatan, kekeluargaan bahkan sampai terjadinya perceraian. 
Bahkan tidak jarang pula rasa benci itu timbul, karena adanya rasa 
iri misalnya kenapa yang dinikahi oleh dia itu si Anu bukannya saya ?

Kadang-kadang kita sendiri tidak mengerti, kenapa dan apa 
penyebabnya sehingga ia jadi benci terhadap saya ? Pada umumnya 
orang lebih mudah dan lebih cepat mengambil keputusan untuk membenci 
seseorang, daripada untuk mengerti pendapat maupun prilaku dari 
orang lain.

Jawablah sendiri berapa kali terjadi di dalam kehidupan kita ini, 
dimana prilaku seseorang mendadak berubah berbalik 180 derajat, dari 
sifat yang bersabahat menjadi sifat yang bermusuhan. Ini semuanya 
berasal dari rasa benci. Memutuskan tali persahabatan maupun 
kekeluargaan itu jauh lebih mudah daripada memeliharanya.

Rasa benci itu seringkali timbul dengan adanya rasa dendam, dimana 
ingin balik menyakiti ataupun membalasnya. Bagaimana caranya tidak 
jadi masalah yang penting musuh kita harus merasakan sakit dan 
penderitaan yang sama seperti juga yang ia lakukan terhadap diri 
saya.

Apabila kita sedang dirudung oleh rasa benci, maka boro-boro untuk 
bisa mengasihi seseorang untuk memaafkan saja sudah sulit. Menurut 
Sigmund Freud satu hal yang nonsen besar maupun ilusi kosong, dimana 
seseorang bisa berbalik mengasihi musuhnya daripada membencinya.

Rasa benci tidak akan hilang dengan sendirinya ini harus diawali dan 
dimulai dari diri kita sendiri. Awal untuk menghilangkan rasa benci 
ialah bersedia untuk memaafkan. Kita tidak perlu langsung untuk bisa 
mengasihi orang yang kita benci, tetapi minimum berusaha untuk 
mengerti dan menerima apa adanya dengan segala kelebihan maupun 
kekurangannya. Hapuslah rasa benci tersebut dengan kata maaf yang 
keluar dari hati nurani kita.

Sebelumnya kita membenci sebaiknya kita belajar untuk tidak menjadi 
Banci (pengecut); dimana sebelumnya kita memvonis seseorang dengan 
rasa benci, sebaiknya diberikan perjelasan terlebih dahulu, kenapa 
kita merasa tidak senang kepadanya. Mungkin saja terjadi salah 
paham/pengertian ataupun hal-hal dimana ia sendiri tidak 
menyadarinya.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net


Kirim email ke