*80 Tahun Tentara Pembebasan Rakyat China Oleh: Zhang Danhong dari Stuttgart*
Sejarah militer China dimulai 1 Agustus 1927. Saat itu tentara nasional yang bersimpati dengan kubu komunis memberontak di Nanchang, China Tengah, dan bersatu dengan Mao Zedong. Dengan pemberontakan Nanchang pecah pertempuran antara kubu komunis dengan dengan kubu nasionalis Chiang Kai Sek, yang didukung AS. Karena simpati rakyat, tahun 1949 Tentara Merah menang dan menghalau pasukan Kuomintang ke Pulau Taiwan. Tentara Merah yang menjadi Pasukan Pembebasan Rakyat sejak lama diledek sebagai museum militer, karena persenjataannya yang sudah usang. Baru di tahun 90 an pemerintah di Beijing mulai mengadakan modernisasi. Dengan adanya kemajuan di bidang ekonomi, anggaran militer meningkat pesat tiap tahunnya. Ini mengundang protes AS. China dianggap menambah persenjataan tanpa alasan yang jelas. Menurut pakar China, Profesor Eberhard Sandschneider dari Lembaga untuk Politik Luar Negeri Jerman, tuduhan itu tidak adil. Jika dibanding dengan AS, pengeluaran militer China sangat kurang. Lagipula, sudah lumrah jika negara yang ekonominya meningkat, memperbaiki kapasitas militernya. Demikian ditambahkan Sandschneider. Itu jugalah argumentasi pemerintah China. Mereka menambahkan, perbaikan militer juga ditujukan untuk meningkatkan keikutsertaan China dalam tentara internasional. Dibanding negara-negara anggota tetap DK PBB lainnya, China memang menyumbangkan tentara helm biru paling banyak. Tujuan damai yang menjadi acuan pemerintah China, juga dinyatakan dalam laporan tentang kontrol pengurangan persenjataan, yang diterbitkan akhir 2006 lalu. Untuk itu Perdana Menteri Wen Jiabao menyatakan: "Politik pertahanan kami hanya untuk mempertahankan diri. Tentara bersenjata China yang hanya terbatas ditujukan untuk menjaga keamanan, kemerdekaan dan kedaulatan negara." Yang dimaksud dengan kedaulatan tentu saja menyangkut Taiwan. UU anti pemisahan diri yang disahkan Maret 2005 mengancam negara pulau itu untuk tidak menyatakan kemerdekaan, jika tidak ingin diserang. AS merasa berkewajiban untuk membantu Taiwan jika diserang. Sehingga AS khawatir dengan modernisasi angkatan laut Cina. Modernisasi kapal selam nuklir, roket antar benua "Dongfeng 5" dan satelit navigasi baru "Beidou" juga menjadi judul utama di koran-koran. Saat China menembak satelit cuacanya yang sudah tua dengan roket, surat kabar Jerman "Die Welt" bahkan menyebut-nyebut munculnya dua kutub kekuasaan di dunia. Menurut Sandschneider, China berusaha memperkuat militernya, di mana militer AS lemah. Itulah upaya China mengkompensasi kekuatan AS. Kekuatan AS terletak pada kenyataan bahwa China dikepung negara-negara yang bersekutu dengan AS, misalnya Jepang. AS juga membantu India, dan bekerjasama dengan Thailand, serta memperbaiki hubungan dengan Vietnam, dan memiliki markas militer di Asia Tengah. Jadi politik keamanan China mau tidak mau terfokuskan pada persaingan dengan AS. Tetapi di dalam negeri militer China juga harus berjuang di sejumlah front. Korupsi merajalela. Presiden Hu Jintao tidak dapat bertindak, karena terlebih dahulu harus memperkuat pengaruhnya dalam militer. Sementara itu seruan untuk mereformasi militer tambah keras. Diskusi bahwa militer harus bertanggungjawab kepada negara dan bukan lagi kepada partai, semakin meruncing sebelum ulang tahun partai ke17. Jadi dapat dikatakan, militer China masih harus menghadapi masa-masa bergejolak. Menurut Sandschneider, saat ini dunia tidak perlu khawatir. Secara keseluruhan China tidak agresif. Tetapi negara itu bisa saja berusaha melindungi kepentingannya dengan kekuatan militer. Yang jelas sejarah menunjukkan, jika China dipandang secara konfrontatif dan dianggap musuh, China akan benar-benar menjadi musuh. (ml) [Non-text portions of this message have been removed]

