Mengingat Korsel selama ini sangat ramah dengan negara-negara Islam, semoga
penyandera terketuk hatinya untuk menurunkan tuntutannya, dengan penukaran
sandera dengan uang tebusan, dlsb. Nyawa manusia terlalu mahal.


------------------------------
*http://www.kompas.com/ver1/Internasional/0708/04/031248.htm
**

Nasib Sandera Korsel Masih Tak Menentu

GHAZNI, JUMAT*- Nasib ke-21 sandera warga Korea Selatan yang disekap
Kelompok Taliban masih tak menentu, Jumat (3/8). Pihak Korsel yang terus
berupaya membebaskan sandera menegaskan, pihaknya tidak dalam posisi bisa
memenuhi tuntutan Taliban agar Pemerintah Afganistan membebaskan rekan-
rekannya dari penjara.

Taliban, kemarin, menyatakan sisa sandera masih hidup, setelah mereka
sebelumnya membunuh dua sandera pria. Taliban menawarkan perundingan
langsung dengan pejabat-pejabat Korsel, yang dikatakan telah memberikan
jaminan dapat melepaskan tahanan Taliban.

Pembebasan tahanan Taliban merupakan tuntutan utama bagi pembebasan para
sandera Korsel. Warga Korsel, yang berada di Afganistan dengan misi sosial,
ini diculik 19 Juli lalu dalam perjalanan dengan bus antara Kabul dan
Kandahar.

Juru Bicara Kepresidenan Korsel Cheon Ho-seon mengatakan, ada hubungan
komunikasi langsung antara perunding Pemerintah Afganistan dan Taliban.
Namun, dia menjelaskan, Seoul tidak bisa menjawab sepihak atas tuntutan
pembebasan tahanan Taliban. "Pemerintah Korsel tidak dalam posisi untuk
memberi sebuah jawaban langsung atas tuntutan agar tahanan Taliban ditukar
dengan para sandera Korsel," katanya.

Pemerintah Afganistan menolak melepaskan tahanan Taliban karena khawatir itu
akan mendorong penculikan. Amerika Serikat mengkritik langkah Kabul
membebaskan tahanan sebagaimana dilakukan Maret lalu bagi pembebasan seorang
wartawati Italia.

Pejabat Provinsi Ghazni, tempat sandera berada, dan Taliban mengatakan, ada
rencana pertemuan langsung Taliban dengan sebuah delegasi Korsel. Belum ada
konfirmasi dari Kedutaan Besar Korsel di Afganistan.

Kantor Berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan, perundingan antara pejabat
Korsel dan Taliban berlangsung kemarin. Hal ini karena sebagian besar
sandera sakit, termasuk dua sandera perempuan yang kondisinya parah.

Seorang jubir Taliban, Qari Yousuf Ahmadi, mengatakan, tempatnya belum
ditetapkan. Polisi mengatakan, pertemuan akan mendapat pengamanan ketat.

Sementara itu, Seoul mendesak AS, sekutu dekatnya, untuk memberi bantuan.
Delapan anggota parlemen senior Korsel hari Kamis terbang ke Washington DC
untuk melobi AS.

Richard Boucher, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Selatan
dan Tengah, mengatakan, Kamis, sebuah aksi militer terhadap Taliban
merupakan bagian dari banyak cara yang bisa diambil untuk membebaskan
sandera.

Namun, Seoul berulang kali menyatakan menolak upaya membebaskan sandera
dengan operasi militer. Para pejabat di Kabul membantah laporan kemungkinan
dilakukannya operasi militer.

Korsel berharap, pertemuan antara Presiden Afganistan Hamid Karzai dan
Presiden AS George W Bush di Washington DC akhir pekan ini akan dapat
membantu upaya pembebasan para sandera. (AFP/AP/Reuters/DI)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke