*http://www.tniad.mil.id/news.php?id=1243

DUA PULAU TERLUAR DI SELATAN RI TERABAIKAN*


*Kupang* - Dua pulau terluar di bagian selatan Indonesia yakni Pulau Landu
dan Pulau Nusa Manuk, yang berada di wilayah Kabupaten Rote Ndao, Nusa
Tenggara Timur (NTT), tampaknya tidak mendapat perhatian pemerintah. Pulau
berpenghuni tersebut belum mendapat perhatian pembangunan dari pemerintah,
malah Pulau Nusa Manuk sama sekali belum tersentuh pembangunan dan penduduk
Pulau Landu justru mendapat perhatian dan kebutuhan mendesak dari pihak lain
yakni NGO (LSM) asal Australia.

Komandan Korem (Danrem) 161/Wirasakti, Kolonel Inf Arief Rachman, MBA dan
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pengembangan Prasarana dan Sarana (P2S)
Kawasan Perbatasan NTT, Subdin Cipta Karya, Dinas Pemukiman dan Prasarana
Wilayah (Kimpraswil) NTT, Ir Yunet Amaya, MSi, membenarkan hal itu ketika
dikonfirmasi, di Kupang, Sabtu (4/8).

Kolonel Rachman mengatakan, ia sudah mendapat informasi itu dan telah
memerintahkan Komandan Kodim (Dandim) 1604/Kupang, Letkol Bambang Siswanto,
menyikapi masalah tersebut. Kedua pulau itu merupakan bagian dari wilayah
teritorial Kodim Kupang. "Saya sudah minta Dandim Kupang untuk mengecek
perkembangan di pulau terluar itu. Ada informasi NGO asal Australia terlibat
aktif membantu penduduk di sana, juga disebut-sebut bantuan NGO Australia
itu disertakan tulisan pesan `untuk saudara-saudaraku di Pulau Landu`," ujar
Rachman.

Kasatker P2S Kawasan Perbatasan NTT, Yunet Amaya mengatakan, ia telah
meminta konsultan PT Santika Conselindo untuk meninjau perkembangan di dua
pulau terluar di selatan Indonesia yang terabaikan itu. Pada pertengahan
Juni lalu Tim Konsultan PT Santika Conselindo, telah meninjau kedua pulau
itu dan menemukan kondisi memrihatinkan.

Pulau Nusa Manuk yang dihuni oleh 63 kepala keluarga (KK) sama sekali tidak
tersentuh pembangunan dan Pulau Landu dihuni oleh 147 KK, merupakan pulau
terluar di Selatan Indonesia. Letaknya di belakang pulau paling terluar
yakni Pulau Ndana. "Belum ada satu pun bentuk perhatian pemerintah Indonesia
terhadap penduduk di Pulau Landu itu, justeru kebutuhan mendesak seperti
listrik dipenuhi oleh pihak lain yakni sebuah perusahaan pengembangan wisata
asal Jepang yang sekarang beralih membudidayakan mutiara di perairan
sekitar," ujarnya. (sumber:www.antara.co.id)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke