Keberadaan orang-orang terkaya di sebuah negara penting untuk 
menggerakkan ekonomi secara agregat dan memberi efek multiplier. 
Mereka juga bisa menghitamputihkan bangsa, dan bahkan, sampai jadi 
bahan gosip tak berkesudahan. Mereka jualah yang sebenarnya 
menggambar cerita masa depan bangsa.

Di Amerika, banyak pengusaha kecil yang kemudian jadi besar. Tengok 
Google. Mereka punya kapitalisasi di atas Coca Cola (US$ 137 milyar) 
dan hanya sedikit di bawah Intel. Jaringan ritel Wal-Mart yang 
dimulai Sam Walton dari nol, kini kapitalisasi pasarnya hampir US$ 
200 milyar. Dan yang fenomenal tentu Microsoft dengan kapitalisasi 
hampir US$ 300 milyar. Kalau tahun 1991 lalu saham MSFT dihargai 
cuma US$ 5, kini sudah lebih dari US$ 80 per lembar. Angka ini cuma 
bisa dilampaui Exxon Mobil yang memang sudah mapan lebih dari seabad 
dengan kapitalisasi US$ 473 milyar.

Iklim investasi di Amerika memang sudah terbangun sedemikian rupa 
dan tersedia berbagai insentif bagi (calon) wirausahawan yang 
bermaksud membangun bisnis baru. Berbagai peraturan dan rule of the 
game juga jelas ditegakkan dan menjamin kelangsungan usaha mereka. 
Dan memang bisa dikatakan bahwa cukup banyak orang-orang terkaya di 
Amerika yang memulai usahanya dari nol karena memang dikondisikan 
demikian. Berbeda 180 derajat dengan di Indonesia.

Di Indonesia, orang-orang terkaya cenderung (maaf) masih rent 
seeking dan kurang kreatif. Calon orang-orang terkaya masa depan itu 
berangkat bukan dari bawah. Mereka jago finance, punya linkage 
dengan funding body di luar negeri — namun tak punya fondasi 
industri yang kokoh. Mereka "cuma" pinjam uang ke luar, membeli 
perusahaan yang dihajar krisis moneter 1997, lalu tinggal menuai 
panen. Mereka membentuk semacam private equity atau hedge fund untuk 
memenuhi kebutuhan pendanaan. BPPN atau PPA-lah yang jadi mak 
comblang tender jual-beli ini.

Namun naluri su'udzon saya bilang bahwa mereka juga berinvestasi di 
politik. Misalnya, ingat kasus BLBI. Seperti kita tahu, tender biasa 
dilakukan di Gedung Bidakara, milik BI. Kita juga tahu bahwa 
petinggi BPPN kebanyakan merupakan keluarga BI. Lucunya, ada salah 
satu parpol yang juga dekat dengan BPPN dan sering mengadakan 
hajatan di Gedung Bidakara. Partai tersebut juga mencak-mencak 
ketika namanya disangkutkan dengan kasus DKP dan mengancam siapapun 
yang mengungkit dana DKP dengan alasan character assasination. Kalau 
tidak salah, partai tersebut juga yang meloloskan Anwar Nasution 
sebagai ketua BPK. Anwar adalah mantan Deputi Gubernur BI dan BPK 
adalah lembaga superior satu-satunya yang bisa "mengaudit" kinerja 
BPPN dan BI.

Nah, pertanyaan su'udzon saya, apakah perusahaan-perusahaan murah 
tersebut memang dijual kepada bidder terbaik dengan harga tertinggi; 
atau orang-orang terkaya masa depan Indonesia tersebut 
mendapatkannya lewat cara lain? Silakan simpulkan sendiri.

selengkapnya baca di...

http://nofieiman.com/2007/07/orang-orang-terkaya-indonesia-dan-masa-
depan-kita/

Kirim email ke