Posted by: "suhana hana" [EMAIL PROTECTED] suhana032003 Tue Aug 7, 2007 12:26 am (PST) MENGKRITISI SEJENAK KOMENTAR Prof. Abdullahi An-Naim
Oke..aku mau coba kritisi pemikiran2nya yg ku anggap mengada-ada dan mencoba untu di ilmiah2 kan, olehnya antara lain komentarnya adalah : bukunya yg berjudul Islam dan Negara Sekular, Menegosiasikan Masa Depan Syariah KRITIKAN : dari judul bukunya Naim jelas mengatakan adanya kemungkinan untuk menegosiasikan syariah, namun pernyataan2 saat diskusi maupun dalam bukunya justru menentang habis syariah. Disini terlihat ketidak konsekuenan dirinya terhadap komentarnya sendiri. dan seharusnya Naim berlaku adil saat memposisikan diri dalam menawarkan kemungkinan antara syariah dan sekular dalam suatu negara, bukan mendiskriminasikan syariah dan mempropagandakan sekular. Dan terbukti jelas dari judul buku dengan kenyataan komentar2nya, Naim menunjukkan kedustaan2. Menurutnya Islam tidak bisa dipisahkan dari politik, tapi islam harus dipisahkan dari negara, sebab negara adalah produk politik dan islam adalah produk Tuhan. Dan sebagai muslim, mereka akan berprilaku secara politik sebagai seorang beriman dan islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan publik. Namun sebagai produk politik, negara harus dipisahkan dari Islam. KRITIKAN : sekilas pernyataannya seolah2 benar, namun kenyataannya bila dikaji secara mendalam, banyak kerancuan dan jelas2 ingin merekonstruksi tatanan suatu negara dan sistem pemerintahan yg sudah mapan. Karena tidak mungkin memisahkan syariah islam dengan Negara. Contoh kasus pengaturan jamaah haji yg merupakan salah satu ibadah dan kewajiban menjalankan rukun islam yg ke 5, di tiap negara2 islam. Apakah mungkin negara lepas tangan dan membiarkan rakyatnya untuk mengurus kegiatan haji dengan segala atribut keperluan lintas negara secara individu??? Gimana kacaunya Arab Saudi pada saat musim haji dan menerima kedatangan para jamaah haji dari tiap2 negara, bila pemerintah Arab Saudi tidak turun tangan untuk mengaturnya? ?? Jadi..apakah mungkin negara bisa dipisahkan dari syariah islam?? Menurutnya, jika negara menetapkan syariah, berarti hanya memilih satu di antara banyak pendapat. Ini berarti mengabaikan kebebasan bagi kaum muslimin untuk memilih sekian madzhab lainnya yg berbeda. KRITIKAN : bagaimana mungkin, Naim mampu mengatakan bahwa menerapkan syariah berarti mengabaikan kebebasan bagi madzhab lainnya??? Apakah dia pikir, imam syafei, imam malik, imam hanafi dan Hambali berbeda pendapat tetang syariah??? Sedangkan Rasulullah pernah bersabda Mustahil umatku bersepakat pada kemaksiatan apakah dia pikir menetapkan syariah adalah bentuk kemaksiatan? ? Menurutnya, sejarah Islam menunjukkan bahwa negara islam bukanlah ide yg syah (not a valid idea). Semuanya adalah politik dan diciptakan dengan kekuatan politik. Dan syariah hanya bisa diterapkan dengan cara sukarela oleh penganutnya. KRITIKAN : apakah menurutnya sejarah negara secular bukan merupakan bentuk negara yg diciptakan dengan kekuatan politik?? Dimana negara secular merupakan hasil dari konflik berdarah antara penguasa gereja dengan masyarakat eropa. Dan pengalaman ganjil ini ingin disebarkan ke dunia islam. Sejarah gereja yg mengatas namakan wakil Tuhan, dan melakukan penyiksaan kepada masyarakat yg berbuat dosa secara kejam dan sama sekali cara hukuman tersebut tidak pernah dituliskan dalam kitab mereka, namun hasil rekayasa para penguasa gereja. Hingga trauma eropa akibat perbuatan gereja yg ganjil terhadap masyarakatnya yg kemudian memisahkan antara negara dengan gereja. Jadi..bila alasannya melarang menerapkan syariah pada negara bukan merupakan ide yg syah, lalu apakah menerapkan negara secular merupakan ide yg syah?? Andai Naim berkomentar bahwa syariah hanya bisa diterapkan dengan cara sukarela oleh penganutnya, maka dia harus konsekuen bahwa begitupun terhadap negara secular yg harus diterapkan secara sukarela oleh masyarakatnya. Jadi..jika tidak mungkin menerapkan syariah pada negara, maka tidak mungkin pula menerapkan secular pada negara. Karena aku salah satu masyarakat dan orang2 yg seide dengan ku, tidak akan pernah rela secular ditetapkan di negara ini. (walau kenyataannya sudah diberlakukan system secular secara paksa disini) Menurutnya saat bedah buku di Point Book, bahwa tidak pernah ada negara islam sepanjang sejarah, dan istilah negara baru muncul setelah masa penjajahan. Dan untuk membedakan negara or bukan, hanya berdasarkan pembuatan passport dan visa untuk melintasi batasan negara. KRITIKAN : Naim berkata bohong dengan mengatakan tidak pernah ada negara islam sepanjang sejarah, berarti dia menafikan negara yg pernah dipimpin oleh Rasulullah dan para sahabat dahulu. Argumentasinya yg sangat bodoh adalah pada saat dia berkomentar bahwa bentuk negara di zaman Rasulullah dan para sahabat, tidak bisa dikatakan sebagai negara, hanya sebatas belum adanya pembuatan passport dan visa untuk melintasi perbatasan saat itu. Itu namanya claim pembenarannya sendiri. Dan tidak layak dikatakan sebagai seorang professor jika membedakan negara dan bukan negara, hanya sebatas passport dan visa. Menurut Naim, istilah syariah tidak ditemukan dalam abad pertama hijriyah. Dan istilah ini baru dikenal dalam abad ke 2 dan ke 3 hijriah. Al-Quran juga tidak pernah menyebutkan kata syariah dalam pengertian yg kita diskusikan saat ini demikian juga sunnah. KRITIKAN : Naim berkata bohong lagi, dan ternyata kata2 syariat terdapat dalam Al-Quran dan kata2 sunnah juga terdapat banyak sekali dalam Al_Quran juga hadist nabi. (Al Hajj : 67) Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (45. Al Jaatsiyah :18) Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. dan kata2 syariah terdapat dalam hadist Rasul yg diriwayatkan oleh Sahl ibnu Muadz yg meriwayatkan dari ayahnya Muadz ibnu Anas yaitu : Rasulullah bersabda Umat ini senantiasa tetap pada SYARIAH, selama belum nampak 3 perkara yaitu : belum dilenyapkan ilmu (agama) dari mereka belum banyaknya anak2 dari hasil perzinahan belum nampak shaffarun. Muadz bertanya, apakah shaffarun itu ya Rasulullah? Beliau bersabda, mereka itu adalah manusia yg muncul di akhir zaman, dimana ucapan selamat dan pujian (tahiyyah) di kalangan mereka adalah pelaknatan (HR.Ahmad) Menurut Naim, syariah adalah produk pemikiran dan pengalaman manusia yg tidak mengikat dan tunduk pada perubahan zaman dan waktu. KRITIKAN : apakah sholat, puasa, zakat, haji, larangan mencuri, berzinah, hukum waris, nikah, talak, dlsbnya tsb merupakan produk pemikiran manusia?? Hmm..Naim selalu berkomentar saat diskusi mengatakan bahwa manusia termasuk sahabat semua bersifat relative kecuali Rasulullah yg bersifat maksum. Namun jika dia berpendapat bahwa syariah adalah produk pemikiran manusia, itu sama saja secara tersirat dia mengingkari kemaksuman Rasulullah dan terbukti kembali jika Naim selalu berdusta dengan semua komentar2nya sendiri. karena perintah sholat, puasa, zakat, dlsbnya tidak dijelaskan secara mendetail mengenai pelaksanaanya di dalam Al-Quran namun Rasulullah yg menjelaskan dan mencontohkan aturan2 sholat, puasa, zakat, waris, nikah, talak, dlsbnya tersebut secara rinci. Dan terlihat sekali Naim berdusta, di satu sisi mengatakan kemaksuman Rasulullah, namun secara bersamaan mengingkari pengakuannya sendiri. Menurutnya, tidak mungkin meng-agama-kan negara, hingga harus memisahkan antara agama dan negara. Contoh kasus memberi sanksi hukum bagi tindakan mengkonsumsi alkohol sebagai kejahatan hadd (pidana) yg di definisikan oleh syariah sesungguhnya merupakan pandangan pelaku politik individual setelah menilai semua jenis pertimbangan praktis, dan bahasa yg diguanakan dalam menyusun rancangan undang2 dan langkah2 yg diambil dalam mewujudkannya merupakan hasil keputusan dan pilihan manusia. KRITIKAN : itu berarti, Nuim sedang mempropagandakan HUKUM RIMBA dalam suatu negara yg sudah mapan. Dimana orang tidak akan dikatakan bersalah dan tidak layak mendapat hukuman bila adanya kesepakatan 2 belah pihak (korban dan pembuat onar) dan begitupun sebaliknya orang yg benar akan disalahkan, bila ternyata penilaian publik mengcalim bersalah dan layak dihukum dan siapa saja boleh menghukumi. Seperti pelaku zina, tidak akan dikatakan berzina, apabila dilakukan suka sama suka. Ataupun para pemabuk jadi bebas mabuk, selama tidak tampak di muka umum, atau berada di komunitas para pemabuk yg juga tidak keberatan akan mabuk2an. Itu berarti Naim ingin mengatakan bahwa, negara tidak punya hak untuk ikut campur dalam hal menghukumi pelaku kriminal yg ada sangkut pautnya dengan agama. Karena dalam islam, hukum pelaku kriminal pencuri, pezina, pembunuh, pemabuk jelas termaktub dalam Al-Quran. Minggu, 5 Agustus 2007 Salam hana ----- Original Message ---- From: Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 7, 2007 6:33:39 PM Subject: [ppiindia] Abdullahi An Naim: Kita Suka Menyalahkan Orang Agama/24-2007 -=-=- Abdullahi An Naim: Kita Suka Menyalahkan Orang Ia seorang profesor di sekolah hukum yang cukup terpandang. Di Emory School of Law, Atlanta Georgia, Amerika Serikat. Abdullahi An Naim, 61 tahun, begitu namanya, memang seorang akademisi yang baik. Tapi pengalaman hidupnya juga menjadikannya seorang aktivis. An Naim lahir di Khartoum, Sudan. Tatkala usianya belum lagi genap 40 tahun, ia harus meninggalkan tanah airnya. Rezim militer yang mengambil alih kekuasaan telah melarang gerakan reformasi yang dipimpin gurunya, Ustad Mahmud Mohammad Taha. Bahkan para penguasa militer yang konservatif itu lalu mengeksekusi sang ustad. An Naim pergi ke Amerika, meneruskan tradisi gurunya. Ia sekuler, tak setuju negara Islam, menganggap Islam periode Mekah sebagai rujukan, tak mengharamkan kepemimpinan perempuan, dan seterusnya. Tapi ia tak setuju dengan kelompok-kelompok antisyariat yang terlalu sensitif. Dialog antara si skularis dan konservatif harus dipelihara. Pekan lalu, An Naim hadir dalam peluncuran bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Islam dan Negara Sekuler, Menegosiasikan Masa Depan Syariah, di Jakarta (lihat Membela Sekularisme, Menyelamatkan Syariah). Beberapa aktivis partai Islam berhasil mengegolkan syariat melalui politik parlemen. Sebagian orang merasa terintimidasi. Bagaimana Anda memandang fenomena ini? Mereka tak akan bisa mempraktekkannya lebih jauh. Kalau dijalankan terus, praktek syariat akan jadi dangkal. Implementasi syariat direduksi jadi membubuhkan istilah Arab/Quran di jalan-jalan kota; memaksa perempuan memakai pakaian tertentu; melarang khalwat. Tapi soal ekonomi, sosial, politik--misalnya korupsi--yang membutuhkan penanganan khusus, tak terjangkau. Sayang, syariat-syariat seperti itu tidak menawarkan solusinya. Tapi mereka mengajukan dalil dalam hadis? Hadis ini telah berusia hampir 1.500 tahun. Masyarakat Indonesia telah jadi masyarakat Islami selama ratusan tahun, dan tiba-tiba sekarang mereka menyadari: menjadi muslim berarti harus berpakaian, hidup dengan cara-cara ini. Padahal ini lebih merupakan simbolisme politik ketimbang nilai-nilai yang mendasar. Muslim merupakan seperlima dari umat manusia di bumi ini. Ada lebih banyak muslim di Cina, di Afrika Subsahara, ketimbang di Timur Tengah. Islam begitu luas, tapi di negara mana di antara 40 negara dengan penduduk mayoritas Islam yang mempraktekkan hukum rajam bagi pezina dan sebagainya. Yang mau saya katakan, kecemasan akan Islamisasi dan implementasi syariat itu ahistoris. Indonesia sendiri telah beratus tahun muslim, di mana orang-orang nonmuslim saat itu, dan mengapa baru sekarang mereka merasa terancam. Anda ingin mengatakan bahwa gejala ini produk dari kelompok tertentu? Ada agenda politiknya. Ada kekuatan tertentu di Barat, juga di masyarakat kita yang berusaha membesar-besarkan, menciptakan sensasi yang menyudutkan Islam dan muslim untuk tujuan politik, dan ini berkaitan dengan konflik Palestina-Israel. Maksudnya Israel? Bukan hanya Israel, tapi lobi Israel. Padahal cara ini tidak efektif, dan hanya akan memberikan kesempatan bagi kaum fundamentalis, dan menyudutkan mereka yang moderat. Lihat bagaimana media massa sayap kanan senang menunjukkan hukum rajam. Percayalah, kebijakan ini juga tidak menguntungkan Israel. Bagaimana Anda menjelaskan fenomena Taliban? Taliban hanya produk Afganistan. Produk masyarakat kesukuan yang militan, militeristis, juga dengan kondisi alam yang keras. Ada pembunuhan demi kehormatan keluarga (honor killing) dan pemerkosaan berkelompok (gang rape) yang tidak Islami tapi dipraktekkan. Anda mengatakan ada tangan Israel di balik propaganda menyesatkan itu, kedengarannya seperti kaum apologetik yang menyalahkan Amerika, Barat, atas segala kemunduran umat Islam. Tidak, tidak begitu. Kita memang suka menyalahkan orang. Kemunduran ini akibat kesalahan ulama kita, akibat imperialisme Amerika dan seterusnya. Tapi saya mempertanyakan pertanggungjawaban kita: apakah kita akan menolong korban atau justru terus memainkan peran sebagai korban. Suka atau tidak, itu semua telah terjadi dan tak akan berubah. Kita yang harus berubah. Judul buku Anda menyebut Menegosiasikan Masa Depan Syariah. Apa maksudnya? Ini semua proses negosiasi. Partai-partai Islam seharusnya lebih menawarkan nilai ketimbang kebijakan. Sebaliknya, mereka yang liberal sekuler juga menyodorkan nilai-nilai sekuler. Dan apa yang akan muncul pada akhirnya adalah sebuah kompromi. Pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang liberal tertarik dalam negosiasi ini, atau mengundang militer ataupun alat politik yang otoriter untuk menghadapi "ancaman" itu. Ironis sekali melihat apa yang terjadi pada 1992. Kaum intelektual sekuler Aljazair mentoleransi, bahkan menyambut intervensi angkatan bersenjata demi menyelamatkan mereka dari FIS, partai Islam-oposisi yang menang pemilu. Dari situ, negara itu terseret ke dalam perang saudara yang sangat berdarah sepanjang 15 tahun. Yang terjadi di Turki juga sama. Militer mencoba melindungi negara dari partai Islam yang populer. Dalam buku saya menyebutnya kontradiksi dalam sekularisme totaliter. Poin yang saya ajukan: mengapa intelektual di Indonesia terbelah dua. Memilih pendangkalan syariat--atau juga penegakan hukum yang mengganggu kenyamanan orang dengan gaya hidup liberal; atau menganggapnya ancaman besar, seolah-olah itu akan mengakhiri peradaban yang telah dibangun. Saya mengatakan: terlibatlah dalam debat, belajarlah tentang apa arti syariat, dan belajarlah tentang sejarah perjalanan masyarakat Islam. Apa sesungguhnya yang ingin Anda katakan tentang syariat? Yang saya serukan adalah demistifikasi syariat. Syariat ber-evolusi, juga tidak ada dalam Quran dan Sunah. Itulah produk perkembangan intelektual dan teologi selama 200-300 tahun, dan oleh manusia. Bahkan saya mau mengatakan bahwa syariat itu sekuler. Karena itu berasal dari sumber-sumber sakral yang dibumikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua sudah sekuler; kita produk bumi ini. Kita memang memperoleh bimbingan dari sumber-sumber yang kudus, tapi Islam datang ke pada kita yang manusia, bukan malaikat. Islam tentang dunia ini, bukan hidup sesudah ini. Dan intelektual harus belajar tentang sejarah, bagaimana syariat berkembang. Inilah konstruksi manusia; kita bisa merekonstruksi atau mendekonstruksi. Tapi Anda sepertinya juga memainkan peran seorang mediator antara si konservatif dan sekuler? Kalangan konservatif menganggap negara sekuler itu antiagama. Sekularisme seperti setan yang jahat, yang akan menghancurkan moral kita. Sebaliknya juga pandangan kaum sekuler. Keduanya saling curiga, dan mencoba memperlihatkan gambaran yang terburuk tentang lawannya. Gambaran yang selalu dilebih-lebihkan. Solusinya, sekarang semua harus menghormati prinsip pemerintahan yang konstitusional, proses politik yang demokratis, dasar-dasar hak asasi manusia. Kalau ada yang bergerak di luar aturan main itu, kita wajib menolaknya. Kita melihat ada kudeta, baik oleh fundamentalis maupun sekularis. Sekularisme juga bisa setotaliter ideologi religius. Menurut Anda, Islam yang sesungguhnya itu yang mana? Ada dalam hati dan pikiran orang-orang Islam. Quran dan hadis adalah sumber yang selalu saya baca, untuk memahami apa yang disampaikan Tuhan kepada rasul-Nya. Tapi saya harus menyebut, Islam adalah juga apa yang diperlakukan oleh kaum muslim itu sendiri terhadap agamanya. Ada di dalam hati dan pikiran orang Islam, ketimbang dalam kitab maupun hadis. Ada hadis qudsi: Aku (Tuhan) tidak merujuk pada yang di surga dan dunia. Aku lebih merujuk pada apa yang terdapat di hati dan pikiran mereka yang beriman. Anda membuka pintu terhadap ijtihad. Siapa yang berhak melakukannya? Semua. Harus begitu, soalnya siapa yang menentukan orang-orang yang layak. Harus demokratis. Saya mengatakan, Islam secara teologis sangat demokratis; tapi secara sosiologis belum demokratis. Teologi Islam adalah tanggung jawab pribadi, dan bertanggung jawab atas segalanya yang saya katakan dan perbuat. Jadi, tak ada restriksi sama sekali. Tak boleh ada sensor. Kalau ada yang mau meninggalkan Islam, pintu harus terbuka. Tak ada paksaan dalam agama. Apakah itu ajaran Muhammad? Ya. Tapi kita sering salah tafsir. Lihat hijrah. Hijrah bukan simbol kemenangan Islam. Hijrah adalah kebebasan untuk meninggalkan negeri yang opresif. Kebebasan itu penting. Saya rasa tradisi Sufi yang toleran lebih representatif dibanding dengan yang lebih formal, legalistis. Sufi lebih introspektif, kritis terhadap diri sendiri, bersahaja, tidak menilai orang. ***-/** (Majalah Tempo, 12 Agustus 2007) [Non-text portions of this message have been removed] ____________________________________________________________________________________ Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online. http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

