Tulisan di bawah ini salah fatal. Suharto yg sebabin ini negara jadi negara 
calo, insinyurnya yang disalahin!!!

Mesti dilihat dan dibedakan masalah MAKRO (bukan saingannya Carrefour 
loh..he..he.) dan STRUKTURAL jangan dicari sebabnya di hal-hal yg sangat mikro, 
seperti Insinyur Indonesia gak ada yang mau kerja keras dan kreatif.

Kebetulan aku sering masuk keluar pabrik, jelas sekali kalau Insinyur Indonesia 
ini juga gak kalah pintar daripada insinyur luar negeri. Bahkan teman saya yg 
lulusan STM selama puluhan tahun dipercaya oleh perusahaan Jerman untuk 
menservice mesin-mesin produksi mereka yg berada di Indonesia. Teman saya yg 
betawi asli ini malah lebih dipercaya daripada service engineer perusahaan 
jerman itu sendiri.

Sungguh kesalahan fatal jika permasalahan makro sebuah negara direduksi begitu 
extrem seperti ini: Kemajuan Negara, tergantung kemajuan perusahaan2. Terus 
kemajuan perusahaan tergantung insinyur-insinyurnya. Dus kemajuan negara adalah 
karena kelihaian insinyur-insinyurnya.

Mohon maaf, dengan segala hormat, logical fallacy separah ini kok bisa 
dilakukan seorang Direktur Utama sebuah perusahaan ya  ????

Permasalahan sebuah negara itu bahasannya para ahli filsafat politik sampai 
ahli ekonomi Makro.  Tapi untuk singkatnya masalah Indonesia sebenarnya berasal 
dari kesalahan Suharto membangun negara ini. Mafia Berkeley dengan kenaifannya 
mau memajukan bangsa ini dengan membesarkan kue dahulu, baru kemudian kuenya 
dibagi. Tapi Mafia Berkeley gak tahu , atau tepatnya pura-pura gak tahu bahwa 
kue tsb sebagian besar dimakan Suharto dan keluarganya. 

Cita-citanya tinggal landas, tapi kenyataannya memang mereka tinggal landas 
dengan jet pribadi mereka, sementara rakyat keleleran di landasan.  Karena yang 
di atas begitu, akhirnya ada saja rakyat yg ikut-ikutan gak mau peduli, curi 
besi rel kereta untuk dapat duit, curi kabel telepon untuk diloakkan.  Rakyat 
meniru sistem ekonomi calo dan tengkulak yg "diteladankan" oleh Suharto and co. 
 

Aku dulu punya teman anak seorang pahlawan, kuliah di Luar Negeri nggak lulus, 
tapi dia pulang ke Indonesia bisa kaya raya, karena jadi calo proyek.  Para 
Jendral, kasta ksatria, jadi kasta preman penjaga pabrik. Sangat jarang anak 
Pahlawan seperti misalnya anak Jendral (yang benar-benar Besar) Sudirman, yang 
mau hidup sederhana.

Lah kalau jadi calo aja bisa kaya, ngapain sih jadi Insinyur Mesin, kerja keras 
pula....  weleh..weleh..  

Pak Direktur Utama yang terhormat, untuk memajukan sebuah bangsa diperlukan 
bukan saja insinyur yang "kuat" tapi juga masyarakat yang "kuat" (civil 
society) dan ini TIDAK berarti negara dan pemerintahan yang tidak kuat. Semua 
harus "kuat" sesuai porsinya masing-masing.  Insinyur mesin bertanggungjawab 
atas keseluruhan kemajuan bangsa ini sih udah jauh di luar porsi si insinyur.

NOTE: Bukan gue nganjurin si insinyur mesin jadi calo, atau kagak usah kerja 
keras dan inovatif. Tapi yg bener aja... Pak Direktur Utama ini, masa insinyur 
mesin disuruh majuin seluruh bangsa... emang Pak Direktur Utama berani bayar 
berapa?   (bukan omong kosong kalau gaji Dirut di Indonesia jauh berlipat-lipat 
dari gaji Insinyur, udah gajinya besar Dirut-Dirut Indonesia terkenal banyak 
sampingannya loh.hhhh...)

Nice Day
Bobby Budiarto, seorang Direktur (Direken Batur..he.he.)







----- Original Message ----
From: Ahmad Syamil <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, August 24, 2007 8:59:19 AM
Subject: [ppiindia] Fw: Kegalauan saya terhadap Insinyur Mesin Indonesia


Rekan-rekan,

Saya dapat email di bawah dari milis tetangga.

Jabat erat

Ahmad Syamil
Arkansas

http://www.clt. astate.edu/ asyamil/

============ ========= ========= =========
Kalau ingin berdiskusi lebih lanjut, kirimkan email ke

Bisnis-Karir- subscribe@ yahoogroups. com

http://finance. groups.yahoo. com/group/ Bisnis-Karir/

============ ========= ========= ========= ======

Triharyo Susilo (Hengki): Direktur Utama PT. Rekayasa Industri 

Kegalauan saya terhadap Insinyur Mesin Indonesia 

Rekans

Sekali-kali saya ingin buat e-mail yang rada serius.

Terutama melihat kondisi negara saat ini dengan uang yang sangat banyak
tapi penciptaan pekerjaan masih relatif sangat sedikit.

Dalam berbagai pertemuan saya selalu bilang bahwa penyebab kejadian ini
adalah karena insinyur Indonesia masih "belum" bekerja keras.

E-mail ini bukan bermaksud untuk mengkritik namun lebih sebagai sebuah
introspeksi & "lessons learned" agar Indonesia dimasa mendatang akan
lebih maju lagi.

Saya setuju dengan hipotesa bahwa kemajuan negara adalah karena peran
dan kemajuan perusahaan-perusaha an di negara tersebut (bukan
pemerintahannya) .

Sedangkan kemajuan perusahaan disebabkan karena inovasi teknologi para
insinyur-insinyurny a dalam meng-"create value" di dalam perusahaan
tersebut.

Artinya semakin inovatif dan berkarya para insinyur didalam suatu
korporasi, maka akan majulah bangsa dan negara tersebut.

Jadi disini, kata kuncinya adalah "insinyur" dan "korporasi" dalam
memajukan bangsa.

Berikut beberapa fakta yang membuat saya galau : 

Pembangunan pabrik-pabrik industri max 50% local content 

Setiap kali saya membangun pabrik-pabrik industri di Indonesia,
peralatan dan material yang bisa dibeli di dalam negeri (kandungan
lokal) paling-paling hanya mencapai maximum 50% dari nilai kontrak.
Peralatan yang masih terus menerus diimport sejak saya jadi insinyur
(tahun 1981) sampai sekarang (2007) adalah alat-alat mesin
bergerak/berputar (rotating) yaitu compressor, pompa, turbine,
generator, fans, blower, dll. Tidak ada kemajuan sedikitpun selama 26
tahun, dan tidak ada satupun produsen peralatan-peralatan tersebut di
Indonesia yang tumbuh minimal untuk mendominasi market di dalam negeri.
Informasi belanja migas per tahun dari Dirjen Migas disebutkan mencapai
US $ 9 milyard. 

Hampir US $ 7.5 milyard merupakan import peralatan dan permesinan.

Sayang sekali uang kita dihambur-hamburkan ke luar negeri.

Dimanakah peran para Insinyur2 Mesin Indonesia & korporasi2 di bidang
ini ? 

PLTU skala kecil & menengah diberi kesempatan maksimal oleh Pemerintah &
PLN.

Atas dorongan Deprind, Wapres dan semua pihak, akhirnya PLN setuju untuk
PLTU 7 MW harus 70% kandungan lokalnya, PLTU 25 MW harus 50 % kandungan
lokalnya, dan untuk PLTU 50 MW harus 30 % kandungan lokalnya. PLN sudah
memasukan persyaratan2 tersebut dalam dokumen tendernya. Wapres, Menteri
perindustrian dan Meneg BUMN sudah membuat surat dan mendukung secara
resmi. Juga bank-bank nasional siap mendanai proyek-proyek tersebut
karena kelebihan likuiditas.

Namun saat ini fabrikator Boiler, Turbine dan Generator relatif masih
kewalahan dan hampir menyatakan tidak sanggup. Turbine manufacturer
hanya 1 di Indonesia yaitu NTP dan sanggupnya maximum 7 MW. Untuk
membuat generator hanya Pindad yang sanggup, itupun maximum 15 MW.
Sedangkan untuk Boiler ada sekitar 4 perusahaan utama dan hanya
sanggupnya tipe stocker dengan maximum 15 MW. Padahal PLTU yang akan
dibangun ada 34 PLTU dengan nilai sekitar US $ 3 milyard. Sehingga
akibatnya sudah dapat ditebak yaitu sebagian besar permesinan akan
diimport dari China. 

Padahal tahun 1981, Insinyur China masih bertani dan bercocok tanam &
insinyur Indonesia berani bikin pesawat terbang. Kenapa bisa terjadi
seperti ini ?. 

Kecelakaan kereta api - permasalahannya di pembuatan Bogey ITB-77
melalui Yayasan Bhakti Ganesha (YBG) sudah membuat studi tentang
kecelakaan kereta api.

Penyebab terbesar kecelakaan Kereta api di Indonesia hanya disebabkan
karena 2 pareto besar yaitu kereta anjlok dan kereta tabrakan di
persimpangan. Setelah diteliti lebih jauh oleh media massa dan para
teknisi, penyebab anjloknya kereta api bukanlah karena rel keretanya
anjlok tapi karena bogey (tempat dudukan gerbong kereta) banyak yang aus
dan rusak. Solusi sederhana saat ini adalah dengan mengurangi kecepatan
Kereta api 20% supaya bogey tidak anjlok. Pemerintah sudah siap
menurunkan dana untuk meningkatkan keselamatan kereta api, namun tidak
ada satupun industri di Indonesia yang bisa membuat bogey dengan baik
dan cepat. Mungkin akhirnya import lagi. 

Kecelakaan pesawat terbang. Rasanya para insinyur mesin Indonesia tidak
boleh tinggal diam dengan adanya kecelakaan-kecelaka an pesawat terbang.

Dimanakah peran insinyur mesin Indonesia dalam menerapkan sistem-sistem
quality control yang selalu dibangga-banggakan di perusahaan-perusaha an
minyak. 

Kenapa kalau korporasi-korporasi nya milik asing (PSC), insinyur-insinyur
Indonesia persis seperti "inlander" dan jadi anak-anak penurut.

Tapi kalau pemiliknya orang Indonesia atau perusahaan-perusaha an
tersebut perusahaan Indonesia, sepertinya para insinyur indonesia
(khususnya insinyur mesin) kehilangan arah.

Kenapa ya bukan insinyur-insinyur mesin yang menapak jenjang level top
management di perusahaan-perusaha an maskapai penerbangan.

Kenapa orang keuangan, pilot dan angkatan udaya yang menduduki pimpinan
perusahaan-perusaha an penerbangan di Indonesia ? 

Saya bisa buat list ini terus semakin panjang dengan daftar import
peralatan-peralatan mesin seperti sepeda, sepeda motor, mobil, dll. 

Fakta-fakta korporasinya. Jika kita melihat industri kimia dan
perminyakan di Indonesia, terlihat bahwa pimpinan-pimpinan perusahaannya
(direksi dan level menengah) dipegang umumnya oleh para
insinyur-insinyur di bidangnya lihat industri pupuk, industri semen,
industri kimia, pertamina, pgn, medco, production sharing companies dll.
Juga industri perlistrikan (baik PLN maupun manufaktur peralatan
listrik) umumnya dipimpinan pada level menengah/atas ditentukan
kebijakan-kebijakan nya oleh para insinyur-insinyur elektro.

Juga industri konstruksi bangunan, jalan, pelabuhan dll, umumnya
dipimpin oleh para insinyur sipil. Hal serupa juga ditemukan di
Industri Telekomunikasi, IT, perbankan dan elektronika. Para spesialis
dan teknisi bisa menapak jenjang management & pimpinan perusahaan dan
tentunya bisa menerapkan kebijakan dan obsesinya sebagai insinyur. 

Tapi coba lihat pimpinan level menengah dan tertinggi di
industri-industri permesinan, industri motor, industri mobil, industri
pompa, industri compressor dll. Sebagian besar berasal dari non-engineer
yang umumnya mementingkan keuntungan dari bekerja sebagai "trader" atau
pengambil komisi dari mengimport barang jadi.

Pimpinan-pimpinan perusahaan permesinan umumnya datang dari para pemilik
perusahaan yang menaruh modal awal atau ditaruh oleh mitra asingnya
sebagai perwakilan di Indonesia.

Pimpinan-pimpinan seperti ini tidak akan mempunyai inovasi dan
keberanian untuk mengambil resiko memproduksi di dalam negeri secara
mandiri. Karena kebijakan ini akan bertentangan dengan fungsi mereka
yang ditempatkan pada awalnya yaitu menjadi penjual saja. Ini kegalauan
saya dan tidak bermaksud untuk mengkritik insinyur mesin. Namun hanya
sebagai sebuah introspeksi dari kaca mata yang mungkin salah. Silahkan
e-mail ini diforward ke milis-milis lain dan saya ingin mengajak
rekan-rekan insinyur mesin untuk diskusi tentang ini. Rasanya sudah
saatnya kita menyiapkan insinyur-insinyur mesin Indonesia yang
muda-muda dengan penyiapan korporasi-korporasi terkait dengan
target-target dalam jangka kurun-kurun waktu yang tertentu. Sebagai
contoh, dalam berapa tahun Indonesia bisa membuat pompa air sendiri dan
siapa korporasi pembinanya (tahukah anda bahwa pompa air saja kita masih
import). Dalam berapa tahun Indonesia akan membuat compressor udara
sendiri dan dan siapa korporasi pembinanya dll. Ini kegalauan saya.
Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Let's discuss for Indonesia's future

Salam 

Hengki 

[Non-text portions of this message have been removed]





       
____________________________________________________________________________________
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545469

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke