Rekan-rekan semua yang saya hormati,
Kondisi Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) saat ini sedang resah.
Masalahnya soal kekerasan. Sudah bertahun-tahun ada oknum-oknum tertentu yang
suka menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan.
Menjelang HUT RI ke-62, ada tiga kasus kekerasan yang mencuat ke permukaan.
Bisa jadi, yang di bawah permukaan lebih banyak. Memang dalam beberapa kasus
terakhir ini, tidak ada korban luka serius. Tetapi kejadian yang terus-menerus
seperti melanjutkan suasana teror di kalangan mahasiswa.
Yang paling disesalkan mahasiswa tentunya pihak KBRI Cairo. Dari dulu mereka
terkesan membiarkan kekerasan terjadi tanpa tindakan tegas. Bahkan sepertinya
mereka melindungi para pelaku kekerasan. Contoh nyatanya terlihat dalam kasus
terakhir, pada 15 Agustus lalu, atau dua hari sebelum perayaan HUT RI ke-62.
Saat itu, sekelompok oknum menyerang kantor salah satu buletin mahasiswa karena
memuat editorial perlunya menegakkan perdamaian dalam penyelesaian konflik
kecil. Tulisan itu dipicu oleh kasus-kasus aksi kekerasan, termasuk pemukulan
pemain di lapangan bola dalam rangkaian acara peringatan HUT RI yang digelar
KBRI Cairo. Sebelumnya, pihak KBRI pun setelah melihat kekisruhan pada acara
yang mereka adakan, ber"gembar-gembor" akan langsung menindak tegas para pelaku
kekerasan di kemudian hari dengan memulangkannya ke Indonesia.
Tapi dalam kasus penyerangan buletin mahasiswa, KBRI justru membuat keputusan
yang sangat tidak masuk akal. Ceritanya, KBRI setelah menerima laporan
penyerangan dan melihat bukti-bukti kekerasan termasuk korban luka-luka dari
pihak buletin, berkata akan segera mempertemukan pihak buletin dan oknum untuk
menurunkan sanksi. Keesokan harinya (16/8), sesuai janji, pihak buletin
dipertemukan dengan oknum. Namun ternyata yang turun bukan sanksi terhadap
oknum pelaku kekerasan, melainkan justru peringatan berupa pernyataan "tidak
akan melakukan perbuatan tercela di kemudian hari" yang harus ditanda-tangani
kedua belah pihak!
Massa bergejolak. Dinamika terancam. Pers sakit. Kontan saja, reaksi balik dari
para simpatisan korban membawa mereka berdemonstrasi di KBRI Cairo tepat pada
acara Malam Gembira peringatan HUT RI ke-62 (18 Agustus). Lebih 500 orang
demonstran menuntut ketegasan pihak KBRI. Ini bisa jadi adalah penggerakan
massa terbesar dalam sejarah dinamika Masisir, yang disaksikan oleh para
hadirin, termasuk tamu undangan dari luar negeri.
Aneh lagi-lagi aneh. Menyikapi masalah yang semakin memanas, ternyata KBRI
masih terus melakukan kesalahan-kesalahan yang makin membuat mahasiswa tidak
percaya:
Untuk mengatasi masalah ini, KBRI secara terburu-buru meminta bantuan State
Security Mesir (Badan Keamanan Negara yang paling berwenang di Mesir). Ini
menunjukkan lemahnya KBRI dalam menyelesaikan konflik internal warganya, dan
justru seperti menjual wajah bangsa pada orang lain. Bahkan, pihak State
Security sendiri dalam pernyataannya kepada aktivis sangat menyayangkan
kegegabahan pihak KBRI. "Mengapa kami harus tahu, dan bahkan kini harus masuk
ke dalam permasalahan kalian?" Demikian tuturnya.
Masalah terus berlanjut. KBRI yang tertekan kini ganti mencari mangsa. Bukannya
mendengarkan tuntutan simpatisan korban, kini KBRI coba mengalihkan masalah
dengan menebar opini bahwa aksi para simpatisan pada Malam Gembira telah
mencoreng nama bangsa.
Selain itu, sebelumnya pada 17 Agustus para simpatisan melakukan aksi upacara
tanpa bendera di sebuah lapangan sewaan. KBRI kemudian juga -melalui isu yang
disebar- menilai kegiatan ini berbau makar.
Secara konspiratif, beberapa pihak oknum (pelaku kekerasan) yang tidak senang
dengan aksi simpatisan korban langsung mendukung opini KBRI! Para simpatisan
kini diserang balik. Semacam adu domba -mahasiswa lawan mahasiswa- oleh pihak
KBRI.
Sudah lebih satu minggu kasus ini bergulir. Penyelesaian tampaknya masih kabur.
Dinamika mahasiswa berada pada titik jenuh. Para aktivis -yang merupakan
penerus generasi pendahulunya di mana mereka turut memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia sehingga Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan
republik kita- kini menunduk capai bercampur geram. Polisi dan agen-agen State
Security yang selalu tampak bersiaga di daerah pemukiman mahasiswa Indonesia
membuat suasana tambah lesu. Integritas bangsa yang sudah goyah tampak semakin
rapuh dari kaca mata para aktivis di Kairo. Semua itu, tidak ada yang peduli.
Demikian informasi "menyedihkan" dari Cairo. Mohon rekan-rekan turut memberikan
kontribusi dukungan moril kepada para aktivis. Jaya selalu Indonesiaku!
Hormat,
Muhammad Shalahuddin
Mahasiswa Universitas Al Azhar Cairo, salah seorang simpatisan korban kekerasan
Selama ini aktif membantu pengembangan jurnalisme di Cairo
Kontak email pribadi: [EMAIL PROTECTED]
Kontak SMS/Telepon: + 20 10 867 1589
P.S. : Mohon kepada rekan-rekan untuk membantu mengangkat masalah ini.
Dokumentasi gambar dan video lengkap. Saat ini, para simpatisan sudah
meluncurkan website: www.antikekerasan.org
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot
with the All-new Yahoo! Mail
[Non-text portions of this message have been removed]