Catatan redaksi www. progind.net:

Sejak tanggal, 17 agustus artikel; Misteri Lubang Buaya bisa diakses di:
http://www.progind.net/modules/wfsection/article.php?articleid=270
Hingga saat ini, tulisan tersebut telah diakses sebanyak 66 kali, yang
bisa diprediksikan tetap aktualnya masalah yg saudari Indarwati Aminuddin
dan saudara AGUS SOPIAN kemukakan, dengan  perbandingan posting yang
bersamaan tanggalnya yang sebanyak 36 kali telah diakses.

***

Misteri Lubang Buaya

OLEH INDARWATI AMINUDDIN  dan AGUS SOPIAN*

HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu 
juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju 
sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk 
mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak 
maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak 
berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.

Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat 
sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.

Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar 
mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk 
Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, 
sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon 
keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang 
diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan 
meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta 
limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.

Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta 
Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat 
markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara 
Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini 
Indonesia Indah.

Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian 
terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap 
mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan 
seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.

Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa 
menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa 
lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 
meter itu.

Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita 
rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, 
sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di 
sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, 
ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer 
Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 
September 1965 Partai Komunis Indonesia”.

Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap 
seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung 
jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian 
besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa 
pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan 
ke pulau-pulau terpencil.

Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap 
militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, 
PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, 
menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.

Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster 
berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan V”. Ini 
merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih 
kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer 
angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.

Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit 
diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa 
Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi 
komunisme di China.

Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat 
yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan 
“Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang 
ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI 
melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap 
“setan-setan” itu.

Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU 
(Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, 
PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung 
Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya 
melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak 
lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.

Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan 
tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi 
seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader 
PKI berdatangan ke Lubang Buaya.

Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan 
Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum 
pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal 
dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita 
Indonesia).

Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama 
sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga 
Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua 
digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang 
kelaparan.

Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan 
ke hadapan mereka.

Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, 
memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa 
jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera 
bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran 
masing-masing secara serentak.

Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac 
Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan 
Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries 
Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang 
kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke 
dalam sumur itu. [Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup 
ketika dijatuhkan ke sumur.]

Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal 
yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: 
Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira 
itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira 
disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.

Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan 
menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang 
Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo, komponis Lembaga 
Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang 
sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian 
menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.

Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita 
menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta 
ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda 
berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa 
dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan 
memberikan pil-pil perangsang syahwat.

“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah 
dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 
September.”

Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer 
Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, 
mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang 
kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero 
negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota 
partai tersebut.

Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta 
massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti 
masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.

Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai 
tempat, mulai Pulau Nusakambangan [wilayah selatan Indonesia] hingga Pulau Buru 
[wilayah timur Indonesia]. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya 
ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka 
terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.

Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar—kependekkan dari 
Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno—akhirnya 
memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya 
itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.

Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan 
PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan 
Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.

Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran 
atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal 
illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam 
jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi 
pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.

Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama 
sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat 
negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang 
diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.

Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk 
membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. 
Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, 
beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.

Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai jadi Monumen Pancasila Sakti. 
Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera 
mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.

Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief 
yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. 
Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi 
patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh 
di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak 
tangga.

Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI 
Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. 
Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu 
jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah 
sumur Lubang Buaya—seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati 
fisik, mati politik.

Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer 
dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di di atas batu 
besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. 
Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.

Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan 
riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan 
menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film 
G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan 
perpustakaan.

Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di 
sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m 
x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini 
terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan 
jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah 
Rakyat.

Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira 
militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan 
aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih 
berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang 
pentungan dalam sorot mata bengis.

Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. 
Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi 
kesan kurang perawatan.

Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya 
menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan 
melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas 
sebagai pegawai honorer.

Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman 
bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di 
sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian 
keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.

Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang 
penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang 
berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di 
pintunya.

Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, 
mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb 
sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau 
Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan 
itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon 
pernah mendengar suara tangis.

Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth [tanpa nama referensi kedua], 
pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering 
melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, 
yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur 
yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.

Cerita-cerita mistis barangkali sama absurd-nya dengan cerita-cerita perlakuan 
kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan 
atas kemaluannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas 
Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan 
laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.

Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono 
Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini 
sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat 
mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat 
tubuh korban tak masuk akal.

Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of 
Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas 
pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer 
dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, 
yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir 
fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.

“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto 
sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan 
Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap 
mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang 
membunuh.

Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. 
Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan 
kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik 
Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 
juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.

Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa 
ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah 
pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, 
pentolan PKI Nyono memberi kesaksian, bahwa pihak militer telah merancang 
rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk 
mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.

Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, 
lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan 
lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua 
jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 
Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan 
Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, 
A..Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”

Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, 
menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di 
Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan 
Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan 
waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 
Oktober 1965.

Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana 
Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri 
Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri 
Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).

Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI 
dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil 
penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman 
orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan 
sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan 
cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa 
G-30-S PKI.

Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat 
awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara 
terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, 
sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. 
Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama 
rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara 
di bawah pemerintahan Orde Baru.

Megawati Sukarnaputri, pengganti Wahid, tak pernah bertindak seperti itu. Tapi, 
di tahun 2002, ia tak hadir pada upacara 1 Oktober di Lubang Buaya. Apakah ini 
bentuk penolakan Megawati atas sejarah versi Orde Baru itu, tak pernah jelas. 
Tapi, sejatinya, ketidakhadiran Presiden dimungkinkan oleh protokoler negara 
sejak lahirnya Keputusan Presiden tentang perubahan nama peringatan: dari “Hari 
Kesaktian Pancasila” menjadi “Hari Mengenang Tragedi Nasional Akibat 
Pengkhianatan G-30-S PKI terhadap Pancasila”.

Sekadar mengikuti peraturan? Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, yang 
ditunjuk ketua panitia pusat peringatan saat itu, mengatakan kepada pers bahwa 
absennya Megawati pada upacara tersebut karena ia tak ingin “membuka luka lama.”

***

INDARWATI AMINUDDIN, wartawan, pernah bekerja buat Kendari Pos, Kendari 
Ekspres, menulis di beberapa media massa, di antaranya Pantau.

AGUS SOPIAN, wartawan, pernah bekerja untuk beberapa media di antaranya Bandung 
Pos dan Pantau, tahun 2002 dikirim Pantau ke Seapa Course on Investigative 
Reporting, Kuala Lumpur.

Sumber: MESIASS
http://www.mesias.8k.com/

Terima kasih kepada Redaksi MESIASS yang memberikan izin artikel: Misteri 
Lubang Buaya untuk ditampilkan di situs ini. Tentunya ucapan terima kasih ini 
juga ditujukan kepada para wartawan: INDARWATI

Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke