Hmmm.. iseng2 saya baca komen2 di forumnya orang Malay. Pada dasarnya
terbagi pada kelompok:

1.
a. Nasionalisme buta, benci Indonesia. Karena memang orangnya arogan
dan picik.
b. Bela malaysia, memandang rendah Indonesia karena selama ini
terbiasa dibohongi oleh pemerintah dan persnya. Tau sendiri, Malay kan
tidak demokratis. Lihat saja, apa berani koran2 sana memuat berita
yang menunjukkan kejelekan bangsa/aparat/pemerintah mereka sendiri?
Persis Indonesia di zaman Pak Harto.

2. 
a. Menyesalkan kejadian tsb, dan mengharap pemerintahnya meminta maaf
dan introspeksi diri. Juga menginginkan Indonesia-Malaysia memelihara
hub baik.
b. Menyesalkan kejadian tsb dan menyoroti masalah internal mereka:
pemerintah yg dianggap tidak kapabel, demokrasi yang mati, dan polisi
korup. Ada yang bilang gini: Hai Indonesians, Malaysians are good
people, only our Polis is brutal and corrupt!
Banyak sekali yang membenci polisinya, bilang kalau 4 polisi itu
memang seperti biasa sedang mencari uang kopi, sialnya salah sasaran. 

3. Pengamat dan penggembira. Walau komentar2nya kadang terkesan tak
bermakna, ada juga yang menyakitkan but maybe "true": "orang Indonesia
bilang Malay barbar, orang Malay bilang Indonesia barbar: clash of
barbarians!"


Nah, kalo mas RB cemas dg etnis dan religion clash di Indonesia, ada
bbrp komentar orang Malay yang memandang sebaliknya. Katanya: "hey,
yang ditangkap itu namanya Donald, kristen, dan rakyat Indonesia yang
mayo muslim itu marah besar?? Lihat, mereka telah dewasa dalam
beragama. Tidak seperti Malaysia yang sangat tersekat2 oleh agama dan
etnis."

Setelah sekilas membaca komen2 mereka, kesimpulan saya: Indonesia dan
Malaysia masih sama2 harus belajar, tapi rumput tetangga memang lebih
hijau! hehehehe...

Saran saya, segala urusan non-bisnis yang di Malaysia sebaiknya
dihindari. Jalan2? Mending di Indonesia (walau org Indonesia sendiri
ada juga yg rasis) atau ke negara lain yang "tidak" rasis. 
Kalo Malaysia kan memang pemerintahnya bikin kebijakan2 rasis yang
masih terus dipelihara sampai sekarang. 


salam kebangsaan,

fau

ps. salah satu mahasiswa saya disini, Chinese Malaysian, tidak bisa
bahasa Melayu karena selalu bersekolah di sekolah khusus Chinese di
KL. Dia juga selalu bilang bahwa dia Chinese bukan Malaysian walau
jelas2 paspornya Malaysia dan sudah bbrp generasi di KL (kadang dia
bilang: I'm Chinese from Malaysia). Sahabat Melayu pertamanya adalah
teman Indonesia disini. Yang bikin saya heran adalah: dia kerja di
bank sentral. Kebayang ngga kalo ada WNI PNS atau pegawai BI ngga bisa
bahasa Indonesia?? Memang ini 2 negeri bertetangga dan serumpun yang
sangat kompleks... :D


--- In [email protected], Robertus Budiarto <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Mas Satrio,
> 
> Ceritamu kok mengerikan gitu, aku mau dikirim ke sana ama Bos gua,
jadi takut neh..
> 
> Untunglah kejadian ini bukan di negeri singapur atau di negeri
cino-cino over sea.  Untung terjadinya di Malaysia, sama-sama
melayunya, sama-sama Islamnya.   Wah kalau kejadian-kejadian norak ini
terjadi di negara cino, waduh-waduh..   bisa kena ganyang cina-cina di
Indoe...  Matek aku...
> 
> Yah begitulah wajah the TRULY ASIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAa
> 
> Aneh ya, di negeri melayu yg lebih sukses daripada Indonesia, yang
ngakunya negara Islam, lah kok bisa terjadi ketidak adilan yang begitu
norak..???    Hidup negara Islam..  he.he.he.
> 
> 
>       

Kirim email ke