Buat Mas Heri...
  TTTTTOOOOOPPPPP aja deh ...
  memang seharusnya kita berbangga dengan bangsa kit sendiri 
  walau masih terdapat bolong sana sini..
  akibat KKN dan krisis di segala bidang..
   
  yang terpenting.. kita tetap bangga menjadi bangsa indonesia..
  walaupun tiap tahun pengangguran tiap tahun bertambah ,,,
  kasus lapindo sampai sekarang masih belum terselesaikan ..
  dan satu hal lagi ...
  banyak saudara kita yang menjadikan malaysia sebagai tempat untuk meneruskan 
asap dapur mereka...
  walau terkadang julukan pahlawan devisa buat mereka hanya lips service saja, 
terbukti dengan masih saja lemahnya sistem kontrol indonesia sehingga banyak 
saudara kita yang bekerja secara ilegal...
   
  salam hangat 
  /Lu2 
  

heri latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          --- In [EMAIL PROTECTED], "dipo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Malaysia lagi kehilangan muka garagara badmintonnya nggak lagi 
berbulu dan bolasepaknya hancur lebur di Piala Asia kemarin. Seperti 
kita tahu, lewat dua sektor itu Malaysia merasa pernah menandingi 
Indonesia yang nyaris mengganyangnya. Mereka juga merasa naik gengsi 
dengan memiliki Mahathir yang berjuluk "Soekarno kecil".

Jadi, buat apa membenci orang yang punya kekurangan?

Soal musik sampah, itu lantaran mereka lagi gedeg. Susah-payah bikin 
lagu-lagu yang mereka klaim sebagai genre "Malaysian Rock", eeh... 
ternyata bikin begituan cuma hal sepele saja buat si Sheila Ungu on 
Kangen Seven. Pasalnya, rock malesya itu melulu "Isabela adalah..." 
yang merinto-rinto penuh harahap. Sedangkan Indonesia yang punya 
sejibun rocker aliran apapun, nggak perlu mendongkrak dirinya untuk 
kelihatan eksklusif. Malah, dengan rendah hati kita mengakui rocker 
juga manusia.

Jadi, buat apa membenci orang yang kurang perhatian?

Malaysia samasekali bukan tandingan Indonesia. Jangan kotori jari 
kita untuk nyentil orang yang banyak kekurangannya. Tapi tetap, kita 
harus waspada terhadap penyusupan pemikiran fundamentalis (sejak 
pertengahan 1980an kalau nggak salah) serta ekspor teroris macam 
Azahari & M.Top yang sengaja menghancurkan nama Indonesia dan - 
langsung atau tidak - merampas kue pariwisata kita.

Jadi, ndak ada gunanya membenci orang yang cemburuan. Semakin kita 
membenci Malaysia (dan Singapur) & semakin keruh situasi kawasan, 
semakin senanglah si ceriwis Inggris. Apalagi kalau sampai timbul 
konflik, semakin leluasalah pasukan sekutu mengangkangi Selat Malaka 
dengan helm PBB - seperti di Timtim itu.

Inggris, bangsa yang gampang marah dan pendendam itu, bagaimanapun 
pandai mempermainkan wajah & lidah demi peran aristokratnya. Dia 
lebih suka menyuruh orang lain menjalankan misinya. Tapi kalau sudah 
kelewat ngebet, maka perangai aslinya yang lebih rendah dari bonek 
dan lebih sadis dari residivis pun muncul. Lihat, apa kurang jauhnya 
Malvinas dari London? Toh direbut juga sekalipun dengan 
menenggelamkan anak-anak mudanya di lautan beku.

Kita, Indonesia, boleh marah terhadap proyek Inggris bernama 
"Malaysia" itu, tapi tidak kepada pribumi di sana. Saudara-saudara di 
Semenanjung itu justru perlu dibantu untuk bebas menjadi dirinya 
sendiri. Kita boleh tersinggung akan perlakuan adik-adik kecil itu. 
Tapi membenci? Kok jadi mirip Tessy Srimulat; mantan KKO yang lebih 
seneng nyubit ketimbang tetap gagah.

Sebagai yang lebih tua kita wajib membimbing Malaysia ke jl. yang 
benar. Lihat, mereka kan masih nggak ngerti cara bertetangga, salah 
memahami rock, serta keliru pula memaknai lagu santai sebagai anthem 
kerajaan...:)

Nggaklah. Indonesia masih lebih gagah dan punya harga diri dibanding 
"Malaysia". Masalahnya tinggal bagaimana kita menggali, menemukan, 
dan membangunkan lagi jatidiri Indonesia.

Kerja ini bisa tambah ruwet kalau melihat pidato SBY yang terkesan 
jadi jubirnya Malaysia: "Kalau (polisi itu) terbukti bersalah, akan 
ditindak".

Akhirul kalam, mari kita benahi saja dulu dari titik ini; para 
pemingpin itulah yang - sadar atau tidak, sengaja atau tidak - 
membuat bangsa ini serba menciut dan ketinggalan di mana-mana.
Tangani setiap perselisihan dengan Malaysia atau siapapun secara 
logis dan dewasa. Juga dengan pemerintah sendiri.



                         

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke