Tidak perlu sampai memboikot produk msia..
karena kita jugaharus memikirkan nasib saudara kita masih saja memilih
malaysia sebagai tujuan mereka merubah nasib di tanah air..
ada baiknya kita kembalikan lagi pada jawaban yang memang berdasarkan hati
nurani...
tuluskah permintaan maaf itu atau hanya lips service ??
salam hangat selalu
/Lu2
irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
- Minta maaf diam" via telepon..
- Penyesalan yang mendalam.. silahkan diartikan sebagai minta maaf..
- Pembatalan ceramah di Kedubes msia..
- Masih ada pejabat negara yang MAU menghadiri ultah msia..
- Perlukah boikot produk msia (sebagai tekanan)?
Ada komentar lain? :-p
Wassalam,
Irwan.K
*
*[image: logo SUARA MERDEKA] [image: Line] Jumat, 31 Agustus 2007
NASIONAL [image:
Line] Malaysia Minta Maaf
- Semalam Pak Lah Telepon SBY
*SEGEL KEDUBES:* Dua orang pengunjuk rasa menyegel Kedutaan Besar (Kedubes)
Malaysia di Jakarta, dengan cara "menggembok" pagar, Kamis (30/8). Aksi yang
diikuti oleh puluhan mahasiswa tersebut menuntut permintaan maaf pemerintah
Malaysia serta penyelesaian secara hukum atas insiden pemukulan wasit karate
Indonesia Donald Luther Kolopita oleh polisi Diraja Malaysia. (57)
*JAKARTA-* Malaysia akhirnya meminta maaf kepada Indonesia atas pemukulan
terhadap Ketua Wasit Karateka Indonesia Donald Luther Kolopita oleh empat
polisi Malaysia. Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi (Pak Lah)
semalam telah menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meminta maaf
terkait pemukulan Donald Kolopita. SBY pun meminta semua pihak tenang. "SBY
mengimbau kepada semua pihak agar tetap bersikap tenang dalam menanggapi
masalah ini," kata Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal.
Hal itu disampaikan Dino dalam jumpa pers di Istana Tampak Siring, Bali,
semalam. Menurut Dino, SBY sangat menghargai langkah-langkah yang telah
diambil Malaysia. "Presiden SBY menghargai upaya serta niat baik PM Malaysia
untuk menghubungi beliau. Hal itu menunjukkan sikap arif beliau," tandas
Dino.
Menurut Dino, kedua pemimpin telah sepakat persoalan yang mengakibatkan
Donald terluka parah itu diselesaikan melalui jalur hukum. SBY dan Badawi
juga berharap kejadian tersebut tidak merusak hubungan baik antara Malaysia
dan Indonesia yang telah lama terjalin.
"SBY menghargai langkah-langkah hukum dan disipliner Pemerintah Malaysia,"
ujarnya.
*Cuma Penyesalan*
Sebelumnya, Dubes Malaysia untuk Indonesia, Dato Zainal Abidin Zain,
mendadak menemui Ketua DPR Agung Laksono. Dalam pertemuan yang dilakukan di
ruang kerjanya, Agung bersama tiga orang anggota Komisi I DPR Yusron Ihza
Mahendra, Arif Mudatsir, dan Abdillah Toha.
Seusai pertemuan, Dato Zainal meminta kepada pers untuk menyampaikan ucapan
*deeply regret* yang dikatakan Menlu Malaysia Syed Hamid Albar ketika
bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Itu terkait insiden pemukulan .
"Hari ini saya mengharapkan agar pers akan mengumumkan mengenai *deeply
regret* atas insiden tersebut. Pers dapat membuat interpretasi sendiri
mengenai kalimat *deeply regret* tersebut," katanya di Gedung DPR Jakarta
dalam bahasa Melayu dan Inggris.
Dia menjelaskan penyebab insiden tersebut. Kejadian pemukulan ini terjadi di
daerah dekat Kuala Lumpur, di mana di tempat tersebut ada peningkatan
aktivitas kejahatan.
"Karena adanya Kejuaraan Karate, maka ada peningkatan pengawasan oleh
anggota kepolisian Diraja Malaysia. Mereka (polisi Malaysia-red) menggunakan
kendaraan polisi yang tidak berlogo, serta petugas-petugas kepolisian
Malaysia yang tidak menggunakan seragam. Namun sangat disayangkan, akibatnya
terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," katanya.
Menurutnya, ada dua perkataan yang mungkin sama atau berbeda sedikit. "Kalau
di Malaysia kita gunakan, kita sangat kesal atas kejadian itu. Tetapi, saya
diberitahu juga kalau di Indonesia kesal itu bukan pernyataan tepat, tetapi
menggunakan kata sesal sangat atas kejadian itu. Jadi saya rasa kalau boleh
diintepretasi itu bentuk pernyataan permintaan maaf, silakan. Bahasalah itu
yang diharapkan. Karena itu, perlu dimaklumkan, kepada bapak-bapak apa yang
kita maklumkan pada dua-tiga hari yang lalu," terangnya.
Selain itu Dato Zainal juga menjanjikan bahwa pemeriksaan atas kasus ini
akan dilaksanakan secara transparan dan pihak Indonesia dapat memantau
secara terus menerus tentang apa yang terjadi terhadap kasus ini.
*Tak Sesuai Harapan*
Ketua DPR Agung Laksono menjelaskan, kunjungan Dubes Malaysia itu sehubungan
dengan peristiwa yang menimbulkan ketegangan dan situasi Indonesia dan
Malaysia.
Agung menilai, yang disampaikan Dubes Malaysia merupakan hal yang positif,
meski tidak sepenuhnya sesuai harapan. Tetapi, sebetulnya ada yang perlu
dikemukakan kepada publik yang tidak sempat terpublikasi dengan baik yaitu
ada penyesalan mendalam atau *deeply regret*.
"Saya rasa ungkapan ini dalam dunia diplomatik yang cukup mendalam bahwa ada
penyesalan mendalam, bisa diartikan di dalamnya ada permintaan maaf. Sikap
ini kami padang sebagai langkah yang memiliki niat baik dari Malaysia,
apalagi ditindaklanjuti proses hukum.''
Tetapi, pengungkapan kalimat *deeply regret* itu bagi bangsa Indonesia belum
mencerminkan sebuah permintaan maaf. "Seharusnya Dubes Malaysia secara tegas
meminta maaf, jadi *deeply regret* itu belum cukup, karena kata maaf adalah
kata-kata yang bisa diterima oleh masyarakat dan dikehendaki oleh
masyarakat. Tetapi hal itu sudah menunjukkan suatu perkembangan bahwa
Malaysia tidak ingin terjadi sesuatu yang akan semakin memburuk," tegasnya.
"DPR RI telah menerima aspirasi dari masyarakat baik tertulis maupun datang
langsung ke DPR RI. Intinya tidak bisa menerima perlakuan yang telah
terjadi, yaitu pemukulan terhadap Donald Kolopita yang datang ke Malaysia
justru atas undangan dari Pemerintah Malaysia," terangnya.
*Akumulasi*
Kejadian ini, menurut dia, merupakan puncak atau akumulasi dari berbagai
peristiwa yang terjadi, yang menyangkut warga Indonesia yang ada di
Malaysia, baik sebagai TKI maupun sebagai turis.
Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia tidak bisa menerima.
Ditambah lagi dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid
Albar, ketika berkunjung ke Indonesia menemui Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, yang di media massa disebutkan, tidak mau minta maaf karena
masalahnya sudah ditangani secara hukum. Hal ini tambah menyulut rasa emosi
masyarakat.
Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Malaysia, kurang
terpublikasi, bahwa ada kata-kata *deeply regret* yaitu semacam penyesalan.
Alangkah baiknya jika hal ini disampaikan oleh Dubes Malaysia sendiri,
sehingga dapat turut membuat iklim yang lebih kondusif, mengingat peristiwa
ini merupakan puncak dari peristiwa-peristiwa sebelumnya termasuk ada dugaan
pelanggaran HAM terhadap TKI di Malaysia.
Namun ada keinginan dari kedua belah pihak, Malaysia dan Indonesia, untuk
memperbaiki hal tersebut, mengingat jumlah TKI resmi yang ada di Malaysia
sekitar 1,2 juta orang, dan ada sekitar 800 ribu TKI yang tidak memiliki
dokumen, sehingga harus ada penanganan yang sebaik-baiknya.
Dikatakan, pada saat DPR RI berkunjung ke Kuala Lumpur beberapa waktu yang
lalu, ketika menghadiri sidang Inter Parliamentary Assembly, ketua parlemen
menyampaikan tentang usulan resolusi Indonesia.
Terutama yang berkaitan dengan *migrant worker* yang memerlukan perhatian,
seperti perlunya mengubah penerapan hukum yang tidak diskriminatif, mengenai
pengumpulan paspor dan tidak adanya ID card sehingga para TKI tersebut
sering ditangkap.
Selain itu ada juga penangkapan yang dilakukan oleh Polisi Malaysia kepada
TKI legal. Hal ini telah disampaikan, dan diharapkan ada perbaikan-perbaikan
ke depan, dan hal tersebut mendapatkan tanggapan yang positif, dalam rangka
menjaga hubungan baik antara kedua negara.
Anggota Komisi I Abdillah Toha juga mengatakan kedatangan Dubes Malaysia ke
DPR sudah menunjukkan iktikad baik untuk menjaga hubungan harmonis kedua
negara. Walaupun demikian, politikus dari Fraksi PAN ini tetap menyayangkan
kejadian pemukulan tersebut.
"Kejadian yang menimpa Donald kemungkinan merupakan salah satu dari sekian
banyak kasus yang mungkin tidak terungkapkan. Sangat disayangkan hal ini
bisa terjadi pada saat negara-negara ASEAN sedang mulai menyatukan diri,
untuk menciptakan komunitas ASEAN yang akan ditandatangani pada bulan
Nopember 2007 nanti, oleh pimpinan seluruh negara ASEAN," tandasnya.
*Batalkan Ceramah*
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin memutuskan untuk
membatalkan kesediaan berceramah di Kedubes Malaysia. Semula Din diundang
memberi pencerahan kepada masyarakat Malaysia di Kedubes Malaysia di Jakarta
dalam rangka Isra Mi'raj dan HUT Kemerdekaan Malaysia, semalam.
Menurut Din, pembatalan tersebut terkait sikap Pemerintah Malaysia menyusul
penganiayaan atas wasit karate Indonesia.
Sikap Pemerintah Malaysia seperti ditunjukkan oleh Menlu dan Kepala Polisi
Diraja Malaysia, menurut Din, terkesan kurang bersahabat dari dua negara
serumpun yang bertetangga dekat.
"Terlepas dari sebab musabab dari peristiwa penganiayaan tersebut dan proses
hukum yang sedang berlangsung, adalah arif bagi Pemerintah Malaysia untuk
sekadar menyesalkan peristiwa atau meminta maaf sesuai budaya Melayu dan
tradisi Muslim. Tapi itu tidak terjadi ketika Menlu dan Kepala Polisi
Malaysia bertemu Presiden SBY," katanya.
Menurutnya, sikap tersebut akan menambah sentimen di sebagian masyarakat
Indonesia terhadap Malaysia yang dianggap mulai sombong dan memandang rendah
Indonesia, mentang-mentang mengalami kemajuan ekonomi.
Di lain pihak, rencana kepergian Wapres Jusuf Kalla untuk menghadiri HUT
Malaysia mendapat kecaman keras dari sejumlah wakil rakyat. JK dinilai tidak
peka terhadap aspirasi rakyat. Sejumlah wakil rakyat meminta agar kepergian
JK ke Malaysia dibatalkan.
"Itu akan menyakiti rakyat. Seharusnya pemimpin bisa memahami hati rakyat,
jangan untuk kepentingan sendiri saja," kata anggota Komisi I DPR dari FKB,
Suharno PA.
Anggota DPR dari FPG Yudhy Chrisnandi mengungkapkan hal yang sama.
Menurutnya, seluruh pejabat negara termasuk presiden dan wapres seharusnya
memahami keberatan masyarakat. Oleh karena itu tidak perlu menghadiri
undangan baik ke Malaysia ataupun ke Kedubes.
Anggota DPR dari FPAN Alvin Lie mengajak masyarakat untuk memboikot
produk-produk Malaysia. "Ini masalah harga diri bangsa. Jadi, mari kita
boikot produk Malaysia, seperti AirAsia, Malaysian Airline, Petronas, dan
Astro, dan lain-lain," katanya.
Dia juga meminta agar media massa menghentikan siaran iklan produk-produk
Malaysia. "Termasuk jangan memutar lagu Malaysia," tandasnya.
Menko Polhukam Widodo AS menganggap wajar adanya sejumlah aksi unjuk rasa
yang dilakukan masyarakat dan ormas-ormas tersebut. "Terjadinya berbagai
unjuk rasa yang masih terus berkembang sampai sekarang merupakan suatu
kewajaran reaksi,'' ujarnya.(J22,J21, F4,G14,dtc-60)
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]