Jakarta Gagal di Papua `Kedaulatan akan negara sendiri bagi Bangsa Papua Barat'
Jakarta, 1 September 2007, Situasi di Tanah Papua akhir-akhir ini memanas. Pembunuhan, keracunan dan pemerkosaan bahkan kekerasan terjadi dalam waktu yang singkat. Terkait inden berdarah yang bagi Masyarakat Papua merupakan pembunuhan secara nyata dilakukan oleh orang tak dikenal. Kopasus adalah dalang dibalik sejumlah peristiwa ini, itulah polemik yang akhir-akhir ini beredar di Tanah Papua. Jakarta kemudian membiarkan situasi di Papua tetap dalam kendali TNI-POLRI, militerisasi tidak lagi dikandang tetapi kini menjadi liar dengan melakukan tindakan-tindakan pembunuhan secara halus terhadap orang Papua. Dalam bulan agustus ini, sepuluh warga sipil Papua keracunan MIRAS dan meninggal. Seorang di tembak mati, tiga Wanita diperkosa dan dibunuh, seorang pria dianiaya. Peristiwa ini terjadi dan dialami berturut-turut. Padahal, peristiwa jatuhnya korban sipil di Tanah Papua tak lama semenjak Otonomi Khusus Papua selama tujuh tahun terbukti gagal. Untuk tetap mengawal otsus bagi rakyat Papua, Jakarta melalui Presden Susilo Bambang Yudhoyono telah merespon kegagalan otsus dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (PERPRES N0. V-2007). Kami menuduh keterlibatan jakarta dalam memberi payung hukum dalam perpres bagi militer untuk memabasmi penduduk sipil. Disaat waktu yang bersamaan masih terjadi ketegangan dan ketakutan di Papua, Michael Heselo, seorang narapidana (napi) kasus pembobolan Gudang Senjata Kodim Wamena yang ditahan di LP Gunungsari Makassar, meninggal dunia. Orang Papua dihantui rasa takut karena terus di intimidasi. Bahkan keyakinan rakyat semakin nyata dengan dugaan mereka, karena selang rentetan pembunuhan yang terjadi, kapolres jayapura secara lisan mendatangi setiap warga dan mengatakan kewsapadaan rakyat akan tindakan kopassus yang terjadi akhir-akhir ini. Ada skenario yang sedang di jalankan, operasi gabungan TNI-POLRI sehingga propaganda kapolres hanyalah situasional dan tak bisa melepaskan institusi polri dalam berbagai peristiwa yang terjadi. Harapan akan penyelesaian masalah di Pulau cenderawasih yang semestinya diselesaikan dengan cara bermartabat tetapi sejatinya jalan penyelesaian yang di tempuh jakarta justeru kekerasan. Cukup sudah! NKRI GO To Hell dari Tanah Papua atas ketidaksanggupannya mencengkram Bangsa Papua Barat. Terbukti memang, bahwa kolonialisme indonesia di Papua faktanya mempraktekan genosida. Rentetan skenario yang dilancarkan jakarta dalam melegitimasi penanganan masalah Papua dengan militerisasi sudah terbukti. Skenario pembuatan filem DENIAS seakan menggambarkan bahwa keberadaan militer di era orde baru cukup strategis dalam merepresif takyat Papua, dimana peran kopasus di pedalaman seperti ditunjukan dalam durasi Denias adalah gambaran fiktif atas kebiadapan militer indonesia selama di Papua. Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat punya sikap bahwa situasi di Papua Barat yang dikendalikan oleh militer sesungguhnya membuktikan Indonesia sudah seharusnya menyerahkan HAK KEDAULATAN Orang Papua. Kami ingin miliki negara sendiri untuk berdaulat dan MERDEKA penuh. Kami tidak lagi menginginkan kolonialis Indonesia. Inilah Jawaban Kami. Eksekutif Nasional Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat ( Front PEPERA PB ) Arkilaus Baho Jurubicara Nasional Catatan kronologis peristiwa dalam rangka perayaan kemerdekaan Indonesia: 1.Tiga Wanita di perkosa dan dibunuh di halaman SMA Negeri 4 Maribu, Jalan Sentani Depapre Distrik Sentani Barat. 2.Seorang dianiaya di kampung Puay dibuang di jalan baru kini dirawat di RS. Dian Harapan Waena Jayapura Papua 3.Belasan orang keracunan, empat diantaranya meninggal 20 Agustus 2007 di Yahim. 4.Tujuh orang tewas di sentani kota 5.Distrik sentani 50 orang dirawat di RS. Youwari Kabupaten Jayapura. 6.Dari keterangan saksi; seorang PNS (pegawai negeri sipil) kabupaten Jayapura dan seorang wanita pekerja cleaning service kantor DPU Kabupaten Jayapura hendak di culik dan berhasil lolos. 7.Plat Nomor Kendaraan Mobil yang dicurigai gerilya, DS 4964, DS 1763. DS 7034. DS 7035

