Drs I Nyoman Musiasa MAMC Kutanggalkan Paham Universalisasi
tanggal : 14/08/2007

*al-islahonline.com : *Semula, semua agama dianggapnya sama. Peribadatan
Hindu, Islam, Budha, Kristen, pernah ia jalani. Meski terlahir sebagai
Hindu, Nyoman lebih menempatkan dirinya sebagai seorang universalis,
ketimbang harus memilih meyakini salah satu agama. Keajaiban terjadi, ketika
ia bermimpi shalat selama tiga malam berturut-turut Sejak itu, Islam
menjawab segala kegelisahan batinnya selama ini. Islam pun menjadi pilihan.

Ditemui di kampus tempatnya mengajar, di bilangan Sunter, Jakarta Utara, I
Nyoman Musiasa banyak mengungkap perjalanan rohaninya kepada Amanah tentang
proses pencariannya menemui kebenaran Islam dalam kurun waktu yang cukup
panjang, Nyoman - begitu sapaan akrabnya – lahir dalam keluarga beragama
Hindu. Sifat moderatayahnya, tak menghalangi Nyoman untukmengenal Islam
sedari kecil. Ayahnya pun iak ada khawatir, ketika anaknya mengikuti
pelajaran agama Islam di sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Baginya,
polajaran agama Islam adalah pengetahuan umum. siapa pun boleh
mempelajarinya. Di samping saat itu belum ada sekolah yang menyediakan guru
khusus untuk pelajaran agama Hindu.

Nah, bagaimana perjalanan Nyoman hingga memutuskan Islam sebagai pilihan
hidupnya, berikut penuturan lelaki berperawakan tinggi, kelahiran Singaraja,
27 November 1953, kepada Amanah :

Saya lahir sebagai orang Bali. Ayah dan ibu saya adalah penganut Hindu yang
taat. Pada usia 10 tahun (tahun 1963), kami sekeluarga sempat tinggal di
wilayah pemukiman transmigran, Bengkulu. Saat itu wilayahnya masih hutan.
Meski hidup dalam kondisi prihatin, ayah ingin agar saya tetap melanjutkan
sekolah. Bagi ayah, sekolah itu nomor satu. Itulah karenanya, ayah
menitipkan saya pada seorang keluarga Muslim di Bengkulu, Pak Sidik namanya.
Pak Sidik adalah seorang Mantri (kepala Asrama di Bengkulu). Ketika itu saya
membantu pekerjaan Pak Sidik dengan imbalan saya disekolahkan.

Sejak tinggal di keluarga Muslim itulah, saya mulai mengenal Islam, bahkan
suka ikut-ukutan shalat. Bila Pak Sidik shalat Jumat, saya pun ikutan
Jumatan. Jadi kalau ditanya, sejak kapan saya mengenal Islam? Jawabannya, ya
sejak kecil, sejak umur 10 tahun. Yang pasti, peristiwa itu cukup membekas
dalam benak saya' hingga saat ini.

Selang satu setengah tahun kemudian, saya sempat pula tinggal di sebuah
keluarga beragama Budha (namanya Wi Keng Han). Di tempat iniiah saya bekerja
sebagai penjaga toko, miliknya. Namanya bocah, saya juga sukapergi ke vihara
untuk ikut-ikutan .sembahyang bersama majikan. Belum lagi ketika saya duduk
dibangku SMA, saya pernah ikut-ikutan teman ke gereja untuk ikut kebaktian.
Jadi, sejak remaja, saya sudah mengenal, bahkan menjalani peribadatan empat
agama, yaitu Hindu, Islam, Budha, dan Kristen.

Setelah ayah mendapat pekerjaan sebagai guru di Palembang, saya pun diasuh
kembali oleh orang tua saya di sana. Karena sejak SD hingga SMP saya selalu
ikut pelajaran agama Islam di sekolah, hingga saya tak asing lagi dengan
lingkungan saya tinggal, di mana mayoritas penduduknya beragama Islam.
Bahkan, di sekolah, saya sering dipuji oleh guru agama Islam, dikarenakan
saya selalu bisa menjawab pertanyaan seputar sejarah Islam. Kebetulan saya
memang senang membaca dan kuat dalam hafalan. Di Palembang, ayah malah tidak
melarang saya untuk ikutan ngaji bersama teman sebaya di kampung. Ayah
memang tak terlalu cemas, bila anaknya berpindah agama. Bisa dibayangkan,
dari pengalaman saya mengikuti peribadatan beberapa agama yang ada, telah
membuat saya bingung saat memasuki usia dewasa, terlebih ketika harus
memilih salah satu agama yang diyakini.

*Penganut Universalis*

Sampai suatu ketika, saya betul-betul bingung untuk memilih agama yang
pernah saya jalani sejak kecil. Yang saya rasakan adalah kegelisahan yang
sangat untuk terus mencari Tuhan. Tentu saja Tuhan yang sejati dan hakiki.
Kalau ditanya Tuhan yang mana, saya pasti bingung menjawabnya. Karena semua
Tuhan pernah saya sembah.

Dari kebingungan itu, saya sempat memahami agama bukan sebagai sesuatu yang
formalistis. Dengan kata lain, saya tak mesti memilih. Itulah sebabnya, saya
cukup menjalani hidup ini sebagai universalis. Yakni tetap meyakini adanya
Tuhan, namun tak ada keterikatan harus menentukan Tuhan yang mana.

Saat itu saya merasa semua agama sama. Dalam hati, saya bicara sendiri:
selama agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, saya akan ikuti dan jalani
sebatas pengetahuan saja. Persoalan sebetulnya, saya sulit untuk memilih
Tuhan-tuhan yang ada dalam otak saya.

Dalam proses pencarian itu, jujur, saya selalu iri dengan umat beragama yang
khusyuk dalam ibadahnya. Saya bukan hanya merasa iri saat melihat umat Hindu
bersembahyang dengan khusyuknya, terhadap umat yang lain pun, seperti umat
Budha, Kristen, bahkan Islam sama halnya. Pokoknya kalau melihat orang
khusyuk ibadahnya, saya betul-betul iri, dan ingin meniru mereka.

Saat saya ingin berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta, saya bingung, cara
mana yang harus saya pakai. Masing-masing punya cara yang berbeda.

Sejak itulah yang membuat saya ingin mengkaji lebih jauh tentang islam,
terutama tata cara shalat. Oi saat saya bingung mencari jalan, sebuah
keanehan datang, selama tiga hari berturut-turut saya bermimpi sedang
shalat. Kenapa harus shalat? Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya.

Sejak mimpi shalat itulah, saya membuka buku-buku tentang shalat. Yang
pertama saya buka adalah Al Quran terjemahan dan bahasa latinnya, yang saya
pinjam dari istri saya yang Muslimah. Meski saya sudah mengucapkan dua
kalimat syahadat - ketika nikah pada 1976 (masih usia 23 tahun) -
sebetulnya, baru empat tahun yang lalu (2000) saya mendalami ajaran Islam.

Begitu saya baca terjemahan Al Quran, saya masih belum menangkap pengertian
ayat yang dimaksud. Akhirnya saya beli Tafsir Ibnu Katsir sebanyak empat
jilid. Merasa belum cukup, saya beli Kitab Bukhari-Muslim bekas (ioakan) di
Kwitang, hingga tiga set. Dalam tiga hari, buku-buku itu saya lahap1 habis.
Dan, setelah saya pahami maksud beberapa ayat Al Quran dan hadis, saya
menasakan keistimewaan dan keutamaan ajaran Islam. Di antara keistimewaan
itu adalah: Islam memiliki nilai-nilai universal. Sederhana. Tak ada sistem
kependetaan. Intinya, setiap individu bias berinteraksi dengan dan
bertanggungjawab langsung pada Tuhan, tanpa perantara. Dalam shalat
misalnya, seorang imam bisa diganti bila berhalangan.

Selain universal, Islam memiliki kelengkapan dalam hal petunjuk teknisnya.
Dalam artian, Islam mengatur aspek hablun minallah dan hablun minannas
sesuai tuntunan Al Quran dan hadis. Dari aspek ibadah umpamanya, Islam
begitu detil memberi juknis dari hal-hal terkecil, mulai dari cara
membersihkan kemaluan setelah beristinja, berwudhu. hingga larangan
laki-laki menyetubuhi istrinya yang sedang haid. Tegasnya, Islam sangat
menganjurkan umatnya menjaga kebersihan.

Kini, saya mencoba untuk taat. Karena saya pikir, syahadat saja tidak cukup,
harus ada konsekuesi lainnya. Bermula dari pembiasaan saya membaca, maka
hasil dari membaca, saya dapat mencerna Islam relatif mudah sebagai
petunjuk. Itulah sebabnya, saya menilai Al Quran berbahasa Arab tanpa
terjemahan belumlah menjadi petunjuk. Bagi saya, tidaklah bermanfaat,
membaca Al Quran tanpa tahu maknanya.

*Gugat Islam Warisan*

Meskipun sebagai "orang baru", semangat (ghirah) ayah empat anak ini -
Margaretha Arithama, Agustian Rama Wijaya, Alexander Reynaldo Octavianus,
Ananta Victorious Qctabrian - ini, dalam mendalami Islam memang patut
ditiru. Reran istrinya, Agustina Laviana, jebolan S2 University of Florida
(College of Journalism and Communication, major Public Relations), diakui
cukup besar. Terutama mendiskusikan tentang Islam. Nyoman yang berprofesi
sebagai dosen bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta, Jakarta,
kini sedang semangat-semangatnya mendalami Islam, dengan membaca beberapa
literatur Islam. Berikut penuturan Nyoman:

Saya suka heran melihat cara beragama umat "Islam turunan" alias Islam
"warisan" dalam menjalankan syariatnya. Dalam hal shalat, misalnya, saya
suka ngetes "ustadz konservatif" setelah mengimami shalat berjamaah. Kata
saya: "Pak, tadi anda shalat baca surat Al Fatihah juga bacaan shalat
lainnya. Bapak tahu artinya?" Mendengar pertanyaan saya, ustadz itu kaget
dan terbengong-bengong. Lalu apa jawabnya? "Saya sih cuma ngapalin saja,
kurang ngerti maknanya," kata ustadz itu.

Terus terang, saya merasa aneh dengan orang Islam sendiri ketika ditanya
tentang agamanya, sering lebih banyak tidak tahunya. Lucunya lagi, mereka
sangat emosional kalau dibilang bukan Islam. Jadi bagaimana mungkin, Al
Quran bisa menjadi petunjuk, kalau tidak tahu dan memahami maknanya.
Padahal, Al Quran adalah jelas menjadi petunjuk, bila kita mengerti dan
memahami maknanya, baik yang tersurat maupun yang tersirat, sehingga kita
tahu mana yang halal dan mana yang dilarang, Jadi, dalam Islam, syahadat
saja tidak cukup.

Tak sedikit "Islam turunan" yang saya temui, tak mempersoalkan Al Quran yang
dibaca tanpa tahu maknanya. Saya bingung menghadapi orang Islam semacam ini.
Terus terang, saya kasihan dengan "Islam warisan" yang tahun demi tahun tak
ada perkembangan pola berpikirnya dalam. memahami dan mengamalkan ajaran
agamanya.

Barangkali carapenyampaian saya salah, atau mungkin terkesan menyudutkan.
Tapi bagaimana lagi. Satu hal yang membuat saya kesal, saya selalu dibalikin
oleh mereka (Islam warisan), Katanya: Ah ..dasar muallaf, orang baru juga,
sok tahu." Sebagai muallaf, saya prihatin, bila banyak umat "Islam turunan"
tidak mendalami bahkan tidak menjalankan ajaran agamanya sendiri alias Islam
KTR Lihat saja, meskipun usianya sudah berkepala empat, tapi cara shalatnya
seperti bocah usia 10 tahun. Dari tahun ke tahun, tidak ada peningkatan.
Saya memang muallaf, tapi saya berusaha untuk taat dan seialu ingin Jadi
yang terbaik.

Jadi, ketertarikan saya terhadap Islam sesungguhnya terletak pada konsep
ideal Islam itu sendiri, bukan faktor figur atau individualnya. Karena,
nyatanya, tak sedikit orang yang ngaku-ngaku Islam, tapi shalat tidak,
berzakat tidak, puasa juga tidak. Dulu, saya memang seorang universalis,
tapi saya juga tidak sependapat dengan istilah sekarang: Islam Pluralis,
Islam liberal dan sejenisnya. Dan saya pikir, kita harus mengislamkan orang
Islam kembali. Setuju? (amanahonline)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke