http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0709/04/190806.htm



*"Menunggang" Roket Air ke Malang*

Laporan Wartawan Kompas Yulvianus Harjono

Kasat mata, bentuk benda itu tidaklah secanggih dibayangkan. Bahan utama
pembentuknya hanyalah berupa potongan-potongan bekas air mineral ukuran 1,5
liter yang disambung dengan perekat seadanya. Warnanya terlihat sangat
kontras, mencolok mata. Potongan triplek yang dibungkus perekat hitam pun
jadi sirip-sirip, komponen vital aerodinamika.

Namun, siapa sangka, benda yang terlihat tidak meyakinkan itu ternyata
sebuah roket. Perangkat aerodinamis yang mampu melesak, terbang tinggi ke
udara. Benda yang seluruhnya terbuat dari komponen bekas dan mudah dicari
ini diklaim perancangnya mampu terbang hingga 100 meter vertikal. Setinggi
tower BTS (base transceiver station), bahkan bangunan tingkat 20 sekalipun.

Menjelang senja akhir pekan itu, Danang Prakosa (23), mahasiswa semester
akhir Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung bersama segelintir
temannya dari Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB tengah mengotak-atik
perangkat "canggih" itu. "Lagi kejar tayang nih mas. Besok kita harus
pentas," ucapnya dengan logat Jawa Tengah yang kental.

Pentas yang dimaksud Danang bukanlah pertunjukkan teater, apalagi nyanyi.
Tetapi, Water Rocket Contest (WRC) 2007 yang diselenggarakan di Universitas
Brawijaya, Malang pada Selasa (4/9) hingga Kamis (6/9) mendatang. Benda yang
dikotak-katik Danang dan kawan-kawan itu tidak lain merupakan sebuah roket
air.

WRC Unibraw merupakan event prestisius se-Indonesia dalam hal adu teknik dan
kepandaian "menerbangkan" roket air. Kompetisi tahunan yang diselenggarakan
sejak 2002 ini diikuti hampir seluruh perguruan tinggi ternama yang punya
fakultas teknik. ITB terakhir kali ikut serta di 2004 lalu. Meski menyandang
status kampus teknik terbaik di Indonesia, ironisnya ITB selalu
"dipecundangi" di event ini. Bursa juara tidak terlepas dari Institut
Teknologi Surabaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan tentunya tuan
rumah Unibraw.

Prestasi terbaik ITB dalam WRC Unibraw hanyalah di 2003 dengan meraih juara
ketiga. "Kami punya banyak pengalaman buruk di Malang. Terakhir, di 2004,
kita seolah-olah dicurangin. Bayangkan, tanpa pemberitahuan lebih dahulu,
regulasi lomba tiba-tiba saja diganti. Kelabakanlah kami harus modifikasi
ulang. Sempat terpikir walk out ketika itu," kenang mahasiswa asal Solo,
Jawa Tengah, ini.

Alasan itu pulalah yang menyebabkan ITB di dua tahun berikutnya urung ikut
serta dalam kegiatan itu. Selain faktor biaya, telat mendaftar, dan minimnya
antusisme anggota-anggota HMM ITB baru. Meski kagok dan tidak punya peta
kekuatan lawan di WRC 2007 ini, tim Ganesha ini punya optimisme tinggi;
"Harus jadi juara," ucap Army A. Fari, anggota tim yang diberangkatkan ke
Malang.

Teori kuliah

Uniknya, perangkat roket air andalan tim asal Kota Kembang ini pun punya
nama, layaknya orang. Launcher (peluncur) dinamakan "Suppri" alias Semi Auto
Portable Water Rocket Launcher Indonesia. Sementara, dua roket andalan
mereka masing-masing dinamakan "Mbah Darmo" (dilengkapi jaring) dan "Mr.X".

Peluncur dan roket adalah kesatuan yang tidak terpisahkan. Sama-sama
penting. Layaknya dua sisi keping mata uang. Untuk peluncurnya, bekerjasama
dengan Lab Motor Bakar Sistem propulsi, HMM ITB mengembangkan perangkat
sistem semi-otomatis. Di sini, sudut elevasi ketinggian (untuk menentukan
target) dan perintah peluncuran sudah bisa dikontrol lewat satu alat kendali
yang terhubung ke launcher. Ke depan, HMM ITB bercita-cita mengembangkan
sistem full-automatic yang terintegrasi ke dalam perangkat komputer. Saat
ini, pengembangan masih dilakukan secara trial and error.

Untuk roket, pengembangan difokuskan pada aerodinamika. Misalnya, membuat
sayap dan pemberat yang paling tepat. Di sini, ilmu kuliah pun mau tidak mau
terpakai. Mulai teori efek giroskop (keseimbangan momen), dinamika teknik,
hingga mekanika fluida. Prinsip kerja roket ini adalah menggunakan gaya
tekan air. Kompresi udara akan mendorong air di dalam roket. HMM ITB telah
mengujicobakan tekanan udara sebesar 8 bar. Gaya dorong mencapai 100 meter.

Dalam WRC Unibraw, tingkat keakurasian dan kemampuan terbang adalah dua
faktor yang dilombakan. Pada lomba tembak misalnya, tim yang mampu menangkap
sasaran secara tepat dengan jarring, merekalah yang menang. Presisi dan
timing yang pas sangatlah menetukan. Dalam realitas, perangkat ini bisa
membantu nelayan mencari ikan. Sebab, mudah dibuat dan dipraktikkan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke