notes; ini ditulis oleh seorang wni yang kerja di malaysia. namanya tidak 
disebutkan.  saya kutip dari milis technomedia....
===============================================

TAK KENAL MAKA TAK BENCI
 
Biasanya, saya sering denger kata-kata, tak kenal maka tak sayang, karena 
sesuatu yang layak untuk disayang kadang-kadang tidak tereksplore karena tak 
dikenal. Begitu juga sebaliknya, menurut saya, kadang-kadang sesuatu yang patut 
dibenci tidak dibenci karena tidak dikenali. Maksudnya adalah, kalo nggak cukup 
kenal maka pasti nggak benci deh. Begini ceritanya...
 
11Juli 2006, pertama kali saya datang ke Malaysia. Begitu terpukau dengan 
infrastruktur yang megah, dari mulai airport KLIAnya saja sudah WAW.., shuttle 
train yang menghubungkan antar terminal, begitu spektakuler, jauh dari bayangan 
saya, kok Malaysia bisa ya??Timbul rasa sedih mengapa Indonesia tidak bisa 
seperti Malaysia. Saya bangga dengan negara tetangga. Ternyata bisa juga, dan 
saya yakin kalo Malaysia bisa, Indonesia pasti juga bisa, tinggal tunggu waktu. 
Kekaguman saya tidak berhenti sampai saya meninggalkan KLIA. Setelah itupun 
decak kagum terus menerus saya lontrakan.Segala sesuatunya yakni dari mulai 
transportasi publik, jalanan, gedung, dll sudah sangat rapi. Saya ingin 
kembali!!!! Balik dan bekerja di Malaysia (dasar TKW!!!)
 
14 Agustus 2006, Senangnya balik lagi ke Malaysia untuk bekerja. Saya yakin 
hidup akan menyenangkan disini. Negara tetangga, ras serumpun, kota yang 
relatif rapih dan bersih, begitu menyenangkan dalam angan-angan dan harapan 
saya!!!
 
Kanyataan... ternyata kenyataannya jauh dari bayangan yang ada di benak saya. 
Hari demi hari saya makin mengenal negara ini, kota ini. Semakin saya 
mengenalnya, semakin saya membencinya. Dari mengawali hari-hari, seringkali 
rasa sakit hati yang muncul. Misalkan ketika menunggu bus, dan karena pada 
awalnya layaknya orang baru, pastilah saya akan bertanya tentang informasi 
transportasi. Ketika bertanya dengan supir bus, pertama saya kaget sekali, dia 
tiba-tiba membentak saya, marah-marah dan tidak menjawab, lalu langsung menutup 
pintu busnya! Anjing gak sopan! supir metro batak aja gak pernah gituin gw!!!! 
Dan hari-kehari saya semakin tahu, entah hobi entah karakter mereka memang 
tidak ramah dan tidak sopan. Karena bukan itu saja, perilaku ini juga menjadi 
momok bagi supir taksi di Malaysia. Sudah 1000juta kali saya dimaki-maki, 
diturunkan supir taksi di tengah-tengah antah berantah, ditanya hal-hal jorok, 
pokoknya GILAAAAAAAAAAA! !!!!!!!!! Tidak akan ada
 habisnya nyeritain supir-supir taksi yang sakit jiwa. Dan mereka juga seneng 
banget nggak pake argo!!
 
Hal lainnya adalah Stereotiping orang INDON. Sudah 1000juta kali percakapan 
dengan orang Malaysia, mereka menduga saya orang sabah/philipin. Karena 
dialeknya aneh, tapi pakaian saya tidak seperti orang indon (mereka 
menstereotipekannya dengan pembantu rumah tangga, buruh, dan pekerja sektor 
informal lainnya). Lantas kalopun iya, apa salahnya??? Kenapa mereka begitu 
merendahkan? Seolah-olah kalopun iyah, TKI itu hal yang najis. Padahal demand 
pekerja disektor ini begitu besar! Dan pekerja disektor ini juga banyak dari 
Bangladesh, India dan sebagian kecil Vietnam. Lantas kenapa dengan Indonesia 
??? APa salahnya??? Kenapa mereka begitu underestimated? ?Begitu jijik?? Begitu 
merendahkan? ?
 
Bagi mereka yang tinggal dan cukup lama di Malaysia, pasti benci dengan negara 
ini. Selama ini belum pernah saya menemukan ada orang Indonesia yang tinggal di 
Malaysia dan menyayangi Malayasia. Bahkan begitu juga dengan teman-teman saya 
yang menikah dan memiliki anak warganegara Malaysia. Mereka memiliki perasaan 
yang sama, yakni benci dengan karakter orang Malaysia ( Bukan  benci anaknya 
lho).
 
Tulisan ini bukan untuk menyebarkan kebencian, tapi sekedar black campaign 
untuk orang-orang Indonesia yang gemar belanja Vincci ke sini. Stop berikan 
income pada Malaysia. Mereka hanyalah bisa memandang Indonesia dengan sebelah 
mata dan memicingkannya serta mengrenyitkan dahi sambil berfikir "bodohnya 
orang Indonn!!).
 
Saya ingin menceritakan banyaknya perlakuan ketidakadilan dan hal-hal yang 
sangat merendahkan oleh rakyat Malaysia, tapi apalah daya, terlalu banyak, 
nanti pada bosen. Pokoknya indikatornya adalah, Indonesia telah diangkat 
sebagai Dewan HAM pada 2007, sedangkan Malaysia telah di black List oleh PBB 
karena ketidakseriusannya menangani migrant worker dan pelanggaran HAM terhadap 
buruh migran tersebut (Orang-orang Indonesia) yang ada di Malaysia.
 
Pemerintahnya pun, melalui sensor media (berita-berita yang dikontrol 
pemerintah di Malaysia) terlihat sekali pemerintah Malaysia membenci Indonesia. 
maka pandangan rakyatnya terbentuk melalui berita-berita media itu, yang isinya 
tidak jauh dari, Indon Rampok, pekerja seks, dllllllllll. SETIAP HARINYA!!!! 
Tidak berdasarkan FAKta HANYA DUGAAN, Contoh, jika terjadi kriminalitas 
seringkali ada kata-kata "diduga orang indon". Padahal baru dugaan, dan katanya 
mirip orang Indon, emangnya kita bukan dari ras Melayu?? Gimana bedainnya???
 
Selain itu rakyat kita yang datang pada tahun 60-an untuk membantu Malaysia 
membangun kotanya yakni Kuala Lumpur, kini banyak yang stateless. Mereka yang 
diterima dengan tangan terbuka tanpa dokumen, diberikan SAP, surat akuan paspor 
dan diberikan IC merah tapi banyak yang meminta kewarganegaraan ditolak. 
Setelah Malaysia maju, mereka semua yang memiliki IC merah, bisa memperpanjang 
ICnya jika memiliki paspor (BUKAN SAP), Lantas bagaimana bisa, mereka sudah 
diberikan SAP, sudah lebih dari 5 tahun tidak memiliki paspor di luarnegeri, 
maka kewarganegaraan Indonesianya telah hilang, tidak bisa bikin paspor 
Indonesia lagi, dan Malaysia menuntut mereka harus memiliki paspor untuk 
memperpanjang IC. Bukankah itu tindakan yang luarbiasa jahat dari pemerintah 
MALAYSIA?? Setelah mereka membantu Malaysia membangun???
 
Selain itu seringkali saya mengalami kejadian aneh. Bagi anak-anak TKI  jika 
ingin bersekolah di sekolah Malaysia harus mengisi formulir bukan warganegara. 
Lucunya ini juga sering terjadi bagi anak-anak TKI yang telah memiliki 
kewarganegaraan Malaysia. Mereka disuruh mengisi formulir bukan warganegara dan 
meminta surat dari kedutaan yang menyatakan mereka warganegara Indonesia, 
padahal mereka berpaspor merah. Sering saya tekankan pada orang tuanya bahwa 
anaknya itu warganegara, prosedurnya harus sama dengan warganegara lainnya. 
Saya suuruh gurunya membaca formulir itu, sambil saya garis bawahi tulisan 
FORMULIR BUKAN WARGANEGARA. Kata mereka, mereka telah mempertanyakan itu pada 
pihak sekolah, tetapi yang ada dimarahi dan disuruh ikuti prosedur. ANEH!!!! 
GAk bisa baca apa emang jahat banget sih!!!
 
Hmm saya rasanya belum cukup menceritakan hal-hal lainnya, yang jelas, kenali 
dululah sebelum memutuskan sayang, atau benci, suka atau tidak. Kalo hanya 
jalan-jalan, sekali-sekali datang, hanya tinggal di singapur atau tinggal di 
thailand kek dan punya temen banyak di Malaysia, jangan dulu ngomong sebelum 
tinggal disini. Saya juga punya banyak temen Malaysia, mereka kalo person to 
person emang oke banget, tapi kalo soal kerjaan..ck. .ck,,,ck, ,,gw bingung kok 
bisa maju.


      
____________________________________________________________________________________
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the 
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/ 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke