Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
In memoriam :
Soedjinah, pimpinan Gerwani
dan pendukung Bung Karno
Berikut di bawah adalah sekelumit dari riwayat hidup Soedjinah, seorang
wanita Indonesia yang dalam hidupnya dari sejak muda belia sudah ikut dalam
perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia, yang kemudian menjadi
pimpinan organisasi wanita yang terbesar di Indonesia, Gerwani. Soedjinah
dipenjara selama belasan tahun oleh rezim militer Orde Baru setelah
ditangkap dalam tahun 1967 karena ia aktif melakukan kegiatan-kegiatan
bersama sejumlah kawan-kawannya dalam gerakan PKPS (Pendukung Komando
Presiden Sukarno).
Soedjinah, yang pernah beberapa tahun mewakili gerakan wanita Indonesia
dalam Gabungan Wanita Demokratik Sedunia (GWDS) dan ikut dalam berbagai
konferensi internasional, telah mengalami bermacam-macam siksaan selama
dalam tahanan militer, seperti halnya banyak wanita lainnya yang pernah
ditahan atau dipenjarakan selama bertahun-tahun oleh rezim Suharto dkk.
Dengan menyimak sejenak riwayat hidupnya, yang berupa wawancara dengan HD
Haryo Sasongko (editor buku "Terempas Gelombang Pasang" karya Soedjinah,
terbitan ISAI) maka kita semua ingat kembali kepada kekejaman dan
kesewenang-wenangan rezim Suharto terhadap orang-orang kiri, termasuk
anggota dan simpatisan PKI dan pendukung Presiden Sukarno.
Riwayat hidup Soedjinah, yang menggambarkan bagaimana ia telah berjuang
untuk bangsa, dan khususnya untuk kebangkitan dan kebebasan wanita
Indonesia, perlu diketahui oleh banyak orang, terutama generasi muda dewasa
ini dan di masa-masa yang akan datang.. Selain itu, penyajian secara singkat
kisah hiduppnya ini juga untuk mengingat kembali betapa besar kekejaman
rezim militer Suharto dkk terhadap ratusan ribu -- bahkan jutaan --
orang-orang yang tidak bersalah apa-apa.
Soedjinah, yang di harituanya sampai wafatnya -- terpaksa tinggal di
sebuah rumah jompo di Jakarta, hanyalah seorang dari begitu banyak
kader-kader, aktifis, dan pimpinan Gerwani, yang telah dipersekusi di
seluruh Indonesia. Sekarang ini masih banyak di antara mereka yang tetap
terus mengalami berbagai penderitaan sebagai eks-tapol.
Mengingat itu semualah maka berikut ini disajikan wawancara dengan
Soedjinah, yang dilakukan oleh HD Haryo Sasongko dalam bulan Desember 2000,
yang selengkapnya adalah sebagai berikut.
1.. Umar Said
* * * *
Tanggal 6 September 2007, SOEDJINAH telah meninggal dunia. Untuk mengenang
wafatnya tokoh wanita yang pernah terlibat dalam perjuangan fisik di masa
revolusi kemerdekaan dan perjuangan politik di masa prakemerdekaan, namun
nasib dirinya sendiri tidak merdeka sampai di akhir hidupnya, berikut
dikutip kembali sinopsis wawancara dengan SOEDJINAH, diangkat dari kumpulan
dokumen tentang Korban Tragedi '65. Karena wawancara dilakukan pada tahun
2000, jadi tidak mencakup kisah SOEDJINAH ketika masuk ke rumah Jompo.
Semoga ada manfaatnya. (HD. Haryo Sasongko)
« Menyaksikan dan merasakan hidup terjajah, Soedjinah terpanggil untuk ikut
bergerilya membantu Tentara Pelajar dan laskar-laskar lainnya yang berniat
mengusir penjajah. Karena tak tahan melihat darah, dia memilih sebagai
kurir. Selama Perang Kemerdekaan dia tak pernah absen, baik dalam menghadapi
Clash I atau Clash II. Usai penyerahan kedaulatan barulah dia kembali ke
sekolah, kuliah dan kemudian aktif di Pemuda Rakyat serta Gerwani. Dari
sana dia kemudian melanglang buana, menghadiri berbagai forum pertemuan
internasional. Namun tragedi 1965 membawanya masuk penjara dan disekap di
sana selama 16 tahun. Toh, di balik terali besi itu, dia terus melanjutkan
perjuangannya. Dia pun menulis pengalaman, puisi dan cerita pendek di kertas
yang dicurinya dari petugas penjara. Kini di masa tuanya, tanpa suami tanpa
anak, Soedjinah memanfaatkan kemampuannya berbahasa Inggris, Belanda dan
Jerman dengan menjadi penerjemah dan memberikan kursus di LSM maupun di
rumah kontrakannya.
Ikut Bergerilya dan Melanglang Buana
Sebagai anak pertama dari seorang Abdi Dalem Kraton Kasunanan Sala yang
lahir pada tahun 1929 ini, Soedjinah mendapat kesempatan mengecap
pendidikan HIS selama tujuh tahun sampai tamat yang kala itu sebenarnya
hanya terbuka bagi keluarga orang-orang Belanda atau keluarga bangsawan
saja. Hal itu terjadi karena Soedjinah didekati oleh seorang putera
Mangkubumi. Karena itu pula Soedjinah sudah menguasai bahasa Belanda sejak
masa kanak-kanak. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di MULO, namun kali
ini tidak sampai tamat karena baru menginjak tahun pertama Jepang datang.
Sehingga Soedjinah harus melanjutkan pendidikan di sekolah Jepang selama
tiga tahun dan selesai di masa penjajahan Jepang.
Ketika itu Soedjinah mulai merasakan perlakuan penjajah Belanda maupun
Jepang yang sama-sama merendahkan bangsanya. Mula-mula dia harus memberi
hormat terhadap orang-orang Belanda dan kemudian terhadap orang-orang
Jepang. Sementara orang-orang pribumi tetap menjadi warga kelas tiga pada
strata yang paling bawah. Lebih-lebih Soedjinah sangat sakit hati karena
ketika itu dengan alasan untuk biaya perang Jepang menyita harta benda
milik rakyat pribumi seperti emas atau berlian sambil melakukan pemerasan
serta pelecehan seksual terhadap kaum wanita.
Karena itu sejak Proklamasi Kemerdekaan Soedjinah menyambut gembira
dengan ikut serta di badan-badan perjuangan. Pada masa perang kemerdekaan
berkecamuk, Soedjinah pada tahun 1946-47 (Clash I) masuk dalam Barisan
Penolong sebagai kurir dan membantu logistik dapur umum di tengah medan
pertempuran yang terjadi antara lain di daerah Ampel dekat Salatiga hingga
Tengaran dekat Semarang. Dia bergaul akrab dengan para laskar pejuang muda
yang kebanyakan dari TP (Tentara Pelajar), antara lain dipimpin oleh Achmadi
yang di kemudian hari menjadi seorang menteri pada masa pemerintahan Bung
Karno.
Pada Clash II yang berlangsung hingga tahun 1949, Soedjinah juga ikut
aktif bergerilya bersama tentara dan TP sampai di Bekonang dan tempat
tempat lain. Salah seorang pimpinannya yang masih diingat Soedjinah ialah
Soebroto yang di kemudian hari juga menjadi menteri. Ketika itu Soedjinah
berperan sebagai kurir antar pasukan gerilya yang berada di desa dan di
perkotaan. Siang malam harus jalan kaki menyusup di pedesaan untuk
menghindari patroli Belanda.
Tahun 1950 ketika terjadi cease fire, Soedjinah kembali ke kota (Sala)
untuk melanjutkan sekolah sampai dapat menyelesaikan SMAnya di Yogyakarta
pada tahun 1952. Ketika itu Soedjinah pernah mendapatkan beasiswa untuk 5
tahun. Dia manfaatkan beasiswa itu untuk masuk ke Universitas Gajah Mada di
fakultas sosial politik yang sayangnya hanya sampai tiga tahun saja karena
beasiswa sudah tidak ada lagi. Selanjutnya Soedjinah aktif di Pesindo yang
di kemudian hari menjadi Pemuda Rakyat dan juga di Gerwis yang di kemudian
hari menjelma menjadi Gerwani. Bahkan ketika Gerwis menyelenggarakan
Konferensi Nasionalnya yang pertama di Surabaya pada tahun 1951, Soedjinah
sudah ikut serta di mana ketika itu juga ada SK Trimurti sebagai salah
seorang ketuanya. Pada masa itu di samping Gerwis juga sudah ada organisasi
wanita Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sudah berdiri
sejak 1946 dan Aisyiyah dari Masyumi. Sejak Konferensi Nasional yang pertama
itu, Gerwis sudah menjadi anggota Gabungan Wanita Demokratis Sedunia.
Dalam Kongres Gerwis di Jakarta pada 1954, barulah namanya berubah
menjadi Gerwani dan sekretariatnya pun pindah dari Surabaya ke Jakarta
dengan Ketua Umum Umi Sardjono. Sejak itu pula Gerwani mengembangkan
sayapnya dan jumlah keanggotaannya terus meningkat di seluruh Indonesia.
Soedjinah semakin aktif di organisasi ini. Aksi-aksi menentang kenaikan
harga bahan pokok, pemerkosaan dan pelecehan seksual menjadi salah satu tema
perjuangan Gerwani yang banyak menarik simpati masyarakat wanita, sehingga
sebelum pecahnya tragedi 1965, Gerwani merupakan organisasi wanita terbesar
di Indonesia.
Ketika pada tahun 1955 diselenggarakan Festival Pemuda Sedunia di Praha
Chekoslovakia, Soedjinah mengikutinya sebagai wakil dari Pemuda Rakyat.
Seusai Festival, Soedjinah mendapat tugas dari Gerwani untuk bekerja di
Sekretariat Gabungan Wanita Demokratis Sedunia yang berkedudukan di Berlin
Timur selama dua setengah tahun. Di sinilah puteri Abdi Dalem Keraton
Kasunanan Sala ini medapat banyak pengalaman dalam pergaulan dengan
wakil-wakil gerakan wanita berbagai negara, baik dari AS, negara-negara
Eropa Barat, Timur, Australia, Afrika maupun sesama negara-negara di Asia.
Ketika itu wanita Asia yang mengikuti kegiatan kewanitaan di forum
internasional baru dari India, China dan Indonesia. Selama aktif bekerja di
Berlin Timur itu, Soedjinah mendapat kesempatan pula untuk memperdalam
pengetahuan dalam bahasa Inggris dan Jerman yang dilakukannya seusai tugas
kantor.
Dari Gerakan Wanita Demokratis Sedunia itu pula Soedjinah kemudian
mendapat tugas melanglang buana dengan mengikuti kongres-kongres di Eropa
seperti di Prancis, Denmark, Italia, Austria, Finlandia, Yugoslavia, Swedia
dan juga Uni Soviet dan China. Tahun 1957 Soedjinah baru kembali ke
Indonesia dan banyak membuat karya-karya jurnalistik berupa laporan
perjalanan yang pernah dilakukannya di berbagai suratkabar, di samping
menjadi penerjemah untuk bahasa Inggris, Belanda dan Jerman bagi tamu-tamu
asing yang mengunjungi sekretariat Gerwani. Di samping karya-karya
jurnalistik, untuk menambah pendapatan guna menopang biaya hidup (karena
dana dari organisasi tidak mungkin mencukupi), Soedjinah juga membuat
karya-karya sastra dengan menulis cerita pendek, esai atau puisi dan dimuat
di berbagai media.
Tahun 1963 Soedjinah aktif sebagai penerjemah untuk perwakilan kantor
berita asing di Indonesia, antara lain Pravda (Uni Soviet) di samping dia
sendiri aktif menulis pemberitaan di suratkabar dalam negeri. Karena itu
Soedjinah sering juga keluar masuk Istana Merdeka dan bertemu tokoh-tokoh
nasional. Ketika diselenggarakan Kongres Buruh Wanita Internasional di
Rumania, Soedjinah ditunjuk oleh pimpinan Sobsi sebagai penerjemah untuk
delegasi Gerwani Indonesia. Selanjutnya mendapat undangan untuk mengunjungi
China.
Haappp ... Lalu Ditangkap
Aktivitasnya di DPP Gerwani di Bagian Penerangan dan Penerjemahan,
membuat dia harus sering tidur di kantor. Sampai kemudian, terjadilah
Peristiwa Gestapu dan dirinya bersama kawan-kawan lainnya ditangkap dalam
suatu penggerebegan yang dilakukan oleh suatu aparat keamanan. Padahal,
semua personil Gerwani sedang sibuk menyiapkan suatu acara, sehingga mereka
kaget ketika di siang hari tanggal 1 Oktober 1965 mendengar warta berita
tentang telah terjadinya peristiwa pembunuhan sejumlah jenderal di Lubang
Buaya dan juga tentang telah dibentuknya Dewan Revolusi untuk menggagalkan
rencana kudeta Dewan Jenderal. Mereka benar-benar tak tahu menahu tentang
hal itu. Konsentrasi mereka masih pada rencana penyelenggaraan Kongres
Gerwani. Terdorong keingintahuannya, Soedjinah pada hari itu pergi ke kantor
CC PKI dan ternyata kantor itu sudah dirusak massa. Soedjinah tak mau
kembali ke kantor DPP Gerwani, tetapi juga tak pulang ke rumah tempat
tinggalnya. Dia pilih berkeliling menyelinap dari tempat ke tempat untuk
mencari informasi lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dan informasi memang terus mengalir. Penangkapan-penangkapan telah
terjadi atas diri para tokoh Gerwani. Rumah yang ditempati Soedjinah dan
dalam keadaan sudah dikosongkan, juga kantor DPP Gerwani itu sendiri,
ternyata sudah dijarah. Dia menginap dari satu tempat ke lain tempat secara
sembunyi-sembunyi di rumah kenalan atau saudara. Tak pernah ada tempat yang
diinapinya sampai tiga malam berturut-turut. Pernah juga dia tinggal di
rumah mantan Kolonel Suwondo dari Divisi Brawijaya yang dikenalnya sebagai
pendukung Bung Karno.
Di tengah situasi politik yang memanas, Soedjinah bersama sejumlah
kawannya yang sehaluan dalam mendukung Bung Karno sempat membuat buletin
bernama PKPS (Pendukung Komando Presiden Soekarno). Ketika itu Soeharto
sudah mencium adanya kegiatan tersebut dan siapa yang terbukti sebagai
pendukung Soekarno ditangkap. Selama dua tahunan, Soedjinah terus
bergerilya sambil menyebarkan buletin ini ke tengah masyarakat. Termasuk
ke kedutaan-kedutaan negara asing. Sampai akhirnya dia tertangkap pada 17
Februari 1967 di rumah seorang kawan (yang juga ikut ditangkap) di daerah
Pasar Minggu Jakarta Selatan.
Soedjinah dibawa ke suatu tempat mungkin sebuah sekolah tionghoa di
daerah Pintu Besi yang dijadikan semacam posko di Gunung Sahari Jakarta
Pusat - oleh petugas keamanan yang menangkapnya dan mulailah dia menyaksikan
bahkan mengalami sendiri berbagai bentuk penyiksaan yang amat kejam bahkan
banyak tahanan yang sampai mati dalam penyiksaan. Dia sendiri (seperti
kawan-kawan lainnya yang sama-sama tertangkap, antara lain Soelami, Soeharti
dan Sri Ambar) ditelanjangi dan dipukuli dengan rotan oleh delapan orang
tentara berbaju loreng. Seorang di antaranya, Letkol Acep, pimpinan di posko
tersebut, konon pernah dididik oleh CIA. Ketika kelihatan Soedjinah hampir
mati - dan dia memang pura-pura mati - barulah seorang tentara melerai agar
penyiksaan dihentikan sehingga tahanan dapat dibawa ke pengadilan. Padahal
di bagian belakang halaman gedung tempat penyiksaan itu sudah digali
lubang-lubang untuk mengubur mayat mereka yang mati disiksa.
Soedjinah bersama tiga kawannya yang tidak sampai mati dalam penyiksaan
itu akhirnya dibawa ke tempat lain secara berpindah-pindah hingga lima kali
(yang masih diingat, Kodam Jayakarta, kantor CPM Guntur), untuk kemudian
ditahan di Penjara Wanita Bukitduri guna diajukan ke pengadilan karena
terbukti menerbitkan PKPS. Karena dianggap sebagai orang berbahaya, maka
Soedjinah dimasukkan ke sel khusus untuk diisolasi. Di Bukitduri inilah
Soedjinah bertemu dengan banyak kawan-kawan sesama Gewani, baik tingkat
pimpinan, aktivis hingga anggota biasa dan simpatisan.
Di tempat ini pula dia bertemu dengan anak-anak perempuan muda yang
ditangkap di Lubang Buaya. Mereka berusia sekitar 14 tahunan sehingga dapat
dipastikan bukanlah anggota Gerwani, karena batas minimal usia agar bisa
menjadi anggota Gerwani adalah 18 tahun. Dari merekalah Soedjinah mendapat
kepastian bahwa tidak ada adegan mencungkil mata apalagi memotong alat
kelamin para jenderal. Mereka di sana karena ikut latihan sukarelawan
Dwikora dari Pemuda Rakyat dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia.
Merekalah yang ketika ditangkap malah diperkosa oleh aparat yang
menangkapnya dan dipaksa untuk mengaku sebagai anggota Gerwani. Di antara
mereka yang menghadapi pemaksaan dan penyiksaan itu ada yang bernama Emi -
adalah pelacur muda yang masih buta huruf, dan baru saja bebas dari Penjara
Bukitduri sebulan sebelumnya akibat kasus kriminal.
Di sel isolasi khususnya, Soedjinah tidak dapat berkomunikasi dengan
siapa pun karena tertutup rapat dan hanya ada lubang kecil untuk bernafas.
Sehari hanya diberi kesempatan keluar untuk angin-angin selama satu jam
dengan penjagaan ketat. Makanan hanya diberikan sekali sehari sekitar dua
sendok nasi saja atau jagung rebus sekitar 40-60 butir. Bila ada kesempatan
keluar sebentar, dia makan daun apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup
rasa laparnya Dia diisolasi penuh di tempat ini selama 8 tahun, untuk
selanjutnya dipisah di sel isolasi untuk tahanan kriminal. Di sel ini
Soedjinah dapat mencuri-curi kesempatan agar bisa berdialog dengan tahanan
kriminal dan mendapatkan banyak informasi dari mereka tentang kenapa mereka
ditahan dan bagaimana pula perlakuan aparat penguasa terhadap tahanan
politik maupun tahanan kriminal selama di dalam selnya.
Sementara itu pemeriksaan atas dirinya masih berjalan terus. Di antara
mereka yang melakukan pemeriksaan itu adalah bekas teman sekolah Soedjinah.
Ketika kemudian diajukan ke depan pengadilan di Pengadilan Jakarta Pusat
pada tahun 1975 (hanya empat orang anggota Gerwani yang ketika itu diajukan
ke depan pengadilan, yakni Soedjinah, Soelami, Soeharti dan Sri Ambar karena
terbukti menyebarkan buletin PKPS dan nyata-nyata menentang rezim
Soeharto-Nasution), seorang hakim yang mengadilinya adalah teman kuliahnya
ketika di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Hakim itu keponakan SK
Trimurti masih mengenal baik siapa Soedjinah - ketika itu menjadi terdakwa
II - yang kemudian divonisnya dengan hukuman 18 tahun. Vonis ini tidak
berubah ketika Soedjinah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Sesama
aktivis Gerwani lainnya yang juga mendekam di Penjara Bukitduri, seperti
Tanti Aidit, Ny. Mudigdo dan Umi Sardjono - semua pimpinan Gerwani - yang
bertemu dengan Soedjinah tidak ada yang diadili karena tidak ada bukti
apa-apa yang dapat diajukan ke depan pengadilan kecuali sebagai aktivis
Gerwani itu saja.
Sekitar tahun 1980, dari Penjara Wanita Bukitduri Soedjinah dipindahkan
ke Penjara Tangerang. Di tempat inilah dia mendapatkan kesempatan untuk
menuliskan semua yang dialaminya selama di Penjara Bukitduri, termasuk
pengakuan sesama tahanan para gadis remaja yang tertangkap di Lubang Buaya
dan dipaksa mengaku sebagai anggota Gerwani itu di kertas-kertas yang
dicurinya. Ketika itu, karena mempunyai kemampuan melukis, Soedjinah diberi
tugas membuat disain untuk kain bordir yang akan dikerjakan sesama tahanan
wanita. Sebagai disainer tentu saja dia membutuhkan kertas dan pensil. Dan
inilah memang yang sesungguhnya dia cari. Sebagian kecil dari kertas yang
disediakan petugas penjara itu dia curi, disembunyikan, yang kemudian
dipakai untuk menuliskan catatan-catatan tentang pengalaman sesama tahanan,
juga puisi bahkan cerita pendek. Catatan yang ditulis di toilet di dalam
selnya ini kemudian diselundupkan lewat seorang wartawan dari Harian Sinar
Harapan (kini Suara Pembaruan) yang menyaru sebagai arsitek dan tukang
bangunan sehingga bisa sering datang mendekatinya. Tulisan yang dikumpulkan
oleh si wartawan itulah yang di kemudian hari diserahkan kembali kepada
Soedjinah sesudah dia bebas dan diterbitkan oleh Lontar sebagai buku.
Di penjara Tangerang, Soedjinah memang sedikit mendapatkan kebebasan,
tidak dikurung dalam sel lagi. Namun tetap dengan baju biru karena statusnya
masih tetap disamakan dengan tahanan kriminal.Dia banyak memberikan
bimbingan dan pelajaran bahasa Inggris kepada para tahanan kriminal sehingga
mereka memanggilnya mamie kepada Soedjinah. Tahun 1983 dia baru dibebaskan
sehingga dia total menjalani hidup di belakang terali besi selama 16 tahun
dari 18 tahun yang harus dijalaninya. Di luar penjara, tidak berarti dia
benar-benar bebas merdeka. Di samping masih dikenai wajib lapor diri di
Kodim Jakarta Selatan sampai 1997, KTPnya juga diberi stigma ET sampai 14
tahun kemudian dan tanda itu baru hilang setelah Soeharto lengser.
Ketika dibebaskan, Soedjinah tinggal di rumah saudaranya Widodo yang
juga pernah mendekam di Pulau Buru yang berada di Gandul. Menyadari
dirinya tak mungkin bisa bekerja di instansi pemerintah berhubung
stigmatisasi pada KTPnya itu, maka untuk menghadapi hari-hari depannya
Soedjinah hanya bisa mengandalkan kegiatan memberikan les bahasa asing untuk
menghidupi dirinya. Dia mengambil sertifikat untuk penerjemah bahasa
Belanda di Erasmushuis selanjutnya dia mengambil sertifikat sebagai guru
bahasa Inggris di LIA. Dengan modal inilah Soedjinah menapaki hari-hari
kebebasannya dalam usia tua sebagai penerjemah dan guru bahasa Inggris di
sejumlah LSM, antara lain Kalyana Mitra dan Solidaritas Perempuan serta
Yasalira yang dikelola oleh Kartini Syahrir.
Beberapa karya terjemahan telah dihasilkan pula, antara lain dari
tulisan Carmel Budiardjo dan sejumlah penulis dari Australia. Kini,
Soedjinah yang pernah mendapatkan Award dari Hawaii University dan Hamlet
Award karena ketekunannya untuk terus menulis meskipun berada di dalam
penjara, tinggal seorang diri di sebuah rumah sewa ukuran kecil yang harus
dibayarnya setiap bulan Rp 125.000,- Di rumah itu pula dia memberikan les
bahasa Inggris untuk beberapa orang sambil terus menulis buku. Agar bisa
lebih konsentrasi dalam menekuni pekerjaannya, dia tak mau repot-repot
memasak dan mencuci pakaian sendiri. Semua diserahkan kepada tetangganya dan
dia tinggal memberikan uang lelah kepada tetangganya itu.
Kini dia sedang menunggu bukunya Terhempas Gelombang Pasang yang
berisi memori pribadinya selama dalam penahanan yang diterbitkan oleh ISAI
dan Mereka yang Tersisih (kumpulan 18 cerpen) yang diterbitkan dalam
bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar. Dengan pengeluaran bulanan sekitar Rp
500.000,- Soedjinah yang beragama Islam dan kini berusia 72 tahun ini masih
bisa menyisakan sedikit uang untuk membantu saudara-saudaranya di Sala yang
mengalami kesulitan mengarungi sisa hidupnya karena identitas mantan tapol
dan stigmatisasi pada KTPnya. Karena sikapnya yang suka menjalin keakraban
dengan tetangga, sejak bebas hingga kini Soedjinah tak pernah mengalami
kesulitan dalam mensosialisasikan diri di lingkungan masyarakatnya. Demikian
juga bila dia sekali waktu pulang ke Sala, kota kelahirannya. Para tetangga
menyambutnya dengan baik , lebih-lebih karena orangtuanya dulu dikenal
sebagai seorang guru mengaji.
* * *
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.6/991 - Release Date: 05/09/2007
14:55
[Non-text portions of this message have been removed]