http://www.antara.co.id/arc/2007/9/9/indonesia-china-bentuk-pokja-keamanan-produk-dan-pangan/

*Indonesia-China Bentuk Pokja Keamanan Produk dan Pangan*

Sydney (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan China sepakat membentuk
kelompok kerja (working group) khusus untuk menangani masalah keamanan
produk dan makanan (product and food safety).

"Tim teknis sudah ke Beijing pada 5-6 September dan sudah disepakati kita
akan membuat `working group`," kata Menteri Perdagangan Mari E Pangestu
kepada wartawan di Hotel Four Seasons, George St, Sydney, Australia, Minggu,
sebelum mengikuti rangkaian kegiatan dalam KTT Forum Kerjasama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC).

Mari E Pangestu menyatakan keyakinannya bahwa dengan adanya kelompok kerja
khusus tersebut masalah keamanan produk dan makanan kedua negara akan dapat
diselesaikan dengan baik.

Menurut dia, kelompok kerja itu akan saling mengonfirmasikan standard
keamanan produk dan makanan masing-masing negara, dan cara mengatasi secara
bersama jika ada masalah terkait hal itu.

Kelompok Kerja tersebut, kata Mendag, sudah mulai berjalan dan akan
dikukuhkan secara resmi oleh kedua negara dengan penandatanganan nota
kesepahaman (MoU) kedua pihak.

"Pada 25 september akan diadakan `joint commission` di Shanghai, China, yang
akan dihadiri oleh saya dan Menteri Perdagangan China untuk menyelesaikan
secara final soal `working group` ini," katanya.

Ketika ditanya mengenai pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan
Presiden China Hu Jintao pada Sabtu (8/9) di Sydney, Mari E Pangestu
mengatakan bahwa pertemuan tersebut berlangsung sangat baik dan menyangkut
perkembangan perdagangan kedua negara yang dinilai baik.

Indonesia, katanya, memiliki target perdagangan dengan China pada 2008
sebesar 20 miliar dolar. "Sekarang saja sudah mencapai 19 miliar dolar AS,
jadi kita anggap target ini akan bisa dicapai sebelum waktunya," katanya.

Pemerintah Indonesia dan China akan terus melakukan kerja sama investasi dan
perdagangan, bahkan, katanya, pada 2010 Indonesia menargetkan volume
perdagangan dengan China mencapai 30 miliar dolar AS.

Senada dengan itu, Menlu Hassan Wirajuda di tempat yang sama mengatakan,
pertemuan Presiden Yudhoyono dan Presiden China Hu Jintao lebih banyak
mengangkat apresiasi tentang hubungan yang terus dibangun kedua pemerintah
di berbagai bidang seperti perdagangan dan energi.

Dalam pertemuan itu, katanya, sama sekali tidak dibicarakan soal isu
keamanan produk dan makanan kedua negara.

"Mungkin cara-cara kita menangani masalah ini dinilai sudah baik, diplomatis
melalui forum yang sudah ada yakni komisi bilateral perdagangan
Indonesia-China. Saya kira memuaskan buat mereka dan buat kita, jadi sama
sekali tidak menyinggung soal itu," katanya. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke