http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0709/20/073934.htm


*"Forestry Eight" Kini 12 Negara Anggota*


JAKARTA, KAMIS - "Forestry 8" (F8), sebuah langkah diplomasi global untuk
menciptakan kerjasama menanggulangi pemanasan global, yang dicetuskan
oleh *Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono*, mendapat tambahan dukungan hingga total menjadi
12 negara.

"Awalnya cuma delapan negara yang menyatakan bersedia bergabung, tapi
sekarang sudah bertambah jadi 12, yaitu dari Meksiko, Peru, Kolombia, dan
Republik Demokratik Kongo," kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat
Witoelar, di Jakarta, Rabu (19/9).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia sangat mendukung
pertambahan anggota F8, karena semakin banyak negara yang bergabung, maka
posisi tawar forum kerjasama ini akan semakin besar.

Sebagai latar belakang, "Forestry 8" telah dibahas di Istana Tapaksiring,
Gianyar, Bali, oleh Presiden Yudhoyono pada 31 Agustus lalu. Setelah
pertemuan berakhir, Jurubicara kepresidenan Dino Patti Jalal menjelaskan
bahwa "Negara yang mempunyai hutan hujan tropis memiliki peranan sangat
strategis, karena sekitar 25 persen dari emisi global berasal dari
negara-negara yang memiliki hutan akibat penggundulan hutan, pembalakan
liar, kebakaran lahan/hutan dan sebagainya."

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan hujan tropis di dunia merasa
terpanggil untuk melakukan suatu inisiatif, yaitu mengadakan suatu pertemuan
antara negara-negara hutan hujan tropis pada bulan September di New York,
kata Dino.

"Negara-negara yang akan kita prioritaskan, yaitu negara-negara yang berada
10 derajat di utara Khatulistiwa dan 10 derajat di selatan garis
Khatulistiwa. Ini secara fisik adalah negara-negara yang mempunyai hutan
hujan tropis," katanya melanjutkan.

Dengan bergabungnya empat negara tadi, total negara pemilik hutan hujan
tropis yang bersepakat akan melestarikan hutannya adalah 12 negara (F12);
Indonesia, Brasil, Kosta Rika, Kamerun, Kolombia, Gabon, Malaysia, Kongo,
Republik Demokratik Kongo, Meksiko, Papua Nugini, dan Peru.

"Posisi tawar negara-negara pemilik hutan tropis akan semakin besar dalam
program UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change). Kita
akan lebih mungkin mengajukan suatu usulan karena posisi kita lebih kuat
secara bersama-sama," kata Rachmat.

Masih menurut Rachmat, forum yang diperkirakan masih bertambah anggotanya
ini akan menjadi ajang berbagi kemampuan dan kapasitas dalam upaya
melestarikan hutan sebagai penyelamat terakhir dunia dari perubahan iklim.
"Masing-masing negara anggota akan mentransfer kemampuan dan kelebihan
mereka," kata Rachmat.

Ketika ditanya adakah target jumlah negara yang diharapkan menyokong usulan
Indonesia ini, menteri menjawab, "Tidak ada target."

KTT khusus

Presiden Yudhoyono sendiri dijadwalkan akan memimpin Pertemuan Khusus
Tingkat Tinggi Negara-negara Pemilik Hutan Hujan Tropis di Markas Besar PBB,
di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2007 mendatang.

"Pertemuan ini bertujuan salah satunya untuk meningkatkan posisi tawar dalam
Konferensi para Pihak ke-13 (COP-13) di Bali, Desember mendatang," kata
Rachmat menegaskan. Negara-negara yang bergabung dalam gagasan Indonesia itu
juga akan mengajukan skema mencegah deforestasi melalui langkah-langkah
konservasi hutan seperti hutan lindung.

Menurut rencana, seusai pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB negara F12
akan mengeluarkan beberapa pernyataan bersama terkait dengan upaya serta
desakan mereka dalam hal pelestarian hutan dunia.


Sumber: Antara
Penulis: Wah


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke