DARAH MEMBASAHI JUBAH MERAH


Junta militer menumpas demonstrasi yang digerakkan biksu. Bagaimana 
posisi biksu
dalam peta politik Burma?



Fajar belum mekar. Belasan biksu tampak tengah menata
mangkuk-mangkuk derma di dalam biara Ngwe Kyar Yan di pinggir kota 
Yangoon - dulu bernama Rangoon, ibu kota Burma. Sudah dua pecan ini 
mereka tak mengetuk daun pintu rumah warga setiap pagi untuk 
menerima sedekah. Mangkuk-mangkuk itu disusun menelungkup. Ini 
merupakan tanda: kini bukan saat yang tepat untuk menerima derma. 
Kini saatnya para biksu turun ke jalan menentang junta militer
Burma.

Suara derum truk-truk militer tiba-tiba membuyarkan kekhidmatan
kerja para biksu di kamis subuh pecan itu. Mereka menabrak ke dalam 
biara.
Mereka menabrakkan truk ke gerbang biara, menghancurkan jendela dan 
semua perabotan. Sejenak kemudian gas air mata terbang. "Ketika para 
biksu melawan, mereka memukuli dan bahkan menembak biksu," kata 
seorang biksu di biara itu.

Selanjutnya dunia tahu, darah para biksu telah tumpah di Burma.
Inilah babak paling genting dari negeri yang dipimpin oleh Jendral 
Than Shwe itu. Bukan Cuma biara Ngwe Kyar Yan, ratusan biara lain 
juga diserbu. Tuduhannya, biara telah dipakai sebagai sarang 
demonstran dan aksi maker. Demonstrasi-demonstrasi dibubarkan dengan 
senjata. 

Lima biksu, sembilan demonstran dan seorang wartawan Jepang tewas-
ini data versi pemerintah sampai kamis lalu. Ratusan lainnya terluka.

Di biara Ngwe Kyar Yan, 100 dari 150 biksu ditangkap. Sekitar 1500
orang pendukung yang berkerumun di luar biara dibubarkan. Seorang 
pendeta memprediksi situasi akan terus memburuk seperti pada 1988, 
karena junta bertindak semakin keras. Sembilan tahun silam itu, 
pasukan junta membantai 3000 demonstran yang memprotes mereka.

Selama sebulan ini para biksu menjadi sentral gerakan demonstrasi di
negeri mayoritas beragama Buddha tersebut. Mereka turun ke jalan 
memprotes junta militer yang berkuasa sejak 1962 dengan penuh 
terror. Mereka melakukan nya dengan menghamparkan keheningan di 
jalanan. Tak ada teriakan, tak ada yang bicara. Hanya nyanyian metta 
sutta, kata-kata Buddha untuk cinta kasih, yang terdengar "saya tak 
suka pemerintah. Mereka sangat kejam dan Negara kami penuh
dengan kesulitan,"ujar seorang biksu berusia 20 tahun, memberikan 
alasan.

Sejak aksi biksu digelar, puluhan ribu biksu dan belakangan
bergabung juga para biksuni, memerahkan jalanan di berbagai kota. 
Mereka bergerak dari Pagoda Shwedagin, sebuah tempat paling suci 
menuju Pagoda Sule. Sepuluh ribu biksu di kota terbesar kedua, 
Mandalay - 80 persen biksu Burma ada di kota ini - juga turun 
gunung. Begitu pula di kota-kota lain, seperti Sittwa dan Bago.

Warga sipil ikut memagari aksi para biksu itu. Mereka bergandengan
di sisi kanan dan kiri barisan biksu yang berdemo dalam kebisuan. 
Beberapa dari demonstran memegang poster bertulisan "Rekonsiliasi 
Nasional" dan "Bebaskan tahan politik". "Jalanan penuh,"ujar seorang 
saksi mata.

Pada mulanya aksi "anak-anak Buddha" itu bertujuan memprotes
kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan baker hingga 500 
persen. Belakangan, isu bergeser ke pembebasan tahanan politik dan 
reformasi. Kata "demokrasi" pun mulai terdengar.

Para anggota parlemen Liga Nasional untuk Demokrasi yang terpilij
dalam pemilu 1990 juga melibatkan diri. Para selebritas dan 
budayawan terkenal memasok minuman dan makanan bagi para 
biksu. "Kita harus melakukan apa pun untuk mengurus para biksu. 
Mereka melakukan banyak hal demi rakyat," ujar actor Kyaw
Thu.

Para biksu menyaksikan sulitnya kehidupan masyarakat ketika mereka
mengetuk pintu rumah warga untuk menerima sedekah pada setiap pagi - 
di Burma, para biarawan tidak diperbolehkan memegang uang tunai. 
Harga-harga melambung. Masyarakat hidup dalam ketakutan. "Saya 
bilang ke istri, tinggal di rumah saja lebih menguntungkan daripada 
bekerja/" ujar seorang pensiunan. 
"Saya hanya bisa membeli beras kualitas buruk untuk keluarga. Tak 
lebih dari itu," kata seorang petani.

Inilah yang membikin para biksu tak lagi membisu. Mereka meneruskan
aksi para mahasiswa dan aktivis demokrasi sejak 19 Agustus lalu. 
Ketika itu, 13 aktivis ditangkap dan terancam hukuman 20 tahun 
penjara.

Para biksu di Sittwe, Negara Bagian Arakan memulai turun ke jalan,
disusul daerah-daerah lain. Pada 5 September, tentara menembaki para 
biksu di Pakokku. Geram, biksu menyandera pejabat pemerintah di hari 
berikutnya. Hubungan rezim dan kaum Buddhis yang biasanya adem ayem 
pun memanas.

Biksu mengancam. Bila hingga 17 September pemerintah tak jua minta
maaf, "patam nikkujjana kamma" akan dilakukan. Ini semacam sumpah 
para biksu yang tak akan menerima derma dari para jendral dan 
kerabatnya. "Ini seperti Paus memberi tahu umat Katolik bahwa mereka 
tak lagi Katolik," ucap seorang coordinator Alternative ASEAN 
Network on Burma, Debbie Stothard.

Kata maaf tak kunjung datang, Menteri Urusan Agama, Brigadir Jendral
Thura Myint Maung yang mendatangi biara Baw di Mandine di Pakokku 
tak bersedia meminta maaf "Dia Cuma membicarakan masalah ketegangan 
belakangan ini dan menyerahkan beberapa jubah," ujar seorang biksu.

Maka, meneruskan sumpah itu, dalam aksi di Rangoon dan Madalay,
sebagian biarawan telah membalikkan mangkuk, lambing tak menerima 
sedekah dari para jendral. Ini pula yang dilakukan belasan biksu 
dalam biara Ngwe Kyar Yan yang diserbu pada kamis lalu.

Junta sekali lagi memilih kekuatan bersenjata. Ini membikin
masyarakat internasional bersuara keras. Amerika akan memperketat 
embargonya.
PBB didesak mengeluarkan resolusi. Hanya Cina, sekutu terdekat rezim 
militer, yang tak jelas sikapnya. "Cina selalu mengadopsi kebijakan 
non-intervensi. Sebagai tetangga Burma, Cina berharap bisa 
menyaksikan stabilitas dan pembangunan ekonomi di Myanmar," ujar 
juru bicara kementerian Luar Negeri Jiang Yu.

Tak peduli kebrutalan para tentara, para biksu bertekad tak pantang
surut melawan junta. "Kami memutuskan mengorbankan hidup kami untuk 
rakyat," kata seorang biksu senior.

Dalam sejarah politik Burma, kekuatan para biksu memang tak bisa
diremehkan. Mereka bisa menjadi seperti kekuatan gereja Katolik di 
Filipina - bersama rakyat, menggerakkan people power untuk 
menggulingkan rezim berkuasa. Jika biksu bergerak, rakyat akan 
otomatis berdiri di belakang mereka.

Pada masa perjuangan kemerdakaan dari penjajahan Inggris, para biksu
berada di garda depan. Biksu ternama U Wisara dan U Ottama 
menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun di penjara karena 
perjuangan tak bersenjatanya. U Wisara meninggal di penjara setelah 
166 hari melakukan aksi mogok makan.

Para biarawan ini merupakan kekuatan kedua setalah militer di Burma.
Jumlahnya mencapai sekitar 400 ribu, tersebar di seluruh Negara, tak 
berbeda jauh dengan tentara. Tak mengherankan, rezim selalu berusaha 
menjauhkan biara dari hiruk pikuk politik. Pada 1980, pemerintah 
menyatukan para biksu di State Sangha Maha Nayaka Committee untuk 
memudahkan mengontol mereka.

Banyak biksu senior dan kepala biara menjadi alat pemerintah. Mereka
menerima hujan hadiah dan sumbangan yang sangat besar dari para 
jendral. Mereka lebih banyak diam menyaksikan kekejian penguasa. 
Namun, jumlah para biksu yang kritis tetap lebih banyak.

Pada saat krisis 1988, para pemimpin umat Buddha ini menyeru
pemberontakan damai, menentang rezim yang membasmi gerakan pro 
demokrasi. Rezim pun membantai demonstran. Ribuan orang tewas.

Rezim kian merasa terancam. Mereka memindhkan pusat pemerintahan
dari Rangoon, dengan membangun kota baru di tengah belantara, yang 
didesain dengan tingkat keamanan sangat tinggi, Nay Pyi Taw. Para 
petinggi pemerintah dipaksa pinah, menjauh dari rakyat.

Di masa junta militer, banyak biksu mendapat cap "agitator berjubah
kuning". Seperti ditulis Asiaweek, kepala sebuah biara di pinggiran 
Rangoon, Bhadanta Pannadipa, mengkritik rezim karena menutup kampus. 
Ashin Kunthalabhivamsa, kepala biara di Amarapura, dekat Mandalay, 
mengirim surat kepada seluruh pemimpin, dari mulai jendral Than Shwe 
hingga Ketua Liga Nasional untuk Demokrasi, Aung San Suu Kyi. Ashin 
menulias, "Perang antar pemimpin selama bertahun-tahun membuat kami, 
para biksu, sakit".

Kini, para biksu tal lagi menulis surat. Mereka menghambur ke jalan.
Mereka mnyeru warga sipil bergabung. Mereka melawan. Di sebuah biara 
di pinggiran Rangoon, seorang biksu muda tengah meregangkan otot-
otot lengannya. "Saya siap untuk berjuang," ujar biksu berusia 17 
tahun ini. "Kami semua siap".





History

1988 : Pemerintah junta militer Burma membantai 3000 demostran anti 
pemerintah

1989 : Pemerintah junta mengubah nama Burma menjadi Myanmar

1990 : Partai Liga Nasional pimpinan Aung San Suu Kyi memenangi 
pemilihan
parlemen, tapi tak dizinkan berkuasa. Suu Kyi dikenai tahan rumah.

1992 : Jendral Than Shwe naik ke tampuk kekuasaan

1995 : Suu Kyi dibebaskan

1997 : Myanmar bergabung dengan ASEAN

2003 : Syu Kyi kembali ditahan

2006 : Junta memindahkan ibu kota Negara ke Nay Pyi Taw

2007 - Mei : Penahanan Suu Kyi diperpanjang tanpa batas waktu yang 
jelas

2007 - Agustus : Junta menaikkan harga bahan baker minyak hingga 500 
persen

5 September 2007 : Tentara menembak beberapa biksu dalam demonstrasi 
di Pakokkhu

6-25 September : Puluhan ribu demonstran dipimpin para biksu 
menggelar aksi
damai

26 September : Junta kembali menumpas demonstran dengan senjata.


Kirim email ke