(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
GEMBONG G30S, SYAM KAMARUZAMAN (9)
Oleh: Harsutejo
Telah lama beredar desas-desus, Syam Kamaruzaman, gembong G30S yang
misterius itu masih hidup. Setelah jatuhnya Suharto pada 21 Mei 1998,
desas-desus itu menjadi lebih gencar dalam alam keterbukaan. Bahkan ada yang
mengaku pernah bertemu dengan Syam di Meksiko. Eksekusi 1986 bersama Supono
Marsudijoyo alias Pono boleh jadi benar, tetapi Syam yang lain, begitu
argumennya. Amat menarik, pihak AD telah mengidentifikasi paling tidak 3
(tiga) Syam seperti tersebut di bawah. Selama itu penampilan Syam
berubah-ubah, ia misterius antara lain karena riwayat hidupnya yang tidak
jelas. Konon ia membujang sampai umur 40 tahunan, juga tidak diketahui
bagaimana keluarganya. Nama aslinya ialah Syamsul Qomar bin Mubaidah, dalam
dokumen 1960-an disebut Kamarusaman bin Ahmad Mubaidah. Nama samarannya
Sjamsuddin, Djiman, Karman, Ali Muchtar, Ali Sastra. Nama terakhir ini
tertera di dalam KTP pada saat ditangkap di Cimahi 8 Maret 1967.
Menurut Letkol Ali Said SH, Syam bukan tokoh PKI sepele, ia dapat
disejajarkan dengan DN Aidit. Ia sebagai jendral intel PKI yang menjadi
anggota PKI sejak 1949. Teman-teman dekat Syam ketika muda tidak percaya ia
memiliki kaliber semacam itu. Sejak pindah ke Yogya riwayat yang sebenarnya
menjadi buram. Ada yang mengatakan ia adik kelas Munir (kelak ketua SOBSI)
di Sekolah Dagang. Ada yang mengatakan ia di Taman Siswa karena menjadi
anggota diskusi Kelompok Pathuk 43 yang mayoritasnya dari Taman Siswa.
Menurut Prof Dr Ir Haryosudirjo, mantan menteri masa Bung Karno, Syam
bersekolah di SMT(eknik).
Syam bertindak sebagai intel di Resimen 22 Brigade 10, Divisi Diponegoro
dengan pangkat Letnan Satu, eks Laskar Gabungan Yogya. Begitu komentar
spontan anggota tim Mahmillub, Subono Mantovani SH ketika melihat foto Syam;
di masa Yogya itu Subono Mantovani juga berpangkat letnan satu, sebelumnya
berada dalam satu kelompok Pathuk bersama Letkol Suharto. Komandan
resimennya ketika itu Mayor Haryosudirjo tersebut di atas. Berdasar
pengakuan Syam yang diceritakan kepada Latief, ia berada dalam pasukan
Suharto ketika SU 1 Maret 1949.
Syam seorang pemuda yang mendapatkan arahan Johan Syahruzah, tokoh PSI
di kelompok Pathuk. Para pemuda Pathuk ini yang memprakarsai permintaan agar
Sri Sultan mengajak anggota BKR Suharto untuk berdiplomasi dengan Jepang
guna menyerahkan senjatanya. Di antara para pemuda itu terdapat Sumantoro
dan Syamsul Qamar Mubaidah. Bersama Suharto mereka mendatangi markas Jepang
pada masa kemerdekaan itu. Jadi Suharto telah mengenal Syam sejak permulaan
kemerdekaan Demikian tulis AM Hanafi.
Sekitar 1947 Syam mulai berkenalan dengan DN Aidit yang mengajaknya
untuk aktif di Pemuda Tani, afiliasi BTI. Sebagai intel pada Batalyon 10
Yogya, Lettu Syam di bawah Letkol Suharto. Sejak itu Syam berhubungan dekat
dengan Aidit maupun Suharto. Hubungan persahabatannya dengan Suharto
berjalan selama 20 tahun. Suharto tentu saja tak pernah menyinggung sedikit
pun kalau ia telah mengenal orang misterius yang bernama Syam ini sudah
sejak lama, seolah ia orang yang tak pernah tahu menahu dengan tokoh ini.
Pada tahun 1949 Syam pindah ke Jakarta membantu Munir di BTI. Sekitar 1950
Syam mendirikan SBP(elayaran) dan SBB(ecak) yang bermarkas di Jl Guntur,
Jakarta. Sebagai ketua SBP pada 1950 ia membantu pembebasan Aidit yang baru
datang dari Vietnam [menurut mitos] yang ditahan di Tanjungpriok karena
tidak punya tiket.
Pada tahun 1950-57 ia di SOBSI Jakarta, lalu sebagai sekretaris. Pada 1957
ia diangkat sebagai pembantu pribadi Aidit, Ketua PKI. Dalam setahun ia
masuk kepengurusan sebagai anggota Departemen Organisasi. Ia disebut sebagai
pernah menjadi informan Komisaris Polisi Mudigdo di Pati yang kelak menjadi
mertua Aidit. Barangkali dari sini pulalah Aidit kemudian menjalin hubungan
dekat dengan Syam, serta memberikan kepercayaan besar kepadanya. Peter Dale
Scott menyebut Syam sebagai seorang kader PSI, pada tahun 1950-an ini juga
ia sering datang dan menginap di rumah Suharto di Yogya. Menurut Subandrio,
yang juga Ketua Badan Pusat Intelijen (BPI), pada 1958 Syam perwira
intelijen AD serta mitra lokal CIA. Dengan demikian Syam mempunyai hubungan
tertentu dengan CIA, baik secara langsung atau pun tidak. Ketika Kolonel
Suharto memasuki Seskoad di Bandung, Syam ikut serta dalam kursus militer
itu, demikian menurut penyelidikan Poulgrain. Hubungan mereka begitu rumit.
Kolonel Suwarto dididik di Amerika, ia sahabat Guy Pauker, orang penting CIA
dalam hubungan dengan Indonesia, pernah mengajar di Barkeley, konsultan RAND
Corporation yang menitikberatkan kontak-kontaknya dengan kalangan militer AD
Indonesia. Suwarto pernah diundang Pauker meninjau perusahaan tersebut pada
1962. Pauker mendapat tugas melakukan sapu bersih terhadap PKI. Antara lain
lewat Suwarto lah CIA melakukan operasinya misalnya dengan apa yang disebut
civic mission AD, yang sebenarnya merupakan civic action CIA dalam melakukan
kontak-kontak dengan kelompok anti komunis di kalangan AD. Rupanya lewat
jalur inilah Suharto pertama kali berhubungan dengan CIA.
Berdasar pemeriksaan dokumen-dokumen yang ada di AS, Belanda dan Indonesia,
dalam majalah resmi PSI nama Syam tercantum sebagai Ketua PSI Ranting
Rangkasbitung, Banten. Dalam arsip Belanda Syam tercatat sebagai intel
Recomba Jawa Barat. Recomba merupakan pemerintah federal boneka Belanda,
bisa saja Syam menyelundup menjadi spion untuk mengorek rahasia Belanda,
akan tetapi hal ini aneh. Dalam berbagai koran 1950-an ia disebut sebagai
informan dari Komando Militer Kota (KMK) Jakarta. Sejumlah narasumber
perwira yang menjadi tapol di Salemba menyebutkan Syam pada tahun 1951
tercatat sebagai kader PSI yang mendapatkan pelatihan partai itu di antara
29 kader yang lain.
Syam Sang Agen Ganda?
Pada 1960-an dengan bentuk lebih jelas pada 1964 Syam diangkat menjadi ketua
Biro Chusus (BC), suatu jaringan intelijen PKI yang hanya mempunyai hubungan
langsung dengan Aidit selaku ketua Politbiro CC PKI. Tugas Syam, pertama
mengumpulkan info untuk diolah dan diserahkan kepada Aidit. Kedua, membangun
sel-sel PKI di tubuh ABRI dan membinanya. Tugas Syam yang lain mengadakan
evaluasi dan melaksanakan tugas-tugas yang tak mungkin dilakukan alat-alat
formal PKI. BC mempunyai aparatnya sendiri yang tidak diketahui oleh
pimpinan formal PKI. Ia memberikan laporan, mengolah informasi dan
menyampaikannya kepada Aidit secara langsung. Oleh Aidit bahan-bahan dan
keputusan disodorkan pada Politbiro untuk disetujui dan dilaksanakan.
Menurut orang-orang PKI yang pernah dekat dengan dirinya, ia dengan enteng
mengeluarkan pestol dan meletakkannya di meja jika kehendaknya ditentang.
Menurut seseorang yang mengaku sebagai mantan agen CIA, Suharto mendapat
perhatian cukup dari BC PKI dan dibina melalui Syam, Untung dan Latief.
Dalam hal ini Suharto mendapat kategori sebagai orang yang dapat
dimanfaatkan. Hal ini cocok dengan keterangan Untung dan Latief bahwa
Suharto akan membantu gerakan mereka, dan dibuktikan dengan didatangkannya
Yon 530 dan Yon 454 dalam keadaan siap tempur. Sedang yang lain menamainya
sebagai trio sel PKI.
Pada tahun 1967 majalah Ragi Buana menamai Syam sebagai double agent ia
menjadi informan Kodam Jaya sejak 1955 sampai kudeta 1965. Untuk memperdalam
ilmunya pada 1962 ia dikirim ke RRT, Korea Utara dan Vietnam, termasuk
memperdalam bidang intelijen terutama menyangkut strategi mempersiapkan dan
menggerakkan pemberontakan bersenjata. Di Vietnam ia melakukan pekerjaan
praktek di lapangan. Majalah ini menyebut Syam dan Aidit telah terjebak ke
dalam jaring-jaring spionase Washington, Peking dan Moskow. Sebutan double
agent digunakan koran-koran dan radio termasuk radio Nederland ketika itu,
selanjutnya pers tidak lagi menggunakan istilah tersebut. Rupanya Kopkamtib
kemudian sangat berkeberatan akan penggunaan istilah itu yang dapat
merugikan Jenderal Suharto, lalu melarangnya.
Sebagai Ketua BC PKI, Syam lapor langsung kepada Aidit. Karena Aidit
satu-satunya pimpinan PKI yang membentuk BC serta mengetahui personelnya,
maka BC ini merupakan partai dalam partai dengan Syam sebagai orang
tertingginya. Seperti disebutkan oleh Sudisman, BC dibentuk tanpa
persetujuan CC PKI, dalam hal ini Aidit telah melanggar konstitusi partai.
Dengan demikian BC bukan aparat partai, tetapi aparat Aidit. Di pihak lain
yang mengontrol seluruh struktur aparat dan sepak terjang BC bukan Aidit,
tetapi Syam. Jika Syam seorang agen ganda, maka praktis seluruh struktur BC
merupakan alat dalam kendali musuh PKI.
Peran Syam
Banyak saksi sejarah teman-teman Syam meragukan peran besarnya dalam G30S.
Ia sama sekali tidak memberikan kesan sebagai pemikir, artinya ia sekedar
wayang yang dimainkan oleh dalang mahir di balik layar sejarah. Di Yogya ia
memang pernah berada di lingkungan olah pikir. Kadang-kadang ia datang ke
kelompok diskusi Mahameru I, sebuah rumah di belakang SMA 3 Yogya, kemudian
menjadi kantor PSI. Tempat itu untuk diskusi antara lain Sutan Syahrir dan
HA Salim. Menurut Sumadi Mukajin, Syam dikenal pendiam, tertutup dan
agak
goblok. Sedang Kelompok Pathuk kemudian berkembang menjadi salah satu simpul
terkuat jaringan politik bawah tanah Syahrir. Di situ buku-buku Marx, Adam
Smith, Machiaveli, Gandhi, Lenin dsb menjadi bahan kajian.
Terdapat persamaan modus operandi antara percobaan kudeta 3 Juli 1946 yang
telah menculik PM Syahrir dengan G30S. Mula-mula Letkol Suharto berada dalam
satu kubu dengan atasannya Komandan Divisi Mayjen Sudarsono. Mereka,
termasuk pasukan Suharto menduduki RRI dan Kantor Telepon Yogya pada 2 Juli
1946. Anehnya kemudian Letkol Suharto berbalik menangkap kelompok yang
mencoba melakukan kudeta. Ketika itu Syam sebagai intel Batalion 10 pimpinan
Letkol Suharto. Rupanya G30S merupakan ulangan permainan politik semacam
itu.
Bagaimana sebenarnya hubungan Syam dengan Letkol Untung cs? Menurut Kolonel
Latief, Syam telah memotong jalur atau melakukan intersepsi terhadap pasukan
Lettu Dularip. Ia mengenal Syam sebagai intel pembantu atasannya Letkol
Untung. Ketika Dularip bertanya bagaimana caranya mengajak para jenderal itu
untuk menghadap Presiden Sukarno, maka Syam tegas menjawab dengan mantap,
Tangkap, hidup atau mati. Syam sendiri di Mahmilub menyebutnya sebagai
perintah Aidit, sesuatu yang bertentangan dengan perintah Letkol Untung.
Tidak ada bukti dan alasan apa pun juga yang dapat diketengahkan apa
sebabnya G30S membunuh para jenderal yang diculiknya dalam keadaan terpaksa
meskipun beberapa orang memang melawan. Dengan demikian ini merupakan
skenario aslinya.
Siapakah sebenarnya yang memerintahkan Syam melakukan tindakan semacam itu?
Yang pasti tindakan itu sama sekali tidak menguntungkan gerakan G30S.
Berbagai pengumuman Dewan Revolusi termasuk pembentukan Dewan Revolusi itu
sendiri yang sama sekali tidak menyebut nama Sukarno sangat tidak
menguntungkan baik G30S secara keseluruhan maupun Untung cs dan Aidit.
Dengan telah ditembakmatinya Aidit tanpa diajukan ke pengadilan maka Syam
mempunyai kesempatan untuk memonopoli seluruh keterangan tentang G30S dalam
hubungannya dengan PKI. Hanya Syam sebagai Ketua BC PKI dan Aidit sebagai
Ketua Politbiro PKI yang mengetahui seluk beluk biro tersebut dalam hubungan
dengan peristiwa G30S serta hubungannya dengan sejumlah perwira militer.
Demikianlah keterangan-keterangan Syam dalam persidangan Mahmillub, baik
sebagai terdakwa maupun saksi telah memonopoli fakta-fakta yang seluruhnya
menjurus kepada digiringnya Aidit dan PKI sebagai terdakwa yang sebenarnya,
dengan pion-pionnya Letkol Untung dan kawan-kawannya. Maka Syam bertindak
baik sebagai dirinya maupun sebagai Aidit tanpa secuwil pun keterangan
Aidit.. Nama Syam berada dalam daftar gaji Kodam Jaya. Di Kodam Jaya Syam
berhubungan dengan Latief, di samping hubungannya dengan Kostrad. Agar lebih
meyakinkan maka dalam semua proses kemunculan Syam, ia dilukiskan sebagai
seorang komunis sejati yang amat dekat dengan Ketua Aidit. Syam selalu
mengakui dia yang memberikan perintah, dan perintah itu semuanya berasal
dari Aidit. Pendeknya Aidit merupakan dalang seluruh peristiwa. Ia toh tidak
akan membantahnya dari kubur.
Begitu Syam mempunyai kesempatan bicara, ia begitu bernafsu menceritakan apa
saja yang ia ketahui tentang G30S. Di pengadilan ia menyombongkan dirinya
sebagai otak di belakang gerakan. Buku Putih menyebutkan salah satu
pekerjaan Syam melakukan penyusupan ke tubuh Angkatan Bersenjata dan
melakukan apa yang disebut pembinaan. Dalam kenyataannya ia telah melakukan
pembinasaan, bukan pembinaan terhadap sejumlah besar personel ABRI yang
berhaluan kiri dan pendukung BK. Rupanya ia memang mempunyai misi melakukan
infiltrasi ke tubuh ABRI untuk mencari tahu dan mengidentifikasi siapa-siapa
yang termasuk 30% personel simpatisan PKI yang telah mencoblos palu-arit
dalam pemilu 1955, untuk didepak, dihukum dan dilenyapkan sebagai kelanjutan
rasionalisasi yang tak tuntas masa pemerintahan Hatta. Dengan demikian ia
membentuk BC sebagai partai dalam partai dengan pola yang sama seperti yang
dilakukan AD yakni negara dalam negara. Demikian analisis MR Siregar tentang
peran besar Syam bagi PKI.
Seluruh pengakuan dan pengakuan serta tindakan Syam tidak secuwil pun
merupakan pembelaan terhadap PKI atau Aidit. Sebaliknya ia terus menerus
mendiskreditkannya. Dengan demikian ia tidak bekerja untuk PKI atau Aidit.
Maka tidak aneh jika banyak orang termasuk para pengamat dan pakar
mempertanyakan orang misterius ini, dan untuk siapa ia bekerja. Seluruh
proses Mahmillub diarahkan untuk menggiring pembenaran tuduhan terhadap PKI
serta menjeratnya dari segi hukum, sedang di lapangan dilakukan pembantaian
tanpa ampun. Dengan demikian seolah segalanya dilandasi hukum.
Kegiatan Setelah Gagal
Berbeda dengan tokoh PKI lain yang terus terbaca gerak geriknya selama buron
seperti ditulis Buku Putih, tampaknya buku ini kesulitan menjelaskan sepak
terjang Syam di Jawa Barat sebelum ditangkap pada tahun 1967. Bersama itu
intelijen militer mampu mengikuti terus kegiatan bawahtanah pimpinan PKI
kecuali Syam. Begitu hebatkah jenderal intel PKI ini berkelit bagaikan
siluman hingga kegiatannya tidak terdeteksi?
Baru saja didemonstrasikan betapa konyol dan cerobohnya rancangan dan
jalannya peristiwa G30S, sejak dari penculikan, eksekusi para jenderal dan
pengumuman-pengumuman RRI Jakarta atas nama Letkol Untung dengan Dewan
Revolusinya, buruknya logistik dsb. Seperti disebut Jenderal Nasution,
mereka tidak membuat rencana alternatif, dan ini berarti secara strategis
sudah suatu kegagalan. Selanjutnya ketika komandan kontrol G30S menghubungi
tiga sektor yang telah mereka bentuk, sebagai disebut Brigjen Suparjo,
semuanya kosong. Bukankah ini salah satu indikasi kuat Syam sebenarnya
berada di kubu lain yakni kubu Jenderal Suharto, yang kegiatan sebenarnya
juga untuk sang jenderal? Dia sendiri yang melakukan sabotase terhadap
gerakan yang dikendalikannya. Gerakan ini dirancang untuk gagal. Maka Latief
berkeyakinan Syam tidaklah bertindak atas nama pribadi, dan yang dituding
olehnya tak lain daripada Jenderal Suharto.
Betapa rumitnya hubungan Syam yang konon pernah mengenyam pendidikan
intelijen di Vietnam, Korea Utara dan Cina ini, sekaligus juga pendidikan
Seskoad. Dunia intelijen memang selalu ruwet tidak sederhana, berliku-liku,
terbuka untuk segala hal dan kemungkinan yang paling kontradiktif pun serta
hampir-hampir mokal, tetapi tertutup rapat bagi dunia luar. Seorang ksatria
pahlawan penumpas kudeta militer berlumuran darah mungkin sekali adalah
salah satu pelaku utama di baliknya, suatu ironi yang menjungkirbalikkan
segala hal. Dan itu bernama dunia intelijen.
Menurut keyakinan sementara orang seperti tersirat dalam buku Hanafi dan
Subandrio, bertahun-tahun Syam sebenarnya telah memasang jebakan untuk Aidit
dengan menjalin hubungan pribadi maupun hubungan organisasi partai. Hubungan
itu terus meningkat dengan meningkatnya keterampilan Syam dalam bidang
intelijen yang telah digaulinya sejak jaman revolusi fisik. Begitu hebatkah
tokoh ini, atau dan begitu bodohnyakah DN Aidit sebagai Ketua Politbiro
beserta pendukungnya?
Ada Tiga Orang Syam?
Syam ditangkap pada 8 Maret 1967 di Cimahi. Berdasarkan dokumen-dokumen CIA
yang telah dibuka untuk umum seperti dicatat oleh Peter Dale Scott,
pesakitan itu merupakan orang ketiga yang diidentifikasi oleh pihak AD
sebagai orang yang bernama Syam. Jadi paling tidak ada tiga orang Syam.
Ia ditahan di RTM Budi Utomo Jakarta pada 27 Mei 1967. Beberapa bekas
tahanan politik yang pernah berkumpul atau dekat dengan sel tempat Syam,
menyatakan selama ditahan ia bertindak seperti seorang bos. Ia dapat mondar
mandir dengan leluasa di tahanan, mengenal banyak petugas militer seperti
berada di lingkungannya sendiri. Banyak tahanan politik yang dianggap cukup
penting dibawa ke RTM untuk dapat diidentifikasi oleh Syam agar bisa
mendapatkan tempat yang tepat. Sering ia tiba-tiba tidak berada di tempat
tanpa diketahui oleh orang lain akan keberadaannya.
Sangat umum diketahui para tapol, ada sejumlah orang yang dekat dengan para
pejabat, memberikan berbagai informasi yang benar maupun karangannya
sendiri, ketika diminta atau tidak untuk meringankan dirinya sendiri dan
memberatkan orang lain. Bahkan beberapa orang dijadikan interogator dan ikut
menyiksa teman-temannya sendiri, ikut serta dalam operasi penangkapan dsb.
Orang semacam itu biasanya disebut pengkhianat, biasanya dengan cepat dapat
diketahui oleh tapol yang lain. Syam jauh lebih rumit dan lebih besar
daripada sekedar kelompok ini.
John Lumengkewas, seorang mantan Wakil Sekjen PNI dan ditahan selama 7 tahun
menuturkan kesaksiannya ketika ditahan di RTM tentang tokoh Syam. Ia punya
pengetahuan ensiklopedis bagi orang-orang yang dituduh PKI. Ia mendapat
perlakuan istimewa di RTM, berbeda dengan tapol lainnya. Fasilitas di selnya
mewah untuk ukuran waktu itu, menu makanannya berbeda, ia bebas berada di
luar sel, akrab berbincang-bincang dengan petugas. Dia sebentar-sebentar
dipanggil oleh petugas dari pintu blok, lalu pergi ke kantor RTM. Nampak
sekali Syam sudah lama berhubungan dengan kalangan ABRI tertentu. Oei Tjoe
Tat SH, mantan Menteri Negara yang juga pernah ditahan di RTM, menggambarkan
Syam sebagai orang yang tidak tahu diri. Kalau ia keluar untuk diperiksa,
orang lain menjadi tidak tenteram karena ulahnya. Ia orang misterius yang
dijauhi oleh para tahanan yang lain.
Syam dijatuhi hukuman mati oleh Mahmillub pada 9 Maret 1968. Di tahun-tahun
berikutnya ia menyombongkan diri kepada rekan-rekannya di penjara bahwa ia
masih bertahan hidup meski sudah dijatuhi hukuman mati. Ia selalu memiliki
informasi untuk diberikan dalam kesaksian terhadap orang lain yang diadili
selama bertahun-tahun. Ia mulai masuk penjara Cipinang pada 27 Oktober 1972.
Menurut kesaksian para tapol, Syam dan komplotannya Subono masih bisa keluar
penjara serta menulis laporan untuk kepentingan AD. Bahkan pada awal tahun
1980, ia keluar masuk di berbagai instansi militer. Menurut keterangan
seorang mantan perwira Kopkamtib, Syam memang dipakai sebagai informan
militer.
Berdasarkan catatan, Syam diambil dari Cipinang pada 27 September 1986 jam
21.00 oleh petugas Litkrim Pomdam Jaya atas nama Edy B Sutomo (Nrp.27410),
lalu dibawa ke RTM Cimanggis. Tiga hari kemudian tengah malam bersama dua
kawannya ia dibawa dari Cimanggis dan pada jam 01.00 sampai ke Tanjungpriok.
Mereka diangkut dengan kapal laut militer ke sebuah pulau di Kepulauan
Seribu dan dieksekusi pada jam 03.00. Tak ada keterangan mengapa pelaksanaan
eksekusi terhadap Syam - dan sejumlah tokoh yang lain - terus diulur-ulur
hingga 14 tahun dihitung dari sejak masuk Cipinang, bahkan 18 tahun bila
dihitung sejak vonis Mahmillub.
Adakah itu Syam yang asli atau Syam yang lain? Agaknya akan tetap menjadi
misteri sebagaimana misteri berbagai hal seputar G30S. Menurut pengakuan
Latief ketika ditahan di Cipinang pada 1990 ia berada satu blok dengan Syam.
Sementara itu seorang pejabat di lingkungan Depkeh RI menyatakan Syam
dikeluarkan dari Cipinang pada September 1986 atas izin Presiden Suharto.
Antara dua keterangan ini sekedar perbedaan waktu, mungkin saja Latief tidak
akurat. Jalannya peristiwa menunjukkan peran agen Syam menjadi salah satu
kunci penting keberhasilan operasi yang sedang dilancarkan oleh sahabat
lamanya, Jenderal Suharto. Mungkinkah orang yang agaknya tahu betul akan
isi perut Suharto dalam hubungan dengan G30S dibiarkan hidup bebas?
(Petikan dari Harsutejo, Sejarah Gelap G30S revisi).
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.35/1040 - Release Date: 30/09/2007
21:01
[Non-text portions of this message have been removed]