http://www.antara.co.id/arc/2007/10/3/bi-reformasi-sistem-kuota-jadi-topik-teramai-bank-dunia-imf/



*BI: Reformasi Sistem Kuota Jadi Topik Teramai Bank Dunia-IMF*

Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia (BI) memperkirakan reformasi sistem
kuota akan menjadi topik paling ramai dibahas dalam pertemuan tahunan Bank
Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington pada 20-22 Oktober
2007.

"Ada dua topik menonjol yang akan dibahas di pertemuan itu yaitu mengenai
quota reform dan finansial stability, tapi topik yang akan paling ramai
dibicarakan mungkin adalah 'quota reform'," kata Deputi Senior Gubernur BI,
Miranda S. Goeltom.

Miranda mengungkapkan hal itu di sela buka puasa bersama Dewan Gubernur BI
dengan wartawan di Menara Radius Prawiro, Gedung BI, Jakarta, Rabu.

Masalah reformasi sistem kuota akan menjadi pembicaraan penting berkaitan
dengan rencana perubahan sistem kuota antar anggota lembaga keuangan
internasional itu. Sejumlah negara akan mengalami peningkatan kuota atau hak
suara dalam pengambilan keputusan, tetapi sejumlah negara lainnya terutama
negara berkembang termasuk Indonesia akan mengalami penurunan kuota.

Dalam beberapa kesempatan, beberapa negara berkembang termasuk Indonesia
mengusulkan adanya perbaikan representasi pada IMF dan Bank Dunia.
Negara-negara tersebut meminta agar IMF dan Bank Dunia memikirkan lagi
apakah kuota negara berkembang dan beberapa negara lain seperti Jepang,
China dan Korea Selatan yang berlaku saat ini masih pantas.

Kuota yang berlaku saat ini ditetapkan pada konferensi Bretton Woods 1948,
artinya hampir 60 tahun tidak pernah berubah. Saat ini, Indonesia bersama
dengan 11 negara termasuk Fiji dan Tonga hanya memiliki kuota kurang dari
3%. Sedangkan Indonesia sendiri, hanya memiliki kuota di bawah 1%.

Pemilik kuota suara terbesar di IMF dan Bank Dunia adalah AS (20%),
sedangkan Jepang, Prancis dan Jerman masing-masing 4%. Arab Saudi, Australia
dan Kanada juga memiliki kuota yang cukup besar.

Indonesia sendiri mengusulkan agar perhitungan kuota itu mempertimbangkan
besarnya produk domestik (PDB) suatu negara dan keterbukaan negara tersebut
dalam perdagangan internasional.

Sementara itu mengenai topik strategi stabilisasi finansial, Miranda
mengatakan, Indonesia akan memanfaatkan berbagai pembicaraan di lembaga
internasional itu untuk mendorong terciptanya stabilitas sistem keuangan
melalui kerjasama internasional.

"Kita akan melihat bagaimana kita dapat memanfaatkan berbagai pembicaraan
internasional mengenai finansial stability strategy dalam bentuk kerjasama
internasional," katanya.

Sebelumnya Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto
memastikan bahwa Indonesia akan menghadiri pertemuan tahunan IMF dan Bank
Dunia di Amerika Serikat itu.

"Kita bersama Menteri Keuangan akan hadir dalam annual meeting itu. Kita
berangkat 17 Oktober dan acaranya hingga 22 Oktober 2007. Jadi ini bukan
roadshow untuk penerbitan obligasi internasional. Saya kira semua petinggi
fiskal dan moneter dunia akan hadir," katanya menambahkan. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke