Wawancara Majalah TEMPO, 4 Oktober 2007

Mustofa Bisri:
Lebaran itu Haknya Allah, Kok Diributkan

Lengannya cepat-cepat ditarik setiap kali ada lawan bicara berusaha 
menjemba tangannya untuk dicium. Tampaknya dia jengah dengan tradisi 
mencium tangan para kiai. Di daftar riwayat hidupnya, tertera pekerjaan 
sebagai penulis. Padahal, kalau mau, dia bisa menyebut “Pengasuh Pondok 
Pesantren”, “Rais Syuriah PB NU”, atau atribut bergengsi lain.

Jadwalnya selalu padat, dia kerap bepergian. Tapi, di bulan Ramadan, Ahmad 
Mustofa Bisri menjadi mudah ditemui. Datang saja ke Kompleks Pondok 
Pesantren Raudlatut Thalibin atau Taman Pelajar di Rembang, Jawa Tengah. 
Pasti Gus Mus--begitu dia biasa disapa--ada di sana. Sejak kakaknya, Cholil 
Bisri, wafat, dialah yang menjadi pengasuh pondok peninggalan orang tua 
mereka. ”Selama 11 bulan saya kerap meninggalkan rumah. Kini giliran satu 
bulan bersama keluarga di rumah,” begitu dalihnya menampik berbagai 
undangan berceramah dan sebagainya.

Supel dan hangat, Mustofa Bisri mudah bergaul dengan siapa saja. Kehidupan 
sosialnya, yang luas dan kaya, terbaca dengan mudah. Ketika dia menikahkan 
anaknya pada Agustus lalu, misalnya, tamu mengalir dari mana-mana, tanpa 
mengenal kelas, suku, agama.

Kiai Bisri adalah teman berbincang yang asyik. Tutur katanya lembut--nyaris 
tanpa tekanan, bahkan saat menyampaikan soal yang tidak ia sukai. Asap 
rokok nyaris tidak berhenti mengepul dari mulutnya saat dia memberikan 
wawancara. Rokok kretek sigaret dan kretek filter bergantian dia isap 
melalui sebuah pipa gading cokelat. ”Saya sedang banyak keinginan. Mau 
nulis buku, bikin novel, cerpen, dan juga merampungkan 50 tulisan dalam 
satu tema, tapi baru selesai lima,” ujarnya. Produktivitasnya dalam 
menulis, baik sastra maupun buku agama, sulit ditandingi kiai lain.

Di ruang tamu rumahnya, dihiasi hamparan karpet hijau tanpa perabot, Gus 
Mus menerima Imron Rosyid dan Rofiuddin dari Tempo pada Jumat malam pekan 
lalu. Sembari lesehan, dia menjelaskan keberagaman beragama, termasuk dalam 
hal merayakan Idul Fitri. Ditemani secangkir kopi lelet dan beragam kue 
suguhan santrinya, waktu dua jam terasa cepat berlalu.

Berikut ini nukilannya.

Bagaimana Anda melihat perbedaan penetapan Idul Fitri tahun ini?
Akar masalahnya adalah negara kita bukan negara agama, bukan pula negara 
sekuler. Jadi pemerintah bingung, he-he-he…. Menurut pakemnya, yang 
berwenang menetapkan Lebaran adalah pemerintah. Dulu zaman Nabi ndak 
sulit-sulit, cah angon lapor lihat bulan, Nabi hanya tanya, “Kamu syahadat 
tidak?” “Ya, saya syahadat.” Sudah gitu saja. Nabi kemudian bilang kepada 
bilal untuk diumumkan. Jadi ndak disumpah atau pakai teropong. Jadi, kalau 
pemerintah sudah menetapkan, itu sudah cukup. Cuma pemerintah itu ingin 
harmoni, menenggang perasaan, minta pendapat segala, bagaimana 
organisasi-organisasi Islam. Ndak usah begitu.

Jadi sebaiknya ormas-ormas Islam tinggal mengikut pemerintah?
Ya, pemerintah saja yang menetapkan. Yang tidak cocok, ya, sudah biarkan. 
Wong negara Pancasila, kok. Orang tidak puasa, tidak salat saja dibiarkan, 
kok. Orang Indonesia harus bersyukur. Negara-negara lain dikasih Lebaran 
sama Tuhan hanya sekali, kita dikasih dua, malah gegeran. Coba tanya kepada 
pedagang ternak, Idul Adha kemarin mereka senang sekali; hari ini belum 
laku, besok masih ada Lebaran. Jadi kenapa ribut? Lebaran itu haknya Tuhan.

Dasarnya kita mengikuti pemerintah itu apa?
Dasarnya, memang dari dulu yang menetapkan itu sultan. Zaman sekarang 
sultan itu pemerintah. Jadi, kalau kita lihat di kitab-kitab, penetapan 
awal Ramadan, hari raya, semuanya pemerintah. Perbedaan perhitungan hisab 
dan rukyat itu wajar dan sudah terjadi dari dulu.

Tapi sekarang kan terjadi perbedaan….
Karena sekarang kita cuma melihat pada perbedaan metode penetapan. Kita 
lupa siapa yang berhak menetapkan. Makanya istilah NU itu tidak menetapkan, 
tapi ikhbar, memberitahukan. Orang-orang NU mau ikut, ya, silakan. Tidak, 
ya, silakan. Pemerintah mau memaksakan? Wong bukan negara Islam. Jadi 
caranya menetapkan saja. Siapa yang tidak mau, ya, sudah. Kenapa sih harus 
diseragamkan? Kalau semua harus seragam, nanti balik ke Orde Baru.

Mungkin maksudnya agar rakyat tidak bingung?
Rakyat enggak bisa bingung. Wong sudah bingung terus-terusan. Segala 
masalah bikin bingung. Gusti Allah itu paham sekali sama hamba-Nya, jadi 
kita enggak usah ribut. Agama itu mudah. Tapi, kalau orang memperberat 
agama, dia akan kesulitan sendiri. Perkara mudah, ya, sudah dibuat mudah.

Dulu apa pernah muncul perbedaan penetapan Ramadan atau Lebaran?
Ndak, karena semua tahu itu adalah haknya Allah. Dan semua taat kepada 
pemerintah. Sekarang ini kan ada permasalahan politis segala….

Maksud Anda sekarang ada ormas Islam tertentu tidak taat terhadap penetapan 
pemerintah?
Bukan begitu. Dalam soal ini, mereka beranggapan itu adalah soal keyakinan 
yang tidak bisa dipaksakan, terutama oleh pemerintahan yang bukan Islam. 
Seperti yang saya katakan di awal tadi, kita itu bukan negara agama dan 
juga bukan negara sekuler. Karena bukan negara sekuler, jadi ngurusi 
Lebaran dan ngurusi haji. Tapi, karena bukan negara agama, ya, tidak 
memaksakan.

Di Arab atau di negara lain, apakah dua metode penghitungan bisa disatukan?
Ya, enggak bisa. Kan, sudah berabad-abad. Itu muncul ketika ada ilmu falak, 
ilmu hisab. Orang-orang bisa menghitung. Yang satu melihat tradisi pada 
zaman Nabi yang melihat langsung. Sedangkan yang paham ilmu perbintangan 
bisa menghitung sendiri. Kalau yang terjadi tidak sama, kita ambil hikmah 
saja. Ooh… ternyata Gusti Allah memberikan Lebaran dua kali.

Upaya Wakil Presiden mempertemukan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk 
mencari solusi, menurut Anda, apakah ada manfaatnya?
Kita itu kan senangnya harmoni, aman, salatnya bareng-bareng. Sebetulnya, 
yang harus bareng itu hatinya. Kalau hatinya enggak bisa bareng, bagaimana 
badannya bisa?

Pentingkah ada satu Lebaran saja?
Enggak penting. Yang lebih penting, penganggur masih banyak, kemiskinan 
masih jauh dari penyelesaian. Tapi urusannya Gusti Allah yang malah diributkan.

Pada level umat kerap timbul masalah. Tahun lalu, ada ormas dilarang 
menggunakan lapangan karena Lebarannya tidak sama dengan pemerintah….
Itu karena orang enggak ngerti bahwa penetapan Lebaran haknya pemerintah. 
Kalau pemerintah menetapkan Lebaran hari Senin, misalnya, semua aparat 
pemerintah, dari gubernur, bupati, sampai lurah, harus taat hari Senin. 
Ormas yang lain boleh saja beda, tapi jangan pakai fasilitas milik 
pemerintah. Kalau Anda Selasa, ya, cari lapangan lain. Jadi itu jalan 
tengahnya.

Jadi Islam itu beragam?
Beragam. Dari dulu sudah beragam. Ada Syiah, ada Khawaridj, segala macam. 
Islam itu ada lebih dari 70 golongan.

Apakah keragaman ini yang memunculkan kategorisasi Islam keras, moderat, 
atau Islam “garis tengah”?
Itu kan ada ajarannya semua. Dari dulu sudah ada ajaran keras, seperti 
Khawaridj, yang hanya mau memaksakan pendapatnya sendiri. “Pokoknya yang 
tidak sama dengan saya itu kafir.” Itu bawaan manusia, mbegug 
(berkukuh--Red.) dengan pendapatnya sendiri, memutlakkan dirinya sendiri. 
Juga ada yang toleran dan moderat.

Ada dampak kategorisasi itu dalam kehidupan kita?
Untuk pembelajaran demokrasi, ya, positif dengan adanya 
perbedaan-perbedaan. Segi negatifnya juga ada, karena terjadi benturan. 
Apalagi kalau benturan itu keras dengan keras.

Kategorisasi itu bukan berasal dari Islamnya?
Muslim yang memahami Islam dapat berbeda-beda. Tapi Islamnya tetap satu. 
Gusti Allah satu, nabinya satu, kitabnya satu. Dalam memahami kitab memang 
berbeda. Ada yang memandang teks, ada yang kontekstual. Padahal di Quran 
itu ada asbabun nuzul. Quran itu tidak rekaman, hadis bukan rekaman. Nabi 
tidak merekam (Gus Mus menirukan seperti orang berbicara di depan rekaman) 
hadis, tapi hadis disabdakan sesuai dengan konteks pada saat itu.

Bagaimana menyikapi perbedaan itu?
Dari zaman sahabat, sudah ada perbedaan. Cuma, mereka diajari oleh Nabi, 
ada yang prinsip, ada yang tidak prinsip. Pernah ada dua orang datang ke 
Rasulullah, mengadukan bacaan Qurannya yang tidak sama. Dijawab, kalau 
kalian semua itu baik, tidak usah gegeran. Kita sering menggegerkan hal-hal 
yang tidak prinsip. Yang prinsip adalah tauhid aqidah. Laillah ha Illallah 
Muhammadurasulullah, itu yang paling prinsip. Yang lain-lain tidak prinsip. 
Salat zuhur itu mesti empat rakaat, ndak bisa dipikir-pikirkan lagi. Jangan 
karena waktu subuh itu enak buat olahraga, terus kemudian dipikir-pikirkan 
enak bila ditambah rakaatnya. Itu ndak bisa. Menetapkan Ramadan, Lebaran, 
juga masalah kecil yang bukan prinsip.

Menurut Anda, yang lebih sulit menerima perbedaan itu masyarakat biasa atau 
elite?
Rakyat bergantung pada elite (Gus Mus mengutip pepatah Arab yang artinya 
orang itu bergantung pada elite, pada pemimpinnya). Kalau pemimpinnya 
korupsi, rakyatnya nyopet. Pemerintah menjarah pabrik, rakyatnya menjarah 
toko. Makanya, pemimpin harus mulai mengajari orang supaya bisa berbeda, 
bukan memaksakan keseragaman terus-menerus.

Ada yang bilang kelompok garis keras--yang sukar menerima perbedaan--kian 
mendapat tempat di Indonesia. Apa komentar Anda?
Dari dulu sampai sekarang, ada orang yang amat ngotot dan ada yang tidak. 
Mungkin nanti bergantung pada rakyat Indonesia, apakah mayoritasnya nanti 
adalah (golongan) yang ngotot atau tidak. Kelompok yang ngotot ini timbul 
karena banyak sebab. Mungkin kaku hatinya, jengkel karena melihat yang 
lunak, yang moderat ndak berhasil. Ada faktor ekonomi juga. Ke depan nanti 
tergantung sejauh mana kita mau mempelajari agama itu sendiri.

Maksudnya, kelompok garis keras kurang mempelajari agama?
Secara kelakar ada yang mengatakan sampean baru belajar sampai bab ghodob, 
bab marah, terus berhenti. Jadi sampean marah terus, he-he-he…. Padahal 
nanti ada bab sabar, bab tawaduk, bab segala macam, masih banyak sekali. 
Kalau mau belajar terus, insya Allah akan mantap. Saya khawatir terhadap 
orang yang merasa sudah sempurna, lalu menganggap yang lain jahanam semua. 
Ini malah berbahaya. Orang yang memutlakkan diri sendiri itu sudah syirik, 
minimal syirik samar, karena yang mutlak benar itu hanya Allah.

Apakah kelompok yang ingin Indonesia harus jadi negara agama perlu diberi 
kesempatan?
Ya, tidak semudah itu. Negara agama itu seperti siapa? Saudi bukan negara 
Islam, ia negara wahabi. Pakistan negara militer. Anda bayangkan saja 
misalnya Indonesia nanti kalau jadi negara agama. Lalu siapa kira-kira 
presidennya. Terus siapa menterinya.

Belakangan banyak dai muda berdakwah secara ngepop. Apa pendapat Anda 
tentang fenomena ini?
Itulah yang saya sebut semangat keberagamaan. Orang kota melihat perlu ada 
modernisasi dakwah. Dulu Hamka menjadi terkenal karena dia orang pesantren 
yang mengerti bahasa kota. Sekarang jarang orang desa punya bahasa itu. 
Maka orang kota yang tampil, entah itu artis atau siapa saja yang merasa 
ngerti agama. Memang ada sabda Rasul yang mengatakan, “Sampaikan dariku 
walau satu ayat.” Kemudian orang berbondong-bondong, meski hanya punya satu 
ayat, langsung jadi mubalig. Dia menyampaikan bagus-bagus saja, tapi agar 
tidak hanya satu ayat, dia harus nyetrum aki, ngecas, supaya tidak habis 
atau lemah baterai.

Bisa beri contoh bahwa dakwah para ustad kontemporer baru sebatas semangat?
Lihat saja perilakunya. Yang dibicarakan itu-itu saja, soal ibadah mahdoh, 
ibadah murni, ibadah ritual. Padahal Islam ada ibadah sosial. Kenapa tidak 
bicara tentang keadilan, hak asasi manusia, kemanusiaan, kejujuran dalam 
pergaulan hidup? Bagaimana menyantuni orang dhoif dan seterusnya? Itu tidak 
bisa diselesaikan dengan pidato, ceramah, khotbah. Kalau Islam tampil 
menegakkan keadilan, memberantas korupsi, membela orang lemah, itu menjadi 
dakwah tersendiri. Orang akan melihat bahwa Islam itu mulia.

Kami dengar banyak yang mencalonkan Anda menjadi Gubernur Jawa Tengah pada 
pemilihan tahun depan?
Saya itu diminta untuk pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Cabang Rembang 
saja tidak mau, kok, disuruh jadi gubernur. Jelas tidak mau. Kalau disuruh 
baca cerpen, saya mau. Kebanyakan orang sudah tahu siapa saya. Istilahnya, 
“wong gak genah”, he-he-he….


Mustofa Bisri

Lahir: Rembang, 10 Agustus 1944
Pendidikan: Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Pekerjaan:      - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin
–       Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama
–       Penulis puisi dan cerita pendek, kerap menulis dengan nama samaran 
M. Ustov Abi Sri



At 09:03 PM 10/7/2007 -0700, you wrote:

>Menurut saya sih permasalahannya bukan di masalah 'hisab' atau 'rukyat'. 
>Bukan soal metode mana yang paling valid di antara cara konvensional 
>dengan melihat bulan, dengan metode keilmuan dengan perhitungan astronomi. 
>Permasalahan sebenarnya adalah kegagapan pemimpin umat di Indonesia untuk 
>mengelola mekanisme 'ijma'. Sebuah kesepakatan para ulama. Pernyataan 
>Hasyim Muzadi yang terkesan untuk menenangkan umat, bahwa perbedaan adalah 
>hal yang wajar, sebenarnya merupakan upaya pembenaran dalam menutupi 
>kegagalan pemimpin agama kita mencapai kata sepakat.
>Pemimpin umat aja gak bisa sepakat, apalagi umatnya. Masalahnya bukanlah 
>apakah Idul Fitri jatuh pada tanggal 12 atau 13 Oktober. Yang menjadi 
>masalah adalah, apakah tidak aneh jika umat Islam dalam suatu wilayah 
>geografis sebuah negara, dengan hanya tiga daerah waktu dengan rentang 
>perbedaan waktu paling besar dua jam, terdapat dua kelompok yang mendukung 
>pendapat yang berbeda secara ekstrim. Kelompok satu berpendapat bahwa hari 
>itu umat masih diwajibkan berpuasa, sementara kelompok lain mendukung 
>pendapat bahwa hari itu diharamkan berpuasa.
>Sebenarnya di situlah letak esensi mengenai 'ijma', agar umat tidak 
>bingung dalam menjalankan ajaran Islam yang mereka yakini kebenarannya. 
>Dan para ulama di Indonesia gagal mengelola mekanisme tersebut. Gengsi 
>lembaga keagamaan telah memperparah pula kegagalan tersebut, membelah umat 
>menjadi kelompok-kelompok yang sama gamangnya. Lebih parah lagi, kegagalan 
>tersebut membuka peluang negara untuk melakukan intervensi dalam hal 
>penetapan tanggal 1 Syawal. Please dech, buat menetapkan 1 Syawal aja 
>masih perlu intervensi pemerintah. Gimana mau memajukan kesejahteraan umat?
>
>---------------------------------
>Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who 
>knows.
>Yahoo! Answers - Check it out.
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke