Mas Saut yang sedang kalut,

Hai, apa kabar? Bagaimana suasana Lebaran di Kota Gudeg? Semoga Anda aman-aman 
saja di sana bersama Mbak Katrin Bandel. Maaf ya saya panggil Mas, karena dulu 
Anda pernah marah-marah kala saya panggil Lae. Anda juga naik pitam kala saya 
panggil Bang. Kali ini, semoga Anda tidak menggerutu saya panggil Mas, 
mengingat Anda kini telah menjadi warga Yogyakarta. Kalau saja Anda saat ini 
masih tinggal di Bali, tentu akan saya panggil Bli Saut. Sayang, Pulau Dewata 
nampaknya 'kurang ramah' buat Anda untuk berjibaku dan berpetualang.

Sebagai manusia biasa, terus terang saya bisa memahami jalan pikiran Anda. Saya 
yang punya visi ke depan bisa memprediksi apa saja yang akan Anda lakukan. Dari 
apa yang Anda tuliskan di email yang tersebar kemana-mana, semua orang bisa 
menilai bahwa jiwa Anda sedang guncang menerima berbagai ragam serangan. Saya 
sendiri bukanlah sang penyerang, cuma sekadar memaparkan apa adanya tentang 
kondisi yang terjadi pada perseteruan antara "sastrawan" vs sastrawan. Saya 
juga dengan sukarela membantu mempostingkan "uneg-uneg" dari mereka yang 
kebetulan tidak mengikuti milis-milis sebanyak saya dan Anda tentunya.

Saya yakin, Anda pasti banyak menerima e-mail yang tertuju ke:

[EMAIL PROTECTED]

maupun sms dan panggilan dari orang-orang yang tidak menyetujui ulah Anda 
selama ini ke nomer ponsel:

0816-683770

Semua itu tentu menciptakan kekalutan pada diri Anda. Lalu Anda tiba-tiba ingat 
sosok Tuhan: "Ya Tuhan Yesus sang juru selamat, apa kesalahanku selama ini, kok 
nasibku begitu menderita seperti ini? Ampunilah ya Tuhan Yesus atas dosa-dosaku 
yang telah aku perbuat..........."

Untuk tantangan Anda, silakan langsung hubungi Mas Sitok Srengenge selaku orang 
Komunitas Utan Kayu (KUK). Bukankah Anda mengenal dia dan tahu cara mengontak 
dia? Maaf saya bukan juru bicara KUK, jadi tidak bisa mengupayakan pertemuan 
seperti yang Anda minta.

Mas Sitok yang kabarnya lagi sibuk berat untuk persiapan acara peluncuran buku 
terbaru karya Goenawan Mohamad, semoga bisa segera menentukan jadwalnya. Siapa 
tahu, biar lengkap, mereka bisa mendatangkan Mas Nirwan Dewanto yang lagi di 
Iowa? Bukankah Anda kangen sama dia? Syukur, kalau Mas Nirwan masih ingat Anda, 
sekalian bisa bawa bir pilsener kesukaan Anda langsung dari Amrik.

Tapi saya agak pesimis pertemuan yang Anda impikan itu bisa terjadi, mengingat 
beberapa lemparan pertanyaan dari Mas Sitok dan lainnya yang sebetulnya bisa 
dijawab dengan mudah, Anda abaikan. Juga GM kan pernah bilang bahwa itu semua 
cuma seperti coretan di tembok kakus.

Oke, untuk mempermudah, saya ulangi lagi pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah 
saya sampaikan. Semoga tidak dijawab dengan ketawa hahahaha lagi, dan dengan 
bahasa yang kalut.

Berikut ragam pertanyaannya:

1. Saya mendapat laporan dari beberapa penandatangan Ode Kampung, bahwa Anda 
dengan sengaja mengubah isi pernyataan itu. Tadinya tidak ada rangkaian kalimat 
yang mengandung istilah "hegemoni sastra", tiba-tiba Anda tambahkan sendiri.

- Apa tujuannya?
- Kenapa Anda melakukan itu?

2. Apakah benar Anda ditunjuk oleh para penandatangan Ode Kampung sebagai juru 
bicara (jubir) mereka? Mengingat selama ini, hanya Anda sendiri yang 
berkoar-koar di milis-milis.

- Adakah bukti tertulisnya? Bisa dipindai dan dilampirkan dalam e-mail?

3. Untuk membuat selebaran "Boemipoetra" yang penuh hujatan dan serangan ke 
sosok-sosok di KUK, siapa pendananya? Apakah langkah Anda ini disetujui oleh 
para penanda tangan Ode Kampung lainnya yang jumlahnya ratusan itu?

4. Apa sikap Anda dan dedengkot Ode Kampung lainnya atas pamit mundurnya rekan 
Bonnie Triyana sebagai penanda tangan Ode Kampung urutan nomor 22?

5. Kenapa kelompok Anda menghujat sastrawan Binhad saat berlangsung acara 
"pesta penyair" di Medan? Padahal ia diundang sebagai pembicara dalam acara 
tersebut?

6. Bisa Anda jelaskan kenapa Bung Hudan Hidayat yang juga hadir dalam Ode 
Kampung di Rumah Dunia, tapi tidak ikut tanda tangan?

7. Terakhir, yang paling penting adalah titipan pertanyaan dari Mas Sitok. 
Menurutnya, selebaran yang Anda bikin, isinya justru gosip, makian, dan bahkan 
fitnah. Menurut Sitok, itu bukan polemik namanya. Anda sebarkan gosip murahan 
bahwa Sitok Srengenge menyatakan begini, "Penyair yang tidak diundang ke KUK 
bukan penyair."

Pertanyaannya: Kapan Sitok bilang begitu? Dimana? Dalam forum apa ia mengatakan 
seperti itu? Tolong tunjukkan secara jelas. Kalau kalimat itu ia nyatakan 
secara tertulis, tulisan itu dimuat di media apa, kapan tanggal pemuatannya?

Sekian dulu Surat Terbuka dari saya, dan selamat menyusun jawabannya secara 
cepat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Atas nama Bangsa Indonesia,


Radityo Djadjoeri
   
  Surat Terbuka ini sudah tertayang di blog ACI:
   
  http://artculture-indonesia.blogspot.com
   
   

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke