Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
Ber-hari raya Lebaran dengan Suharto
Hari Raya Lebaran sudah lewat. Dan ketupat serta makanan-makanan lezat yang
macam-macam itu sudah habis juga atau tinggal sisa-sisanya saja. Zakat sudah
dibagi-bagikan kepada mereka yang berhak menerimanya, sedangkan sampah-ampah
juga sudah dibuang. Sementara itu, banyak orang sudah lupa atau tidak
peduli lagi kepada ucapan saling memaafkan, dan para pencoleng dan
koruptor (serta para penipu politik !!!) akan meneruskan, dengan leluasa,
berbagai kejahatan mereka seperti biasanya.
Dalam rangka Hari Raya Lebaran yang telah usai ini ada berita yang cukup
menarik untuk kita perhatikan bersama, dan berusaha kita jabarkan dari
berbagai sudut pandang. Berita itu adalah tentang « sowannya » (bahasa
Jawa, artinya : menghadap) sejumlah pejabat tinggi dari berbagai lembaga
negara dan « tokoh » kepada Suharto. Untuk itu, di bawah ini disajikan
sebagian apa yang diberitakan oleh Balipos dan Detikcom.
Berita dari Balipos
Balipos menulis (15 Oktober 07) antara lain : « Meski kondisi kesehatannya
dikabarkan tidak baik, ingatan mantan Presiden Soeharto ternyata masih
tajam. Hal ini diakui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida
Hatta Swasono usai berkunjung ke kediaman Pak Harto di Jalan Cendana,
Jakarta, Sabtu (14/10). ''Beliau (Pak Harto) masih ingat saya. Dia tanya apa
kabar Meutia?'' kata putri Proklamator dan mantan Wapres RI M. Hatta itu
kepada wartawan.
Di tempat sama, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengaku Pak
Harto dalam keadaan baik-baik saja. Namun, Ketua Dewan Syuro PKB ini tidak
menjelaskan secara rinci kondisi kesehatan Pak Harto secara jelas tentang
keadaan baik seperti yang dikatakannya.
Sepeninggal Gus Dur, makin banyak pejabat negara datang antara lain Kasad
Jenderal TNI Djoko Santoso, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly
Asshiddiqie, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Wakil Ketua MPR Moeryati
Soedibyo. Juga mantan pejabat negara antara lain mantan Menteri Luar Negeri
Ali Alatas, mantan Kepala Bulog Bedu Amang, mantan Menteri Kehakiman Utoyo
Usman, serta pengusaha Setiawan Djodi dan Bob Hasan.
Selain itu tampak juga anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Yuddy
Chrisnandi. Anggota Komisi I DPR ini meminta semua pihak tidak mempersoalkan
lagi pengadilan atas diri mantan Presiden RI itu mengingat kondisi fisiknya
yang sudah sangat sepuh. Yuddy mengaku kedatangannya ke kediaman Pak Harto
sengaja dilakukan untuk menghormati mantan pemimpin nasional itu.
Selain para pejabat negara dan pengusaha, Wapres Jusuf Kalla secara khusus
juga menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman Pak Harto.
Berita Detikcom 13 Oktober 2007
Sedangkan Detkcom menulis sebagai berikut : Meski sudah tak lagi berkuasa,
kharisma mantan Presiden Soeharto tampaknya masih besar. Puluhan tokoh-tokoh
merasa perlu bersilaturahmi ke Soeharto. Berdasarkan laporan reporter
detikcom, para pejabat, mantan pejabat dan pengusaha itu silih berganti tiba
di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta, Sabtu (13/10/2007)
sejak pagi.
Para pejabat yang datang:
- Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie
- Ketua DPR Agung Laksono
- Wakil Ketua DPD Mooryati Sudibyo
- Gubernur Lemhannas Muladi
- KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso
- Menneg PP Meutia Hatta
- Menag Maftuh Basyuni
- Menperin Fahmi Idris
- Ketua Fraksi PDIP DPR Tjahjo Kumolo
- Anggota Fraksi Partai Golkar DPR Yuddy Chrisnandi
- Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo
Mantan pejabat sebagai berikut:
- Mantan Presiden dan juga Ketua Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid
- Mantan Menlu Ali Alatas
- Mantan Kabulog Beddu Amang
- Mantan Menkeu JB Sumarlin
- Mantan KSAD Subagyo HS
- Mantan KSAD Wismoyo Arismunandar
- Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso
- Mantan Menteri Kehakiman Utoyo Usman
- Mantan Menhub Agum Gumelar
- Mantan Menag Tarmizi Taher
- Mantan Pangkostrad yang juga bekas menantu Soeharto, Prabowo Subianto
Tokoh-tokoh lainnya:
- Konglomerat Bob Hasan
- Konglomerat Setiawan Djodi
- Ekonom Sri Edi Swasono
- Pebulutangkis Taufik Hidayat.
Tanda bahwa sisa-sisa Orba masih kuat
Adanya berita bahwa sejumlah tokoh atau pemimpin berbagai lembaga negara
kita memerlukan sowan ke hadapan Suharto dalam rangka Hari Lebaran bisa
mengandung makna yang macam-macam bagi mereka yang pro-Suharto maupun yang
anti-Suharto.
Di antara berbagai makna itu adalah bahwa masih ada orang-orang yang
menganggap bahwa Suharto adalah orang yang masih tetap perlu dihormati,
walaupun sudah dikutuk secara luas oleh berbagai kalangan baik di
Indonesia maupun di luarnegeri --, berhubung banyaknya dosa dan
bermacam-macamnya kejahatan yang telah dilakukannya selama 32 tahun berkuasa
sebagai pemimpin rejim militer Orde Baru.
Juga bisa bermakna bahwa mereka yang sowan itu tidak menggubris sama
sekali adanya ketetapan MPR yang memerintahkan diperiksanya Suharto
berhubung dengan praktek-praktek KKN yang sudah diketahui oleh umum secara
luas itu.
Atau bahwa mereka menganggap sepi sama sekali adanya begitu banyak aksi dan
gerakan dalam masyarakat yang menuntut diadilinya Suharto karena besarnya
korupsi dan banyaknya kejahatan yang telah dilakukannya. Atau menganggap
sampah saja berita-berita tentang pencantuman namanya sebagai pencuri
nomor satu di dunia oleh PBB dan Bank Dunia.
Dikunjunginya Suharto oleh begitu banyak orang yang sedang -- dan telah --
memegang berbagai macam kekuasaan penting atau pengaruh besar adalah cermin
bahwa sebagian kekuasaan di negeri kita masih tetap terus dipegang oleh
sisa-sisa Orde Baru orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada Suharto atau
yang menghargai nama baiknya.
Kemungkinan bisa diadilinya Suharto
Patut diperhatikan bahwa di antara orang-orang yang sowan kepada Suharto
itu kebanyakan adalah orang-orang Golkar dan pendukung keras atau pengagum
rejim militer Orde Baru, kecuali sejumlah kecil sekali yang bukan, termasuk
antara lain Gus Dur.
Apa pun pertimbangan atau alasan yang bisa dikemukakan para pemimpin dan
berbagai tokoh yang sowan kepada Suharto pada kesempatan Hari Lebaran
ini maka jelaslah bahwa sikap yang demikian itu mengandung arti yang amat
penting, karena Suharto adalah bukan orang biasa saja yang juga sekarang ini
sedang mempunyai persoalan besar.
Sowannya kepada Suharto oleh para pemimpin Golkar (antara lain : Jusuf
Kalla, Agung Leksono) dan pembesar-pembesar lainnya yang juga simpatisan
Golkar (terbuka maupun tertutup), memberikan isarat atau pertanda bahwa
kemungkinan Suharto akan diadili akan tetap kecil, kecuali kalau berbagai
gerakan untuk menuntutnya akan makin berkembang secara besar-besaran.
Bisalah kiranya diperkirakan bahwa mereka yang sowan kepada Suharto pada
Hari Lebaran bukanlah orang-orang yang gembira dengan pengumuman PBB dan
Bank Dunia bahwa Suharto adalah pencuri nomor satu di dunia. Mereka bukanlah
pula orang-orang yang ikut mengharapkan bahwa program StAR Initiative dari
PBB dan Bank Dunia akan bisa berhasil dengan baik di Indonesia.
Acara Hari Lebaran di jalan Cendana kali ini menunjukkan sekali lagi, dan
untuk kesekian kalinya, bahwa kekuasaan politik di Indonesia masih
didominasi oleh kekuatan sisa-sisa Orde Baru., baik yang terangan-terangan
maupun yang tertututp. Ini merupakan hal
Paris, 17 Oktober
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.12/1072 - Release Date: 15/10/2007
17:55
[Non-text portions of this message have been removed]