Ulil Abshar Abdalla Kenapa banyak orang takut pada seks? Mungkin Goenawan Mohamad perlu menerbitkan kembali esei lamanya tentang kedudukan seks dalam sastra kita sehubungan dengan pergerakan waktu dan perbincangan saat ini. Saya bisa memahami "histeria" sebagian masyarakat Amerika setelah menonton "The Inconvenient Truth", buah gagasan Al Gore itu. Tapi saya tak bisa memahami kenapa orang- orang harus histeris terhadap seks, erotisme, dan tubuh perempuan (juga, tentu, laki-laki). Apakah sebetulnya yang dikehendaki oleh orang-orang macam Taufiq Ismail, kalau kita mau mencoba memberinya semacam "hak keraguan" (benefit of the doubt)? Apakah masalah seks dan erotisme tak boleh masuk sama sekali dalam dunia penciptaan kreatif? Menurut saya, menyanitasi dunia kreatif dari seks hanyalah sejenis kegilaan. Sebab, Kitab Suci pun tak mampu melakukan hal itu. Selalu ada bagian-bagian dalam Kitab Suci mana pun yang memuat soal kejenisan dan rangsangan jenis. Sayang sekali, Taufiq tidak pernah tumbuh dalam tradisi pengkajian sastra Arab. Salah satu paradoks yang tidak mungkin atau sulit dihindari oleh para sarjana Qur'an adalah hal berikut ini. Selama ini umat Islam percaya bahwa Qur'an adalah puncak karya sastra Arab. Tetapi, "keyakinan" ini membawa masalahnya sendiri, dan hal itu sangat disadari oleh sarjana Qur'an sejak awal. Jika Qur'an adalah puncak penciptaan kreatif dalam sastra Arab klasik, tentu tidak mungkin memahami hal itu tanpa memahami perkembangan sastra Arab secara keseluruhan pada saat itu. Bukankah kita tak bisa mengatakan bahwa karya-karya Rendra adalah salah satu contoh terbaik dalam perkembangan sastra Indonesia modern tanpa memahami dengan baik kebun sastra Indonesia secara keseluruhan? Sebab, sesuatu dapat dikatakan "baik" atau "buruk" atau "puncak" tentu dalam hubungannya dengan suatu konteks tertentu. Tidak ada, atau supaya tak terlalu sok yakin, jarang ada sesuatu dapat dikatakan baik tanpa kaitan atau perbandingan dengan hal lain. Begitulah halnya dengan Qur'an. Mengatakan bahwa Qur'an adalah puncak karya sastra Arab haruslah mengandaikan pengetahuan yang cukup tentang kebun sastra Arab, terutama sastra "jahiliyah" (sebutan yang jelas rentan pada salah paham). Itulah sebabnya, kajian atas sastra Arab pra-Islam (atau "jahiliyah") sangat berkembang pesat dalam Islam, hingga saat ini. Tentu, sastra Arab pra-Islam itu dipelajari bukan demi tujuan pada dirinya sendiri, tetapi untuk "membuktikan" bahwa, ya benar, Qur'an memang puncak karya literer. Tetapi persis di sinilah terjadi paradoks. Kalau kita kaji tafsir-tafsir Qur'an, terutama yang mengulas Qur'an dari sudut literer, kita akan menjumpai ratusan syair-syair Arab pra-Islam bertaburan di sana. Dan banyak sekali syair-syair itu yang memuat tema-tema kejenisan dan erotisme. Paradoks ini yang saya rasakan pada waktu di pesantren dulu. Saat saya mempelajari sebuah karya tafsir, dan tiba-tiba menjumpai sebuah syair pra-Islam yang "erotik", saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin "erotisme" seperti ini bisa menyelinap kedalam karya tafsir yang dimaksudkan sebagai semacam elusidasi atas firman Tuhan. Tetapi penafsir Islam tidak bisa menghindar dari paradoks ini. Sebab, tidak ada karya sastra Arab lain yang bisa menjadi latar-belakang untuk menjelaskan mutu literer Qur'an selain sastra jahiliyah itu. Demikianlah syair-syair Imru'ul Qais, misalnya, bertaburan dalam karya-karya yang dimaksudkan sebagai elusidasi firman Tuhan. Syair-syair itu banyak memuat unsur-unsur erotisme. Tafsir-tafsir Qur'an klasik tidak jarang merupakan semacam gelanggang di mana syair-syair jahiliyah yang tak seluruhnya kongruen dengan "semangat" puritan Islam dipamerkan dengan leluasa. Para sarjana Islam tak menganggap masalah ini sebagai sejenis ketidaksenonohan. Menurut saya, dalam konteks diskursus pemikiran dan kesarjanaan, tema seksualitas lebih leluasa dibahas dan diulas pada masa Islam klasik ketimbang sekarang. Sekali lagi, kenapa kita takut pada seks? Kepada Taufiq Ismail dan para pengikutnya haruslah dikatakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa suatu karya sastra tidak dengan sendirinya menjadi baik karena membahas Tuhan; juga tidak otomatis jelek dan "picisan" hanya karena menyinggung soal kejenisan. Bahkan saya mengatakan, seks adalah "bahan mentah" paling menarik dalam sejarah sastra manapun. Masalahnya bukan soal seks atau Tuhan, tetapi bagaimana seorang penulis mengolah tema itu. sumber: Blog ACI http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/10/seks-sastra-dan-sastra-arab.html
__________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

