menjawab pertanyaan pak Robert Naibaho dibawah rasanya perlu saya jelaskan 
panjang lebar, apa yang salah pada Mike Tyson? yang salah adalah dirinya yang 
tidak mengasah ke Imanan nya, dan memegang teguh komitmennya sebagai Muslim. 
apakah pak Robert berfikir bahwa setiap Islam (Muslim) itu sudah benar2 ber 
Iman seperti yang diperintahkan Allah? ho ho, Muslim juga manusia biasa pak 
Robert, berkelas-kelas tingkat ke Imanannya.
   
  sejatinya seorang Muslim yang beriman tidak akan melakukan kesalahan2 (dosa2) 
seperti yang dilakukan si Mike, karena seorang Muslim yang beriman dan komit 
terhadap iman dan ke Islamannya pasti akan menyadari konsekwensi melakukan 
perbuatan2 yang sangat dilarang oleh Allah dan bertentangan dengan isi AQ 
(memperkosa, menganiaya manula, brutal dan sombong) yaitu, bersiap2lah menerima 
hukuman yang telah Allah tetapkan.
   
  betapa mudahnya lidah mengatakan telah menjadi Islam, namun alangkah sulitnya 
menacapkan iman di dalam hati. dan Mike Tyson tidak sendirian di dunia ini, 
banyak manusia2 yang mengaku Islam di lidah tapi sikap dan perbuatan tidak 
sesuai, beribu ungkapan lisan tidak sesuai dgn amal dan perbuatan.
   
  seorang Muslim yang jujur tentu akan sesuai perkataan dan perbuatannya, dan 
sebaliknya, bila tidak sesuai, maka mudah untuk menggolongkan mereka kedalam 
barisan Muslim munafik.
   
  jangan dikira Allah tidak mengetahui apa yang ada dihati, mata yang tidak 
jujur dan apa yang tersembunyi di dada, makanya adalah hak Allah untuk 
memberikan ujian kepada hamba2-Nya untuk mengetahui rahasia hati yang 
tersembunyi dalam jiwa, dan untuk case si Mike, Allah memberinya ujian dengan 
kemenangan demi kemenangan, kepopuleran, dan mungkin kekayaan materi yang 
melimpah, dan si Mike yang "lemah" ini merasa sudah cukup dengan semua itu, 
sehingga dia merasa tidak perlu untuk mengasah keimanannya, mendalami Islam 
yang dipeluknya dan berguru pada orang yang tepat, mungkin dia berfikir convert 
to Islam itu sudah cukup kalau hanya mengucapkan 2 kalimah Syahadat saja. 
padahal, seandainya dia mau belajar sedikit lagi, pastilah dia akan tau, bahwa 
menjadi Islam itu adalah awal untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, karena 
akan penuh dengan ujian dan cobaan (tidak semua manusia mempunyai kapasitas 
yang tahan banting terhadap ujian dan cobaan, dan hanya manusia2 yang mempunyai
 kualitas ke Imanan yang tangguh yang dapat lolos dari ujian tersebut), dan 
ujian itu bukan hanya berbentuk penderitaan, kesenangan juga merupakan ujian, 
kesenangan yang melalaikan manusia dari Rabb penciptanya.
   
  kenapa Allah merasa perlu memberikan ujian kepada hamba2-Nya? Allah itu Maha 
Adil dan Bijaksana, Allah perlu menegakkan hujjah (alasan) agar kelak nanti 
pada hari kiamat, tidak seorangpun akan merasa terzalimi dan teraniaya karena 
ketidakadilan Allah. itulah gunanya ujian, dan ternyata sebagian besar manusia2 
yang mengakui diri sebagai Muslim banyak yang gagal (yang masih melakukan 
pelanggaran atas perintah2 dan larangan2 Allah).
   
  disamping itu, tujuan Allah adalah untuk meng-eliminasi dan membersihkan 
barisan2 orang2 Mukmin dari orang2 Munafik, dan bagi yang berhasil masuk dalam 
kelompok Mukmin, ini berarti telah mendapatkan rahmat Allah, dan termasuk 
golongan orang yang bertakwa:
   
  Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa 
atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, 
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha 
Pengampun. (QS 67 :1-2)
   
  orang2 yang mengakui diri sebagai Muslim tapi Munafik inilah yang bila 
bercampur dengan Mukmin (Muslim yang beriman) akan melemahkan barisan, 
menyebabkan kehancuran, Allah berfirman tentang para Munafikun ini:
   
  "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu 
selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka 
di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di 
antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan 
Allah mengetahui orang-orang yang zalim. "(QS 9:47)
   
  jadi, pak Robert Naibaho harus dapat membedakan para Munafikun dan Mukmin 
sejati. sekali lagi saya katakan, bukan cuma si Mike sendiri yang mengaku2 
sebagai Muslim, tetapi ternyata lidah dan perilaku tidak selaras.
   
  dan Allah Yang Maha Bijaksana lebih mengetahui tentang fenomena ini, makanya 
Dia merasa perlu menguji keimanan hamba2-Nya, seperti bunyi ayat ini:
   
  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami 
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah 
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui 
orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta 
(QS 29 :2-3)
   
  itulah alasan kenapa saya selalu mengatakan, bahwa Islam itu adalah agama 
yang sempurna dan benar, bila ada yang menyalah dan itu dilakukan oleh orang 
Muslim, pastilah orang tersebut merupakan Muslim Munafik, yang menyebabkan 
ternodanya Islam di dunia, sementara ini. wallahuaklam.
   
  dan sepanjang orang2 seperti Tyson dan para Munafikun lainnya tidak mau 
menggunakan akal dan fikirannya, dan berusaha menjadi Muslim yang kaffah dengan 
mempelajari Islam yang sesungguhnya dan bersumber dari AQ dan Sunnah Rasul Yang 
Mulia Muhammad Saw, jangan berharap ada damai keluar dari lidah, hati dan 
perbuatannya. termasuklah para koruptor2 dan perusuh2 yang mengatasnamakan 
Islam. dan bukan tidak mungkin si Mike itu convert to Islam merupakan rekayasa 
untuk menghancurkan Islam dari dalam, femomena ini jamak terjadi dibelahan bumi 
ini, yang dilakukan oleh musuh2 Islam, yang tidak suka melihat kemajuan Islam. 
hanya Allah Yang Maha Mengetahui. semoga fenomena ini disadari para Muslim yang 
ingin dikatakan sebagai Mukmin sejati.
   
  salam,
   
  riri.fw
   
   
   
  

Surya Narendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Pencerahan hanya ditemukan secara individual dan satu
dengan lainnya berbeda, karena hati dan pikiran
manusia berbeda.

Tidak ada satu kitab-pun yang bisa menjawab semua
masalah tentang seluruh kehidupan, karena kehidupan
demikian luasnya, tanpa batas. Sedangkan kitab
terbatas oleh jumlah halaman.

Bagi orang yang arif dan bijaksana kehidupan itu
sendiri adalah sebuah kitab, kitab yang tidak berjilid
dan tidak memiliki halaman.

Kehidupan adalah sebuah kitab, tapi kitab bukanlah
suatu kehidupan.

--- wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Robert Naibaho <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> 
> 
> 
> Masih ingat kan Mike Tyson?
> Manusia brutal nan sombong.
> 
> Sewaktu
> pertarungannya dengan Hollyfield disebutkan kalau
> pertarungan itu
> adalah pertarungan antara Haji dengan Pendeta. Semua
> mengelukan Mike
> Tyson yang sudah menjadi muallaf itu. Tetapi sayang
> akhirnya dia harus
> tumbang di tangan pendeta Holifield.
> 
> Sekarang, apa yang terjadi dengan pengalaman hidup
> Tyson?
> TErnyata keyakinan barunya bukan membuat dia
> menjadi baik tetapi malah semakin brutal seperti
> binatang.
> Memperkosa,
> menganiaya orang yang lanjut usia, dan yang lebih
> parah adlh dia harus
> menjadi bintang film porno hanya untuk membayar
> pajak-pajaknya yang tak
> terlunasi.
> 
> Apa yang salah dengan Mike Tyson? Mana damai yang
> dia dapatkan? Mana peran guru spiritualnya?
> Semoga ada yang bisa menjelaskan fenomena yang
> dialami Tyson....
> 
>
----------------------------------------------------------
> ----- Original Message ----
> From: sFe <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [email protected]; 
> Sent: Tuesday, October 16, 2007 9:13:15 PM
> Subject: [zamanku] Ketika menjadi Hindu dan Nasrani,
> hidupnya gelisah.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Doktor Beragama Hindu Masuk Islam Hingga Mampu Jadi
> Imam Shalat.
> Dr. Najat lahir di India, ia tumbuh dewasa
> kemudian menuntut ilmu di negara kelahirannya itu.
> Setelah berhasil meraih gelar Insinyur dari sebuah
> universitas, ia bekerja sebentar. Lalu pergi ke
> Kanada untuk melanjutkan studi di Akademi Tinggi
> Arsitektur. Najat bukanlah nama aslinya, nama
> aslinya tidak dapat aku tuliskan dan aku ucapkan.
> Aku tidak mengetahui tentang nama aslinya itu
> melainkan nama itu adalah tradisi yang diberikan
> keluarga penganut Hindu yang fanatik kepada
> anak-anak mereka. Keluarga ini berupaya menanamkan
> dasar-dasar agama Hindu dan menjadikannya seorang
> militan yang teguh mempelajari agama tersebut.
> Demikianlah perjalanan hidupnya dalam sebuah
> masyarakat yang terisolir di negaranya. 
> 
> Namun setelah ia berangkat ke Kanada, ia menemukan
> komunitas masyarakat yang berasal dari beragam
> budaya dan pemikiran yang
> berbeda. Di kampus ia menemukan suasana keterbukaan
> yang memungkinkan dirinya untuk membuka dialog dan
> diskusi di segala bidang. Apalagi ia seorang pemuda
> yang cerdas dan pintar, ia mulai memikirkan agama
> yang sedang dianutnya. Ia membahas tentang kebenaran
> agama tersebut. Dengan cepat ia mengambil kesimpulan
> bahwa keyakinan dan syiar agama Hindu adalah batil.
> Lantas ia mencari penggantinya dalam kitab Injil,
> kitab agama Nasrani. Agama inilah yang pertama kali
> terlintas dalam benaknya, karena ia berada dalam
> lingkungan masyarakat Nasrani. 
> 
> Dan nyatanya, iapun memeluk agama Nasrani, karena
> agama ini ia anggap lebih benar dibandingkan dengan
> agamanya dulu yang penuh kesesatan. Namun selang
> beberapa waktu, ia mengetahui bahwa agama Nasrani
> mengandung sedikit ilmu dan tidak mampu menjawab apa
> yang sedang ia cari. Ia menjumpai dalam agama ini
> perkara yang kontradiktif dan perkara-perkara batil
> lainnya yang mustahil
> untuk dikatakan sebagai sebuah agama yang benar.
> Kemudian mulailah ia mempelajari dan mendalami agama
> Islam. Peristiwa itu terjadi pada saat ia masih
> dalam proses meraih gelar doktor di bidang
> teknologi. (baca buku: Allah Memberi Hidayah Kepada
> Siapa yang DikehendakiNya [buku aslinya berbahasa
> Arab], karangan Imtiyaz Ahmad ) 
> 
> Suasana pemikiran kampus yang bebas memberikan
> pengaruh besar terhadap diri Najat dalam mengenal
> Islam lebih dalam. Kampus tempat ia belajar
> berkali-kali mensponsori dialog antar penganut agama
> yang berbeda, khususnya penganut agama Yahudi,
> Nasrani dan Islam. Dialog tersebut dilakukan dalam
> suasana yang hangat dan tenang serta tidak melewati
> batas kode etik. 
> 
> Ketika ia mulai membanding-bandingk an agama-agama
> tersebut, jelaslah baginya adanya kontradiktif dalam
> agama Nasrani yaitu seseorang yang
> mengambil tiga Tuhan sekaligus. 
> 
> Bahkan agama Hindu mempunyai Tuhan lebih banyak.
> Kemudian fitrah suci yang sesuai dengan jiwa yang
> sehat dan dapat diterima akal yaitu hanya beribadah
> kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha Mendengar lagi Maha
> Melihat. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Selain
> Dia adalah makhluk. Dia Yang Maha Esa dan hanya Dia
> yang berhak untuk disembah. Tanpa pikir panjang
> lagi, hati dan akalnya sudah mantap memilih Islam
> lalu dengan suka rela ia memeluknya. 
> 
> Kemudian ia menukar namanya yang berbau Hindu dengan
> nama Islami yaitu Najat sebagai bukti atas
> selamatnya ia dari kekufuran menjadi seorang yang
> beriman. Ia mengetahui bahwa memeluk agama Islam itu
> sangat mudah, namun untuk konsisten membutuhkan
> ekstra kesabaran dan pembiasaan. Ia juga mengetahui
> kewajibannya untuk berumah tangga secepat mungkin
> untuk menjaga dirinya dan kematangan hidupnya. 
> 
> Ia memilih seorang gadis dari
> keluarga muslim yang terhormat di kota Winzar dan
> pestanya dilangsungkan di masjid kota itu.
> Keberhasilan hidupnya semakin sempurna setelah ia
> meraih gelar Doktor yang merupakan tingkat disiplin
> ilmu yang ia idam-idamkan. Kemudian ia mendapat
> pekerjaan di pabrik mobil Ford Company yang terletak
> di kota Detroit Amerika. 
> 
> Iapun pindah ke kota yang terdekat dengan pabrik
> tersebut karena di situ ada masjid tempat ia
> melakukan shalat. Di masjid inilah awal pertemuan
> dan perkenalanku dengannya. 
> 
> Setelah beberapa kali pertemuan, aku bertanya
> kepadanya apakah ia dapat membaca al-Qur'an. Bagai
> disambar pertir aku mendengar bahwa ia belum dapat
> membaca al-Qur'an, padahal ia sangat ingin dan mampu
> untuk mempelajarinya. Sebenarnya hal ini merupakan
> problematika kita sebagai kaum muslimin. Kita sering
> berdialog dan memberikan bantahan, membicarakan
> hal-hal yang wajib dan yang tidak wajib namun
> sedikit sekali yang mengamalkannya. Walau banyak
> sudara-saudara muslim kita
> yang telah mengenal seorang yang baru masuk Islam
> ini, namun tak seorang pun yang peduli dengan
> kebutuhan dan kondisinya. Aku pernah mempertanyakan
> hal itu kepada istrinya sebagai sindiran untuknya,
> "Mengapa anda tidak ajarkan suami anda membaca
> al-Qur'an dengan huruf Arab, padahal kalian telah
> lama berumah tangga.?" Tetapi istrinya tidak
> memberikan jawaban. Namun aku dapat membaca bahwa
> ketidak pedulian dan kurang perhatian merupakan
> jawaban dari pertanyaan tersebut dan juga merupakan
> jawaban terhadap orang-orang yang lalai dan tidak
> mengindahkannya. Tentunya hal ini sangat
> disayangkan. .. 
> 
> Kemudian aku katakan kepada Najat agar menyediakan
> waktunya setiap minggu di hari libur, agar aku dapat
> mengajarkannya membaca al-Qur'an dengan izin Allah.
> Kami bertemu dan duduk beberapa jam sehabis shalat
> Shubuh setiap minggu pada hari libur. Selang
> beberapa waktu kemudian ia sudah mampu membaca
> al-Qur'an. Aku juga memberi tahu beberapa ikhwan
> lain tentang pelajaran kami,
> sehingga mereka juga datang mengikuti pelajaran
> tersebut. Setiap yang mampu membaca al-Qur'an dengan
> huruf Arab ditugaskan untuk mengajar satu orang yang
> belum mampu membacanya. Para ikhwan menjadi terbiasa
> berkumpul belajar al-Qur'an setiap pagi hari Sabtu
> dan Ahad, kemudian ditutup dengan menyantap sarapan
> pagi 
=== message truncated ===

__________________________________________________________
For email that puts you in control, choose Yahoo! Mail.
http://uk.docs.yahoo.com/mail/addressguard2.html

                         

       
---------------------------------
Get the World's number 1 free email service. Find out more.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke