dont worry tante martha, udah riri jawab. dan perlu riri klarifikasi disini
bahwa si Mike tidak pernah menjadi idola dan jagoan riri, bagi riri yang patut
menjadi idola itu adalah Rasul Yang Mulia Muhammad Saw yang maksum (suci, bebas
dari dosa), para sahabat Rasul yang hidup di zaman Rasul, para orang2 saleh,
ahli2 ibadah agama Islam dan orang2 yang telah diberi nikmat oleh Allah, bukan
orang2 yang di murkai Allah dan zalim seperti si Mike (kecuali dia bertaubat
nasuha).
bukan hal yang mustahil di dunia ini orang2 yang bermualap-ria akhirnya
menjadi alap2, semua yang dilakukan bergantung pada niatnya. bisa saja si Mike
menjadi mualap dengan niat yang menyalah, sehingga jauh dari rahmat dan hidayah
Allah. wallahu'aklam.
btw, tante martha kelihatannya gembira sekali kalau ada hal2 jelek terkait
dengan Islam ya? sampai merasa perlu tertabahak dan memperlihatkan gigi. :P
kata guru riri waktu riri masih dibangku smu, sso tidak akan demikian
senangnya melihat kekurangan orang (golongan) lain, kalau dia (golongannya)
sendiri tidak mempunyai kekurangan, padahal si Mike itu bukanlah kekurangan
Islam, tapi dirinyalah yang kurang mendalami Islam.
dalem banget deh kata2 guru riri tersebut, sampai membekas dihati, walau
telah banyak tahun yang terlewati.
semoga kita dapat menjadi bijak dengan memahami makna kata2 guru riri yang
bernas tersebut, dan tidak tertawa untuk hal2 yang kurang lucu dan buruk.
dan, kalaupun ada yang perlu di bela tentu bukan si Mike, dan sebenarnya juga
tidak tepat kalau dikatakan bela, tetapi menolong, yaitu menolong agama Allah,
dengan ikhlas, dan untuk yang satu ini Allah telah menjanjikan sesuatu, apa
itu? bacalah:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(QS 47 :7).
kalau Allah sudah menolong dan meneguhkan kedudukan kita, kenikmatan apalagi
yang melebihi dari itu?
dan, taukah tante martha? Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
dan riri ber Iman kepada firman Allah yang benar itu, yang ada dalam Al
Qur'an.
salam,
ri.fw
salam,
ri2.fw
marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
hahahaha.... Wirajhana, anda memang jagoan. hayo tawang, riri,
bening, bulus, sapa lagi ya lupa, hayo pada keluar, bela tuh jagoan
idola kalian si mike tyson eh malik abdul aziz.
kenapa setelah jadi mualap malah jadi kalap? merkosa, nganiaya dan
jadi bentang pelem porno?
mj
--- In [EMAIL PROTECTED], wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> From: Robert Naibaho <[EMAIL PROTECTED]>:
> Masih ingat kan Mike Tyson?
> Manusia brutal nan sombong.
>
> Sewaktu
> pertarungannya dengan Hollyfield disebutkan kalau pertarungan itu
> adalah pertarungan antara Haji dengan Pendeta. Semua mengelukan Mike
> Tyson yang sudah menjadi muallaf itu. Tetapi sayang akhirnya dia
harus
> tumbang di tangan pendeta Holifield.
>
> Sekarang, apa yang terjadi dengan pengalaman hidup Tyson?
> TErnyata keyakinan barunya bukan membuat dia menjadi baik tetapi
malah semakin brutal seperti binatang.
> Memperkosa,
> menganiaya orang yang lanjut usia, dan yang lebih parah adlh dia
harus
> menjadi bintang film porno hanya untuk membayar pajak-pajaknya yang
tak
> terlunasi.
>
> Apa yang salah dengan Mike Tyson? Mana damai yang dia dapatkan?
Mana peran guru spiritualnya?
> Semoga ada yang bisa menjelaskan fenomena yang dialami Tyson....
>
> ----------------------------------------------------------
---------------
> ----- Original Message ----
> From: sFe <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected];
> Sent: Tuesday, October 16, 2007 9:13:15 PM
> Subject: [zamanku] Ketika menjadi Hindu dan Nasrani, hidupnya
gelisah.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Doktor Beragama Hindu Masuk Islam Hingga Mampu Jadi Imam Shalat.
> Dr. Najat lahir di India, ia tumbuh dewasa kemudian menuntut
ilmu di negara kelahirannya itu. Setelah berhasil meraih gelar
Insinyur dari sebuah universitas, ia bekerja sebentar. Lalu pergi ke
Kanada untuk melanjutkan studi di Akademi Tinggi Arsitektur. Najat
bukanlah nama aslinya, nama aslinya tidak dapat aku tuliskan dan aku
ucapkan. Aku tidak mengetahui tentang nama aslinya itu melainkan nama
itu adalah tradisi yang diberikan keluarga penganut Hindu yang
fanatik kepada anak-anak mereka. Keluarga ini berupaya menanamkan
dasar-dasar agama Hindu dan menjadikannya seorang militan yang teguh
mempelajari agama tersebut. Demikianlah perjalanan hidupnya dalam
sebuah masyarakat yang terisolir di negaranya.
>
> Namun setelah ia berangkat ke Kanada, ia menemukan komunitas
masyarakat yang berasal dari beragam budaya dan pemikiran yang
> berbeda. Di kampus ia menemukan suasana keterbukaan yang
memungkinkan dirinya untuk membuka dialog dan diskusi di segala
bidang. Apalagi ia seorang pemuda yang cerdas dan pintar, ia mulai
memikirkan agama yang sedang dianutnya. Ia membahas tentang kebenaran
agama tersebut. Dengan cepat ia mengambil kesimpulan bahwa keyakinan
dan syiar agama Hindu adalah batil. Lantas ia mencari penggantinya
dalam kitab Injil, kitab agama Nasrani. Agama inilah yang pertama
kali terlintas dalam benaknya, karena ia berada dalam lingkungan
masyarakat Nasrani.
>
> Dan nyatanya, iapun memeluk agama Nasrani, karena agama ini ia
anggap lebih benar dibandingkan dengan agamanya dulu yang penuh
kesesatan. Namun selang beberapa waktu, ia mengetahui bahwa agama
Nasrani mengandung sedikit ilmu dan tidak mampu menjawab apa yang
sedang ia cari. Ia menjumpai dalam agama ini perkara yang
kontradiktif dan perkara-perkara batil lainnya yang mustahil
> untuk dikatakan sebagai sebuah agama yang benar. Kemudian mulailah
ia mempelajari dan mendalami agama Islam. Peristiwa itu terjadi pada
saat ia masih dalam proses meraih gelar doktor di bidang teknologi.
(baca buku: Allah Memberi Hidayah Kepada Siapa yang DikehendakiNya
[buku aslinya berbahasa Arab], karangan Imtiyaz Ahmad )
>
> Suasana pemikiran kampus yang bebas memberikan pengaruh besar
terhadap diri Najat dalam mengenal Islam lebih dalam. Kampus tempat
ia belajar berkali-kali mensponsori dialog antar penganut agama yang
berbeda, khususnya penganut agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Dialog
tersebut dilakukan dalam suasana yang hangat dan tenang serta tidak
melewati batas kode etik.
>
> Ketika ia mulai membanding-bandingk an agama-agama tersebut,
jelaslah baginya adanya kontradiktif dalam agama Nasrani yaitu
seseorang yang
> mengambil tiga Tuhan sekaligus.
>
> Bahkan agama Hindu mempunyai Tuhan lebih banyak. Kemudian fitrah
suci yang sesuai dengan jiwa yang sehat dan dapat diterima akal yaitu
hanya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Selain Dia adalah makhluk.
Dia Yang Maha Esa dan hanya Dia yang berhak untuk disembah. Tanpa
pikir panjang lagi, hati dan akalnya sudah mantap memilih Islam lalu
dengan suka rela ia memeluknya.
>
> Kemudian ia menukar namanya yang berbau Hindu dengan nama Islami
yaitu Najat sebagai bukti atas selamatnya ia dari kekufuran menjadi
seorang yang beriman. Ia mengetahui bahwa memeluk agama Islam itu
sangat mudah, namun untuk konsisten membutuhkan ekstra kesabaran dan
pembiasaan. Ia juga mengetahui kewajibannya untuk berumah tangga
secepat mungkin untuk menjaga dirinya dan kematangan hidupnya.
>
> Ia memilih seorang gadis dari
> keluarga muslim yang terhormat di kota Winzar dan pestanya
dilangsungkan di masjid kota itu. Keberhasilan hidupnya semakin
sempurna setelah ia meraih gelar Doktor yang merupakan tingkat
disiplin ilmu yang ia idam-idamkan. Kemudian ia mendapat pekerjaan di
pabrik mobil Ford Company yang terletak di kota Detroit Amerika.
>
> Iapun pindah ke kota yang terdekat dengan pabrik tersebut karena di
situ ada masjid tempat ia melakukan shalat. Di masjid inilah awal
pertemuan dan perkenalanku dengannya.
>
> Setelah beberapa kali pertemuan, aku bertanya kepadanya apakah ia
dapat membaca al-Qur'an. Bagai disambar pertir aku mendengar bahwa ia
belum dapat membaca al-Qur'an, padahal ia sangat ingin dan mampu
untuk mempelajarinya. Sebenarnya hal ini merupakan problematika kita
sebagai kaum muslimin. Kita sering berdialog dan memberikan bantahan,
membicarakan hal-hal yang wajib dan yang tidak wajib namun sedikit
sekali yang mengamalkannya. Walau banyak sudara-saudara muslim kita
> yang telah mengenal seorang yang baru masuk Islam ini, namun tak
seorang pun yang peduli dengan kebutuhan dan kondisinya. Aku pernah
mempertanyakan hal itu kepada istrinya sebagai sindiran
untuknya, "Mengapa anda tidak ajarkan suami anda membaca al-Qur'an
dengan huruf Arab, padahal kalian telah lama berumah tangga.?" Tetapi
istrinya tidak memberikan jawaban. Namun aku dapat membaca bahwa
ketidak pedulian dan kurang perhatian merupakan jawaban dari
pertanyaan tersebut dan juga merupakan jawaban terhadap orang-orang
yang lalai dan tidak mengindahkannya. Tentunya hal ini sangat
disayangkan. ..
>
> Kemudian aku katakan kepada Najat agar menyediakan waktunya setiap
minggu di hari libur, agar aku dapat mengajarkannya membaca al-Qur'an
dengan izin Allah. Kami bertemu dan duduk beberapa jam sehabis shalat
Shubuh setiap minggu pada hari libur. Selang beberapa waktu kemudian
ia sudah mampu membaca al-Qur'an. Aku juga memberi tahu beberapa
ikhwan lain tentang pelajaran kami,
> sehingga mereka juga datang mengikuti pelajaran tersebut. Setiap
yang mampu membaca al-Qur'an dengan huruf Arab ditugaskan untuk
mengajar satu orang yang belum mampu membacanya. Para ikhwan menjadi
terbiasa berkumpul belajar al-Qur'an setiap pagi hari Sabtu dan Ahad,
kemudian ditutup dengan menyantap sarapan pagi bersama di masjid.
>
> Setelah kemampuan Najat membaca al-Qur'an meningkat dan sanggup
membaca semua surat-surat dalam Juz 'Amma, ia belajar kepada orang
yang mempunyai kemampuan lebih dariku, yaitu seorang Syaikh (Guru)
dari negeri Syiria, sehingga ia dapat mengucapkan huruf Arab dan
membaca al-Qur'an dengan lebih baik. Semangat dia dan gurunya semakin
bertambah sehingga mereka bertemu setiap hari setelah shalat Shubuh.
Setiap hari Najat keluar dari rumah sebelum masuk waktu shalat subuh,
lalu shalat di masjid dan belajar dengan gurunya hingga mendekati jam
kerjanya. Dari sana ia tidak kembali ke rumah, tetapi langsung menuju
kantornya. Ia juga datang bersama
> keluarganya ke masjid setiap shalat Isya'. Najat dan gurunya
(semoga Allah memberi mereka ganjaran yang baik) tetap rutin
melaksanakan proses belajar mengajar ini walaupun cuaca sangat dingin
dan turun salju serta angin dingin yang menusuk tulang.
>
> Gurunya yang berasal dari Syiria itu sangat bangga dengan muridnya
tersebut. Terkadang ia bergurau kepadaku, "Sekarang Najat mampu
menyebutkan huruf Arab dan membaca al-Qur'an lebih baik darimu."
Bahkan ia sanggup membaca al-Qur'an di surat manapun. Di samping
belajar membaca al-Qur'an, ia juga membaca maknanya dalam bahasa
Inggris sehingga pemahaman dan ilmunya semakin dalam. Ia juga sudah
memulai menghafal al-Qur'an hingga mampu menghafal kurang lebih
setengah dari juz 'Amma.
>
> Mereka yang bekerja di masjid kaum muslimin yang berada di negara
barat dapat merasakan kesulitan untuk menjalankan urusan-urusan
masjid, karena tidak ada yayasan Islam resmi yang memberikan subsidi.
Jadi dana operasional ditanggung oleh
> jamaah masjid sendiri. Dan urusan-urusan tersebut kebanyakan
dilaksanakan secara sosial karena tidak ada sumber dana tetap untuk
masjid tersebut kecuali dari bantuan-bantuan yang diberikan oleh
jamaah sendiri. Demikian juga sangat sulit mendapatkan ikhwan-ikhwan
yang bekerja secara suka-rela dengan kesungguhan, keikhlasan dan
tekun tanpa menimbulkan problem dan tidak banyak membantah.
>
> Banyak kaum muslimin di antara kita berkomentar miring terhadap
kaum muslimin yang datang dari berbagai belahan dunia Islam. Mereka
datang ke negara barat ini dengan membawa penyakit malas dan sedikit
beramal, namun banyak memberikan komentar terhadap apa yang
dikerjakan orang. Ini masalah yang sangat banyak kita temui. Hanya
saja Dr. Najat dengan suka rela menyelesaikan urusan masjid tanpa
diminta oleh siapapun. Ia adalah orang yang sering membukakan pintu
masjid untuk pelaksanaan shalat subuh. Karena dialah yang datang
paling awal padahal tempat tinggalnyalah yang paling jauh di
> antara kami. Pada musim dingin, ia membersihkan jalan menuju
masjid dari bongkahan salju dan menaburkan garam untuk mencairkan es
agar orang yang melintas tidak tergelincir dan jatuh. Ini merupakan
pekerjaan yang teramat penting, bukan hanya menghindari orang agar
tidak tergelincir, tapi juga untuk menjaga masjid, agar tidak membuat
orang lain yang melintas di depannya tergelincir sehingga ia
memperkarakan masalah ini ke pengadilan dan meminta ganti rugi. Kasus
seperti ini sering terjadi di negara ini.
>
> Dr. Najat juga banyak membantu urusan operasional madrasah Islam di
masjid tersebut yang aktifitasnya di buka setiap akhir pekan. Ia
membuka pintu masjid sebelum shalat Zhuhur dan membersihkan salju
serta menaburkan garam sebelum murid dan guru datang. Ia juga
bertugas mengutip uang sekolah dari orang tua murid yang terdaftar di
sekolah tersebut. Ia yang membeli makanan ringan untuk para murid,
membersihkan dapur dan lemari es dengan rapi. Jika melihatnya engkau
akan
> merasa seolah-olah ia lakukan itu untuk rumahnya sendiri. Ia
membersihkan dan memelihara kebun yang ada di sekeliling masjid. Ia
membeli pupuk dan garam dengan uangnya sendiri dan ia juga yang
memupuk tanaman kebun dan mencabuti tumbuhan dan rerumputan yang
merusak tanaman. Semua ini ia lakukan dengan sangat tekun dan penuh
perhatian, sebagaimana ia juga ikut andil menebang pohon tua yang
terdapat di sekitar masjid bersama ihkwan lainnya.
>
> Pada bulan Ramadhan, ia mendatangkan hidangan berbuka puasa dari
rumahnya, sebagaimana ikhwan lain juga ikut memberikan bantuannya
untuk berbuka di masjid setiap hari. Dan ia juga ikut membantu ikhwan
lain dalam menertibkan dan mempersiapkan makanan berbuka setiap hari.
Semuanya ia lakukan sendiri dengan tenang dan tidak banyak bicara dan
juga tidak menyuruh orang lain atau meminta bantuan orang lain.
>
> Adapun pada hari raya ia mempersiapkan apa yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan shalat 'Ied dan layanan setelah shalat 'Ied.
> Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, setiap selesai
shalat 'Ied keluarga Dr. Najat banyak diundang oleh keluarga-keluarga
lain ke rumah mereka.
>
> Pada suatu kali aku bertanya kepada Dr. Najat, "Bagaimana
perasaanmu sekarang setelah engkau memeluk agama Islam dan dapat
membaca al-Qur'an.?" Ia menjawab, "Sebenarnya aku tidak mungkin
membandingkan antara hidayah dan kebaikan yang aku dapat dalam Islam
dengan kegelisahan dan kesia-siaan yang aku rasakan ketika dahulu
memeluk agama Hindu dan Nasrani. Demikian juga ketika aku mendengar
al-Qur'an dibacakan, sangat banyak mempengaruhi jiwa dan hatiku."
>
> Terkadang Dr. Najat mengimami shalat jama'ah jika orang yang
bacaannya lebih baik dari bacaannya tidak hadir. Demikianlah walaupun
kami sudah terbiasa dengan melaksanakan perintah Rasulullah
SAW, "Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya."
Namun beliau juga menjelaskan makna yang tertinggi di
> antara makna-makna agama yang telah disebutkan Allah q dalam
kitabNya, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian
adalah orang yang paling takwa." (Al-Hujurat: 13).
>
> Lelaki yang tadinya beragama hindu setelah Allah memberikan hidayah
Islam dan kebenaran kepadanya, kini mengimami shalat jamaah. Seorang
yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling takwa dan
yang terbaik membaca al-Qur'an dengan tanpa melihat asal-usul, warna
kulit dan negara asalnya. Kita bermohon kepada Allah semoga
memberikan kita ketetapan hati dalam kebenaran dan menambah keba-ikan
kita. (Allah Memberi Hidayah Kepada Siapa yang Dikehendakinya, karya
Imtiyaz Ahmad )
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
---------------------------------
Feel safe with award winning spam protection on Yahoo!7 Mail. Find out more.
[Non-text portions of this message have been removed]