----- Original Message ----- 
  From: tossi20 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Sunday, October 21, 2007 1:44 AM
  Subject: [i-s] warastuti.blogspot - Masa Depan Politik PKS



  http://warastuti.blogspot.com/

  Wednesday, October 17, 2007,9:06 PM
  Tayangan "Save Our Nation" Tadi Malam
  Sebuah Kritik untuk MetroTV (juga Editorial
  Media Indonesia)


  Tadi malam saya menyaksikan tayangan dialog "Save Our Nation" di MetroTV.
  Dimoderasi oleh Rizal Malarangeng, menghadirkan pembicara Saiful Mujani
  (Direktur Eksekutif LSI), Tatat R. Utami (Profesional), dan M. Ikhsan 
Loulembah
  (Aktivis Demokrasi). Hampir kesemua nama tidak terlalu asing bagi saya, karena
  pernah saya simak dalam milis JIL, begitu pula Deny JA, yang sebelumnya
  menduduki jabatan yang kini diduduki Saiful. Tema dialog malam tadi adalah
  Sekularisasi Politik Islam di Indonesia.

  Dialog diawali dengan paparan hasil survey LSI (entah dengan subyek sample 
yang
  mana) oleh Saiful bahwa 60% lebih masyarakat Indonesia menyatakan ketidak
  setujuannya tentang penggabungan agama (dalam pengertian bahwa agama hanya
  mengatur masalah futuristik, abstrak, dan personal) dengan kehidupan bernegara
  (baca: politik). Bahasan kemudian bergulir dengan sekilas kontradiksi hasil
  survey tersebut dengan realitas peningkatan "keshalihan" masyarakat Indonesia
  yang (salah satunya) direpresentasikan secara simbolik, semisal melalui
  penggunaan jilbab (baik dalam artian kerudung maupun hijab).

  Menanggapi hal tersebut, Tatat dan Ikhsan cukup cerdas menganalisis bahwa
  realitas peningkatan keshalihan dipengaruhi oleh perubahan/pengayaan 
pengajaran
  (dakwah) nilai-nilai agama (baca: Islam). Kini kemasan dakwah lebih populis,
  mengikuti zaman, demikian halnya dengan jilbab yang hadir sebagai bagian dari
  mode dan tren. Kini, jilbab tidak identik dengan ideologi. Ia boleh jadi hanya
  ekspresi mode.

  Peningkatan religiusitas ini bersifat individual dan sama sekali tidak
  direpresentasikan dalam wilayah politik. Masyarakat tetap menganggap agama dan
  politik adalah domain yang berbeda (atau mungkin mereka takut agama yang suci
  dikotori oleh kebusukan fenomena politik dewasa ini, -ini kata saya). 
Dodolnya,
  Rizal bilang kurang lebih begini "Ternyata keresahan tentang radikalisme yang
  timbul seiring meningkatnya penggunaan jilbab dan aktivitas keagamaan tidak
  terbukti". Yang saya herankan adalah: What the hell "keresahan" sih maksudnya?
  Aih, dikaitkan dengan "radikal" pula! Kesannya jilbab identik dengan sesuatu
  yang jahat.

  Pembicaraan kemudian pelan-pelan bergeser ke wilayah politik praktis riil yang
  kemudian mengerucut pada dua akronim, yakni PKS dan Golkar. Anyway, saya
  menghitung lhoo betapa seringnya si Saiful ini menyebut dan mengkomparasikan 
PKS
  dengan Golkar. Jadi ragu nih sama LSI.

  Di "segmen" politik ini Saiful bilang, buktinya walau tingkat religiusitas 
naik,
  animo orang terhadap partai berbasis Islam masih tidak meningkat. Yang 
dimaksud
  partai Islam dalam dialog ini adalah PKS dan PPP (sedang PAN dan PKB 
dimasukkan
  sebagai partai dengan latar belakang ormas. Padahal, kalo dipikir.. ormas 
Islam
  juga. PKB menurut saya masih berada dalam domain Islam. Well, "nice try" untuk
  mengarahkan dialog). Kalau pun PKS mengalami peningkatan suara, itu lebih 
karena
  suara limpahan dari partai dari lini yang kurang lebih sama (yakni PPP). 
Saiful
  menyebut ini sebagai fenomena "jeruk makan jeruk".

  Kedodolan yang kedua dilakukan oleh Saiful. Saiful bilang begini kurang lebih
  "Kalo yang terjadi adalah PKS dapat menyaingi suara Golkar, misalnya. Maka 
baru
  dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak sekuler". Mengapa saya bilang
  Saiful dodol?
  1. Saiful sebaiknya buat survey baru deh.. mengapa orang pilih PKS. Saya 
heran,
  phobia terhadap Islam justru melahirkan kebodohan-kebodohan intelektual yang
  tidak perlu dan seringkali bertentangan dengan budaya berpikir ilmiah.
  2. Saiful melupakan faktor sejarah. Masyarakat Indonesia memilih Golkar (juga
  PDIP dan PPP) bukan karena masalah sekuler atau tidaknya, melainkan lebih
  dominan karena faktor "kebiasaan" dan "keakraban" masyarakat yang selama 30
  tahun lebih hanya melihat tiga gambar partai tersebut. Belum lagi soal dana
  kampanye partai-partai incumbent ini.. yang nilainya fantastis. Sementara
  masyarakat kebanyakan masih lebih suka "dicocok" hidungnya daripada 
dicerdaskan.
  Mereka akan lebih suka "dicerdaskan" dengan duit. Masyarakat Indonesia itu
  masokis sepertinya.

  Ikhsan dan Tatat menimpali, pilihan orang kepada PKS bukan karena aspek
  ideologis, melainkan karena (jika boleh dibilang) marketing PKS yang bagus,
  yakni dengan nilai-nilai universal, figur baru, dan kampanye yang simpatik.
  Ikhsan bilang, jika PKS mau sedikit melonggarkan sisi ideologis, ini akan baik
  ke depannya. Tatat menambahkan soal tren musyarokah, yakni pemunculan
  calon-calon independen seperti Adang dalam Pilkada DKI kemarin, sebagai salah
  satu keunggulan PKS.

  Kedodolan ketiga, kembali dilakukan oleh pak Saiful. Saiful justru tidak
  sependapat dengan Ikhsan dan Tatat. Kata Saiful, ini justru di sisi lain bisa
  memperlemah PKS, sebab masyarakat jadi tidak dapat melihat sisi 
"ke-PKS-an"nya,
  sembari mencontohkan koalisi PKS dan Partai Kristen (dia gak nyebut partai 
apa)
  di Papua. Inkonsistensi telah terjadi, Para Pemirsa! Semula Rizal bicara soal
  citra ekstrimisme Islam dan Saiful tidak berkomentar apa pun. Saiful 
menekankan
  bahwa yang dikemukakan adalah hasil survey LSI. Sementara pada paro terakhir
  diskusi Saiful bicara soal (yang menurut saya) adalah pendapatnya sendiri.

  Jika boleh saya lawan dengan pendapat saya (yang tidak ada basis surveynya
  juga..jadi imbang), masyarakat justru merasa lebih nyaman dengan warna PKS 
yang
  tidak terlalu "ideologis" (saya jamin di satu titik orang yang waras akan
  bingung dengan kata "ideologis" di sini). Itu logika sederhana saja, 
sebagaimana
  kampanye Aa Gym, Uje, dll. Warna PKS akan hilang jika para petingginya tidak
  lagi merepresentasikan nilai moral dan integritas, serta tidak berkembang
  seiring "logika" beragama masyarakat (misal. Sibuk poligami, sibuk membuat
  sistem baru seperti khilafah). Maka, melalui tulisan ini berbekal cinta saya
  ingin mengingatkan para anggota dewan dari FPKS, agar tetap menjaga diri dan
  keluarga dengan baik. PKS sedari mula telah melekatkan kata "dakwah" dengan
  entitasnya. Maka, sekali tercoreng, dakwah Islam di negeri ini dapat porak
  poranda. Era musyarokah juga bukan era yang tanpa tantangan. Dalam arena
  politik, aspek keshalihan harus diejawantahkan lebih lanjut dalam
  kelihaian sekaligus kesucian. Sebelum calon Kada DKI resmi diumumkan, 
misalnya,
  politisi lihai pasti melihat PKS sebagai sebuah kekuatan (baca: tameng) yang
  harus diajak berkoalisi.

  Pada akhir dialog saya punya kesimpulan tersendiri. Religiusitas bangsa ini
  masih dini/prematur, maka tak heran jika secara parsial bangsa ini masih
  sekuler. Namun saya percaya bahwa jika tingkat religiusitas suatu bangsa sudah
  mapan, maka secara otomatis, perubahan sistemik akan terjadi, pun dalam sektor
  kenegaraan dan politik. Jadi kalaupun ada pihak yang takut dengan ketiadaan
  kehidupan sekuler, ya.. menurut saya suatu saat itu akan terjadi. Lalu, 
mengapa
  pula mesti ketakutan dengan ketidak-sekuleran kehidupan negara? Saya tidak 
tahu
  Rizal Malarangeng belajar agama (baca: Islam) dimana, namun yang saya 
pelajari,
  dalam kehidupan Rasulullah saw. tidak ada pemaksaan keimanan, tidak ada 
hukuman
  bagi orang bukan-muslim, karena syariah berlaku hanya bagi pemeluknya. 
Sementara
  soal ekonomi syariah, Barat justru lebih maju dan obyektif menerima hal 
tersebut
  sebagai keunggulan.

  Satu lagi, ada ungkapan yang dikemukakan Rizal, yang disitir dari Bung Karno,
  yakni "Barang siapa yang melawan sejarah, maka akan digilas olehnya". Kurang
  lebih demikian. Kalimat ini dilontarkan setelah berbicara soal "pelenturan" 
yang
  perlu dilakukan PKS. Nah, saya ndak mudheng lho.. sebenarnya apa pentingnya
  kalimat itu (ini sama sekali terlepas dari keskeptisan atau keagnostikan saya
  terhadap Bung Karno). Seakan sejarah adalah sesuatu yang mutlak. Saya rasa
  kehadiran ICT juga sudah mampu membuktikan bahwa sejarah adalah kisah
  orang-orang menang, dan yang lebih penting sejarah bukanlah suatu pola yang
  perlu dilestarikan. Saya rasa ungkapan tersebut tidak tepat untuk menegaskan
  bahwa PKS perlu berinovasi dan semakin giat menunjukkan wajah ramah Islam.

  Boleh percaya, boleh tidak, tapi dialog malam tadi berubah tema jadi "Masa 
Depan
  Politik PKS". Lalu, dimana esensi "Save Our Nation"nya ya. jika isi dialognya
  tidak mencerahkan?
  __________________________________________________



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.3/1081 - Release Date: 19/10/2007 
17:41


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke