Tanggapan atas tulisan Ulil Abshar Abdalla bertajuk: "Seks, Sastra, dan Sastra Arab" From: Wella Sherlita E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Paragaraf awal tulisan Ulil membosankan karena protes Taufiq Ismail itu sudah lama, kok baru komentar sekarang? Tapi paragraf terakhir malah memberikan jawaban (jadi ngapain sebetulnya berpanjang- panjang nanya di awal-awal paragraf?) Yang diprotes memang cara para penulis sekarang bertutur soal seks. Terlalu 'gembira dan histeria', akhirnya justru membikin pembaca eneg, sementara alur ceritanya sendiri tidak diperhatikan dengan baik. Yang serba "terlalu" itu memang bikin eneq kok. Di toko-toko buku, entah Gramedia dan Gunung Agung, sekarang jarang saya temukan novel sastra berkualitas. Yang banyak novel macam 'Jakarta Undercover', dengan judul-judul yang tidak jauh dari soal tempat tidur. Bikin bete (herannya kalo dibilang kita bete, nanti dibilang pulak kita munafik, sok suci, dsb, dll). Yang mendingan kelihatannya cuma Saman. Mungkin ada novel lain, tapi saya belum sempat baca benar-benar. Mau diaku sebagai penulis (sastrawan?), tapi yang ditulis sekedar stensilan belaka. Habis itu kalau diprotes langsung ngamuk-ngamuk. Mau ngetop (karena ceritanya kan sudah berani nulis soal seks), tapi begitu dikritik ngamuk, gimana mau maju woi! Kalau kaum tua sudah mengkritik, balaslah dengan karya bermutu! Tidakkah mestinya begitu? Gimana nih? salam, wella madjid From: Ulil Abshar-Abdalla E-mail: [EMAIL PROTECTED] Salam, Terima kasih atas komentar Wella Sherlita. Berikut ini adalah tanggapan singkat saya, semoga mengenai pokok masalah: (1) Pidato Taufiq memang sudah lama, dan saya sendiri tak menghadiri pidato itu saat dikemukakan di TIM, meski saya baca secara sambil lalu beberapa pemberitaan, ulasan, dan polemik di media massa yang berlangsung setelah itu. Pada awalnya, pidato itu sendiri tak menarik perhatian saya. Taufiq sendiri bukanlah sastrawan favorit saya, dan pendapat- pendapatnya juga kurang menarik minat saya. Tetapi, masalah ini mulai menarik perhatian saya setelah masalah "seks" itu menjadi tema gerakan sebuah kelompok untuk menyerang suatu genre sastra yang mengangkat tema seksualitas. Yang aneh adalah teman-teman Teater Utan Kayu dikaitkan dengan genre ini, bahkan dianggap sebagai salah satu ikon dari genre tersebut. Tendensi ini muncul belakangan, jauh setelah pidato Taufiq. Meski demikian, saya menduga bahwa pidato Taufiq telah menyulut gerakan anti sastra seks itu. Saya memang lebih tertarik menanggapi Taufiq, dan bukan gerakan anti TUK, sebab pada level Taufiq, perdebatannya masih dapat ditolerir, karena tidak mengandung sejenis "cacian" yang vulgar. Pada level yang terakhir itu, perdebatannya sudah terlalu melebar ke mana-mana, dan, maaf, diselenggarakan agak "kurang beradab". Tetapi, baik Taufiq dan gerakan anti sastra seks itu tidak pernah memberikan substansi atas tuduhan-tuduhan mereka: apa yang dimaksud dengan sastra seks, apa saja contoh-contohnya, betulkah tema seks saja sudah cukup menjadi "senjata" untuk menyerang sebuah karya tanpa melihat bagaimana tema itu digarap. (2) Meski ini adalah soal "selera" dan cara pandang yang berbeda dari satu kepala ke kepala yang lain, saya tak melihat bahwa "pasar sastra Indonesia" sedang dibanjiri sastra seks, sehingga kita bisa mengatakan "eneg". Kalau saya berbicara soal "sastra seks", tolong jangan menyebut bukunya Muammar Emka, "Jakarta Underground", sebab karya itu tak ada kena-mengenanya dengan karya sastra. Meski saya bukan seorang pengamat sastra yang mendalam, sebaliknya saya hanya pembaca sastra Indonesia, saya melihat bahwa karya-karya sastra yang mengangkat tema kejenisan atau seksualitas hanyalah segelintir saja dibandingkan dengan timbunan karya-karya lain yang mengangkat tema-tema yang lebih luas. Ini yang membuat saya heran: kenapa histeris, kenapa "eneg"? Kenapa Taufiq dan gerakan anti sastra seks itu seperti panik luar biasa hanya oleh satu dua karya yang mengangkat tema seks? Apa yang harus ditakutkan pada seks? Seperti sudah saya katakan dalam tulisan saya itu, bahkan Kitab Suci pun tak bisa menghindarkan diri dari tema kejenisan. Bagian-bagian dalam Kitab Suci yang mengangkat tema kejenisan ini, bahkan, menurut saya, sangat memikat sekali, seperti Kidung Agung dalam Mazmur, misalnya. Dalam Qur'an, tema seksualitas juga muncul, meskipun tidak digarap secara memikat seperti dalam Mazmur. Fantasi sorga dalam Qur'an, diakui atau tidak, kurang lebih cenderung erotis dan "dionisian". Dan kenapa tidak? (3) Kalau kita mencoba sekali lagi memberikan semacam "hak keraguan" (benefit of doubt) kepada gerakan anti sastra itu dan mencoba memahami kemarahan mereka, mungkin mereka berpikir bahwa karya-karya bertema seks akhir-akhir ini mungkin mendapat tempat lebih leluasa ketimbang karya-karya lain yang mengangkat tema non-seks. Kalau benar ada sangkaan semacam ini, saya juga tidak setuju. Lihat saja buku-buku sastra yang terbit oleh penerbit-penerbit utama seperti Gramedia, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, Djambatan, Bentang, LKiS, dan sejenisnya; belum lagi kalau kita pertimbangkan sejumlah karya sastra yang diterbitkan secara "partikelir" oleh komunitas-komunitas sastra yang tersebar di berbagai daerah. Sekali lagi, di antara timbunan buku-buku sastra yang terbit itu, buku-buku dengan tema seks hanyalah segelintir saja. Lagi-lagi ini membuat saya heran: ada apa dengan masyarakat sastra kita? Ada apa dengan Taufiq Ismail? Selama ini, tampaknya, yang menjadi sasaran tembak untuk genre sastra seks ini adalah orang-orang macam Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, Binhad Nurokhmat, dan beberapa nama lain yang tak saya ketahui dengan baik. Karya-karya Ayu Utami dan Jenar juga kerap "diledek" sebagai mewakili sebuah genre yang disebut "sastra wangi" (selama berteman dengan Ayu Utami, saya jarang membaui dia memakai parfum). Menurut saya, menyebut karya-karya orang-orang itu dalam satu tarikan nafas, jelas tidak adil. Meskipun tema seks, benar, muncul dalam karya-karya mereka, tetapi karya-karya itu harus dilihat secara spesifik. Sekali lagi: tema tak cukup menjadi alat menilai sebuah karya; pada akhirnya taruhan sebuah karya adalah bentuk yang dipakai, dan bagaimana sebuah tema diolah. (4) Dengan mengatakan ini semua bukan berarti saya sedang "ngamuk". Harus dibedakan antara diskusi, bertukar cakap, adu argumen dan "ngamuk". Yang pantas disebut "ngamuk", saya kira, adalah orang seperti Taufiq Ismail yang melontarkan akronim-akronim yang kurang pantas dikatakan dalam sebuah diskusi sastra, seperti "FAK", "Gerakan Syahwat Merdeka", dsb. Dan sekarang, setelah melontarkan istilah-istilah yang sangat "tidak sastrawi" itu, Taufiq seperti sembunyi tangan. Istilah-istilah buatan Taufiq itu persis seperti istilah ledekan ciptaan Lekra dulu, seperti "Manikebu" (terdengar seperti "spremanya kerbau"). Saat menulis buku "Prahara Budaya" bersama D.S Moeljanto dulu, Taufik mempersoalkan cara-cara pengganyangan yang dilakukan oleh Lekra terhadap para sastrawan yang "kontra revolusi". Nah, pertanyaan saya, kenapa sekarang Taufiq menggunakan cara-cara yang kurang lebih sama, mengganyang "sastrawan syahwat merdeka" dengan akronim-akronim ciptaan Lekra? Istilah "FAK" buatan Taufiq, menurut saya, sama dengan "Manikebu" buatan Lekra. Taufiq lupa sejarah, dan mengulang sejarah. Sedihnya, kekhilafan Taufiq ini menjadi dasar sebuah gerakan yang muncul di beberapa kalangan generasi belakangan saat ini. Ulil _________________________ From: Fahmi Faqih E-mail: [EMAIL PROTECTED] Sah-sah saja bagi Ulil ketika menyatakan Taufiq Ismail sebagai orang yang tidak pernah tumbuh dalam tradisi pengkajian sastra arab, karena memang sepengetahuan saya, Taufiq bukanlah orang yang suntuk dengan kitab-kitab kuning yang ditelaah di pesantren-pesantren oleh para santri, seperti dalam tradisi Ulil ini. Namun jika kembali menoleh ke dalam pidatonya Taufiq, sebenarnya, inti masalah yang ingin disampaikan Taufiq bukanlah penolakan tema seksual dalam karya sastra, melainkan cara penyampaiannya, cara pengemasannya. Saya setuju bahwa seks adalah bahan mentah yang selalu menarik untuk diekplorasi ke dalam wilayah sastra. Namun apakah itu akan serta merta menjadi menarik pula ketika ditulis dengan cara yang mentah? Taufiq, saya kira, melihat gejala itu. Dan sebagai sastrawan yang punya tanggung jawab terhadap wilayah kerjanya, wajar kalau Taufiq bereaksi demikian. Taufiq tidak menginginkan jika nantinya terjadi seakan-seakan hanya wilayah seks lah yang menjadi satu-satunya standar estetika dalam sastra. Apakah menarik jika kemudian Sastra Indonesia hanya berkutat dengan tema-tema itu? Terus di mana keindahan itu jika terjadi kemanunggalan? Saya kira, ada baiknya Ulil kembali lagi ke pesantren dan membuka lagi kitab-kitab kuning itu, khususnya dalam pelajaran kaidah-kaidah ushuli, agar tidak terjadi kecelakaan membaca seperti yang dituliskannya ini. Salam buat Gus Mus, saya bangga dengan Kyai yang arif seperti mertua Anda itu. Semoga Anda dan saya bisa meniru kearifan beliau. Salam, Fahmi Faqih. From: Ulil Abshar-Abdalla E-mail: [EMAIL PROTECTED] Sdr. Fahmi, Pidato Taufik, dibaca dengan cara apapun, jelas mengandung sejenis "histeria". Dia tidak sedang mengulas karya sastra; sebab dia hanya membahas sebuah kecenderungan sosial yang membuat dia takut luar biasa, yakni merajalelanya pornografi dalam masyarakat. Karya sastra hanyalah salah satu "riak" yang ia sebut dalam gelombang pornografi ini. Contoh- contoh lain yang ia sebut lebih banyak menyangkut lapangan di luar sastra. Coba baca kembali pidato Taufik yang bisa ditengok melalui alamat ini: http://andreasharsono.blogspot.com/2006/12/budaya-malu-dikikis-habis-gerakan.html Dalam pidato ini, dia sama sekali tak mengulas karya sastra Indonesia manapun yang masuk dalam gelombang "gerakan syahwat merdeka". Dia, sesungguhnya, sedang berdakwah, dan mengingatkan masyarakat terhadap bahaya pornografi, bukan sedang melaksanakan kritik sastra. Kalau masalahnya pornografi, dan berdakwah melawan pornografi, ya dia harus "tahan diri" untuk tidak secara serampangan melibatkan karya-karya sastra dalam kampanye anti- pornografi. Menempatkan karya Ayu Utami dan Jenar, dua nama yang sering dituduh sebagai contoh sastra "selangkangan", dalam satu tarikan nafas dengan tabloid dan majalah seks, dilihat dari segi apapun, jelas tidak adil dan serampangan. Tentu Taufik tidak menyebut Ayu Utami dan Jenar. Dan itu menambah saya kian heran, siapa alamat kritik dia sebetulnya? Dan, lihatlah, betapa anehnya cara dia mengetes apakah sebuah cerpen itu pornografis atau tidak. Saya tak usah sebut di sini. Cara yang dia ungkapkan itu "khas" corak berpikir kalangan PKS yang saya hadapi dalam pelbagai diskusi di sejumlah daerah. Jadi, kesimpulan saya, Taufik ini sedang "histeris" pada seks, pada gelombang syahwat merdeka. GSM. Kenapa? Kenapa takut seks? Ulil sumber dari blog ACI: http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/10/seks-sastra-dan-sastra-arab.html e-mail: [EMAIL PROTECTED] blog: http://mediacare.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

