Dear all!

Dalam tanggapan saya ini, saya ingin mengajak Anda sekalian untuk 
memandang dari sudut pandang saya sebagai manusia biologis terhadap 
masalah seks ini.

Tahun lalu ketika saya berada di Indonesia untuk waktu yang tidak 
lama, saya mendengar tentang latar belakang ketakutan sejumlah kawan 
terhadap seks. Singkatnya, yang dimaksudkan oleh mereka itu adalah 
kebejatan moral bangsa kita ini, dari urusan tingkat kantor pemimpin 
nasional sampai urusan gebang tempat buang sampah, dari kakek-kakek 
tua-tua-keladi sampai anak-anak SD, dan lain-lain. Bagi sebgaian 
kawan-kawan saya itu, semua itu telah memojokkan posisi faham  
puritan/moralitas mereka pada tempat to-be-or-not-to-be di negeri 
ini. Dan mereka yakin itu adalah masalah yang melandasi semua 
kegagalan di segala bidang kehidupan kita ini, yang tentu saja untuk 
pandangasn mereka itu tak lupa mereka membawa-bawa leksikon relijius 
antara lain "atas nama Tuhan YME" juga. Dengan kata lain, bagi 
mereka itu sudah masalah "survival of the fittest" sehingga 
reaksinya (sejalan dengan leksikon ahli di bidang evolusi) 
adalah "fight or flight" (lawan atau lari). 

Jadi, dengan memahami motivasi mereka seperti itu, atau bahwa mereka 
punya pandangan atau kesimpulan terhadap realitas dalam lingkungan 
hidup bersama kita ini seperti itu, maka adalah sangat natural, 
sangat biologis, reaksi sebagian kawan-kawan saya itu. Dan semua 
manusia pada dasarnya adalah makhluk biologis. Karenanya, saya bisa 
memaklumi.

Nah, yang jadi masalah di sini adalah, apakah sudah benar kesimpulan 
mereka tentang kondisi lingkungan hidup bersama kita ini seperti 
yang mereka simpulkan dan kemudian menjadi latar belakang reaksi 
mereka itu?

Menurut saya kesimpulan mereka itu ngawur dan tidak punya dasar sama 
sekali. Data yang masuk ke dalam Otak Neo-cortex mereka itu serba 
tidak akurat, akibatnya tidak terjadi sinergi antara Otak Neo-Cortex 
dengan Otak Mammalia di batok kepala mereka, melainkan nyelonong 
langsung masuk ke dalam Otak Reptelia mereka. Maka jadilah itu 
sebagai masalah "survival of the fittest" sehingga reaksi mereka 
menjadi tidak rasional dan serba partisan-mau-menang-sendiri seperti 
itu.

Bahwa di dalam lingkungan hidup bersama kita memang banyak masalah 
sosial dan budaya dan reliji dll yang gawat sekarang ini, terutama 
antara lain lingkungan hidup bersama di Jakarta, sampai-sampai tapi 
itu jelaslah bukan disebabkan oleh satu dua atau pun seratus media 
(termasuk media sastra, selain media internet dll) yang menyediakan 
teks dan gambar organ sex atau pun adegan seksual itu. 

Jakarta, selain beban di pundaknya berupa beban ekonomi, adalah juga 
beban politik nasional, beban kepadatan penduduk, beban lalulintas, 
dll yang sudah melampaui batas warning lampu merah untuk daya dukung 
di punggungnya itu. Tapi yang paling gawat memanglah  problim perut 
alias ekonomi bangsa kita, bukan yang hanya di Jakarta saja 
melainkan juga di tempat-tempat lainnya, yang sampai sekarang  masih 
berat menggencet sebagian besar penduduk kita. Dan, sementara itu,  
di seberang jurang " social-economic gap" sana tampaklah segelintir 
orang kaya dan konglomerat menikmati "buah" pembangunan model 
Ekonomi Global yang dicangkokkan ke dalam dunia political economy 
kita yang diamini oleh DPR/MPR dan Kabinet. Model ini telah 
menggusur Pasal 33 UUD kita itu.

Jadi, marilah kita sadarkan sebagian dari kawan saya itu tentang 
kekeliruan mereka dalam hal persepsi atas masalah yang akut di dalam 
lingkup sosial kita sebagai bangsa. Seks tidak perlu ditakuti! Itu 
cuma urusan kecil yang secara alami diatur dengan baik oleh Kelenjar 
Pituitary yand berada di salah satu sela ketiga otak kita tadi dalam 
batok kepala kita itu. Selama kondisi Otak Neo-cortex dan Otak 
Mammalia kita bekerja dengan normal dan alami, maka persepsi dan 
reaksi kita terhadap tex berisi gambar organ sex atau pun adegan sex 
yang masuk ke dalam Pituitary (kelenjar ini juga ngurusi yang lain-
lain, misalnya kelenjar keringat, dll, bukan hanya sex lho!) akan 
bekerja secara normal dan alami pula. Kalau persepsinya yang masuk 
salah, ngawur, maka tentulah kerjanya sel-sel otak kita akan ngawur 
pula, akan menjadi tidak proporsional.

Karenanya, bertengkar urusan sepele dan tidak proporsional akibat 
pidato Taufiq Ismail itu, hanyalah buang-buang waktu. Tidak relavan!

Marilah kita lakukan gerakan untjuk mengembalikan political economy 
kita itu ke Pasal 33 UUD kita, dan keluar dari rel Ekonomi Global. 
saya yakin Taufiq Ismail cs itu bisa disadarkan dan diajak bergabung 
dalam jurusan yang satu ini. Tentu, itu bukan jaminan kita akan 
sampai kepada idel yang dicita-citakan oleh para pendiri republik 
kita ini dalam waktu sehari djua kalau kita sudah berhasil melakukan 
itu. Tapi paling tidak inilah yang paling dasar.

Nah, semangat yang ada di dalam Pasal 33 itu tampaknya sekarang 
mendapat angin baru dari kantor penyelenggara Hadiah Nobel dengan 
terpilihnya tiga orang ahli ekonomi sebagai pemenang Hadiah Nobel 
2007. Kenapa? Karena mereka bertiga punya ide-ide untuk bidang 
ekonomi yang sejalan dengan Pasal 33 UUD kita.


Ikra.-
======     



--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Tanggapan atas tulisan Ulil Abshar Abdalla bertajuk:
>   "Seks, Sastra, dan Sastra Arab"
>    
>   From: Wella Sherlita 
> E-mail: [EMAIL PROTECTED] 
> 
> Paragaraf awal tulisan Ulil membosankan karena protes Taufiq 
Ismail itu sudah lama, kok baru komentar sekarang?
> 
> Tapi paragraf terakhir malah memberikan jawaban (jadi ngapain 
sebetulnya berpanjang- panjang nanya di awal-awal paragraf?)
> 
> Yang diprotes memang cara para penulis sekarang bertutur soal 
seks. Terlalu 'gembira dan histeria', akhirnya justru membikin 
pembaca eneg, sementara alur ceritanya sendiri tidak diperhatikan 
dengan baik. Yang serba "terlalu" itu memang bikin eneq kok.
> 
> Di toko-toko buku, entah Gramedia dan Gunung Agung, sekarang 
jarang saya temukan novel sastra berkualitas. Yang banyak novel 
macam 'Jakarta Undercover', dengan judul-judul yang tidak jauh dari 
soal tempat tidur. Bikin bete (herannya kalo dibilang kita bete, 
nanti dibilang pulak kita munafik, sok suci, dsb, dll). Yang 
mendingan kelihatannya cuma Saman. Mungkin ada novel lain, tapi saya 
belum sempat baca benar-benar.
> 
> Mau diaku sebagai penulis (sastrawan?), tapi yang ditulis sekedar 
stensilan belaka. Habis itu kalau diprotes langsung ngamuk-ngamuk. 
Mau ngetop (karena ceritanya kan sudah berani nulis soal seks), tapi 
begitu dikritik ngamuk, gimana mau maju woi! Kalau kaum tua sudah 
mengkritik, balaslah dengan karya bermutu! Tidakkah mestinya begitu?
> 
> Gimana nih?
> 
> salam,
> 
> wella madjid
> 
> From: Ulil Abshar-Abdalla
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> Salam,
> 
> Terima kasih atas komentar Wella Sherlita. Berikut ini adalah 
tanggapan singkat saya, semoga mengenai pokok masalah:
> 
> (1) Pidato Taufiq memang sudah lama, dan saya sendiri tak 
menghadiri pidato itu saat dikemukakan di TIM, meski saya baca 
secara sambil lalu beberapa pemberitaan, ulasan, dan polemik di 
media massa yang berlangsung setelah itu. Pada awalnya, pidato itu 
sendiri tak menarik perhatian saya. Taufiq sendiri bukanlah 
sastrawan favorit saya, dan pendapat- pendapatnya juga kurang 
menarik minat saya.
> 
> Tetapi, masalah ini mulai menarik perhatian saya setelah 
masalah "seks" itu menjadi tema gerakan sebuah kelompok untuk 
menyerang suatu genre sastra yang mengangkat tema seksualitas.
> 
> Yang aneh adalah teman-teman Teater Utan Kayu dikaitkan dengan 
genre ini, bahkan dianggap sebagai salah satu ikon dari genre 
tersebut. Tendensi ini muncul belakangan, jauh setelah pidato 
Taufiq. Meski demikian, saya menduga bahwa pidato Taufiq telah 
menyulut gerakan anti sastra seks itu. Saya memang lebih tertarik 
menanggapi Taufiq, dan bukan gerakan anti TUK, sebab pada level 
Taufiq, perdebatannya masih dapat ditolerir, karena tidak mengandung 
sejenis "cacian" yang vulgar. Pada level yang terakhir itu, 
perdebatannya sudah terlalu melebar ke mana-mana, dan, maaf, 
diselenggarakan agak "kurang beradab".
> 
> Tetapi, baik Taufiq dan gerakan anti sastra seks itu tidak pernah 
memberikan substansi atas tuduhan-tuduhan mereka: apa yang dimaksud 
dengan sastra seks, apa saja contoh-contohnya, betulkah tema seks 
saja sudah cukup menjadi "senjata" untuk menyerang sebuah karya tanpa
> melihat bagaimana tema itu digarap.
> 
> (2) Meski ini adalah soal "selera" dan cara pandang yang berbeda 
dari satu kepala ke kepala yang lain, saya tak melihat bahwa "pasar 
sastra Indonesia" sedang dibanjiri sastra seks, sehingga kita bisa 
mengatakan "eneg". Kalau saya berbicara soal "sastra seks", tolong 
jangan menyebut bukunya Muammar Emka, "Jakarta Underground", sebab 
karya itu tak ada kena-mengenanya dengan karya sastra. 
>    
>   Meski saya bukan seorang pengamat sastra yang mendalam, 
sebaliknya saya hanya pembaca sastra Indonesia, saya melihat bahwa 
karya-karya sastra yang mengangkat tema kejenisan atau seksualitas 
hanyalah segelintir saja dibandingkan dengan timbunan karya-karya 
lain yang mengangkat tema-tema yang lebih luas. Ini yang membuat 
saya heran: kenapa histeris, kenapa "eneg"? Kenapa Taufiq dan 
gerakan anti sastra seks itu seperti panik luar biasa hanya oleh 
satu dua karya yang mengangkat tema seks? Apa yang harus ditakutkan 
pada seks? Seperti sudah saya katakan dalam tulisan saya itu, bahkan 
Kitab Suci pun tak bisa menghindarkan diri dari tema kejenisan. 
Bagian-bagian dalam Kitab Suci yang mengangkat tema kejenisan ini, 
bahkan, menurut saya, sangat memikat sekali, seperti
> Kidung Agung dalam Mazmur, misalnya. Dalam Qur'an, tema 
seksualitas juga muncul, meskipun tidak digarap secara memikat 
seperti dalam Mazmur. Fantasi sorga dalam Qur'an, diakui atau tidak, 
kurang lebih cenderung erotis dan "dionisian". Dan kenapa tidak?
> 
> (3) Kalau kita mencoba sekali lagi memberikan semacam "hak 
keraguan" (benefit of doubt) kepada gerakan anti sastra itu dan 
mencoba memahami kemarahan mereka, mungkin mereka berpikir bahwa 
karya-karya bertema seks akhir-akhir ini mungkin mendapat tempat 
lebih leluasa ketimbang karya-karya lain yang mengangkat tema non-
seks. Kalau benar ada sangkaan semacam ini, saya juga tidak setuju. 
Lihat saja buku-buku sastra yang terbit oleh penerbit-penerbit utama 
seperti Gramedia, Balai Pustaka, Pustaka Jaya, Djambatan, Bentang, 
LKiS, dan sejenisnya; belum lagi kalau kita pertimbangkan sejumlah 
karya sastra yang diterbitkan secara "partikelir" oleh komunitas-
komunitas sastra yang tersebar di berbagai daerah. Sekali lagi, di 
antara timbunan buku-buku sastra yang terbit itu, buku-buku dengan 
tema seks hanyalah segelintir saja.
> 
> Lagi-lagi ini membuat saya heran: ada apa dengan masyarakat sastra 
kita? Ada apa dengan Taufiq Ismail?
> 
> Selama ini, tampaknya, yang menjadi sasaran tembak untuk genre 
sastra seks ini adalah orang-orang macam Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, 
Binhad Nurokhmat, dan beberapa nama lain yang tak saya ketahui 
dengan baik. Karya-karya Ayu Utami dan Jenar juga kerap "diledek" 
sebagai mewakili sebuah genre yang disebut "sastra wangi" (selama 
berteman dengan Ayu Utami, saya jarang membaui dia memakai parfum). 
Menurut saya, menyebut karya-karya orang-orang itu dalam satu 
tarikan nafas, jelas tidak adil. 
>    
>   Meskipun tema seks, benar, muncul dalam karya-karya mereka, 
tetapi karya-karya itu harus dilihat secara spesifik. Sekali lagi: 
tema tak cukup menjadi alat menilai sebuah karya; pada akhirnya 
taruhan sebuah karya adalah bentuk yang dipakai, dan bagaimana 
sebuah tema diolah.
> 
> (4) Dengan mengatakan ini semua bukan berarti saya 
sedang "ngamuk". Harus dibedakan antara diskusi, bertukar cakap, adu 
argumen dan "ngamuk". Yang pantas disebut "ngamuk", saya kira, 
adalah orang seperti Taufiq Ismail yang melontarkan akronim-akronim 
yang kurang pantas dikatakan dalam sebuah diskusi sastra, 
seperti "FAK", "Gerakan Syahwat Merdeka", dsb. Dan sekarang, setelah 
melontarkan istilah-istilah yang sangat "tidak sastrawi" itu, Taufiq 
seperti sembunyi tangan. Istilah-istilah buatan Taufiq itu persis 
seperti istilah ledekan ciptaan Lekra dulu, seperti "Manikebu" 
(terdengar seperti "spremanya kerbau"). Saat menulis buku "Prahara 
Budaya" bersama D.S Moeljanto dulu, Taufik mempersoalkan cara-cara 
pengganyangan yang dilakukan oleh Lekra terhadap para sastrawan 
yang "kontra revolusi".
> 
> Nah, pertanyaan saya, kenapa sekarang Taufiq menggunakan cara-cara 
yang kurang lebih sama, mengganyang "sastrawan syahwat merdeka" 
dengan akronim-akronim ciptaan Lekra? Istilah "FAK" buatan Taufiq, 
menurut saya, sama dengan "Manikebu" buatan Lekra.
> 
> Taufiq lupa sejarah, dan mengulang sejarah. Sedihnya, kekhilafan 
Taufiq ini menjadi dasar sebuah gerakan yang muncul di beberapa 
kalangan generasi belakangan saat ini.
> 
> Ulil 
> 
> _________________________
> 
> From: Fahmi Faqih
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sah-sah saja bagi Ulil ketika menyatakan Taufiq Ismail sebagai 
orang yang tidak pernah tumbuh dalam tradisi pengkajian sastra arab, 
karena memang sepengetahuan saya, Taufiq bukanlah orang yang suntuk 
dengan kitab-kitab kuning yang ditelaah di pesantren-pesantren oleh 
para santri, seperti dalam tradisi Ulil ini.
> 
> Namun jika kembali menoleh ke dalam pidatonya Taufiq, sebenarnya, 
inti masalah yang ingin disampaikan Taufiq bukanlah penolakan tema 
seksual dalam karya sastra, melainkan cara penyampaiannya, cara 
pengemasannya.
> 
> Saya setuju bahwa seks adalah bahan mentah yang selalu menarik 
untuk diekplorasi ke dalam wilayah sastra. Namun apakah itu akan 
serta merta menjadi menarik pula ketika ditulis dengan cara yang 
mentah?
> 
> Taufiq, saya kira, melihat gejala itu. Dan sebagai sastrawan yang 
punya tanggung jawab terhadap wilayah kerjanya, wajar kalau Taufiq 
bereaksi demikian. Taufiq tidak menginginkan jika nantinya terjadi 
seakan-seakan hanya wilayah seks lah yang menjadi satu-satunya
> standar estetika dalam sastra. Apakah menarik jika kemudian Sastra 
Indonesia hanya berkutat dengan tema-tema itu? Terus di mana 
keindahan itu jika terjadi kemanunggalan?
> 
> Saya kira, ada baiknya Ulil kembali lagi ke pesantren dan membuka 
lagi kitab-kitab kuning itu, khususnya dalam pelajaran kaidah-kaidah 
ushuli, agar tidak terjadi kecelakaan membaca seperti yang 
dituliskannya ini.
> 
> Salam buat Gus Mus, saya bangga dengan Kyai yang arif seperti 
mertua Anda itu. Semoga Anda dan saya bisa meniru kearifan beliau.
> 
> Salam,
> 
> Fahmi Faqih.
> 
> 
> From: Ulil Abshar-Abdalla
> E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sdr. Fahmi,
> 
> Pidato Taufik, dibaca dengan cara apapun, jelas mengandung 
sejenis "histeria". Dia tidak sedang mengulas karya sastra; sebab 
dia hanya membahas sebuah kecenderungan sosial yang membuat dia 
takut luar biasa, yakni merajalelanya pornografi dalam masyarakat.
> 
> Karya sastra hanyalah salah satu "riak" yang ia sebut dalam 
gelombang pornografi ini. Contoh- contoh lain yang ia sebut lebih 
banyak menyangkut lapangan di luar sastra.
> 
> Coba baca kembali pidato Taufik yang bisa ditengok melalui alamat 
ini:
> 
> http://andreasharsono.blogspot.com/2006/12/budaya-malu-dikikis-
habis-gerakan.html
> 
> Dalam pidato ini, dia sama sekali tak mengulas karya sastra 
Indonesia manapun yang masuk dalam gelombang "gerakan syahwat 
merdeka". Dia, sesungguhnya, sedang berdakwah, dan mengingatkan 
masyarakat terhadap bahaya pornografi, bukan sedang melaksanakan 
kritik sastra.
> 
> Kalau masalahnya pornografi, dan berdakwah melawan pornografi, ya 
dia harus "tahan diri" untuk tidak secara serampangan melibatkan 
karya-karya sastra dalam kampanye anti- pornografi. Menempatkan 
karya Ayu Utami dan Jenar, dua nama yang sering dituduh sebagai 
contoh sastra "selangkangan", dalam satu tarikan nafas dengan 
tabloid dan majalah seks, dilihat dari segi apapun, jelas tidak adil 
dan serampangan. Tentu Taufik tidak menyebut Ayu Utami dan Jenar. 
Dan itu menambah saya kian heran, siapa alamat kritik dia sebetulnya?
> 
> Dan, lihatlah, betapa anehnya cara dia mengetes apakah sebuah 
cerpen itu pornografis atau tidak. Saya tak usah sebut di sini. Cara 
yang dia ungkapkan itu "khas" corak berpikir kalangan PKS yang saya 
hadapi dalam pelbagai diskusi di sejumlah daerah.
> 
> Jadi, kesimpulan saya, Taufik ini sedang "histeris" pada seks, 
pada gelombang syahwat merdeka. GSM.
> 
> Kenapa? Kenapa takut seks?
> 
> Ulil
> 
>   sumber dari blog ACI:
> http://artculture-indonesia.blogspot.com/2007/10/seks-sastra-dan-
sastra-arab.html
>    
> 
> 
> e-mail: [EMAIL PROTECTED]  
>   blog: http://mediacare.blogspot.com  
>    
> 
>  __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke