----- Original Message ----- 
  From: Budiman Hakim 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, October 22, 2007 11:43 AM
  Subject: [Creative_circle_ind] OB lebih kreatif dari CW


  Deni adalah seorang copywriter di sebuah biro iklan lokal. Teman-
  temannya mengatakan bahwa Deni sedang kesulitan keuangan. Kok tahu? 
  Ya taulah. Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk 
  meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena 
  setiap bulan dia hampir selalu meminjam uang.

  Memang, setelah gajian utangnya pasti dibayar, tapi beberapa hari 
  kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. 
  Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat 
  meminjamkan uangnya.

  Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman
  seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal 
  baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi ke 
  kantor dan untuk biaya makan.

  Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy
  menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan. Deni
  tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office 
  boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga 
  akhirnya Deni menerima bantuannya.

  Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni
  terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan 
  harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya 
  berbincang-bincang. 

  Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan 
  bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni? Bukankah gaji Deni lebih 
  besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa 
  office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu 
  kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

  Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan
  bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling 
  rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah 
  terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya 
  biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak 
  terkesan menjilat.

  Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali 
  kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy 
  tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji 
  saya selalu habis setelah tengah bulan." Deni membuka percakapan.

  Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. 
  Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa 
  meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin 
  tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang 
  yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang. 
  Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, 
  apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang 
  lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak"

  Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung 
  kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi bagaimana 
  caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya Deni.

  "Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung 
  tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji 
  saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi 
  wejangan oleh beliau." katanya.

  Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke 
  tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan 
  mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, 
  maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak."

  Hidup prihatin

  Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya?" Nenek saya
  menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi."

  "Tapi nanti kurang nek."

  "Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, segera 
  lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. 
  Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih 
  dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu saya diajak 
  menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa 
  untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

  Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak 
  boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan 
  raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek 
  karena ojek cukup mahal.Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit 
  seperti itu. Tapi memang cukup sih."

  "Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. 
  Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya 
  sisihkan untuk ditabung.

  Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh 
  saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup 
  sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan 
  saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak 
  pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. 
  Sampai sekarang."

  Deni bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu 
  keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab."

  "Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin
  menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas."

  Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti 
  bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup 
  besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung 
  memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik taxi. Makan siang selalu 
  di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. 
  Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

  Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. 
  Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan 
  membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai 
  kapan? Hari ini! Change!
  Start today! Start now!

  Judul asli : UANG
  Oleh: Lisa Nuryanti



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.5/1084 - Release Date: 21/10/2007 
15:09


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke