(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm)
DN AIDIT, PKI dan G30S (15)
Oleh: Harsutejo
Pemimpin Muda yang Enerjetik
Sudah sejak muda, sejak jaman penjajahan Belanda, Aidit dalam umur belasan
tahun telah ikut serta dalam gerakan melawan penjajahan dalam berbagai
bentuknya. Sudah sejak muda pula ia gemar membaca dan tertarik pada
marxisme. Di masa revolusi fisik ada sebutan populer di kalangan kaum kiri,
"mabuk marxisme" dalam artian positif, giat belajar teori dengan membaca,
berdiskusi dan berdebat serta kursus-kursus politik sejak masa pendudukan
Jepang, serta menerapkannya dalam praktek perjuangan. Selanjutnya juga
menuliskan berbagai gagasannya.
Di Menteng 31 bersama banyak pemuda yang lain ia digembleng para pemimpin
nasional. Sejumlah pemuda di antara mereka itu di kemudian hari menjadi
tokoh komunis, di samping DN Aidit, di antaranya Wikana (salah seorang tokoh
pemuda yang berperan penting dalam "penculikan" Bung Karno dan Bung Hatta
pada 15 Agustus 1945), MH Lukman, Sidik Kertapati dsb. Jadi tidak benar jika
sejarawan Prof Dr Brigjen Nugroho Notosusanto menyatakan kaum komunis tidak
punya peran dalam Proklamasi 17 Agustus 1945, ini bagian dari pemalsuan
sejarah.
Pada usia 28 tahun pada 1951 Aidit menjadi pemimpin tertinggi PKI bersama MH
Lukman dan Nyoto. Pada 1952, setahun setelah kepemimpinannya, anggota PKI
terdiri dari 8.000 orang. Tetapi pada 1964 mereka telah menghimpun jutaan
anggota. Dalam pemilu demokratis pertama pada 1955 PKI keluar sebagai partai
terbesar keempat, dalam pemilu di Jawa pada 1957 PKI meningkat sebagai
partai terbesar pertama. Ini sungguh suatu prestasi luar biasa yang dicapai
para pemimpin PKI muda usia. Oleh karenanya pihak pimpinan AD tidak menyukai
pemilu semacam itu. Sebelum tragedi 1965 PKI mengklaim memiliki 3 juta
anggota dengan 20 juta pengikut dan simpatisan, di antaranya terhimpun dalam
organisasi massa. PKI menjadi partai komunis terbesar di luar kubu sosialis.
Dengan demikian Aidit menjadi tokoh komunis internasional yang suaranya
tidak dapat diabaikan oleh kawan maupun lawan. Namanya berkibar dalam iklim
perang dingin antara blok kapitalis dengan blok komunis, perang ideologi
antara komunis "murni" dan komunis "revisionis", persaingan dan perkelahian
antara blok Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) dengan Partai Komunis Tiongkok
(PKT). Dalam perselisihan ideologi ini PKI di bawah pimpinan Aidit cs
berusaha bersikap netral secara politik.
Sebagai partai massa PKI memiliki disiplin tinggi, keanggotaannya diatur
secara berjenjang yang dimulai dengan calon anggota sebelum seseorang
diterima sebagai anggota penuh yang didampingi seorang pembina. Hal itu di
antaranya didasarkan pada ideologi seseorang serta pengalaman perjuangan dan
kontribusinya terhadap Partai. Dengan kriteria semacam itulah seseorang
dapat menduduki kepengurusan Partai maupun jabatan dalam pemerintahan
setelah kemenangan pemilu. Untuk hal-hal penting semacam di atas, butir
kredit buat pemimpin kolektif tertinggi PKI, utamanya pada tokoh Aidit.
Pemimpin muda ini sangat dinamis, berani, bergerak cepat, dengan daya tahan
fisik dan mental luar biasa, bisa jadi sejumlah kawannya terkadang
tertinggal dengan geraknya. Di samping itu ia pun tak lupa menekankan akan
pentingnya kesabaran revolusioner dalam perjuangan jangka panjang.
Teori Kudeta, Retorika Revolusi
Aidit berada dalam rombongan delegasi Indonesa keluar negeri dalam rangka
KAA di Aljazair yang gagal pada akhir Juni 1965, karena kudeta Kolonel
Boumedienne terhadap Presiden Ben Bella yang baru saja terjadi. Delegasi
melanjutkan perjalanan ke Paris,. di kota ini Aidit bertemu dengan enam
orang kameradnya pelarian dari Aljazair. Ia menganjurkan mereka kembali ke
negerinya untuk mendukung Kolonel Boumedienne. Kudeta itu disebutnya sebagai
kudeta progresif. Jika kudeta itu didukung oleh paling tidak 30% rakyat maka
hal itu dapat diubah menjadi revolusi rakyat. Demikian kata Aidit sebelum
bertolak ke Moskow. Barangkali ia pun mengambil model Revolusi Oktober 1917
yang digerakkan Lenin dan Trotsky berupa pengambilalihan kekuasaan dengan
kekuatan militer. Sekalipun demikian banyak pihak di kalangan kaum komunis
yang tidak setuju dengan teori baru ini, dikatakan sebagai bertentangan
dengan teori marxis. Konon hal ini juga menjadi perdebatan di Moskow.
Perkembangan politik di tanahair yang relatif damai ketika itu dengan arus
pokok berpihak kepada PKI.
Dalam bulan Agustus 1965, koran PKI Harian Rakjat memuat pernyataan Aidit
berupa isyarat yang mengatakan biarlah mangkok, piring, gelas berpecahan
untuk kepentingan revolusi. Pada 9 September 1965, di depan sukwati Deppen
Aidit menyatakan kaum revolusioner bagaikan bidan dari masyarakat baru yang
hendak dilahirkan, sang bayi pasti lahir dan tugas mereka untuk menjaga
keselamatannya dan agar sang bayi cepat menjadi besar. Hal ini disambut
dengan pernyataan petinggi PKI yang lain, Anwar Sanusi, tanahair sedang
hamil tua. Sementara itu serangkaian sidang Politbiro dan Politbiro yang
diperluas selama bulan Agustus dan September 1965 membicarakan tentang
sakitnya Presiden Sukarno dan rencana pukulan dari pihak Dewan Djenderal
(DD) ketika BK tak lagi dapat menjaga keseimbangan politik. Selanjutnya
dilaporkan oleh Aidit adanya sejumlah perwira maju yang hendak mendahului
guna mencegah kudeta DD.
Sangat menarik pesan Aidit kepada kedua adiknya, Sobron Aidit dan Asahan
Aidit yang bertemu di Beijing dalam bulan Agustus 1965. "...Dan juga ingat,
sementara ini, mungkin bertahun-tahun ini, jangan dulu memikirkan pulang!
...tanahair dalam keadaan gawat dan semakin akan gawat...". "...kita ini
dalam keadaan ancaman... dari pihak tentara... Angkatan Darat." Sedang
kepada Asahan setelah mengetahui adiknya baru akan pulang setahun lagi, ia
menyatakan sayang karena ia takkan dapat ikut revolusi. "Revolusi tidak akan
menunggumu." Dalam dua catatan dari dua orang berdasarkan ingatan setelah
sekian puluh tahun berlalu itu secara implisit mengandung persamaan penting
yakni disebut akan terjadinya sesuatu yang gawat, malah yang ke dua disebut
sebagai revolusi.
Sementara itu selama bulan September 1965 terjadi juga serangkaian pertemuan
sejumlah perwira militer (Letkol Inf Untung, Kolonel Inf Latief, Mayor Udara
Suyono, Mayor Inf Agus Sigit, Kapten Art Wahyudi) yang juga dihadiri oleh
Ketua Biro Chusus (BC) PKI Syam beserta pembantunya Pono. Gerakan ini
berlanjut dengan penculikan dan pembunuhan 6 orang jenderal AD dan seorang
perwira pertama pada dini hari 1 Oktober 1965 oleh gerakan militer yang
menamakan dirinya Gerakan 30 September sesuai dengan apa yang diumumkan oleh
RRI Jakarta pada pagi harinya.
Diculik atau Dijemput untuk Memimpin Gerakan?
Dalam salah satu kesaksiannya dr Tanti Aidit, pada 30 September 1965 malam
hari DN Aidit, suaminya, diculik tentara. Murad Aidit yang juga sedang
berada di rumah yang sama tidak memberikan gambaran kecuali "dibawa dengan
mobil oleh orang yang tidak kukenal" bersama ajudannya Kusno. Memori seorang
anak berumur 6 tahun, Ilham Aidit, agaknya lebih jernih, "Ibunya membentak
dua orang berseragam militer warna biru di depan rumah" (Tempo 7
Okt.2007:76). Salah seorang yang menjemputnya ialah Mayor Udara Suyono
(dengan seragam AU warna biru) dan membawa DN Aidit ke lingkungan PAU Halim.
Di Halim ia kemudian ditemui oleh Ketua BC PKI Syam.
Apakah Aidit diculik bersama pengawalnya? Itu mokal, tidak ada adegan
kekerasan di rumahnya di Jl. Pegangsaan, ia pun kemudian "bebas" pergi ke
Yogya bersama pegnawalnya dengan pesawat pada tengah malam 2 Oktober 1965.
Apa itu sesuai dengan kehendak dan rencana dirinya? Ini sulit dijawab karena
terbukti segala rencana dilakukan oleh Ketua BC Syam, ia toh pembantu Ketua
PKI Aidit. Apakah dia tidak mengetahui rencana G30S? Mokal jika dia tidak
tahu, bisa saja pengetahuan dirinya kemudian dimanipulasi oleh Syam. Apalagi
jika kita hubungkan dengan teori Aidit tentang kudeta tersebut di atas, lalu
retorika oleh Letkol Untung (yang mungkin sekali sekedar wayang), di
baliknya lagi-lagi Ketua BC Syam. Apa Syam pun bukan sekedar sejumlah
petinggi PKI selama bulan Agustus dan September 1965 serta topik sejumlah
sidang Politbiro serta pesannya kepada kedua adiknya di Beijing. Apakah dia
memimpin G30S? Ini tidak ada buktinya, sebab yang terbukti gerakan ini di
lapangan dipimpin wayang? Dari mana Syam menerima segala instruksi?
Lagi-lagi ini sulit dijawab. Lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Salah satu saksi kunci, DN Aidit telah dilenyapkan dengan buru-buru atas
instruksi Jenderal Suharto, tentu dengan suatu alasan kuat. Ada kepentingan
apa Jenderal Suharto menghendaki Aidit cepat-cepat dibungkam? Adakah
informasi yang dapat mencelakakan diri Suharto jika Aidit diberi kesempatan
bicara di depan pengadilan, pengadilan sandiwara sekalipun? Saksi kunci yang
lain, Jenderal Suharto, telah melenyapkan banyak hal dan memanipulasi segala
sesuatu. Apa yang bisa diharap dari kesaksiannya? Apa dia masih punya hati
nurani untuk bicara yang sebenarnya terjadi ketika belum "pikun"? Sementara
sejumlah pelaku seperti Letkol Untung, Brigjen Suparjo, Mayor Udara Suyono
dieksekusi mati dengan segera maka Syam yang ditangkap pada 1967, dijatuhi
hukuman mati pada 1968, menurut catatan resmi baru dieksekusi pada 1986.
Dalam pengakuannya di depan Mahmillub pada 1967-1968, Syam menyatakan
seluruh perbuatannya sebagai pelaksanaan instruksi Ketua PKI Aidit termasuk
pengumuman dan dekrit yang disampaikan lewat RRI Jakarta menurut
pengakuannya disusun oleh Aidit. Segala pengakuan Syam tentang G30S boleh
dibilang tidak dapat diperiksa dan dirujuk kebenarannya. Dokumen G30S yang
diumumkan pada 1 Oktober 1965 yang terdiri dari pengumuman Letkol Untung,
Dekrit No.1, Keputusan No.1 dan Keputusan No.2, rendah mutu politiknya.
Dalam pengumuman pertama bernada emosional. Sulit dipercaya dokumen semacam
itu disusun oleh seorang Aidit, seorang pemimpin politik yang telah malang
melintang secara nasional dan internasional, pemimpin komunis kaliber dunia.
Dokumen itu bertentangan dengan politik front nasional yang mati-matian
diperjuangkan oleh pimpinan PKI. Terlebih lagi dokumen itu menafikan
persekutuannya dengan Presiden Sukarno, kekuasaan negara diambilalih oleh
Dewan Revolusi, kabinet Presiden Sukarno didemisionerkan. Apa mungkin Aidit
mengubah dasar politik PKI dalam semalam pada saat BK masih segar bugar?
Pendeknya dokumen-dokumen tersebut menyerimpung politik PKI ketika itu.
Pembelaan Sudisman dan KOK
Tidak ada pihak di lingkungan PKI [setidaknya yang pernah saya ketahui], di
dalam maupun di luar negeri yang meragukan kesahihan dokumen Kritik
Otokritik (KOK) Politbiro CC PKI, terlepas di mana dan siapa saja
penyusunnya. Sesuai dengan namanya, dokumen ini disusun oleh Politbiro CC
PKI dengan sejumlah anggota yang pada akhir 1965 masih hidup sebagai buron
rezim militer. Dewasa ini masih ada saksi hidup dalam hal proses penyusunan
dokumen ini. Selanjutnya ada dokumen lain berupa pembelaan yang dibacakan
Sudisman di depan Mahmillub pada 21 Juli 1967 yang diberi judul "Uraian
Tanggungjawab." Dari tangan Sudisman masih ada satu dokumen lagi berupa
pernyataan politik (yang belum selesai ditulis) sebelum ia dieksekusi mati
beberapa bulan sesudah Oktober 1968. Sejauh ini juga belum ada pihak yang
meragukan kesahihan dokumen yang disusun oleh orang nomor satu PKI ini
setelah dibunuhnya DN Aidit, Nyoto dan MH Lukman [sekali lagi setidaknya
yang pernah saya dengar].
Dalam pembelaannya Sudisman dengan tegas mengakui "Saya pribadi terlibat
dalam G30S yang gagal." Adakah ini berarti Sudisman atau Aidit terlibat
langsung pada operasional gerakan militer G30S, setidaknya memberikan arahan
politik? Tidak ada bukti yang mendukungnya. Di bagian lain Sudisman juga
dengan tegas menyatakan "tokoh-tokoh PKI, [maksudnya pemimpin teras PKI,
hs].... terlibat dalam G30S, tetapi PKI sebagai Partai tidak terlibat...."
Mari kita cermati, Sudisman memisahkan antara pimpinan teras PKI dengan
partai bernama PKI, artinya memisahkan pimpinan itu dengan jutaan anggota
dan puluhan juta massa PKI. Bukankah di sini antara lain letak keblingernya
pimpinan PKI, sejak kapan pimpinan PKI harus dipisahkan dengan Partai-nya,
anggota dan massanya, melangkah sendiri tanpa keterlibatan anggota dan massa
pendukung? Ataukah kata-kata Sudisman ini sekedar upaya terakhir untuk
menyelamatkan Partai yang dia ketahui telah berantakan? Instruksi yang
dibawa para utusan dari Jakarta atas petunjuk Aidit, "dengarkan pengumumam
RRI pusat dan sokong Dewan Revolusi [DR]." Dan itulah yang dilakukan
sejumlah massa kiri di Yogyakarta pada 2 Oktober 1965 melakukan demonstrasi
yang kepancal kereta, ketika gerakan di Jakarta telah berhenti sehari
sebelumnya dan situasi sudah berada dalam genggaman Jenderal Suharto.
Instruksi untuk mendukung DR tidak dijalankan di tempat lain.
Sudisman juga menyatakan, "Dalam mengatur gerakan sangat dibutuhkan di
samping keberanian adanya kepandaian revolusioner dalam menentukan waktu
yang tepat dan memimpin gerakan. Faktor-faktor ini tidak dipenuhi oleh G30S
sehingga menyebabkan kegagalannya. Ditambah lagi gerakan itu terpisah sama
sekali dari kebangkitan massa." Dapatkah dikatakan menurut Sudisman secara
implisit, setidaknya secara politik, G30S dipimpin oleh para petinggi PKI
yang terpisah dari massa anggota dan pendukungnya? Selanjutnya Sudisman
menghubungkan hal tersebut dengan kelemahan dan kesalahan PKI di bidang
ideologi, politik dan organisasi sebagaimana dibahas dalam KOK. Ada
keterangan menarik, ketika Aidit baru saja sampai dari Jakarta, ia
mengatakan, "Wah celaka, kita ditipu oleh Suharto." Demikian yang
diceritakan oleh seseorang yang pernah bekerja di kantor CC PKI. Sayang
keterangan ini tidak dapat dirujuk silang dengan narasumber lain yang
memadai.
Ketika PKI dan seluruh organisasi massa pendukungnya diobrak-abrik oleh
pasukan militer Jenderal Suharto dengan dukungan massa kanan, maka ada
instruksi dari pimpinan PKI yang tersohor di kalangan anggota bawah, yakni
apa yang disebut "defensif aktif.' Suatu istilah yang tidak dikenal dalam
yargon mereka, instruksi kabur yang membingungkan tanpa keterangan jelas.
Umumnya mereka menafsirkan sebagai "selamatkan diri, jangan melakukan
perlawanan apa pun." Karena tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri
dan berlindung maka berbondong-bondonglah orang menyerahkan diri kepada
musuh, sebagian dengan ilusi akan mendapatkan perlindungan. Kenyataan
tiadanya perlawanan sebagai yang digembar-gemborkan pimpinan PKI semasa
damai ini cukup mengejutkan pihak pasukan Suharto dan para aktivis kanan.
Maka tidak aneh jika sejarawan Jacques Leclerc kemudian menyebut PKI sebagai
raksasa berkaki lempung. Tetapi hampir dapat dipastikan Leclerc akan menulis
yang lain jika ia lakukan sebelum tragedi, terlebih apabila ia menghadiri
parade 45 tahun PKI pada 23 Mei 1965. Bagaimanapun PKI sebuah partai
politik, tidak memiliki barisan bersenjata. Di pihak lain pimpinan PKI
mengklaim memiliki pengaruh besar di kalangan angkatan bersenjata. Dalam
kenyataannya pengaruh ini tidak punya peran dalam memperkecil korban.
Sejumlah batalion yang disebut "merah" yang ditarik dari Kalimantan dalam
rangka konfrontasi, kemudian dilucuti dan dijebloskan ke penjara.
Pembersihan di kalangan angkatan bersenjata dilakukan bertahap dan sangat
sistimatis.
Sebagian besar pendukung BK terutama di kalangan angkatan bersenjata sampai
akhir 1965 dan permulaan 1966 berharap BK akan segera memberikan perintah
untuk menindak keras para pembangkang, Jenderal Suharto cs, sebelum mereka
lebih merajalela dan menjerumuskan negeri ini. Itulah yang juga ditunggu
pimpinan PKI untuk waktu tertentu, setidaknya suatu penyelesaian politik
yang tidak kunjung tiba, sampai PKI hancurluluh. Sebagaimana diuraikan dalam
KOK, pimpinan PKI tidak bertindak independen, tetapi menggantungkan diri
pada Presiden Sukarno.
Diukur dari ajaran BK maka apa yang telah dilakukan Jenderal Suharto
sepenuhnya keblinger, kita tak dapat berharap yang lain dari dirinya. Para
pemimpin lain yang memiliki kapasitas untuk melakukan perlawanan terhadap
kegiatan berdarah Jenderal Suharto serta menghentikannya juga telah
keblinger karena praktis membiarkan Suharto bersimaharajalela.[]
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.15.5/1084 - Release Date: 21/10/2007
15:09
[Non-text portions of this message have been removed]